Ellen akhirnya menemukan selembar kertas yang dicarinya sejak tadi, bersama dengan sebuah ponsel jadul. Kertas itu berada di laci paling bawah rak bukunya. Padahal beberapa bulan sekali dia akan membaca surat itu dan membuka pesan di ponsel itu untuk mengenang kisah cinta pertamanya, bahkan dia terus mengisi pulsa di kartu yang ada di ponsel itu agar tetap nomor itu tetap aktif, tapi karena dirinya kalut, dia bahkan harus mengeluarkan semua isi lacinya untuk bisa menemukan surat dan ponsel itu.
Dia berulang kali membaca isi surat perjanjian yang sudah dia hafal diluar kepala, lalu menghela nafas. Apakah surat ini benar-benar bisa membantunya? Tapi bukankah pria itu mengatakan kalau akan membantunya jika keluarganya berada dalam kesulitan?
Tapi, pria itu pasti sudah tahu kalau dia berbohong pada pria itu. Bagaimana kalau pria itu malah marah padanya? Tangannya gemetar saat memikirkan sebuah penolakan kasar. Hal itu membuat hatinya galau, apakah lebih baik dia menghubungi orang itu atau tidak?
Dia menggelengkan kepala, dia tidak memiliki pilihan lain. Pilihan terakhir adalah menjadi penghangat ranjang para p****************g, sudah tua, botak, jelek, gendut, belum lagi nanti mereka punya penyakit menular seksual. Dia yakin, setelah Pak Nelson mendapatkan tubuhnya, pria itu akan membawanya kembali menjadi artis, tapi imbalannya adalah dia harus melayani teman-teman sejenis pria itu. Ellena bergidik ngeri saat membayangkan para pria itu menggerayangi tubuhnya.
Tidak!
Lebih baik dia mencoba mencari pria yang dulu pernah berjanji untuk membantunya itu. Setidaknya pria itu berhutang nyawa padanya, jika minta tolong tidak berhasil, dia akan meminta balas jasa. Anggap saja dia tidak tahu malu, tapi membayangkan dirinya jadi p*****r adalah hal yang sangat mengerikan untuknya, jadi dia tetap harus mencoba cara ini.
Sudah lima belas menit sejak Ellena mengetikkan nomor ponsel yang tertera di kertas itu di ponselnya, namun jarinya tidak berani menekan tombol hijau untuk menghubungi pria itu.
Bagaimana kalau nomornya palsu?
Bagaimana kalau tidak diangkat?
Bagaimana kalau ana, ini, itu, ono, dan yang semua pikiran buruk seakan menyerbu kepalanya yang membuat kepalanya seperti akan pecah.
Mungkin dia bisa mengirim pesan dulu?
Ellena merasa idenya cukup baik, dia lalu mulai mengetikkan pesan, lalu dia hapus, kemudian dia merasa menemukan kalimat yang lebih baik, tapi lalu merasa kurang pas. Begitu terus selama setengah jam dan akhirnya dia menjerit sendiri di kamarnya karena frustasi.
Sudahlah, kirim saja foto surat perjanjian itu dulu! Keluh Ellen dalam hati dan dia langsung melakukan hal itu, sebelum dia berubah pikiran lagi. Dia memotret surat perjanjian itu dan mengirimkannya, lalu menunggu.
Dia melihat kalau foto yang dikirimnya itu sudah centang dua di aplikasi berbalas pesannya, dan itu artinya yang foto yang dia kirimkan sudah sampai, tinggal tunggu yang disana membuka ponselnya saja.
Satu menit,
Lima menit,
Sepuluh menit,
Ellena kembali tidak sabar, jadi dia dengan cepat mengetik beberapa kalimat yang intinya adalah dia ingin pinjam duit dan akan mengembalikannya dengan mencicil. Dia sudah mengabaikan tata bahasanya, percuma dia mencari kalimat paling halus sejak tadi, toh ujung-ujungnya sama, dia mau pinjem duit!
Hai, Alex, ini aku, Ellen, si kuntilanak,
Dulu kau mengatakan kalau akan membantu keluargaku jika keluargaku dalam masalah.
Aku ingin minta tolong padamu, apakah kau punya satu milyar yang bisa kupinjam? Ibuku terkena penyakit kanker dan harus segera di operasi.
Jika kau memiliki uang itu, kuharap kau bisa meminjamkannya. Aku janji akan membayarmu, tapi dengan mencicil.
Maaf aku tidak tahu malu mencarimu seperti ini, tapi aku tidak tahu harus mencari siapa lagi.
Terima kasih.
Matanya terbelalak saat dua tanda centang yang sebelumnya tidak berwarna, sekarang sudah berwarna hijau, yang artinya pesannya sudah dibaca.
Terlihat yang disana sedang mengetikkan pesan balasan. Hal itu hanya sebentar tapi terasa sangat lama baginya. Dia mulai memikirkan berbagai kalimat cara memohon ataupun tuntutan.
‘Hi, Ellen, tentu saja aku akan membantumu,’
‘Berikan padaku nomor rekening untuk penerima uangnya?’
Sekarang malah Ellena yang menatap layar dengan tidak percaya. Begitu saja? Tanpa bertanya apapun dan Alex langsung ingin mentransfer uangnya? Dengan cepat dia membalas pesan itu, memberitahu nomor rekeningnya dan kembali mengatakan kalau dia akan membayar pinjaman ini dengan mencicil. Sekali lagi dia terbelalak dengan balasan pesan dari Alex.
‘Kau tidak perlu bekerja. Aku transfer dua milyar untuk biaya perawatan Ibumu dan aku tidak mengijinkanmu bekerja. Kau bisa meminta padaku lagi jika uang itu kurang,’
Dua milyar?
Dengan cepat Ellena memeriksa saldo di rekening banknya lewat ponsel dan tangannya gemetar saat melihat saldo di rekeningnya itu. Tidak pernah saldo di rekeningnya sebesar itu. Saat film yang dibintanginya sukses saja, dia hanya mendapat sekitar empat ratus juta, dimana uang itu sebagian besar juga hilang karena dia harus membayar biaya pinalti pemutusan kerja sama saat reputasinya hancur.
Dengan gemetar jarinya mengetikkan ucapan terima kasih. Setelahnya dia langsung berlari keluar dari kamarnya dan memesan ojek online untuk segera kembali ke rumah sakit. Dia ingin segera membayar biaya operasi Ibunya. Dengan uang ini, dia bahkan bisa memberikan perawatan yang lebih baik untuk Ibunya, Ibunya bisa dipindahkan ke kelas dua atau satu, setidaknya tidak terlalu banyak orang di kamar perawatannya, jadi Ibunya bisa lebih nyaman.
****
Di New York yang waktunya dua belas jam lebih lama, Alex sedang mengerutkan alisnya. Sekarang sudah jam dua pagi dan kantuknya hilang sejak dia melihat pesan dari Ellen. Padahal sebelumnya dia sudah lelah dan mengantuk karena baru pulang dari sebuah klub malam tempat dia bertemu dengan salah satu rekan bisnisnya untuk membicarakan kontrak kesepakatan mereka.
Matanya masih menatap layar dimana terdapat aplikasi berbalas pesannya dengan Ellen. Dia baru menyadarinya kejanggalan ini setelah Ellen berterima kasih padanya dan mengatakan ingin segera pergi ke rumah sakit untuk membayar biaya operasi sang Ibu.
Memang kuntilanak bisa keluar siang hari?
Lagipula mengapa rekening itu atas nama Ellena Graciella?
Dia lalu memperbesar foto surat perjanjiannya dan melihat kalau nama Ellen adalah Ellena Graciella. Nah, kan, memang nama Ellen adalah Ellena Graciella!
Apa orang mati masih bisa memiliki rekening di dunia orang hidup? Mengapa rekeningnya atas nama Ellen? Bukan atas nama keluarganya yang masih hidup? Biasanya semua rekening akan ditutup setelah surat kematian keluar.
Apa mungkin Ellen memiliki saudara yang memiliki nama sama dengannya? Rasanya tidak mungkin ada dua orang yang memiliki nama yang sama di dalam satu keluarga, di saat bersamaan. Lagipula, tadi Ellen yang menjelaskan kalau dia sendiri yang akan ke rumah sakit untuk membayar biaya rumah sakit.
Dia mencoba membaca ulang percakapannya dengan Ellen untuk mencari petunjuk. Bukan mendapatkan petunjuk, dia malah sekarang kembali menatap serius pada kalimat yang diketik Ellen mengenai wanita itu akan bekerja untuk membayar hutang padanya.
Apa yang bisa dilakukan kuntilanak untuk bekerja? Apakah Ellen akan bekerja pada dukun? Dia agak khawatir karena sampai pada akhir pembicaraan, Ellen masih berkata kalau wanita itu akan membayar dengan mencicil.
Dia tidak akan membiarkan hal itu, istrinya tidak boleh melakukan pekerjaan rendahan seperti itu!
Alex lalu menghubungi adik kembarnya untuk memastikan Ibu Ellen mendapatkan perawatan yang baik, namun Lisa tidak mengangkat panggilannya, jadi dia hanya mengirimkan pesan untuk meminta tolong pada adiknya itu.
Lalu, dia kembali mengirim pesan pada Ellen yang menegaskan posisinya sebagai suami masa depan wanita itu, mengatakan kalau Ellen tidak perlu membayar dua milyar itu dan melarang wanita itu untuk bekerja.
Kali ini pesannya juga tidak dibalas oleh Ellen, yang dia pikir kalau Ellen sedang berangkat ke rumah sakit, tapi lalu dia ingat kalau Ellen bukan manusia.
Loh, bukannya kuntilanak tinggal terbang saja? Harusnya langsung sampai dong?
****