Baper berkali-kali

875 Words
Qiran menatap paper bag di tangannya. Gadis itu benar-benar terkejut karena sikap manis Rayza pagi ini. Sungguh dia tak ingin terbawa perasaan. Terlebih lagi dia baru mengenal Rayza beberapa hari. Satu... Dua... Tiga... Empat... Lima... Qiran memejamkan mata. Menyentuh apa yang ada di dalamnya. Dan syaraf sensorik di ujung jemarinya menyatakan bahwa yang dia sentuh adalah sebuah benda yang halus, lembut dan sejuk di kulit. Qiran yakin, Rayza membelikannya pakaian untuk pergi ke Mall. Dan lagi-lagi hatinya meloncat bahagia. Perhatian kecil ini kembali membuat jantungnya kembali mengkhianati otaknya. Sial... Qiran baper lagi... Karena rasa penasaran yang membumbung tinggi, Qiran akhirnya membuka mata. Dia ingin segera melihat visual pakaian yang akan dia gunakan. Dan... Qiran semakin terkejut. Ini di luar ekspetasinya. Pakaian itu berwarna cokelat muda berpadu dengan cream. Tak lupa motif bunga khas ibu-ibu rumah tangga kolot. Jelas ini daster. Daster batik emak-emak rempong yang biasanya sudah punya anak tiga. "Astagfirullah... Sepertinya gue harus banyak-banyak istigfar sekarang. Dari jaman dulu sampai sekarang, gue ga pernah pake baju model beginian... Qiran... Nasib Lo benar-benar bagus. Lo resmi jadi pembantu rumah tangga sekarang," ucap Qiran bermonolog. Sungguh Qiran merasa ragi hendak memakai pakaian kuno macam seperti ini. Tapi jika dia tidak berganti pakaian, haruskah dia memakai pakaian Rayza yang terllau besar dan jelas terlihat dia meminjam. Benar-benar menyebalkan. Awalnya Qiran pikir Rayza akan memberikan gaun cantik untuk pergi jalan-jalan. Nyatanya sebuah daster emak-emak yang jangankan membeli, mampir ke toko daster pun belum pernah dia lakukan. Sungguh Qiran merasa kesal. Dia pun melempar pakaian kuno itu ke atas ranjang. Wajahnya ditekuk kesal. Namun sesaat kemudian dia mengendus-endus ketiaknya. Ada aroma tak sedap dari sana. Semuanya karena dia tidak berganti pakaian sejak kemarin. Akhirnya dengan terpaksa Qiran kembali meraih daster yang sempat dilemparkan ke ranjang. Kini Qiran menatap dirinya di cermin. Tapi penampilannya sekarang jauh lebih buruk dibandingkan dengan daster yang sepertinya pas di tubuhnya. Haruskah Qiran menggunakan pakaian kelas bawah seperti itu? Rayza benar-benar berhasil menjatuhkan harga dirinya. "Terpaksa harus dipakai," ucap Qiran mengerucutkan bibirnya. Dengan cepat gadis segera mengganti pakaiannya dengan daster murahan yang harganya tak sampai lima puluh ribu rupiah ini. Rasa sejuk segera menyapa kulitnya saat bersentuhan dengan kain. Ada rasa nyaman karena kain untuk pembuatan daster cukup baik. Semua itu karena kain 100% katun alami. Tapi tetap saja Qiran tidak percaya diri menggunakannya. "Masa gue pake daster? Nanti kalo di Mall ketemu temen kampus gue.... HUAAA... Gue ga bisa bayangin... Bakal malu banget gue," ucap Qiran berteriak kesal. Tapi dia tak punya pilihan lain. Daster itu jauh lebih baik dari pada kaos Manchester united dan celana boxer yang sedang digunakannya. Akhirnya mau tidak mau Qiran menggunakan daster itu. Dengan sedih netra coklat sang gadis menatap pantulan dirinya di cermin. Meneliti penampilannya dari ujung rambut hingga kaki. Rambut Cepol asal, daster coklat emak-emak dan sandal jepit. Benar-benar penampilan pembantu. Fix. Dia benar-benar menjadi pembantu sekarang. Tapi Qiran tidak kehilangan akal. Dia mencari apapun yang bisa dia gunakan sebagai ikat pinggang. Dan ide brilian muncul saat melihat guling. Alhasil, tali pengikat guling dia gunakan untuk mengikat pinggangnya. Jemari lentik itu bergerak menarik sisi kain agar terlihat seperti dress dan merapihkan setiap lipitan yang tercipta. Qiran juga mengikat ujung lengan yang kebesaran dan menciptakan pita cantik di sana. Setelah merasa sukses dengan desain dadakan, Qiran kembali melihat pantulan dirinya di cermin. Gadis itu memutar tubuhnya dan memastikan tak akan ada yang sadar bahwa yang dia gunakan adalah daster sialan. Qiran juga membersihkan wajahnya. Beruntung dia memiliki kulit yang lembut dan halus sehingga tanpa bedak pun tampilan kulitnya sudah cantik. Bahkan dia juga memiliki warna bibir yang cerah tanpa polesan lipstik. Qiran mulai menyisir rambut panjangnya dan menguncir kuda. Gadis itu tersenyum puas, karena kini dia tidak tampak seperti pembantu rumah tangga. Gadis itu kembali memastikan penampilannya di cermin besar. Memantau setiap lekukan baju daster sialan yang melekat di tubuhnya. Memastikan tak akan ada yang sadar bahwa itu adalah daster. Dan seulas senyum terbit di wajahnya. Pakaian khas ibu rumah tangga plus pembantu itu tampak seperti dress masa kini. "Oke, siap pergi." Qiran menjentikkan jarinya. Gadis itu pun bergerak menuju pintu dan lagi-lagi terpesona akan penampakan pria tampan yang suka muncul tiba-tiba seperti hantu. Rupanya sejak tadi Rayza berdiri di depan pintu kamarnya. Pria itu memakai kaos casual dan celana jins. Santai tapi tetap tampan. Sial hatinya kembali berkhianat dengan menilai ketampanan pria itu. Sedangkan Rayza menatap tak percaya pada penampilan Qiran. Selera gadis itu benar-benar tinggi. Bahkan Qiran bisa menyulap sebuah daster menjadi dress yang cantik. "Terpesona Hem...?" Tanya Qiran percaya diri. Gadis itu memberikan senyum genit dengan kedipan mata satu. Menggoda tapi tidak murahan di mata Rayza. Rayza pun menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali. Ya dia gugup sekaligus canggung. Dia tak menyangka Qiran bisa melakukan hal di luar ekspektasinya. Dia pikir, tak lama membuka paper bag, Qiran akan segera menemuinya dan marah-marah. Tapi ternyata tidak. Gadis itu memiliki sejuta ide untuk menyelamatkan penampilannya. "Ya... Kau cantik. Mari menikah?" Ucap Rayza kembali membuat Qiran terperanjat. Hari ini pria di hadapannya sukses membuat Qiran baper berkali-kali. Jantung gadis itu berdebar tak menentu. Apalagi tatapan hangat dari Rayza yang sangat memikat. Sungguh pesona yang membuatnya sulit lepas dari ikatan. Pria itu selalu saja berhasil membuat jantungnya terperanjat karena setiap kata yang dilemparkan untuknya selalu di luar ekspektasi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD