Chapter 3

1378 Words
♛┈⛧┈ ༶ Enjoy the read, LilyButterfly ༶ ┈⛧┈♛ Aku mandi dengan cepat, mengenakan gaun navy blue yang sudah kusiapkan. Potongannya sederhana namun elegan, dengan kerah tinggi dan lengan panjang yang memberikan kesan profesional namun tetap feminin. Aku menyisir rambutku hingga lurus dan rapi, membiarkannya terurai di punggung. Untuk riasan, aku hanya menggunakan foundation tipis, maskara, dan lipstik warna nude agar terlihat segar namun tidak berlebihan. Saat aku turun ke ruang makan, aroma blueberry pancakes memang sudah tercium kuat. Meja makan pagi ini lebih sepi daripada malam tadi. Hanya ada Ayah, Ibu, Aaron, Devan, Harun, dan Ghina. Fhatur tampaknya masih berada di ruang kerja Ayah atau sudah langsung berangkat kantor cabang, sementara Lyora kemungkinan besar masih lanta atau mungkin sedang latihan taekwondo di lantai dasar. "Selamat pagi," sapaku ceria sambil mencium pipi Ibu dan menjabat tangan Ayah. "Pagi, Fay," sahut Ayah singkat, matanya menilai penampilanku sekilas. Dia mengangguk kecil, tanda persetujuan. "Penampilanmu sesuai. Jangan lupa, di rapat nanti, kau hanya perlu mendengarkan dan mengamati. Jangan berbicara kecuali diminta." "Siap, Ayah," jawabku tegas. Aaron, yang sudah memakai jas hitamnya, menatapku dari balik koran digitalnya. "Mobil sudah siap di depan. Kita berangkat dalam 10 menit. Devan akan menemanimu di mobil belakang untuk briefing terakhir." Harun melemparkan kunci mobil cadangan padaku sebuah Cara halus untuk menunjukkan bahwa dia mempercayai kemampuanku, meski aku tidak akan menyetir sendiri hari ini. "Semangat, Fay. Kalau bosan, main game di HP aja. Tapi jangan ketahuan Ayah." Dia berbisik pelan saat melewati sisiku. Aku tertawa kecil. "Siap, Kak." Perjalanan ke Kantor Pusat - 07:15 WIB Di dalam mobil mewah yang dikawal oleh dua SUV hitam, Devan duduk di sebelahku dengan tablet di tangannya. Dia dengan sabar menjelaskan profil para direktur yang akan hadir. "Yang paling sulit adalah Pak Hendra, Direktur Operasional. Dia cenderung kurang percaya terhadap ide-ide baru dan sangat tradisional. Tapi, dia menghargai data. Jadi, jika dia bertanya, jawab dengan angka," jelas Devan sambil menunjuk grafik di layarnya. "Lalu ada Bu Ratna, Direktur Marketing. Dia orangnya santai, tapi tajam. Dia suka kreativitas. Mungkin dia akan tertarik dengan latar belakangmu sebagai penulis." Aku mengangguk, menyerap semua informasi. Otakku bekerja cepat, menghubungkan titik-titik antara karakter para direktur dan strategi yang mungkin akan dibahas. "Sip, Kak Devan. Aku paham," kataku percaya diri. Devan tersenyum bangga. "Kau pasti bisa, Fay. Kau punya insting bisnis yang bagus, bahkan tanpa disadari. Tulisannya saja bisa laku jutaan, apalagi mengelola perusahaan." Ruang Rapat Utama - 08:00 WIB Gedung pencakar langit milik keluarga kami berdiri megah, melambangkan kekuatan dan kemewahan kami. Saat lift berhenti di lantai 30 lantai eksekutif rasa gugup sedikit menyerang perutku, tapi aku menegakkkan punggung, mengingat pesan Harun dan Leo. Aku adalah Fay. Pintu ruang rapat terbuka. Sebuah meja konferensi panjang berbahan kayu jati mahal terbentang di tengah ruangan. Sekitar delapan orang pria dan wanita paruh baya sudah duduk di sana, beberapa di antaranya sedang membaca dokumen. Suasana hening dan dingin. Ayah masuk pertama, diikuti oleh Aaron. Aku berjalan di belakang mereka, dengan Devan sedikit di sampingku untuk memberikan dukungan moral. Semua mata tertuju padaku. Tatapan mereka bervariasi: ada yang penasaran, ada yang meremehkan, dan ada yang netral. "Selamat pagi," suara Ayah bergema, tegas dan berwibawa. Semua orang berdiri serentak. "Selamat pagi, Tuan Alex," jawab mereka serempak. "Duduk," perintah Ayah singkat. Kami semua mengambil tempat. Ayah duduk di ujung kepala meja. Aaron di sebelah kanannya. Aku duduk di sebelah kiri Ayah, dengan Devan di sebelah kiriku. Posisi ini strategis; aku berada di pusat perhatian, tapi dilindungi oleh dua saudara terkuatku. Pak Hendra, seorang pria berusia 50-an dengan kacamata tebal dan wajah masam, menatapku dengan alis terangkat. "Tuan Alex, maaf saya bertanya... apakah ini rapat direksi biasa? Kenapa ada... anak sekolah di sini?" Nada suaranya penuh keraguan, bahkan cenderung merendahkan. Beberapa direktur lain saling pandang, beberapa tersenyum sinis. Ayah tidak langsung menjawab. Dia menatap Pak Hendra dengan tatapan dingin yang membuat pria itu mengerutkan kening. Sebelum Ayah sempat berbicara, aku memutuskan untuk mengambil inisiatif kecil, seperti yang disarankan Devan: jawab dengan data jika ditanya, tapi tunjukkan kepercayaan diri. Aku tersenyum tipis, sopan, namun mataku menatap Pak Hendra langsung. "Selamat pagi, Pak Hendra. Saya Fay, putri bungsu Tuan Alex. Saya hadir hari ini sebagai observer untuk mempelajari struktur operasional perusahaan, sesuai dengan instruksi Bapak. Saya mengerti bahwa kehadiran saya mungkin tidak biasa, tapi saya berjanji tidak akan mengganggu jalannya rapat. Saya di sini untuk belajar dari para ahli seperti Bapak." Suara suaraku tenang, jelas, dan sangat dewasa untuk ukuran gadis 16 tahun. Tidak ada nada defensif, hanya fakta dan rasa hormat yang dibalut dengan kepercayaan diri. Pak Hendra terdiam sejenak, tampak sedikit terkejut dengan responsku yang tidak kekanak-kanakan. Dia membersihkan tenggorokannya. "Hm. Baiklah. Semoga kamu bisa mengikuti jalannya rapat dengan baik, Nona Fay." Bu Ratna, Direktur Marketing yang tadi disebutkan Devan, justru tersenyum lebar padaku. Matanya berbinar tertarik. "Wah, responnya cepat dan santun. Bagus. Saya jadi penasaran, Nona Fay. Katanya kamu penulis novel populer? Genre apa yang kamu tulis?" Pertanyaan itu sedikit di luar agenda, tapi aku melihat peluang. Ini adalah cara untuk menetralkan suasana dan menunjukkan sisi lain dari diriku. "Saya menulis fiksi remaja dengan unsur misteri psikologis, Bu Ratna," jawabku santai. "Menurut saya, memahami psikologi karakter dalam cerita sangat mirip dengan memahami perilaku konsumen dalam marketing. Keduanya butuh empati dan analisis pola." Mata Bu Ratna membelalak kaget, lalu dia tertawa senang. "Brilian! Analogi yang menarik. Tuan Alex, putri Anda ternyata tidak hanya cantik, tapi juga punya cara pikir yang unik." Ayah hanya tersenyum tipis, sudut bibirnya terangkat puas. Dia tidak berkata apa-apa, tapi tatapannya pada Pak Hendra seolah berkata: Lihat? Jangan remehkan darahku. Rapat pun dimulai. Aku membuka buku catatan kecilku, siap mencatat setiap poin penting. Di bawah meja, kakiku menyentuh kaki Devan sebentar, sebuah isyarat terima kasih. Dia membalas dengan senyuman kecil. Di tengah pembahasan laporan keuangan kuartal pertama, tiba-tiba ponsel Ayah bergetar. Dia melirik layar, lalu wajahnya sedikit berubah. Bukan marah, tapi... serius. "Maaf, interupsi sebentar," kata Ayah, mengangkat ponselnya. Dia menjawab panggilan itu dengan mode speaker, mungkin karena pentingnya berita tersebut. "Halo?" Suara seorang pria tua terdengar dari seberang, berat dan berwibawa. "Alex. Ada masalah dengan pengiriman bahan baku dari mitra kita di Jepang. Mereka menahan kontainer karena isu regulasi baru. Jika tidak selesai minggu ini, produksi lini utama kita akan terhenti." Ruangan menjadi hening total. Ini adalah krisis besar. Para direktur mulai bergumam cemas. Pak Hendra tampak panik. "Apa? Regulasi apa? Kita sudah punya izin lengkap!" Ayah menutup matanya sebentar, berpikir keras. "Saya akan hubungi tim legal segera. Tapi kita butuh solusi alternatif sekarang juga." Tiba-tiba, sebuah ide terlintas di benakku. Aku ingat artikel yang k****a semalam di salah satu forum bisnis internasional—tentang celah regulasi perdagangan bilateral antara Jepang dan Indonesia untuk barang tertentu jika diklasifikasikan ulang sebagai "sampel prototipe" untuk riset, bukan "bahan baku massal". Itu hanya berlaku untuk jumlah kecil, tapi bisa menjadi jalan darurat sambil mengurus izin utama. Tanpa berpikir dua kali, aku mengangkat tangan kecilku. "Ayah... Pak Hendra..." suaraku terdengar di tengah keheningan yang tegang. Semua mata tertuju padaku lagi. Kali ini, tatapan mereka bukan lagi meremehkan, tapi penuh pertanyaan. Apakah gadis 16 tahun ini benar-benar punya solusi? Aku menelan ludah, lalu berbicara dengan yakin. "Bagaimana jika kita mengubah klasifikasi pengiriman pertama sebesar 5% dari total pesanan sebagai 'Sampel Prototipe R&D'? Berdasarkan perjanjian dagang bilateral terbaru pasal 4B, sampel untuk riset tidak terkena bea cukai regulasi baru tersebut. Itu bisa menyelamatkan produksi selama 3 hari ke depan, memberi waktu bagi tim legal untuk mengurus izin utama tanpa menghentikan lini produksi sama sekali." Hening. Pak Hendra mengernyit, lalu cepat-cepat membuka laptopnya, mengetik sesuatu dengan jari-jari gemetar. Beberapa detik kemudian, matanya membelalak. Dia menatapku, lalu menatap Ayah. "Tuan Alex... Nona Fay benar. Pasal 4B memang ada. Itu... itu jalan keluar yang cerdas. Sangat cerdas." Bu Ratna tersenyum kagum. Aaron menatapku dengan ekspresi takjub yang jarang terlihat. Devan tersenyum bangga. Ayah menatapku lama. Lalu, untuk pertama kalinya di depan para direktur, dia tersenyum lebar. "Bagus, Fay," katanya, suaranya penuh kebanggaan. "Catat itu, Hendra. Lakukan segera." Aku menarik napas lega, jantungku berdebar kencang. Bukan karena takut, tapi karena adrenalin bisa bicara mengenai pendapatku. Aku baru saja menyelamatkan situasi kritis di rapat pertamaku. Dan di sudut mataku, aku melihat notifikasi masuk di ponselku yang terselip di tas. Dari Leonardo Maximilian: "Hei, genius. Aku baru landing. Gimana rapatnya? Menang telak kan? 😎" ♛┈⛧┈ ༶ To Be Continue ༶ ┈⛧┈♛
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD