bc

Si Bungsu Kesayangan

book_age12+
0
FOLLOW
1K
READ
family
HE
heir/heiress
drama
sweet
serious
addiction
like
intro-logo
Blurb

Bagi Fay, menjadi anak bungsu di keluarga Volkov itu ibarat hidup dalam gelembung kaca: dilindungi ketat dari luar, tapi tetap mendapat sorotan penuh dari dalam. Di mata dunia, ayahnya, Alex, dan kakak sulungnya, Aaron, adalah dua sosok CEO yang dingin dan tak kenal ampun. Tapi begitu pintu rumah tertutup, topeng itu lepas. Tatapan tajam mereka melunak seketika hanya untuk Fay.

Selalu ada Victoria, sang ibu, yang sibuk membagi perhatian di tengah keriuhan adik-kakak yang kepribadiannya bagai air dan minyak. Ada Devan yang terlalu penurut, Fhatur yang hobi bikin kesal, Harun yang seolah cuek padahal paling peduli, Ghina yang cerewetnya nggak ada habisnya, sampai Lyora yang hobi banget nyinyir atau "menjulid". Di tengah semua kekacauan itu, Fay justru merasa nyaman.

Meski lahir di tengah kemewahan, Fay tetaplah remaja 16 tahun biasa yang kakinya menapak tanah. Di kamarnya, ia bukan sekadar putri konglomerat, tapi seorang penulis rahasia.

Pada akhirnya, meski nama belakangnya berat dan penuh ekspektasi, keseharian Fay tetaplah hangat. Penuh tawa, sedikit drama khas remaja, dan cinta keluarga yang kadang mengekang, tapi selalu ada.

(kalau misalnya ceritanya banyak rombak, maaf ya biasa aku orangnya gk puas 🥲.. jangan lupa like dan Comment 🦋💕)

chap-preview
Free preview
Chapter 1
♛┈⛧┈ ༶ Enjoy the read, LilyButterfly ༶ ┈⛧┈♛ Suasana di ruang makan keluarga terasa mewah namun tegang, seperti biasa. Meja makan marmer putih yang panjang itu dipenuhi dengan hidangan lezat yang disiapkan oleh koki pribadi kami. Ayah, Alex, duduk di ujung kepala meja dengan postur tegak, matanya yang tajam menyapu satu per satu anggota keluarganya, memastikan semua hadir. Ibu, Victoria, duduk di sebelahnya, tersenyum tipis namun matanya waspada, terutama saat menatap Fikha yang duduk di sebelah Fhatur. Aku, Fay, duduk dengan tenang di antara Harun dan Ghina. Aku mengenakan gaun sederhana namun elegan, rambutku terurai rapi. Di hadapanku ada piring berisi makanan yang belum banyak kusentuh. Aku memainkan garpuku dengan malas, sambil sesekali melirik ke arah Fikha yang sedang tertawa agak keras, mencoba menarik perhatian dengan cerita tentang "liburan mewahnya" yang sebenarnya terdengar klise dan dibuat-buat. Fikha baru saja selesai bercerita tentang tas branded barunya, lalu matanya yang sipit dan penuh penilaian tertuju padaku. Dia tersenyum miring, nada suaranya sengaja dikeraskan agar semua orang mendengar. "Wah, Fay masih sekolah ya? Pasti sibuk banget sampai-sampai nggak punya waktu buat belanja atau jalan-jalan kayak aku dan Fhatur," kata Fikha dengan nada merendahkan, seolah-olah usiaku yang 16 tahun adalah sebuah kekurangan. "Kamu masih dapat uang jajan dari orang tua, kan? Belum mandiri seperti aku yang sudah bekerja... well, managing gaya hidup." Fhatur hanya tertawa kecil, tidak membela aku, sementara Aaron dan Devan tampak tidak peduli. Namun, aku bisa merasakan tatapan tajam Harun di sampingku, dan alis Ghina yang terangkat skeptis. Aku menunduk sebentar, menyembunyikan senyum tipis di sudut bibirku, lalu mendongak dengan ekspresi paling polos dan lugu yang bisa kubuat. Mataku membesar sedikit, terlihat bingung dan tidak bersalah. "Oh, Kak Fikha..." suaraku lembut, bersih, dan terdengar sangat naif. "Aku sih nggak terlalu paham soal 'mengatur' gaya hidup. Aku lebih sering di kamar ngetik-ngetik aja di laptop. Soalnya, penghasilan dari novel terakhirku baru saja masuk tadi siang, jadi aku bingung mau dipake buat apa. Enaknya ditabung aja kali ya, atau beli buku baru? Aku nggak terlalu suka belanja barang-barang mahal sih, takut nggak cocok sama selera aku yang sederhana ini." Aku berkata itu dengan nada datar namun tulus, seolah-olah menyebutkan penghasilan jutaan rupiah dari hobiku adalah hal yang biasa saja, tanpa niat menyombongkan diri. Aku tahu kalimat itu akan menjadi bumerang bagi Fikha, mengingat dia selalu pamer tentang hal-hal materialistik padahal aslinya... yah, kita semua tahu siapa yang membiayai gaya hidupnya. Ayah, Alex, mengangkat alisnya sedikit, sudut bibirnya tertarik ke atas dalam senyuman dingin yang jarang terlihat. Ibu, Victoria, batuk kecil untuk menutupi tawanya, sementara Harun di sampingku hampir tersedak minumannya karena menahan ketawa. Fikha terpaku, wajahnya memerah padam, mulutnya terbuka tapi tidak ada suara yang keluar. Suasana hening sejenak, hanya terdengar denting garpu dan pisau yang pelan. Fikha terlihat seperti baru saja menelan jeruk nipis utuh. Wajahnya yang tadi bersinar karena pamer, kini memerah padam, bercampur antara malu dan marah yang tertahan. Dia melirik Fhatur, mencari pembelaan, tapi saudara ketigaku itu justru sedang asyik mengunyah steak-nya, seolah-olah dia tidak mendengar apa-apa atau memang tidak peduli. "P-penghasilan?" Fikha akhirnya berhasil mengeluarkan suara, meski terdengar serak dan dipaksakan tetap santai. Dia mencoba tertawa kecil, tapi terdengar canggung. "Ah, kamu ini Fay, pasti bercanda. Nulis-nulis di internet gitu dapat uang? Mungkin cuma recehan kali ya buat beli jajan sekolah." Dia mencoba merendahkan lagi, matanya menyipit tajam ke arahku. "Lagipula, Leonardo... pacarmu itu kan dari keluarga kaya raya. Apa dia nggak malu punya pacar yang kerjanya cuma ngetik di kamar? Seharusnya kamu belajar bersosialisasi biar bisa masuk ke lingkaran pertemanan mereka." Mataku berkedip pelan. Aku menatap Fikha dengan ekspresi bingung yang tulus, lalu menoleh ke arah Ayah. "Ayah," panggilku lembut, suaraku terdengar seperti anak kecil yang bertanya pada orang tua. "Apa benar menulis itu pekerjaan yang memalukan? Soalnya, aplikasi tempat aku menerbitkan novel itu bilang kalau bukuku sudah dibaca lebih dari dua juta kali bulan ini. Dan... manajer editorku bilang kalau adaptasi filmnya sedang ditawar oleh studio besar. Aku pikir itu hal yang bagus jika aku Terima langsung, tapi kalau Kak Fikha bilang itu memalukan..." Aku menghentikan kalimatku, menunduk sedikit seolah-olah merasa sedih dan tersinggung, namun bibirku masih datar. "Maaf ya, Kak. Aku nggak tau kalau standar 'kelas atas' seperti itu menurut Kak Fikha itu harus jadi pengangguran yang sibuk belanja." Crash. Sendok perak yang dipegang Harun jatuh ke piringnya dengan suara nyaring. Dia tidak sengaja, tapi tatapan dinginnya ke arah Fikha cukup untuk membuat suhu ruangan turun beberapa derajat. Harun, yang biasanya paling cuek, kini menatap Fikha dengan tatapan yang bisa membekukan darah. "Fay," suara Harun berat dan rendah, namun terdengar jelas. "Jangan minta maaf. Kamu nggak melakukan kesalahan apa-apa." Di ujung meja, Ayah, Alex, meletakkan gelas wine-nya perlahan. Suaranya tenang, namun memiliki otoritas yang membuat semua orang di meja itu langsung diam dan menatapnya. "Fikha," kata Ayah, nada suaranya datar dan dingin, tanpa emosi. "Di rumah ini, kami menghargai prestasi dan kerja keras. Fay menghasilkan uangnya sendiri dengan otaknya, tanpa meminta satu rupiah pun dari rekening keluarga untuk kebutuhan pribadinya sejak dia berusia 14 tahun. Itu adalah hal yang patut dihormati dan jangan samakan generasi kelahiran mu dengan putriku." Ayah menatap Fikha lekat-lekat, matanya tajam seperti elang. "Sedangkan kau... Fhatur memberitahuku bahwa kau sering menunggak pembayaran kartu kredit dan memintanya untuk menutupinya. Jika kau ingin berbicara tentang 'kelas' dan 'martabat', mungkin kau harus melihat cermin terlebih dahulu sebelum menghina adik iparmu sendiri baruku Terima kau." Fhatur tersedak, matanya membelalak kaget dengan ucapan ayahnya. "Ayah, aku—" "Diam," potong Ayah singkat. Fhatur langsung menutup mulutnya, wajahnya pucat. Ibu, Victoria, yang tadi hanya diam, kini tersenyum manis namun matanya tajam menusuk ke arah Fikha. "Benar kata Ayahmu, Nak Fikha. Fay itu anak pintar. Dan Leo... calon menantu kami itu, sangat menghargai kecerdasan Fay. Terakhir kali Leo berkunjung, dia malah memuji karya tulis Fay dan membawakan edisi pertama buku-buku sastra langka sebagai hadiah. Jadi, tolong jangan merendahkan selera Leo dengan anggapan konyolmu tidak semua yang kamu asumsikan benar adanya." Ghina, saudaraku yang duduk di seberang, ikut menambahkan dengan nada cerdasnya yang khas, sambil menyesuaikan kacamatanya. "Kalau melihat datanya, penghasilan sampingan ini dari karya yang menggunakan kecerdasan seperti Fay jauh lebih stabil dan terhormat daripada gaya hidup konsumtif yang bergantung pada orang lain, Kak Fikha. Mungkin Kakak perlu membaca buku ekonomi dasar jangan kaya orang purba?" Lyora, yang duduk di ujung sana, bahkan tidak repot-repot menatap Fikha. Dia hanya mendengus pelan sambil memainkan sumpitnya, bergumam cukup keras untuk didengar, "Julid banget sih. Untung Leo nggak ada di sini, kalau ada, pasti dia bakal ketawa ngakak dengerin omongan kosong lo." Fikha kini benar-benar terperosok karena kesalahannya sendiri tanpa ia sadari. Wajahnya pucat pasi, tangannya gemetar memegang garpu. Dia melirik Fhatur dengan mata berkaca-kaca, mengharapkan bantuan, tapi Fhatur justru menunduk, menghindari tatapannya, takut dimarahi Ayah lebih lanjut. Aku hanya duduk diam, memakan potongan wortel rebusku dengan tenang, wajahku kembali polos dan tidak berdosa, seolah-olah aku tidak baru saja menghancurkan ego Fikha di depan seluruh keluarga. Dalam hati, aku tersenyum puas sambil tertawa kecil. Dasar, sok-sokan kena mentalkan sama keluargaku. ♛┈⛧┈ ༶ To Be Continue ༶ ┈⛧┈♛

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
740.2K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.7M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
973.9K
bc

A Warrior's Second Chance

read
355.9K
bc

Not just, the Beta

read
346.8K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook