♛┈⛧┈ ༶ Enjoy the read, LilyButterfly ༶ ┈⛧┈♛
Fikha tampak ingin menangis, tapi dia menahan diri. Bibirnya bergetar, dan matanya yang tadi penuh keangkuhan kini dipenuhi air mata yang dipaksakan agar tidak jatuh, mencoba memainkan kartu "korban". Dia menoleh ke arah Fhatur dengan tatapan memohon, berharap saudara ketigaku itu akan membelanya setidaknya sekali.
"Fhatur..." suaranya pecah, terdengar pilu. "Kamu diam saja? Aku malu banget di sini..."
Fhatur menghela napas panjang, terlihat sangat tidak nyaman. Dia melirik Ayah yang masih menatapnya dingin, lalu menatap Fikha dengan ekspresi lelah. "Fikha, sudahlah. Jangan buat suasana jadi buruk. Ayah benar. Kamu memang terlalu banyak bicara hal-hal yang nggak perlu."
Kalimat itu seperti tamparan keras bagi Fikha. Matanya membelalak kaget, menyadari bahwa bahkan pacarnya pun tidak mau membela harga dirinya yang sedang hancur lebur. Dia menggigit bibirnya kuat-kuat, lalu berdiri mendadak, kursinya bergeser dengan suara kasar.
"Aku... aku permisi dulu. Perutku tiba-tiba sakit," alasan klise itu keluar dari mulutnya sambil dia memegang perutnya, meski semua orang tahu itu hanya alasan untuk kabur dari rasa malu. Tanpa menunggu jawaban, dia berbalik dan hampir berlari menuju pintu keluar ruang makan, meninggalkan piring makanannya yang masih penuh.
Hening kembali menyelimuti ruangan selama beberapa detik setelah pintu tertutup.
Lyora akhirnya tertawa kecil, menggelengkan kepala. "Drama queen banget sih. Padahal steak-nya belum habis. Rugi deh."
Ghina hanya mengangkat bahu, melanjutkan makannya dengan tenang. "Well, setidaknya kita bisa makan dengan tenang sekarang tanpa ada suara sumbang yang pamer hal-hal nggak penting."
Ayah, Alex, mengangguk puas, lalu menoleh ke arah Fhatur. "Fhatur, setelah makan malam, temui aku di ruang kerja. Kita perlu membahas 'pengeluaran' bulananmu dan hubunganmu dengan gadis itu. Jika dia tidak bisa menghormati keluarga ini, mungkin hubungan kalian perlu ditinjau ulang."
Fhatur menunduk lesu, wajahnya pucat. "Baik, Ayah..."
Ibu, Victoria, tersenyum lembut dan menepuk tangan Harun yang duduk di sebelahku. "Harun, tolong ambilkan dessert untuk Fay. Dia kan masih tumbuh, butuh gizi yang cukup untuk otaknya yang cemerlang itu."
Harun, yang tadi sempat tegang karena marah pada Fikha, kini wajahnya melunak saat menatapku. Dia berdiri, mengambil piring kecil berisi panna cotta favoritku dari meja bufet, dan meletakkannya di hadapanku.
"Nih, Fay," kata Harun pelan, suaranya yang biasanya dingin kini terdengar hangat khusus untukku. "Makan yang habis. Kalau kamu kurang gizi, nanti Leo marah-marah lagi sama aku karena nggak jagain kamu."
Aku tersenyum manis, menatap Harun dengan mata berbinar. "Makasih, Kak Harun. Kakak emang terbaik."
Aaron, saudara tertua setelah Ayah, yang sejak tadi hanya diam dan membaca berita di tabletnya, akhirnya berbicara. Suaranya datar dan dingin, khas dirinya. "Fay, besok pagi ada rapat direksi di perusahaan Ayah. Kau diminta hadir sebagai observer. Kata Ayah, kau harus mulai belajar melihat bagaimana uang itu dikelola, bukan cuma dihasilkan dari tulisan."
Aku sedikit terkejut. Biasanya, rapat direksi adalah wilayah eksklusif para pria dewasa di keluarga ini, kecuali Ghina yang sudah sering terlibat karena prestasinya.
"Besok pagi?" tanyaku, memastikan.
Aaron mengangguk singkat, matanya tetap tertuju pada tablet. "Jam 8. Jangan terlambat. Dan pakai baju formal. Ayah ingin melihat apakah otakmu sebagus klaim Ibu dan Lyora."
Devan, saudara kedua yang lembut, tersenyum padaku dari seberang meja. "Jangan khawatir, Fay. Aku akan mendampingimu. Aku sudah menyiapkan ringkasan materi rapatnya untukmu, jadi kamu nggak akan kaget dengan istilah-istilah bisnisnya." Devan selalu menjadi penyelamatku dalam hal-hal akademis atau teknis.
Aku merasa hangat di d**a. Di satu sisi, aku baru saja "menghajar" Fikha dengan kata-kata polosku, dan di sisi lain, keluargaku—meski dingin dan kejam pada orang luar—ternyata sangat mendukung dan memperhatikan masa depanku.
"Terima kasih, Kak Devan," ucapku tulus.
Tiba-tiba, ponselku yang terletak di samping piring bergetar. Layarnya menyala, menampilkan nama pengirim: Leonardo Maximilian ❤️.
Jantungku berdebar sedikit. Leo sedang liburan dengan keluarganya, tapi dia selalu menyempatkan waktu untuk menghubungiku. Aku melirik sekilas ke arah Ayah. Ayah mengangguk kecil, memberi isyarat bahwa aku boleh mengeceknya, asalkan tidak mengganggu jalannya makan malam.
Aku membuka pesan itu. Isinya sederhana:
"Hai, cantik. Lagi apa? Aku kangen. Liburan di sini membosankan tanpa celoteh polismu tentang plot novel terbaru. Kirim foto kamu makan malam, ya? Aku mau lihat gaun apa yang kamu pakai hari ini. - Leo"
Aku tersenyum sendiri, lalu dengan cepat mengambil foto piring makananku yang estetik, serta sedikit sudut gaunku, dan mengirimkannya balik.
Balasan Leo datang hampir instan:
"Cantik banget. Tapi kurang lengkap. Mana wajah pemilik senyum yang bikin aku nggak bisa fokus kuliah? 😤 Besok aku pulang. Tungguin aku, ya. Aku bawa sesuatu buat kamu."
Aku menutup ponselku, pipiku terasa agak hangat. Saat aku mendongak, aku menangkap tatapan Lyora yang menyipit, julid seperti biasa.
"Cih, mesra banget sih sama Leo. Hati-hati, Fay. Nanti kalau kebanyakan senyum-senyum sendiri, gigi kamu keropos," cibir Lyora, meski nada suaranya tidak benar-benar jahat, lebih ke arah menggoda.
"Gigi Fay sehat, Lyora. Jaga mulutmu," sahut Harun tajam, melindungi aku seperti biasa.
Aku hanya tertawa kecil, menikmati momen kebersamaan keluarga yang kacau namun hangat ini. Makan malam masih berlanjut, tapi atmosfernya sudah jauh lebih ringan tanpa kehadiran Fikha.
Makan malam pun berlanjut dengan suasana yang jauh lebih ringan. Tanpa Fikha, obrolan di meja makan kembali mengalir, meskipun tetap dalam koridor khas keluarga kami: cerdas, tajam, dan sedikit sinis.
Ayah menyelesaikan steak-nya dengan elegan, lalu meletakkan serbet di atas meja. "Fhatur, setelah ini langsung ke ruang kerjaku. Jangan membuatku menunggu." Suaranya tidak tinggi, tapi cukup untuk membuat Fhatur menelan ludah dengan gugup sebelum mengangguk patuh.
Ibu, Victoria, tersenyum puas melihat piringku yang sudah hampir bersih. "Bagus, Fay makan lahap. Oh ya, Fay, besok pagi jangan lupa sarapan dulu sebelum rapat. Aku akan pesan blueberry pancakes favoritmu dari kafe langganan kita."
"Siap, Bu," jawabku sambil menyeka sudut bibirku dengan serbet linen.
Setelah makan malam selesai, para pelayan segera membersihkan meja. Aku berdiri, berniat menuju tangga untuk naik ke kamar, namun Harun menahan lenganku pelan.
"Tunggu sebentar, Fay," kata Harun, suaranya rendah agar tidak didengar orang lain. Dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah amplop tipis berwarna hitam. "Ini. Untuk jaga-jaga kalau besok ada kebutuhan mendadak di kantor. Jangan bilang-bilang Ayah atau Aaron."
Aku menerima amplop itu, merasa berat isinya. Saat aku membukanya sedikit, terlihat beberapa lembar uang tunai pecahan besar. Aku mendongak, menatap Harun dengan heran. "Kak Harun... ini banyak banget."
Harun hanya mengangkat bahu, wajahnya tetap datar tapi matanya lembut. "Anggap saja investasi. Lagipula, kamu kan aset paling berharga di keluarga ini selain saham Ayah. Kalau kamu butuh sesuatu, pakai uang Kakak. Jangan pakai uang Leo terus, nanti dia pikir kamu nggak bisa mandiri."
Aku tersenyum lebar, menggandeng lengan Harun. "Kakak emang terbaik sedunia. Makasih ya, Kak Harun!"
Harun terbatuk kecil, telinganya tampak sedikit memerah. "Sudah, cepat naik. Besok pagi jam 7 aku bangunkan kamu."
Sementara itu, di sudut ruang tamu, Devan sudah duduk di sofa dengan laptopnya terbuka. Dia melambai padaku. "Fay, sini sebentar. Aku mau tunjukkan draf presentasi untuk besok. Ada beberapa grafik keuangan yang mungkin perlu kamu pahami konteksnya."
Aku menghampiri Devan, duduk di sebelahnya. Saudara kedelima ini memang selalu siap membantu. Dalam waktu sepuluh menit, Devan berhasil menjelaskan struktur perusahaan dan posisi Ayah dalam dewan direksi dengan bahasa yang sangat mudah dimengerti. Otakku yang cepat menangkap semua informasi itu, dan aku merasa jauh lebih percaya diri untuk menghadapi rapat besok.
Tepat saat aku hendak beranjak pergi, ponselku bergetar lagi. Kali ini bukan dari Leo, melainkan notifikasi dari aplikasi penulisanku.
[Notifikasi: Royalti Bulan Ini Telah Masuk]
Jumlah: Rp 8.500.000,-
Mataku membelalak. Ternyata bulan ini penghasilanku naik drastis karena ada promo besar-besaran di aplikasi. Aku tersenyum puas. Uang ini akan kusimpan sebagai tabungan pribadiku, terpisah dari uang jajan keluarga atau pemberian Harun. Aku ingin membuktikan bahwa aku benar-benar mandiri, seperti yang sering Ayah katakan.
"Fay?" suara Lyora terdengar dari belakang. Dia sedang berjalan melewati kami sambil membawa segelas s**u hangat. "Jangan begadang main HP. Kulit putih s**u kamu bakal rusak kalau kurang tidur. Nanti Leo ngira kamu pakai filter kamera."
Aku memutar mata, tapi tetap tersenyum. "Iya, iya, Nyonya Julid yang cantik. Aku mau tidur kok."
Lyora mendengus, tapi sebelum dia pergi, dia berhenti sejenak dan berbisik, "Hei, serius. Besok di rapat, kalau ada direktur tua yang coba-coba meremehkan kamu karena umur, lapor ke Aaron. Atau ke aku. Aku siap kick mereka kalau perlu."
Aku tertawa. Meski Lyora sering menyebalkan, dia adalah salah satu orang yang paling protektif padaku. "Siap, Kak Lyora."
Aku akhirnya naik ke kamarku di lantai dua. Kamarku luas, bernuansa pastel lembut dengan rak buku yang memenuhi satu dinding penuh. Aku membuka lemari, memilih gaun formal sederhana namun elegan untuk besok warna navy blue yang menurut Ghina cocok dengan warna kulitku.
Sebelum tidur, aku membalas pesan Leo terakhir.
"Aku juga kangen. Besok aku ada rapat penting sama Ayah, jadi mungkin agak sibuk. Tapi aku usahain kabarin kamu setiap istirahat. Hati-hati di jalan pulang ya, Leo. Drive safe! ❤️"
Tak lama, balasan Leo masuk.
"Oke, Sayang. Semangat buat rapatnya. Tunjukkan pada mereka kalau putri keluarga Alex ini nggak cuma cantik, tapi juga otaknyanya tajam. Aku bangga sama kamu. Good night, my little genius. 🌙"
Hatiku terasa hangat. Dengan senyum di wajah, aku meletakkan ponsel di meja samping tempat tidur, mematikan lampu, dan memejamkan mata. Besok akan menjadi hari yang panjang, tapi aku siap. Aku adalah Fay, anak terakhir keluarga terpandang ini, dan aku akan membuktikan bahwa aku bukan sekadar boneka cantik, melainkan kekuatan baru yang harus diperhitungkan.
Pagi Hari - 06:30 WIB
Suara ketukan halus di pintu kamarku membangunkanku.
"Fay, bangun. Sarapan sudah siap," suara Harun terdengar dari balik pintu, diikuti dengan aroma pancake dan kopi yang menyeruak masuk.
Aku meregangkan tubuh, merasa segar. Hari ini adalah hari besar. Aku bangkit, menuju kamar mandi untuk bersiap-siap. Di cermin, aku melihat gadis berusia 16 tahun dengan mata cerah dan determinasi yang kuat. Aku menatap cermin, lalu tersenyum pada diriku sendiri..
Waktunya bersinar.
♛┈⛧┈ ༶ To Be Continue ༶ ┈⛧┈♛