Akhirnya, setelah melakukan berbagai kesepakatan pernikahan Annora dan Elang pun berlangsung. Pernikahan mereka berlangsung cukup meriah, tetapi Annora sama sekali tak mengundang teman-temannya. Entah apa yang ada di pikiran Annora, dia malas toh pernikahan Annora hanya kesepakatan di atas kertas.
Saat pertama kali menikah mereka tinggal sementara di rumah orang tua Elang. Menurut Elang ada saatnya nanti mereka pindah. Saat tahu akan tinggal sementara waktu di rumah Elang, Annora sedikit lega, sebab dia tak akan melihat Elang dan kekasihnya bersama. Setidaknya ada waktu untuk mengondisikan hatinya. Walau Annora tak memiliki rasa pada Elang, tetapi membayangkan dia akan melihat Elang dengan pacarnya rasanya tak sanggup.
Sebenarnya Annora lebih betah tinggal di rumah orang tua Elang. Sebab, orang tua Elang berlaku baik pada Annora. Akan tetapi, keputusan Elang tak bisa diganggu gugat. Harus menuruti apa yang dia katakan. Lagipula seperti kesepakatan awal, setelah mereka menikah, mereka akan tinggal di rumah yang sudah Elang beli. Ya, karena Elang akan tetap berhubungan dengan Jeny, pacarnya. Sebenarnya, Annora merasa bersalah pada ayahnya juga pada orang tua Elang. Seperti mempermainkan mereka semu, tetapi Annora tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti mau Elang.
"Besok, kita pindah dari sini. Tinggal di rumah yang sudah kusiapkan. Rumah yang sudah kita lihat sebelum kita menikah dulu,” ucap Elang pada malam hari, setelah dua hari mereka menikah.
"I-iya, kenapa cepet banget pindahnya? Baru dua hari tinggal di sini.” Bibir Annora sedikit bergetar.
"Nggak usah banyak tanya, turuti aja apa mau gue! Seperti kesepakatan awal kita!" bentak Elang kemudian membuang tubuhnya secara kasar ke ranjang.
Annora menelan ludah. Baru beberapa hari menjadi istri Elang sudah dibentak-bentak. Padahal seharusnya pengantin baru masih begitu mesra, tetapi keindahan pengantin baru tidak berlaku bagi Elang dan Annora.
"Kenapa? Nyesel? Sudah gue bilang, 'kan sebelumnya?" tanya Elang sinis.
Annora bergeming. Kemudian, dia hendak naik ke kasur karena lelah dan ingin istirahat, tapi tiba-tiba Elang mendorong Annora. Sampai jatuh terpelanting.
"Aduh! Kenapa main dorong aja, sih?" tanya Annora dengan sedikit membentak.
"Siapa suruh naik ke singgasana gue. Ini nggak boleh ditempati siapa pun! Lagi pula lo harusnya tidur di sofa seperti biasa!" bentak Elang.
Annora hanya menelan ludah sambil menatap Elang. Elang pun menatap Annora dengan sinis.
“Aku cuma pengen tidur nyenyak malam ini saja.” Annora menunduk, berharap belas kasih dari Elang.
Namun, memang dasar Elang yang tak punya hati, bukannya kasihan pada Annora, dia malah melempar bantal dan selimut pada Annora. Dia menyuruh Annora tidur di lantai.
Huh! Dasar lelaki tidak tahu diri! Ok, ini memang rumahnya, bebas melakukan apa saja. Annora hanya bisa berkata dalam hati.
Akhirnya, Annora pun terpaksa tidur di lantai. Walau sebenarnya dia alergi dingin, tapi bagaimana lagi. Memang sudah nasibnya seperti ini. Tak berapa lama lagi terdengar suara Elang mendengkur.
Annora pun menutup tubuh dengan selimut, setelah itu langsung memejamkan mata dan terbang ke alam mimpi.
Kemudian, tak berapa lama tubuh Annora tampak bergetar, dia seperti menggigil, mungkin karena hawa dingin menyergap. Ya, Annora memang alergi dingin, biasanya dia tidak tidur di lantai, tetapi di sofa. Entah kenapa malam ini Elang menyuruh Annora tidur di lantai.
Kemudian, mata Annora terbuka. Dia menatap langit-langit.
“Ah, aku kedinginan,” gumam Annora.
Setelah itu Annora tiba-tiba bersin-bersin. Kemudian, dia bangkit dan melihat layar ponsel, waktu menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Saatnya untuk salat tahajud. Dia pun menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Lalu, Annora melakukan salat dan setelahnya membaca Al-Quran.
"Hei, ini jam berapa, sih? Berisik! Ganggu orang tidur aja!" ketus Elang.
Annora menghentikan membaca Al-Qur’an.
"Aku nggak ada niat ganggu orang, kok," sahut Annora.
"Kalau nggak mau ganggu, jangan kenceng-kenceng suaranya!"
"Namanya juga ngaji, masak harus bisik-bisik," ucap Annora lagi.
"Lo berani sama gue, ya!" Mata Elang merah menyala, rahangnya mengeras.
Elang mengambil dengan paksa Al-Qur’an yang ada di tangan Annora. Lalu, melemparnya.
"Astagfirullah, itu kitab suci kita. Kamu nggak ngerti apa, kalau untuk memegangnya kita harus berwudhu dulu! Ini malah kamu melemparnya, ngerti agama nggak, sih!" geram Annora.
Annora langsung mengambil Al-Qur’an dan menciumnya. Kemudian, mendekapnya dengan erat. Matanya berkaca-kaca, tanpa terasa buliran bening menetes dari sudut mata. Tak pernah menyangka ternyata Elang sama sekali tak mengerti hal sebesar ini.
Ya Allah ... bagaimana bisa aku menerima pernikahan ini? Suamiku tak paham sama sekali soal agama, batin Annora.
"Halah! Lebay, cuma kitab aja ditangisi. Gue mau tidur! Bisa diem nggak!"
Annora hanya bergeming. Sepertinya dia masih sangat dongkol. Annora melirik Elang ternyata dia sudah pulas lagi. Begitu cepatnya dia kembali ke alam mimpi.
Annora pun mencoba untuk tidur kembali. Walau awalnya susah, tapi akhirnya masuk ke alam mimpi.
***
"Bangun! Woi!"
Lengan Annora ditendang oleh Elang, tetapi matanya sangat berat untuk dibuka. Annora mengerjap dan memegang kepalanya yang terasa pening. Dia merasa tubuh meriang tak keruan. Perut mual, kepala pusing, tenggorokan gatal, dan hidung serasa panas.
Dengan sedikit memaksa Annora mencoba membuka mata. Namun, dia memicing. Lalu, tiba-tiba dia ambruk saat hendak berdiri. Elang yang melihatnya begitu panik. Dia lalu menepuk-nepuk pipi Annora.
“Annora, woi, bangun! Astaga, kenapa tidur lagi, sih?” Elang terlihat panik.
Dia terus menepuk-nepuk pipi Annora, berharap Annora segera bangun. Namun, wajahnya makin panik saat dia meraba dahi Annora, panas.
“Astaga, panas sekali. Apa yang harus gue lakuin? Entar Mama marah kalau tahu Annora panas, apalagi tahu gue nyuruh dia tidur di lantai.”
Lalu, dengan terpaksa Elang mengangkat tubuh Annora dan membaringkan di ranjangnya. Setelah itu dia baru keluar untuk memanggil mamanya. Saat melihat mamanya Elang masih ragu untuk berbicara pada mamanya. Dia seperti bingung mau mengatakan apa. Rasa takut dan khawatir campur aduk jadi satu.
“Ma!” panggil Elang saat tiba di dapur.
Mamanya menoleh dan tersenyum.
“Kenapa Lang? Mana Annora? Kok, tumben belum ke dapur bantuin Mama.” Bu Nani menatap Elang dengan mengernyit.
“Anu, Ma, Annora, Annora panas.” Akhirnya, itulah yang keluar dari mulut Elang.
“Loh, panas? Kok, bisa?” tanya Bu Nani.
“Nggak tahu, Ma, tadi pas Elang bangun, Annora belum bangun. Terus Elang bangunin, tiba-tiba dia pingsan Ma.” Elang menggaruk kepalanya yang sepertinya tidak gatal.
“Apa pingsan? Ya ampun Elang, Annora pingsan kenapa kamu masih santai? Kalau ada apa-apa dengan dia gimana? Apa yang harus kita bilang ke ayahnya?” tanya Bu Nani dengan panik.
“Ya ampun, Ma, Annora cuma demam biasa. Kenapa heboh banget?” tanya Elang dengan santai.
“Apa kamu bilang Lang? Annora itu anak orang, kita harus benar-benar menjaganya, jangan nyepekan kayak gini. Ayahnya sudah mempercayakan sama kita.” Bu Nani langsung berlari menuju kamar Elang yang terletak di lantai atas.
Papanya Elang yang berada di ruang tengah menatapnya dengan heran. Saat melihat melangkah hendak menyusul mamanya, Pak Handoko pun mencegat Elang.
“Elang, mamamu kenapa buru-buru gitu?” tanya Pak Handoko.
“Annora demam Pa, dia pingsan.” Elang menjawab dengan santai.
“Astaga, kenapa bisa sampai demam dan pingsan Lang? Kamu terlalu kasar mungkin.” Pak Handoko menggoda Elang.
Elang hanya mengernyit, tak paham dengan apa yang dikatakan papanya. Apanya yang terlalu kasar? Mungkinkah Elang jahat karena menyuruh Annora tidur di lantai? Masak papanya tahu kalau tadi Elang menendang Annora dengan kasar. Elang hanya menggaruk kepalanya.
“Ya udah cepat panggil dokter. Masak cepat banget hamilnya?” Pak Handoko menatap Elang.
Hamil? Bagaimana bisa hamil? Lah, gue kan belum belah duren. Ah, Papa ada-ada saja. Elang hanya menggeleng-geleng saja, mendengar ucapan papanya. Setelah itu Elang pun menelepon dokter keluarga langganannya.
***
bersambung