AM 1
Seorang laki-laki terlihat gelisah dalam tidurnya. Ia menggelengkan kepalanya ke kanan dan kiri dengan mata yang masih terpejam. Peluh sebesar-besar biji jagung bermunculan dari pori-pori kulit wajahnya yang tampan.
"Ampun Pi... Rei janji akan giat belajar. Rei akan pintar seperti Reo. Rei gak akan buat Papi dan Mami malu lagi. Ampun Pi..." igau Rei dalam tidurnya.
Dengan diakhiri teriakan meminta ampun, lalu Rei terbangun dan memperhatikan sekelilingnya. Gelap. Hampir tak ada yang terlihat. Dengan nafas yang masih terengah-engah, pemuda berusia tujuh belas tahun itu menyeka keringatnya dengan punggung tangannya.
"Mimpi buruk itu lagi..." gumam Rei.
Rei meraba saklar lampu di sisi kiri tempat tidurnya dan langsung menekannya begitu tangannya sudah menemukan apa yang dicarinya. Seketika pencahayaan ruangan menjadi benderang. Lalu ia mengambil botol yang berisi air minum dari atas nakas. Ia meneguknya hingga tandas dalam satu kali tarikan nafas. Ia kembali mengatur nafasnya yang masih terengah-engah. Rei menggosok-gosokkan telapak tangannya pada wajahnya, lalu ia melirik jam digital yang ada di dinding kamarnya.
02.15
Masih dini hari, pikirnya. Ingin rasanya kembali melanjutkan tidur, namun nyatanya tak semudah yang ia inginkan. Tubuhnya tak sejalan dengan hasratnya untuk kembali terlelap. Matanya sudah terlampau segar. Akhirnya Rei membuka buku pelajaran sekolahnya dan membacanya. Rei berusaha memahami setiap pelajaran yang gurunya ajarkan. Beberapa menit berlalu, tiba-tiba kepalanya memutar memori yang membuat Rei di hantui mimpi buruk selama ini.
Rei pernah mendapat perlakuan kejam dari ayahnya bahkan hampir melenyapkan nyawanya andai saja Reo, saudara kembarnya tak menghentikan ayahnya.
Saat itu di acara kelulusan sekolah dasar, Reo mendapat penghargaan nilai terbaik. Agam dan Ratri sebagai orang tua ikut ke atas panggung mendampingi Reo untuk menerima piala, medali dan juga piagam. Sementara Rei ikut senang menyaksikan pemandangan itu dari kursi hadirin. Tak ada sedikitpun rasa iri atau apapun itu atas keberhasilan saudara kembarnya.
Perbandingan nilai akademis Rei dan Reo memang bagaikan langit dan bumi. Dari taman kanak-kanak, sudah terlihat kecerdasan Reo dibanding Rei. Bahkan Rei baru bisa membaca saat kelas dua sekolah dasar. Entah kenapa Rei agak lambat dan kesulitan menerima pelajaran. Namun sebaliknya, tak ada kesulitan berarti untuk Reo.
Agam yang selalu mengedepankan reputasi dirinya tentu sangat bangga memiliki Reo. Dan sebaliknya, Rei dianggap aib oleh Agam. Sedangkan Ratri lebih bijaksana dibandingkan Agam. Sebagai ibu yang melahirkan Rei dan Reo, Ratri tak pernah membedakan kasih sayang dalam memperlakukan kedua putranya.
Usai dari panggung mendampingi Reo dan kembali duduk di kursi hadirin, Agam mendengar bisik-bisik dari beberapa orang tua murid yang membandingkan Rei dan Reo. Mereka heran mengapa anak kembar bisa berbeda jauh seperti itu. Dimana Reo yang cerdas dan selalu berada di peringkat pertama. Dan bukan rahasia lagi jika Rei adalah siswa terbodoh di kelas semenjak kelas satu. Telinga Agam memerah mendengar itu. Ia merasa malu dan kesal. Bukan karena Rei dicela ataupun anak kembarnya dibanding-bandingkan, tapi Agam marah karena Rei membuatnya menjadi buah bibir para orang tua murid. Namun ia tak bisa melakukan apapun karena memang itu kenyataannya. Yang Agam bisa lakukan hanyalah pura-pura tidak mendengar. Dalam hatinya benar-benar menyesal memiliki anak seperti Rei yang membuatnya malu.
Ketika tiba di rumah, Agam langsung melampiaskan emosinya yang sedari tadi tertahan. Ia langsung memarahi Rei. Memaki dan melontarkan kalimat-kalimat tajam untuk Rei yang saat itu masih berusia tiga belas tahun. Rei yang biasanya diam seribu bahasa saat dimarahi Agam, entah kenapa kali ini ia berani membuka mulutnya. Rei tidak melawan ataupun membela dirinya. Ia hanya mengucapkan permintaan maaf karena telah membuat ayahnya malu di depan orang tua murid lainnya. Rei juga berjanji jika di sekolah menengah pertama nanti akan belajar lebih giat lagi dan memberikan yang terbaik untuk ayahnya. Mendengar ucapan Rei, Agam justru malah tertawa meremehkan. Agam pun bertanya mengapa baru saat SMP Rei akan memulai giat belajarnya? Lalu apa saja yang Rei lakukan selama ini sehingga kini membuatnya dipermalukan? Tanpa diduga Rei kembali menjawab jika selama ini juga ia berusaha dengan keras. Tapi entah mengapa itu tak membuahkan hasil. Mendengar jawaban Rei, Agam semakin murka karena kali ini Rei berani berbicara disaat ia sedang marah. Lalu Agam mendaratkan telapak tangannya di pipi Rei. Mendengar Rei yang mengaduh membuat amarahnya bak bensin yang terpantik api. Agam pun kembali melayangkan tangannya dan mendaratkan di setiap inchi tubuh Rei. Yang awalnya dengan tangan kosong, tak lama Agam membuka ikat pinggangnya dan mendera tubuh Rei dengan sabuk kulit tersebut. Spontan saja Rei berlari karena tak kuat menahan sakit dan perih pada kulit tubuhnya. Namun tingkah Rei yang menghindar semakin menyulut amarah Agam. Ratri mencoba menenangkan Agam namun tak berhasil. Justru Agam balik menyalahkan istrinya karena tak becus mengurus anak. Lalu Agam menarik tangan Rei dan menyeretnya ke kamar mandi. Tanpa belas kasih, Agam mencengkram kepala Rei dan membenamkan kepala darah dagingnya sendiri ke dalam bathtub. Sambil memaki, Agam melakukannya terus berulang-ulang. Ratri yang melihatnya sangat khawatir jika Rei kehabisan nafas. Ia bukannya tidak mau menolong anaknya, tapi ia tak bisa melawan Agam. Suaminya itu menyuruhnya menjauh atau ia akan benar-benar melenyapkan Rei. Jadi Ratri sama sekali tidak bisa gegabah. Ratri hanya bisa menjerit meminta suaminya untuk menghentikan aksinya meskipun Ratri tahu jika Agam tidak mempedulikannya. Agam seolah ditulikan oleh amarah dan egonya sendiri. Hingga akhirnya Reo mendekati ayahnya dan bersimpuh sembari menangis di kaki ayahnya. Reo memohon pada Agam untuk berhenti menyiksa saudara kembarnya. Reo juga mengatakan jika ia sangat menyayangi Rei dan bertanya menyapa ayahnya tidak menyayangi Rei seperti ayahnya menyayangi dirinya. Dan jika sampai Rei meninggal, maka Reo tidak akan segan untuk mengikuti Rei bagaimana pun caranya. Mendengar itu, Agam langsung melepaskan cengkraman tangannya dari kepala Rei. Ia mengatur nafasnya yang memburu karena ledakan amarahnya. Agam berusaha tenang dan juga menenangkan Reo jika Rei pasti akan baik-baik saja. Sambil mengatakan itu, Agam melirik Rei. Dengan tatapan yang menghujam seolah mengisyaratkan jika Agam meminta dukungan Rei atas ucapannya barusan. Rei pun tersenyum disela raut wajah lelahnya. Rei berkata pada Reo jika ia baik-baik saja. Jadi Reo tidak perlu mengkhawatirkannya. Lantas Agam menyuruh Reo untuk berganti pakaian dan akan menunggunya di ruang makan untuk makan siang. Reo menurut asal ayahnya itu tidak menyakiti Rei lagi. Agam pun berjanji. Setelah Reo pergi, Agam langsung menyoroti Rei dan menyalahkannya lagi. Karena Rei, kini Reo berani memerintah dan mengancamnya. Usai mengucapkan itu Agam langsung keluar kamar mandi. Tak lupa ia juga menyalahkan Ratri yang tak becus mengurus Rei dan memintanya untuk mendidik agar jadi seperti Reo. Ratri tak mempedulikan ucapan suaminya. Ia segera menghampiri Rei yang sudah terkulai lemas karena perbuatannya ayahnya yang hampir saja merenggut nyawanya.
Rei yang sudah lelah akhirnya menutup matanya. Masih terdengar samar-samar suara ibunya yang memanggil-manggil namanya. Rei juga masih merasakan jemari halus milik Ratri yang menepuk-nepuk lembut pipinya.
"Rei... Sayang... Bangun Nak..."
Rei masih terpejam. Namun suara Ratri dan tepukan pada pipinya yang semakin meningkat ritmenya membuat Rei terkaget dan seketika tersadar.
"Mami..." teriak Rei dibarengi dengan raut wajah yang cemas serta lelah.
"Iya Nak, ini mami," ucap Ratri seraya mengusap rambut Rei. Spontan saja Rei yang masih duduk di kursi belajarnya memeluk pinggang Ratri yang berdiri di sampingnya dengan erat. Ratri yang melihat anaknya terbangun dengan ekspresi yang seperti itu, sudah hafal jika Rei pasti bermimpi tentang kejadian buruk di masa lalunya.
"Rei mimpi buruk lagi sampai tidur di atas meja belajar?" tanya Ratri.
Rei hanya mengangguk, masih memeluk maminya. Dalam semalam ia dua kali bermimpi buruk tentang kejadian yang sama. Saat terbangun dari mimpinya semalam, Rei tak bisa tidur dan memutuskan untuk belajar. Namun tanpa sadar, lama kelamaan ia mengantuk dan kembali tertidur. Dan di dalam tidurnya Rei kembali memimpikan kejadian pahit itu sampai maminya membangunkannya. Kejadian itu membuatnya memiliki trauma yang dalam. Biasanya, ayahnya hanya memarahi atau memakinya saat dirinya dibandingkan dengan saudara kembarnya. Meskipun hatinya sakit, namun Rei berusaha kebal dari segala bentuk ucapan tajam yang keluar dari mulut ayahnya. Namun kali ini benar-benar membuat Rei merasa tak berharga di mata ayahnya. Sebenarnya Rei sangat lelah dihantui mimpi buruk itu. Ia ingin sekali melupakan kejadian pahit yang pernah menimpanya. Namun rasa traumanya membuatnya bukannya lupa, malah semakin hari Rei semakin dihantui oleh mimpi buruk tentang kejadian itu. Beruntung maminya selalu bisa menenangkannya dan selalu memotivasinya dengan kata-kata yang positif. Tentunya agar Rei juga tak menjadi dendam atas perlakuan Agam.
"Ya sudah, itu hanya mimpi, Nak. Ayo bangun sayang. Cepat siap-siap. Papi dan Reo sudah turun ke ruang makan," ucap Ratri sambil merenggangkan pelukannya pada Rei.
Lagi-lagi Rei hanya merespon dengan anggukan kepala. Sembari tersenyum, dicoleknya ujung hidung Rei oleh Ratri. Namun raut wajah Rei tetap datar tak menunjukkan ekspresi apapun. Ratri pun mengubah garis senyumnya menjadi datar. Lalu Ratri keluar dari kamar Rei. Dalam hatinya mencelos, anaknya yang tadinya periang itu menjadi irit bicara sejak kejadian itu. Namun Ratri juga tak bisa berbuat apa-apa karena takut jika Agam benar-benar melukai Rei. Ratri juga sebenarnya tak habis pikir bagaimana bisa seorang ayah tega menyakiti anak kandungnya sendiri. Apalagi dengan mudahnya terbesit pikiran untuk melenyapkannya. Sementara dirinya yang berjuang bertaruh nyawa saat melahirkan Rei dan Reo ke dunia. Dan setelah kejadian itu, Agam sama sekali tak mempedulikan Rei. Ia mengabaikannya bahkan menganggapnya tidak ada. Bagi Agam, anaknya hanyalah Reo. Ia hanya fokus pada Reo saja.
Sambil menuruni anak tangga, Ratri memikirkan bagaimana mengurai peliknya benang kusut yang melilit keluarga kecilnya. Ia mendambakan keluarga harmonis seperti yang lainnya. Sangat sulit sekali memberi pengertian pada suaminya bahwa setiap anak itu memiliki keistimewaan masing-masing. Namun Agam hanya berfokus pada prestasi akademis. Ratri mengembuskan nafas kasar. Ia segera menghapus bulir bening yang membasahi pipinya dan kembali memasang wajah ceria saat memasuki ruang makan dimana sudah ada Agam dan Reo di sana.