Semakin terpesona

1286 Words
Usai berbelanja kebutuhan bulanan. Rayza membawa semua belanjanya ke mobil. Sedangkan Qiran mengikutinya dari belakang. Sejujurnya Qiran tak tega melihat Rayza yang membawa dua karton belanjaan dengan kedua tangannya. Qiran yakin belanjaan itu pasti berat. Tapi Rayza selalu menolak jika Qiran menawarkan bantuan. Dan kali ini Qiran semakin heran dengan pria bernama Rayza itu. Dengan dua karton belanjaan yang pastinya berat, tapi langkah kaki pria itu bergerak cepat seolah tak ada beban. Bahkan Qiran harus mempercepat langkah kakinya agar tak jauh ketinggalan. "Sini aku bantu. Aku ga enak kalo belanjaannya semua kamu yang bawa." Ucap Qiran tak enak hati. Rayza segera menghentikan langkahnya dan menatap Qiran. "Kau tak akan sanggup membawanya. Badan kecil begitu sok-sokan mau bawa belanjaan begini." Ucap Rayza mencibir. Qiran benar-benar gemas dengan mulut manis Rayza. Pria itu seolah tak pernah memiliki rangkaian kalimat yang lebih baik. Bukankah pria sejati seharusnya menjawab... "Biarkan aku yang bawa, aku tak tega jika wanita yang membawa beban berat." Itu jauh lebih manis. "Ish... Ish... Ish... Bibir mu manis sekali. Tapi aku tahu kok, maksud kamu baik. Kamu ga tega lihat wanita bawa beban berat kan? Aku terharu lho." Ucap Qiran santai. Dan hal itu malah membuat Rayza salah tingkah. Wajah Rayza memerah karena ucapan Qiran sama persis seperti yang ada dalam hatinya. Dan jujur pola pikir positif Qiran membuat Rayza semakin terpesona pada gadis manis sang pencuri hati. "Wajahmu memerah... Terpesona hmmm." Ucap Qiran menggoda Rayza. Rayza segera membuang wajahnya enggan berdebat dengan wanita itu. Dia kembali melangkahkan kakinya dengan cepat menuju mobil. "Qiran tolong ambilkan kunci mobil di saku celana belakang ku." Ucap Rayza. Dengan santai Qiran menarik kunci mobil itu dan membuka kunci otomatis hingga berbunyi BIB. Beruntung Qiran adalah gadis yang peka, Qiran segera membuka bagasi belakang agar Rayza bisa langsung menyimpan belanjaan mereka ke sana. Sambil menunggu Rayza merapihkan belanjaan mereka, Qiran pun duduk di kursi penumpang depan. "Hei... Kau pikir acara belanja kita sudah selesai? Main duduk saja." Ucap Rayza. "Ish... Aku tuh punya nama. Panggil aku Qiran. Jangan hei. Lagian mana aku tahu acara belanja kita belum selesai. Kan kamu ga bilang. Ya jangan salahkan aku kalo aku langsung duduk siap-siap pulang." Ucap Qiran cerewet. "Bawel banget. Ayo ikut aku." Ucap Rayza melangkahkan kakinya menjauh dari mobil. Dia yakin Qiran pasti tahu cara mengunci mobilnya, toh kunci itu sudah ada di tangan Qiran. "Mau belanja apa lagi?" Tanya Qiran terseok-seok mengikuti langkah kaki Rayza. "Pakaian untukmu." Uap Rayza singkat. "Ugh... Manis sekali. Terima kasih ya." Ucap Qiran semangat. Dia pun segera masuk ke salah satu counter pakaian ternama. "Mau apa kamu ke situ?" Ucap Rayza membuat Qiran langsung menghentikan langkahnya. "Mau beli baju kan?" Ucap Qiran dengan jari yang menunjuk ke arah counter. "Ya nggak di situ juga kali. Kita ke sana." Ucap Rayza menunjuk sebuah counter pakaian. Mata Kiran langsung membulat sempurna. Bahkan rasanya bola mata itu hampir menggelinding ke tanah. Qiran tak menyangka pria itu mengajaknya ke counter yang menjadi ciri khas utama Negara Indonesia. "Lho kok batik. Emang mau kondangan." Ucap Qiran kesal. Bukannya Qiran tak mau mencintai produk Indonesia. Tapi Qiran tak cukup memiliki rasa percaya diri saat menggunakannya. Apalagi jika coraknya seperti wanita renta. Bisa jatuh reputasinya sebagai penyandang cewe tomboi yang modis. Rayza tetap melangkah kakinya menuju counter batik tersebut. Dia yakin Qiran akan menurut dan mengikuti langkahnya. Karena Qiran tak memiliki uang sepeser pun. Benar saja, Rayza mendengar suara tepukan sandal Qiran dengan lantai mall. Suara itu terdengar jelas karena Qiran sengaja menghentaknya. Dan kini Rayza berhenti di stand batik. Dia mengambil beberapa pakaian panjang wanita dengan corak batik berwarna pink, corak batik biru muda, corak batik merah dan corak batik bernuansa hijau muda. Setidaknya yang dia ambil warna yang tidak terkesan seperti orang yang terlalu tua. Cukup cocok untuk Qiran bekerja di rumahnya. "Sebanyak ini? Baju batik semua? OMG... Lebih baik aku diberikan satu baju yang keren dari pada semua ini. Sungguh." Ucap Qiran memelas. "Ini cantik kok. Warnanya juga cerah." Ucap Rayza. "Tapi aku ga pede." "Emang mau dipake kemana harus pede. Kan kamu ga kemana-mana. Cuma nyuci, masak, dan beres-beres rumah masa harus pakai gaun?" Ucap Rayza. Akhirnya mau tak mau Qiran mengunci rapat suaranya. Lagi-lagi Rayza memperjelas statusnya yang kini menjadi pembantu rumah tangga. Qiran pun memajukan bibirnya karena kesal. Dan dia meraih kantung belanjaan berisi daster batik pilihan Rayza ke arah kasir. "Mba, nih dia yang bayar." Ucap Qiran menunggu kasir memproses belanjanya dan langsung meninggalkan Rayza saat plastik belanjanya diberikan oleh gadis cantik yang menjadi kasir tersebut. Sedangkan Rayza hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Qiran yang merajuk lalu memberikan kartu ATM untuk membayar belanjaannya. "Terima kasih ya Mba..." Ucap Rayza setelah transaksi jual beli mereka selesai. Rayza berlari mengejar langkah Qiran yang sudah menjauh. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari sosok cantik Qiran. Dan Rayza kembali berlari saat melihat sosok yang dia yakini sebagai Qiran. "Hei... Cepat sekali kau berjalan. Kalau aku kehilangan jejak mu bagaimana? Memang kau punya uang untuk pulang?" Ucap Rayza sukses membuat Qiran berhenti dan menoleh sinis ke arahnya. Sungguh Qiran merasakan amarah yang membakar hingga ubun-ubun pada pria menyebalkan itu. "Sudah kubilang. Aku punya nama." Ucap Qiran kesal selalu di panggil hei oleh Rayza. "Iya maaf." Ucap Rayza hanya mengucapkan kata maaf tanpa mengulang namanya. Hal itu membuat Qiran yakin Rayza tak pernah berniat mengingat namanya. "Aku baru tahu ada dokter dengan IQ jongkok sepertimu. Bahkan mengingat nama orang saja tak sanggup." Ucap Qiran mencibir. Mendengar hinaan Qiran membuat Rayza cukup marah. Tapi dia sadar, tidak ada gunanya membalas ucapan Qiran. Bukannya Rayza tak mengingat atau tak mau mengingat nama gadis itu, tapi Rayza hanya ingin memanggil Qiran dengan sebutan spesial. Dan hanya dia yang boleh mengucapakannya. Simpel seperti itu. Rayza merasa hal kecil seperti ini tak seharusnya diributkan. Rayza pun kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Qiran. Biarkan saja gadis itu dengan pola pikir negatifnya. Toh nyatanya Qiran tak akan berani menjauh darinya. Karena saat ini Qiran masih bergantung padanya. Mau tinggal di mana dia jika Rayza tak memberinya tempat tinggal? Rayza yakin dengan sikap menyebalkan gadis itu, pasti Qiran tak punya banyak teman. Sedangkan Qiran mau tak mau mengikuti langkah Rayza yang bergerak ke arah counter handphone. "Sini duduk!" Ucap Rayza menepuk kursi kosong di sampingnya tepat di depan counter tersebut. Qiran pun segera mendudukkan pantatnya ke kursi dengan kasar. Hingga kursi itu hampir saja terpelanting ke belakang. Beruntung Qiran memiliki keseimbangan yang bagus hingga bisa menahan bobot tubuh dan kursi agar tidak terjatuh. Dan Qiran semakin kesal karena Rayza menahan tawa melihat atraksinya. "Jangan ketawa!" Ucap Qiran ketus. Rayza pun tersenyum ramah. "Aku tidak tertawa. Mba maaf ya teman saya ini memang pernah kerja di sirkus. Makanya pandai atraksi." Ucap Rayza membuat Qiran menginjak kaki Rayza dengan cukup kuat. "Aaauuu... Sakit De..." Ucap Rayza sok imut. "De? Sejak kapan Lo jadi Kaka gue." Ucap Qiran mencibir. "Sudahlah jangan ngambek. Ayo pilih mau handphone yang mana?" Ucap Rayza tersenyum sangat manis. Menampakkan lesung pipi dan jejeran gigi rapi terawat, membuat Qiran speechless. Sungguh bibir Qiran yang biasanya selalu memiliki banyak rantaian kata, musnahlah sudah. Qiran menatap tak percaya pada sosok pria di hadapannya. Sungguh dia tak menyangka Rayza mengajaknya ke counter handphone untuk membelikannya sebuah handphone. "Sedang kesurupan malaikat apa nih cowok?" Ucap Qiran membatin. Bahkan ungkapan kesurupan ini sudah tak menjadi milik iblis, melainkan milik malaikat. Karena biasa Rayza selalu sukses menjadi sosok menyebalkan dalam kehidupannya tapi sekarang? Mungkinkah ini jiwa Rayza yang lain? Jika memang ini jiwa Rayza yang lain, bolehkah Qiran memintanya untuk jangan pergi dan membiarkan jiwa Rayza yang biasanya kembali pulang? Ugh... Khayalan tingkat tinggi memang. Jujur saja, Rayza sukses membuatnya kesal, marah, bahagia, suntuk dan terpesona. Qiran mampu merasakan berbagai rasa kehidupan melalui pria ini. Dan saat ini Qiran mengakui, dirinya kembali terpesona.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD