Annora Jatuh Sakit

1225 Words
Setelah menghubungi sang dokter, Elang pun melangkah menuju kamarnya, dia hanya melihat keadaan Annora dari luar pintu, malas masuk. Selain itu Elang tak mau mamanya bertanya banyak hal. Elang merasa bersalah karena membuat Annora sakit, sebab memang semalaman Annora tidur di lantai. Padahal Annora sudah mengatakan kalau alergi dingin, tetapi Elang tak peduli. Setelah memastikan dari luar Annora sudah sadar, Elang kembali ke ruang depan sambil menunggu sang dokter. Sementara di dalam kamar Bu Nani khawatir melihat kondisi Annora. Badannya memang sangat panas. Mamanya Elang berusaha menyadarkan Annora. Tak lama jemarinya bergerak, lalu perlahan mata Annora terbuka. Bu Nani tersenyum melihat Annora sudah mulai sadar. Kemudian, Annora melihat ke sekeliling, matanya menyipit. Dia merasa sangat aneh. Ah, iya ini kamar Elang. Aku tergagap, kenapa bisa tidur di kasurnya? Bagaimana kalau nanti aku disiksa? Ingin bangun, tetapi badan serasa lemas. Ada apa denganku? Annora berkata dalam hati. Dia tidak begitu memedulikan Bu Nani. "Alhamdulillah kamu sudah sadar, Nak." Bu Nani duduk di samping ranjang sambil memegang jemari Annora. Mata Annora langsung membelalak ketika mendengar suara Bu Nani. Dia baru menyadari kalau ada Bu Nani di sampingnya. Dia menoleh dan tersenyum tipis. “Memangnya Annora kenapa Ma?” tanya Annora pelan. “Badan kamu panas, terus tadi kamu habis pingsan.” Annora mencoba bangun, tetapi tak jadi. Dia memegang kepalanya, mungkin merasa pusing. “Sudah kamu istirahat aja dulu, nggak usah bangun. Nunggu dokter ke sini buat periksa kamu, tadi Papa udah minta Elang hubungi dokter keluarga. Katanya masih di perjalanan.” Pak Handoko menimpali, dia baru masuk ke kamar. Mendengar perkataan Pak Handoko, Bu Nani menarik napas lega. Dia tersenyum menatap Annora. “Tapi, Annora nggak apa-apa, kok,” jawab Annora. Dia merasa tak enak, dengan kebaikan kedua mertuanya. Ah, andai saja anaknya sebaik Mama Papa, pasti aku akan sangat bahagia, sayangnya tidak. Annora mendesah pelan. “Nggak apa-apa gimana? Orang badannya panas gitu, kok.” Pak Handoko memegang kening Annora. Lalu, tak lama kemudian dokter langganan keluarga Elang pun datang. “Permisi,” ucap sang dokter. Pak Handoko dan Bu Nani menoleh, lalu mereka menyilakan Dokter Hendi untuk masuk. Annora mengernyit karena sang dokter masuk sendiri tanpa Elang. Elang memang tak peduli dengan keadaanku, buktinya dia tak mau kondisiku. Annora mendesah pelan. “Pagi Mbak. Permisi saya periksa dulu suhu tubuhnya, ya?” Annora pun mengangguk. Lalu, Dokter Hendi memeriksa suhu Annora dengan termometer arteri. Dokter Hendi menembakkan Termometer ke dahi Annora, terlihat suhu tubuhnya mencapai 39° C. Mata sang dokter terbelalak melihatnya. “Suhunya tinggi sekali, Mbak, 39°C. Jangan pakai selimut, ya, pakai baju tipis saja. Jilbabnya pakai yang tipis aja juga kalau nggak mau dilepas. Banyak minum, ya?” Annora mengangguk. “Oh iya Bu, kalau dalam tiga hari demamnya belum turun bisa dibawa ke rumah sakit ya? Sekarang nggak ada gejala lain, cuma demam aja. Mungkin demam karena mau batuk atau ada alergi dingin.” Dokter berbicara pada Bu Nani. “Iya, Dok. Terima kasih, ya?” “Ini saya resepkan obat saja, bisa ditebus di apotik.” Dokter Hendi kemudian menyodorkan catatan resep pada Bu Nani. Setelah itu sang dokter berpamitan. Pak Handoko lalu mengantar Dokter Hendi keluar dan katanya mau langsung menebus obat. “Kamu istirahat saja, ya, dulu. Mama ambilkan sarapan dulu,” pamit Bu Nani. “Iya, Ma.” Setelah itu Bu Nani pun melangkah keluar hendak menuju dapur untuk mengambil sarapan. Saat melewati ruang tengah Bu Nani hanya geleng-geleng saja melihat Elang tertawa-tawa sendiri dengan ponselnya. “Elang!” teriak Bu Nani. Elang yang sedang chating dengan Jeny langsung berjingkat. “Duh, apa sih Ma? Ngagetin Elang saja!” Elang bersungut-sungut. “Kamu ini gimana sih jadi suami? Istri sakit bukannya ditungguin malah asyik main HP. Tadi dokternya kenapa nggak diantar ke kamar? Mbok ya diantar sambil lihat keadaan Annora.” Bu Nani masih saja mengomel. “Duh, Ma, nggak usah lebay deh, Annora kan nggak apa-apa, Cuma demam aja, kan? Tadi Dokter Hendi udah bilang ke Elang, jadi ya nggak perlu khawatirlah.” Elang berkata dengan begitu santai. Bu Nani hanya geleng-geleng saja melihat sikap Elang. “Tadi kenapa kamu nggak antar papamu nebus obat?” tanya Bu Nani. “Papa bilang mau berangkat sendiri.” “Ya, karena papamu mau kamu ngerawat Annora. Udah ah Mama mau ke dapur ambil sarapan buat Annora. Terus nanti kamu yang bawa ke kamar terus suapin Annora!” perintah Bu Nani. “Ih, ogah! Mama ajalah!” Elang kemudian berdiri dan melangkah keluar. “Eh, mau ke mana?” “Jalan-jalan! Suntuk dimarahin Mama mulu. Orang Annora sakit sendiri bukan karena Elang juga!” Elang kemudian pergi keluar. Dia mau menelepon Jeny. Dari tadi Jeny merajuk karena teleponnya tidak diangkat oleh Elang. Ya, Elang memang tak bisa mengangkat sembarangan telepon dari Jeny kalau sedang ada Pak Handoko ataupun Bu Nani. Kemudian, Bu Nani pun pergi ke dapur. Nanti ada saatnya Bu Nani akan berbicara dengan Elang. Untuk sekarang Annora harus diperhatikan lebih dulu. Setelah mengambil makan Bu Nani pun pergi ke kamar Elang lagi. Annora berbaring sambil menatap langit-langit kamar. Entah dia sedang memikirkan apa. “Annora, ayuk bangun sebentar,” ucap Bu Nani saat sudah di dalam kamar. Annora pun menoleh, lalu dia mencoba bangun dengan dibantu Bu Nani. “Pelan-pelan, Nak.” "Ayo makan dulu. Mama suap, ya," ucap Bu Nani setelah Annora duduk. Bu Nani kemudian menyuapi Annora dengan pelan. Mata Annora berkaca-kaca. Dia terharu karena sang mertua begitu baik. Selama ini Annora belum pernah yang namanya diperhatikan sosok seorang ibu. Dari kecil Annora sudah tidak mengenal tentang ibu. Tiba-tiba Annora terisak tidak bisa membuka mulutnya. Bu Nani kaget melihat Annora menangis, dia pun langsung memeluk Annora dengan penuh kasih sayang. “Kamu kenapa, Nak? Kenapa menangis? Ada yang sakit?” Bu Nani begitu khawatir. Annora menggeleng. “Nggak, Ma. Nora terharu, karena baru kali ini rasanya diperhatikan sosok seorang ibu.” Annora semakin terisak, membuat Bu Nani kian mengeratkan pelukannya. “Sudah jangan nangis lagi. Mulai sekarang anggap saja Mama ini ibumu, bukan ibu mertua. Udah, ya? Jangan nangis lagi. Kamu makan dulu, nanti kalau obatnya udah datang langsung minum obat.” Bu Nani mengurai pelukan. Lalu, Bu Nani pun mulai menyuapi Annora lagi. Baru satu suapan Annora menggeleng, dia menolak makan. "Lho, kamu harus makan. Supaya sehat kembali, badan kamu masih panas ini." Bu Nani memeriksa dahi Annora. “Udah Ma. Pahit rasanya.” Annora menutup mulutnya. Bu Nani menarik napas dalam, mencoba membujuknya lagi, tapi Annora menolak. Akhirnya, karena terus didesak Annora pun makan meski hanya beberapa suap. Lalu, tak lama kemudian Pak Handoko datang membawa obat. Saat melihat Pak Handoko, mata Annora melihat ke sekeliling. Dia seperti mencari seseorang. Mungkin Elang. "Kamu cari Elang?” tanya Bu Nani. Annora langsung tersipu malu, pipinya memerah karena ketahuan sedang mencari Elang. "Nggak, kok, Ma. Nora nggak cari Elang," sahut Annora dengan cepat. "Beneran? Terus cari siapa?" Hanya gelengan lemah yang Annora beri. Annora pun menunduk untuk menutupi rasa malu. “Ya udah, kamu minum obat dulu, ya? Setelah itu istirahat. Nanti Mama panggilkan Elang.” Bu Nani mencoba tersenyum pada Annora. Annora hanya mengangguk. Lalu, Pak Handoko menyerahkan obat pada Bu Nani. Setelah itu Bu Nani memberikan obatnya pada Annora. Setelah Annora minum obat, Bu Nani meminta Annora untuk tidur supaya nanti saat bangun badannya sudah enakan. “Kamu istirahat dulu, ya, Nak? Papa sama Mama keluar dulu.” Pak Handoko membelai kepala Annora. Annora hanya mengangguk sambil tersenyum. Dia merasa beruntung memiliki mertua yang begitu baik. Namun, Annora masih bertanya-tanya tentang keberadaan Elang. Dari tadi Elang sama sekali tak peduli dengan keadaan Annora. Annora hanya mendesah pelan, lalu setelah Pak Handoko dan Bu Nani keluar, dia memutuskan untuk tidur. *** bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD