Perkelahian jari tengah

1090 Words
Juan dengan terburu keluar dari kamar setelah melihat isi balasan chat dari Nhosa yang mengiriminya foto 2 jari tengah. "Jangan dia pikir dengan mengirimi ku foto dua jari tengah seperti itu dia bisa menang dariku, jangan harap itu akan terjadi karena aku tidak akan membiarkan itu terjadi." Gerutu Juan seraya berjalan dengan wajah marahnya menuju ruangan santai para pelayan yang ada di area pekarangan belakang kediamannya. Jaun harus menerobos hutan mini di halaman belakang rumahnya jika ia ingin ke ruangan para pelayan. "Tuan Juan!" Simon tersentak terbangun dari duduknya diatas sofa tunggal saat melihat sang majikan mendatangi pondok tempat berkumpulnya para pelayan saat menghabiskan waktu santai mereka. Wajah Simon sangat pucat, karena sangat langkah melihat majikanya itu datang langsung ke area tempat para pelayan. "Ada apa Tuan?" tanya Simon terbatah. Pelayan lelaki paruh baya itu terlihat gugup, ia merasa takut kalau-kalau salah satu pelayan disana berbuat kesalahan besar sampai Tuan besar mereka yang bernama Juan Pernando Hose itu datang langsung ke area paviliun para pelayan. Juan mendudukan tubuhnya di atas sofa, melihat kearah Simon yang berdiri dengan kepala tertunduk dan kedua tangan terjulur ke bawah dalam keadaan menyilang. "Ada berapa pelayan di rumah ini?" tanya Juan Simon sempat tersentak kaget lalu mulai menghitung jumlah para pelayan yang berada dalam pengawasannya selaku ketua pelayan di kediaman Hose. "Total ada 15 orang termaksud saya, Tuan." Jawab Simon "Minta mereka semua untuk berkumpul di ruangan ini sekarang juga," titah Juan membuat Simon mulai bergegas mengumpulkan para pelayan yang ada di kediaman Hose itu. "Apa yang sebenarnya terjadi?" "Pasti ada yang melakukan kesalahan besar sampai Tuan Juan datang langsung ke paviliun para pelayan." Terdengar bisikan-bisikan kegelisahan para pelayan yang berbincang satu sama lain disela-sela perjalanan mereka menuju paviliun para pelayan. Simon yang berdiri paling pojok sesekali menelan ludahnya saat jari telunjuknya mulai menghitung barisan para pelayan yang kini sudah berkumpul di ruangan serba guna paviliun mereka. Tak ada wajah damai di paras para pelayan yang berkumpul, mereka semua panik, takut-takut telah berbuat kesalahan tanpa sengaja sampai membuat penguasa kediaman Hose itu datang langsung kearea paviliun para pelayan. "Apa sudah berkumpul semua?" tanya Juan tanpa menatap lawan bicara dan hanya asyik mengotak atik ponsel pintar berwarna navynya. "Sudah Tuan." sahut Simon gugup. Kegugupan Simon semakin besar saat Juan bangkit dari duduknya, padahal lelaki bernama Juan itu hanya beranjak berdiri dari duduknya namun aura mengintimidasinya sudah dapat membuat para pelayan keringat dingin termaksud Simon. "Angkat kedua jari tengah tangan kalian." ucap Juan seraya mengatur mode kamera pada ponselnya. Merasa kamera ponselnya sudah bagus Juan langsung menatap para pelayan yang berkumpul dengan wajah pucat pasih mereka. Juan menyerengitkan alisnya ketika mendapati tak ada satupun pelayan yang berani mengangkat jari tengah mereka begitu juga dengan Simon "Apa yang kau lakukan? Cepat angkat kedua jari tengahmu," ucap Juan mengulang kembali kalimat perintahnya pada Simon Dengan ragu Simon mengangkat kedua jari tengahnya tepat di depan wajah sang majikan sembari berkata "Seperti ini, Tuan?" "Apa kau ingin ku pecat?!" Spontan Simon langsung menurunkan jari tengahnya dengan wajah panik "Bukanya tadi dia sendiri yang meminta ku mengangkat jari tengah." Keluh Simon dalam hati kecilnya. "Kau ingin mengumpati ku dengan jari tengahmu itu?" "Tidak Tuan!" Sambar Simon cepat "Aku bahkan tidak ada niatan untuk mengumpati mu dengan jari tengahku, aku mengangkat jari tengahku karena tadi anda yang menyuruh ku, Tuan." jelas Simon dengan suara bergetar. "Aku memang meminta mu mengacungkan jari tengahmu tapi bukan berarti kau dapat melakukanya di depan wajahku juga." Balas Juan dengan wajah sedikit kesal. "Maafkan aku, Tuan." ucap Simon "Bergabunglah dengan yang lainnya." Tanpa buang-buang waktu Simon langsung mengambil tiga langkah panjang untuk bergabung dalam barisan para pelayan lainnya. Juan kini mengarahkan ponsel pintarnya kearah para pelayan yang tengah berkumpul membentuk setengah lingkaran "Aku ingin kalian semua mengangkat kedua jari tengah kalian kearah kamera. Barang siapa yang jarinya tidak muncul dalam foto maka aku akan memotong jarinya itu," ancam Juan membuat para pelayan itu spontan mengacungkan kedua jari tengah mereka kearah kamera secara bersamaan lalu menahan pose itu beberapa detik sampai Juan selsai memotret mereka. "Satu, dua, tiga." ucap Juan bersamaan dengan suara ponsel yang mengambil gambar. Juan tanpa sabaran langsung memeriksa hasil fotonya, seulas senyum kemenangan langsung menghiasi wajahnya kala mendapati semua jari tengah para pelayannya tertangkap oleh kamera dengan sempurna "Kita lihat sekarang siapa yang menang," gumam Juan penuh kepuasan. Juan memasukan ponselnya dalam saku celannya dan saat ia mengangkat wajahnya alangkah terkejutnya Juan saat melihat para pelayannya masih dalam posisi berdiri sembari mengacungkan jari tengah mereka termaksud Simon. "Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Juan bingung tanpa ia sadari bahwa moment itu terjadi atas perintanya "Kalian semua ingin mengumpati ku menggunakan jari tengah kalian?" mendengar itu semua pelayan yang ada disana langsung menurunkan jari tengah dan tangan mereka. "Kembalilah bekerja," ucap Juan sebelum berlalu meninggalkan paviliun para pelayan dengan wajah tanpa dosanya. "Apa yang baru saja terjadi?" Tanya seorang pelayan itu pada rekan sesama pelayannya. "Apa dia datang ke paviliun hanya untuk meminta kita mengacungkan jari tengah lalu memotretnya. Kurang kerjaan sekali." sahut pelayan berkaca mata itu seraya menepuk-nepuk lenganya yang terasa pegal akibat menahan pose jari tengahnya. "Semakin hari kelakuan Tuan Juan semakin aneh saja," "Huuuss!..." Simon menyelah percakapan para pelayan itu "Jaga ucapan kalian. Jika Tuan Juan mendengar kalian maka aku yakin mulut kalian itu akan dijahit." Tiga pelayan itu langsung terdiam sebelum membungkuk kearah Simon kemudian meninggalkan lelaki itu dalam keheningan seorang diri. Juan tanpa sabaran menunggu balasan chat dari pemilik akun @Nhosa_Morries setelah ia berhasil mengirimkan foto jari tengah seluru pelayan yang ada di kediamannya. "Sekarang kita lihat bagaiman cara gadis itu akan mengalahkan ku dan pasukan jari tengahku." Ucap Juan merasa puas akan kemenangannya. *** Mulut Nhosa menganga spontan saat melihat isi chat yang dikirim Juan padanya, sebuah foto lima belas orang yang tengah mengangkat jari tengahnya langsung memenuhi isi layar ponsel pintar milik Nhosa, di bawah foto itu ada caption berbunyi 'Sekarang kau tahukan siapa pemenang sesunggungnya' tak lupa emotikon beruang yang tertawa ngakak menghiasi akhir dari caption foto itu. Jari telunjuk Nhosa terjulur, mulutnya bahkan komat kamit saat menghitung jumlah jari tengah yang ada di dalam foto "Ada tiga puluh jari tengah," gumam Nhosa "Dia mengajak orang satu RT untuk membuat foto ini, yang benar saja." Lanjutnya seraya memutar otak untuk berfikir bagaimana caranya mengalahkan lelaki pemilik akun @Juan_Pernando itu. "Untuk saat ini aku hanya memiliki dua jari tengahku, jari Ayah dan Mama itupun kalau mereka bisa ku ajak berfoto dengan pose mengacungkan jari tengah." Gumam Nhosa "Aaah!.." Erangnya frustaris "Bagaimana caranya agar aku dapat mengajak penduduk kompleks untuk foto bersama dengan pose mengacungkan jari tengah?" Pikir Nhosa Bersambung!...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD