"Kalau tidak salah, akhir bulan ini sudah ujian akhir semester ya?" tanya Agam pada Reo.
Ratri menelan ludahnya kasar dan tersenyum datar tanda tak senang jika suaminya itu mulai membahas urusan sekolah di meja makan seperti ini. Karena ia tahu akan ada salah satu anaknya yang sudah pasti merasa tersudut. Bukan hanya merasa, tapi terkadang Agam memang sengaja memojokkan Rei. Reo yang ditanya pun menanggapinya hanya dengan anggukan sambil mengunyah makanan dalam mulutnya.
"Gimana, ada kesulitan belajar?" tanya Agam lagi.
Reo langsung menggeleng cepat sebagai jawabannya. Ia berharap papinya tidak lagi membahas tentang belajar atau pun pelajaran. Bukan hanya Ratri yang merasa tak senang dengan pembahasan Agam pagi ini, Reo juga merasa tak nyaman. Reo tahu jika papinya akan selalu mendukungnya. Namun ia tidak ingin membuat Rei semakin berkecil hati atas perhatian papinya yang hanya ditujukan untuk dirinya seorang. Padahal sejauh ini Reo bisa memahami pelajaran dengan baik. Terbukti dari nilainya yang bagus dan selalu berada di peringkat utama. Seharusnya papinya memberi perhatiannya pada Rei. Rei lah yang harusnya ditanyakan dimana kesulitan belajarnya. Rei yang harus didukung agar ia selalu semangat belajar. Namun Agam malah mengabaikan Rei dan membuatnya seolah-olah tidak ada.
"Nanti di kelas dua belas, papi daftarin les tambahan ya? Supaya nilai kamu makin bagus dan diterima di universitas negeri lewat jalur khusus. Mau ya? Oh atau kamu mau kuliahnya di luar negeri?" tanya Agam memulai diskusinya dengan putra kesayangannya.
Bukannya menjawab pertanyaan papinya, Reo malah melirik pada maminya dan juga saudara kembarnya. Rei sedang asyik melahap sarapannya dengan mimik wajah yang datar. Rei berekspresi seolah-olah ia tuli tak mendengar apapun percakapan dua orang yang duduk persis di depannya. Lagi pula untuk apa ia ikut nimbrung ataupun bersuara jika pada akhirnya ia diabaikan dan dianggap tidak ada oleh papinya. Atau lebih parahnya, Rei takut memancing amarah papinya. Jadi ia sengaja mengunci mulutnya seolah tak peduli pada apa yang didengarnya.
"Pi, ini masih ujian akhir semester satu. Masih ada waktu enam bulan lagi untuk Rei dan Reo naik ke kelas dua belas. Jadi sebaiknya jangan membicarakan hal yang terlalu jauh. Biarkan mereka fokus pada ujian yang ada di depan mata dulu." ucap Ratri. Kali ini Ratri memberanikan diri ikut bersuara untuk mengalihkan pembicaraan.
"Tidak ada salahnya mempersiapkan lebih awal, Mi. Aku ini Papinya. Jadi aku lebih berhak mengatur bagaimana hidup Reo ke depannya. Papi ingin Reo mendapatkan dan menghasilkan yang terbaik. Karena Reo satu-satunya harapan Papi," ucap Agam sambil tersenyum bangga kepada Reo.
Reo pun ikut tersenyum meski kentara sekali jika senyum itu dipaksakan. Lalu Reo melihat maminya yang sedang menatap Rei.
"Kamu lebih baik urus saja anakmu yang tidak berguna itu. Kalau sudah bisa sejajar dengan Reo, aku akan sangat berterima kasih sekali atas jerih payahmu telah mendidiknya," ucap Agam sinis yang membuat semua anggota keluarga itu diam seribu bahasa.
Jika Agam sudah mengeluarkan kalimat tajam seperti itu, maka Ratri sudah tak berani menjawab ucapan suaminya itu. Ratri takut ucapan Agam akan semakin tajam dan nantinya semakin melukai hati Rei juga. Ratri memilih diam meskipun bertolak belakang dengan hatinya yang masih menggerutu karena tak rela Agam berkata-kata yang terus memojokkan dirinya dan juga Rei.
"Rei, kita berangkat sekarang yuk?" ajak Reo memecah suasana seraya berdiri dari tempat duduknya.
Rei pun bangkit mengikuti Reo. Mereka pamit menyalami Ratri bergantian.
"Siapa yang bawa motornya sekarang?" tanya Ratri seusai mengecup kening kedua putranya secara bergantian.
"Reo yang bawa motor Mi," jawab Reo.
"Oh oke, hati-hati ya Nak di jalan."
Kini kedua saudara kembar itu menghampiri papinya hendak berpamitan. Reo mengulurkan tangannya meminta tangan Agam untuk dicium punggung tangannya. Agam pun menyambutnya serta mengelus-elus puncak kepala Reo ketika anak kesayangannya itu menyalaminya. Kini gantian Rei yang hendak menyalami Agam. Rei pun mengulurkan tangannya sama seperti Reo barusan. Namun bukannya menyambut tangan Rei, Agam kembali meneruskan sarapannya dan bersikap tak acuh pada Rei. Lantas Agam malah menyuruh Ratri untuk mengambilkan tas kerjanya di dalam kamar karena ia juga akan berangkat. Tak lupa meminta kopinya dipindahkan ke dalam tumbler karena ia tak akan sempat meminumnya. Jadi biar diminum di dalam mobil saja selama perjalanan. Ratri segera bergerak menyiapkan semua yang diminta oleh suaminya. Agam pun kembali fokus pada sarapannya yang tinggal sedikit lagi.
Sementara Rei masih mematung di posisi yang sama dengan tangan yang terulur. Reo menatap miris kembarannya yang selalu diperlakukan seperti itu oleh papinya. Lantas ia yang menyambut tangan Rei dan mengajaknya segera berangkat. Rei hanya diam sambil mengikuti langkah Reo yang berjalan lebih dulu dengan menggenggam tangannya.
Sebenarnya ini bukanlah hal baru bagi Rei jika ia diabaikan oleh Agam. Namun meskipun begitu, Rei tak pernah bosan mengulang sikap yang sama setiap pagi walau pada akhirnya ia juga tahu akan selalu tak dianggap.
Rei dan Reo pun berangkat ke sekolah dengan menggunakan sepeda motor. Kali ini Reo yang mengendarai. Biasanya seminggu sekali mereka bergantian. Jarak dari rumah ke sekolah memakan waktu tempuh sekitar tiga puluh menit. Itupun jika jalanan sedang tidak macet. Sepanjang perjalanan dari rumah ke sekolah, jarang sekali mereka saling berbicara. Jika tak ada hal yang sangat penting, mereka lebih banyak saling mengunci mulut. Apalagi Rei memang tipikal orang yang irit bicara.
Tiba di sekolah, Reo memarkirkan motornya di parkiran khusus sepeda motor. Sementara Rei menunggu saudara kembarnya itu di lobby sekolah. Saat sedang menunggu, dari jarak jauh netra Rei menangkap sosok perempuan yang sedang mengobrol dengan beberapa temannya sesama perempuan sambil berjalan. Rei terus memperhatikannya sampai membuat matanya enggan berkedip. Seperti ia belum pernah melihat siswi perempuan ini sebelumnya di sekolah. Padahal sebenarnya bukannya belum pernah melihat siswi tersebut, hanya saja memang Rei yang tidak pernah memperhatikan sekelilingnya. Bahkan ia hampir tak memiliki teman selain kembarannya. Saat siswi tersebut menoleh ke arah Rei dan pandangan mereka bertemu, lantas Rei buru-buru membuang pandangannya ke sembarang arah. Lalu kemudian ia menunduk. Tepat disaat yang sama, Reo datang menepuk pundaknya yang membuat Rei kembali mendongak. Reo mengajaknya segera ke kelas. Rei pun mengiyakan. Disaat Rei beranjak dan hendak melangkah bersama Reo, sekumpulan siswi yang salah satunya tadi Rei perhatikan melintas tepat di depannya. Dan yang membuat Rei merasa grogi adalah ketika Rei tau jika selama melintas, siswi itu tak lepas menatap ke arah mereka. Dalam hati Rei jadi bertanya-tanya, untuk apa pula ia merasa gugup. Akhirnya Rei mencoba bersikap biasa saja. Ia pun melangkah ke kelas bersama Reo.
Suasana sekolah belum terlalu ramai. Masih ada waktu sekitar dua puluh menit sampai bel masuk sekolah berbunyi. Di kelas, Rei dan Reo tidak duduk bersisian. Reo duduk di bangku paling depan tepat di hadapan meja guru. Sedangkan tempat duduk Rei berada di barisan pojok kanan kelas dan bangku kedua dari belakang. Sambil menunggu jam pelajaran dimulai, Reo sibuk membaca buku. Mengulang pelajaran dan mencoba memahami pelajaran selanjutnya. Senang membaca dan rasa ingin tahunya yang tinggi, membuat Reo menjadikan belajar sebagai hobi. Jadi tak pernah sekalipun Reo merasa jenuh dalam belajar. Maka tak heran jika kebiasaan itu membuat prestasinya patut dibanggakan. Sementara Rei tak acuh pada sekitarnya. Ia membaringkan kepalanya di atas meja dan terpejam. Tak ada semangat dalam dirinya untuk belajar. Karena selama ini ia sudah berusaha untuk menjadi yang terbaik sebisa mungkin, tapi tetap saja hasil akhirnya nihil.
Baru saja beberapa menit Rei mengheningkan pikiran dalam pejamnya, tiba-tiba mejanya digebrak oleh seseorang yang membuatnya terkaget dan langsung mendongak.
"Hei, pagi-pagi udah tidur lagi aja. Tuh contoh kembaran lu! Belajar dong, biar gak b**o! Lu gak bosen apa jadi b**o terus?" ucap seorang laki-laki yang berdiri di depan meja Rei.
"Udahlah Jan, jangan suruh dia belajar. Nanti otaknya soak. Lagian kayaknya dia emang betah jadi orang b**o, hahaha," timpal laki-laki di sebelah kiri Janu dengan diiringi tawa mengejek di akhir kalimatnya.
"Sssttt... Udah diem. Jangan diketawain. Nanti dia ngadu sama bodyguard-nya," ucap siswa laki-laki yang berdiri di sebelah kanan Janu.
Lalu mereka pun menghentikan tawanya. Kemudian tiga laki-laki yang sedang berdiri itu pun tersenyum remeh. Mereka adalah Janu, Galih, dan Bagus. Teman sekelas Rei dan Reo yang kerap kali mengganggu bahkan merundung Rei. Dan seperti biasa, Rei hanya diam tak menjawab apa-apa.
"Heh, lo bertiga gak bosen apa gue peringatin? Jangan pernah ganggu Rei lagi! Lo semua ada masalah apa sih sebenarnya?" teriak Reo yang datang menghampiri ketika melihat Rei dikerubungi tiga orang menyebalkan ini.
Lalu mereka bertiga memutar malas bola matanya. Janu mengibaskan tangannya menginstruksikan untuk membubarkan diri. Lalu mereka bertiga bubar dan berjalan menuju tempat duduknya masing-masing. Reo mengalihkan pandangannya pada saudara kembarnya.
"Rei, lo gak apa-apa kan?" tanya Reo
Rei menggeleng.
"Lo tuh kenapa sih diem aja kalo mereka gangguin lo? Kalo lo diem terus, mereka bakal semakin berani gangguin lo, Rei. Sekali-kali lo harus lawan dong," ucap Reo dengan nada kesal.
"Males." jawab Rei singkat.
Reo membuang nafas kasar dan menatap sendu Rei yang selalu menampilkan raut wajah datar. Lalu tak lama, bel berbunyi menandakan jam pelajaran akan dimulai. Reo pun segera kembali ke tempat duduknya.
Sebenarnya Rei bukannya tak mau melawan, hanya saja ia sudah terlalu muak dengan dirinya sendiri. Di dalam keluarganya, ia tak dianggap oleh sang ayah. Dan di sekolahnya, Rei pun sudah bosan di bandingkan dengan kembarannya oleh teman-temannya hingga ia menjadi langganan dirundung oleh tiga orang teman kelasnya. Jadi ia hanya mencoba menikmatinya saja tanpa mau melawan arus yang ia terima.