chapter 4

1695 Words
♛┈⛧┈ ༶ Enjoy the read, LilyButterfly ༶ ┈⛧┈♛ Rapat berlanjut dengan energi yang berbeda. Ketegangan awal karena krisis logistik telah mereda, digantikan oleh rasa hormat dan sedikit ketakutan dari para direktur terhadap gadis berusia 16 tahun yang duduk di sebelah kanan Tuan Alex. Pak Hendra, yang tadi paling kurang percaya, kini mencatat setiap kata-kataku dengan teliti. Bu Ratna terus-menerus melirikku dengan senyum antusias, seolah-olah dia baru saja menemukan bintang baru untuk divisi marketingnya. Bahkan Aaron, yang biasanya dingin dan jarang menunjukkan emosi, sesekali menoleh padaku dengan anggukan kecil yang nyaris tak terlihat, sebuah tanda persetujuan tertinggi darinya. Ayah memimpin sisa rapat dengan efisiensi yang menakutkan. Dengan solusi darurat yang sudah ditemukan, diskusi beralih ke strategi jangka panjang. Aku mendengarkan dengan saksama, mencatat poin-poin kunci tentang ekspansi pasar ke Eropa dan rencana akuisisi perusahaan teknologi kecil. Otakku bekerja keras menghubungkan informasi ini dengan tren pasar yang sering k****a di berita finansial online. Saat rapat hampir berakhir, Ayah menutup folder dokumennya. "Bagus. Kerja kalian hari ini memuaskan. Hendra, pastikan pengiriman 'sampel prototipe' itu berangkat siang ini juga. Ratna, siapkan presentasi kampanye baru untuk kuartal depan. Saya ingin melihat kreativitas, bukan hanya angka." "Siap, Tuan Alex," jawab mereka serempak. Ayah berdiri, dan kami semua mengikuti. Sebelum keluar, Ayah menepuk pundakku pelan. "Fay, tetap di sini sebentar. Ada hal lain yang perlu kita bicarakan." Para direktur mulai keluar satu per satu. Saat Pak Hendra melewati mejaku, dia berhenti sejenak. Wajahnya masih tampak kaget, tapi ada rasa hormat di matanya. "Nona Fay... terima kasih atas solusinya. Itu... sangat cerdas. Saya minta maaf jika tadi saya terdengar meremehkan." Aku tersenyum sopan. "Tidak apa-apa, Pak Hendra. Saya juga masih banyak belajar dari Bapak dan rekan-rekan lainnya." Pak Hendra mengangguk, lalu pergi. Bu Ratna menyempatkan diri untuk berbisik, "Kapan-kapan kalau kamu bosan di ruang direksi, mampir ke divisi marketing ya. Kita butuh fresh brain seperti kamu." Setelah ruangan kosong, hanya tersisa Ayah, Aaron, Devan, dan aku. Harun ternyata sudah menunggu di luar pintu, bersandar di dinding dengan tangan disilangkan. Ayah duduk kembali di kursi utamanya, menatapku lekat-lekat. Ekspresinya sulit dibaca. "Fay, tadi itu berisiko. Jika pasal 4B itu tidak berlaku atau ada interpretasi hukum yang berbeda, kita bisa terkena denda besar." Jantungku berdebar sedikit, tapi aku menatap mata Ayah dengan tenang. "Saya sudah mengecek tiga sumber hukum berbeda semalam sebelum tidur, Ayah. Dan saya juga membaca kasus serupa di Singapura tahun lalu yang berhasil menggunakan celah itu. Risikonya minimal dibandingkan kerugian jika produksi berhenti total." Ayah diam sejenak. Lalu, sudut bibirnya terangkat. Senyuman itu langka, tulus, dan penuh kebanggaan. "Kau memang anakku. Dingin, kalkulatif, dan berani. Sifat-sifat yang diperlukan untuk memimpin." Dia menoleh ke arah Aaron. "Aaron, mulai minggu depan, Fay akan ikut dalam pertemuan strategis tingkat menengah. Tidak lagi hanya sebagai observer, tapi sebagai peserta aktif. Devan, kamu tetap mendampinginya." Aaron mengangguk. "Dimengerti, Ayah." Devan tersenyum lebar. "Selamat, Fay. Kau resmi menjadi 'direktur magang'." Harun masuk ke ruangan, melemparkan jaketnya ke bahu. "Hei, hei. Jangan terlalu bangga dulu. Nanti kepala kamu jadi besar. Tapi... baguslah. Setidaknya sekarang kamu punya alasan buat nggak nonton drama Korea seharian." Aku memutar mata. "Kak Harun, aku nggak nonton drama Korea seharian! Aku nulis!" "Terserahlah," cibir Harun, tapi dia tersenyum. Dia berjalan mendekat dan mengacak-acak rambutku yang sudah rapi. "Ayo pulang. Ibu sudah masak makan siang spesial. Dan... ada tamu." "Tamu?" tanyaku penasaran. Ayah berdiri, merapikan jasnya. "Leonardo. Dia datang lebih cepat dari jadwal. Katanya ada 'hadiah' yang harus segera diserahkan." Mataku membelalak. Leo? Di sini? Di kantor? "Ayah mengizinkannya masuk ke ruang tunggu eksekutif," lanjut Ayah dengan nada datar, meski ada kilatan geli di matanya. "Tapi ingat, Fay. Profesionalisme. Jangan lupa kamu sedang di lingkungan kerja." "Aku janji, Ayah!" seru aku girang, hampir berlari menuju pintu. Devan tertawa. "Pelankan langkahmu, Fay. Kamu kan sekarang 'direktur magang'. Harus anggun." Aku tertawa, memperbaiki gaunku, dan berusaha berjalan dengan anggun meskipun hatiku ingin berlari. Saat kami keluar dari ruang rapat, menuju lift pribadi, aku merasa seperti berada di puncak dunia. Hari ini, aku bukan hanya Fay, penulis novel populer. Aku adalah Fay, putri keluarga Alex, yang baru saja membuktikan bahwa otakku sama tajamnya dengan lidahku. Dan yang terbaik? Pacarku, Leonardo Maximilian, sang pewaris tunggal keluarga kaya raya lainnya, sedang menungguku di bawah. Saat lift turun, ponselku bergetar lagi. Pesan dari Leo: "Aku lihat dari lobi. Gaun navy blue-nya cantik banget. Tapi senyum kamu waktu keluar dari lift barusan? Itu yang bikin aku deg-degan. Tungguin aku ya, Sayang. 😘" Aku membalas dengan cepat: "Cepat naik! Aku kangen!" Pintu lift terbuka di lantai lobi. Dan di sana, berdiri seorang pemuda tampan dengan setelan jas abu-abu muda, memegang sekuntum mawar putih elegan. Leonardo Maximilian. Dia menatapku, matanya berbinar hangat, seolah-olah seluruh gedung pencakar langit ini hanyalah latar belakang bagi kehadiran kami berdua. Dunia mungkin melihat kami sebagai dua keluarga bisnis yang dingin dan kejam. Tapi di antara kami, ada cinta remaja yang murni, manis, dan penuh semangat. Dan aku tahu, bersama Leo, aku bisa menaklukkan apa saja. Leo melangkah maju, mengabaikan tatapan tajam para resepsionis dan keamanan yang berdiri kaku di lobi. Dia berhenti tepat di depanku, aroma cologne mahal bercampur dengan kesegaran mint menyeruak, membuat jantungku berdebar lebih kencang daripada saat menghadapi Pak Hendra tadi. "Selamat siang, Nona Direktur," bisik Leo dengan nada menggoda, sudut bibirnya terangkat dalam senyuman miring yang khas. Matanya menyapu wajahku dari atas ke bawah, seolah memastikan aku baik-baik saja. "Kamu terlihat... menakutkan. Dan cantik. Kombinasi yang berbahaya." Aku mendengus pelan, mencoba menahan senyum lebar yang ingin pecah. "Hati-hati, Tuan Maximilian. Kalau Ayah dengar kamu memanggilku 'menakutkan', dia mungkin akan membekukan aset keluargamu." Leo tertawa kecil, suara renyah yang selalu berhasil mencairkan keteganganku. Dia menyerahkan mawar putih itu padaku. "Ini untuk pahlawan hari ini. Aku dengar dari sumber terpercaya—yaitu ayahku yang sedang makan siang dengan ayahmu di private lounge lantai 45—bahwa kamu baru saja menyelamatkan produksi perusahaan dari krisis logistik. Hebat, Fay. Sangat hebat." Aku menerima bunga itu, mencium aromanya yang lembut. "Ah, jadi itu alasan kenapa Ayah tiba-tiba baik banget sama kamu? Karena kamu bawa informasi?" "Bukan cuma itu," kata Leo, lalu dia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru tua dengan pita perak. Matanya berbinar nakal. "Ini hadiah utamanya. Buka." Tanganku sedikit gemetar saat membuka kotak itu. Di dalamnya, terdapat sebuah pen fountain pen antik berwarna emas dengan ukiran inisial 'F' yang rumit di badannya. Itu bukan sekadar alat tulis biasa; itu adalah barang koleksi langka. "Pen ini milik kakek buyutku," jelas Leo lembut, suaranya kehilangan nada bercandanya, menjadi serius dan tulus. "Dia selalu bilang, pena adalah s*****a paling tajam bagi mereka yang punya visi. Aku ingin kamu memakainya. Untuk menandatangani kontrak-kontrak besar di masa depan... atau sekadar menulis bab baru novelmu. Terserah kamu." Rasa hangat menjalar di dadaku. Ini bukan hadiah yang pamer kekayaan, tapi hadiah yang penuh makna. Leo mengerti siapa aku. Dia tidak melihatku hanya sebagai putri keluarga Alex atau penulis populer, tapi sebagai individu yang punya ambisi dan passion. "Leo..." suaraku tercekat sedikit. "Ini... terlalu berharga." "Tidak ada yang terlalu berharga untuk kamu," potong Leo cepat. Dia mengangkat tangannya, seolah ingin menyentuh pipiku, tapi mengingat kita berada di tempat umum dan Ayah mungkin sedang mengintip dari atas, dia menurunkan tangannya lagi. "Simpanlah. Anggap itu investasi. Aku ingin melihat namamu tertulis di sejarah bisnis dunia, Fay. Dengan atau tanpa nama belakang Alex." Di sampingku, Harun membersihkan tenggorokannya dengan keras. "Ehem. Romantis banget sih kalian. Bisa nggak sih kalau mau pacaran cari tempat yang nggak ada CCTV di mana-mana? Ayah lagi nonton dari jendela kantor, tau." Aku dan Leo langsung mundur selangkah, wajah kami memerah. Aku menoleh ke atas, ke arah jendela kaca besar di lantai 40, dan memang, siluet sosok Ayah terlihat samar-samar berdiri di sana. Leo tertawa gugup, menggaruk belakang lehernya. "Oops. Lupa kalau mertua masa depan saya itu punya mata elang." "Mertua?" goda Harun dengan alis terangkat. "Siapa yang bilang kamu bakal jadi mertua? Fhatur aja masih belum pasti nasibnya sama Fikha." Mendengar nama Fikha, ekspresi Leo berubah sedikit. Wajahnya menjadi lebih serius. "Ngomong-ngomong soal Fikha... Aku dengar dia bikin masalah lagi di sekolah kemarin? Guru BK menelepon Leonardo Sr. karena ada laporan tentang perundungan verbal terhadap beberapa siswa junior. Namamu disebut-sebut sebagai 'korban utama' yang diam-diam membalas dengan kecerdasan, tapi Fikha yang malah lapor duluan." Mataku menyipit. Jadi itu sebabnya Fikha tadi malam begitu agresif. Dia merasa terancam dan kalah telak, jadi dia mencoba membangun narasi bahwa dia adalah korban di sekolah. "Apa yang dilakukan sekolah?" tanya Devan, nadanya dingin. "Sekolah sedang menyelidiki," jawab Leo. "Namun, ayahku sudah berbicara dengan Kepala Sekolah. Keluarga Maximilian tidak akan mengizinkan kebohongan dan pencemaran nama baik. Jika Fikha terbukti bersalah atas tuduhan tersebut, sanksinya akan sangat serius. Kemungkinan besar skorsing atau bahkan pengeluaran." Aku menghela napas. Sebenarnya, aku tidak peduli jika Fikha diskors. Yang aku benci adalah kepalsuannya. Tapi, mengetahui bahwa Leo dan keluarganya membelaku tanpa perlu aku meminta bantuan... itu rasanya luar biasa. "Terima kasih, Leo," kataku tulus. "Tapi biarkan aku menangani sisanya. Aku punya rencana sendiri untuk Fikha. Dia suka bermain kotor? Baiklah. Aku akan main lebih pintar." Leo menatapku, lalu tersenyum bangga. "Itu semangat yang aku sukai. Gadis cerdas dan sedikit jahat kalau perlu. Sempurna." Tiba-tiba, lift di sebelah kami terbuka. Ayah, Alex, keluar bersama Bapak Leonardo. Keduanya tampak puas setelah pertemuan mereka. "Leonardo," sapa Ayah dengan nada formal namun ramah. "Terima kasih sudah datang. Dan terima kasih atas pena itu. Pilihan yang bagus." Bapak Leonardo, seorang pria paruh baya yang tampan dan berwibawa, tersenyum pada Leo. "Anakmu memang punya selera bagus, Alex. Dan putri Anda... impresif. Laporan dari direktur-direktur saya sangat positif tentang intervensinya tadi pagi." Ayah menatapku, lalu menatap Leo. "Fay, Leo. Kalian bisa pulang bersama. Supir Leo sudah di depan. Harun, Devan, antar mereka sampai mobil." Itu adalah izin terselubung. Ayah memberikan kami kesempatan berdua. Leo menatapku, matanya berbinar. "Mau ikut aku makan siang? Ada restoran Italia baru di pusat kota. Katanya carbonara nya juara. Dan... aku ingin mendengar detail lengkap bagaimana kamu mempermalukan Fikha tadi malam. Versi dramatisnya, tentu saja." Aku tertawa, menggandeng lengan Leo. "Dengan senang hati. Tapi kamu yang traktir, ya. Uang royaltiku sedang aku tabung untuk beli laptop baru." Leo menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Dasar pelit. Ayo, Nyonya Pelit." ♛┈⛧┈ ༶ To Be Continue ༶ ┈⛧┈♛
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD