AM 3

1921 Words
Usai jam pelajaran sekolah, Rei memilih menjadi siswa paling akhir yang keluar dari kelas. Sementara Reo sudah lebih dulu keluar kelas berbarengan dengan Bu Anjani, sang wali kelas. Reo diminta Bu Anjani membawakan tumpukan buku tugas teman-teman kelasnya ke ruang guru. Dan seperti biasanya, Rei dan Reo akan berjumpa lagi di parkiran sekolah. Rei melangkah santai menyusuri koridor sekolah. Secara tak sengaja, Rei kembali melihat siswi perempuan yang tadi pagi. Gadis itu berjalan beriringan bersama dua temannya ke arah Rei. Meskipun sorot mata Rei sedang memperhatikan siswi tersebut, namun sepertinya gadis itu tidak menyadarinya. "Pamela," teriak seorang perempuan dari arah belakang gadis itu. Rei melihat gadis itu menghentikan langkahnya dan menoleh. Sementara kedua temannya hanya menoleh sejenak dan berjalan lebih dulu meninggalkan gadis tersebut. Ketika gadis itu akan berbalik badan, "Pamela, tungguin," ucapnya lagi. Lalu perempuan itu sedikit berlari untuk sejajar dengan gadis itu. Rei memperhatikannya sembari berjalan ke arahnya. Saat berpapasan dengan gadis itu yang sedang berdiri menunggu, tercium aroma harum yang lembut dari parfum si gadis yang membuat sudut bibir Rei sedikit terangkat. "Jadi dia namanya Pamela," gumam Rei dalam hati. *** Setibanya di rumah, Ratri meminta Rei dan Reo untuk segera berganti pakaian dan menemuinya di teras belakang. Kedua anak laki-laki itu pun menurut. Reo datang lebih dulu, menghampiri Ratri yang tengah memegang cangkir lalu menyeruput isinya. "Pasti minum teh jahe ya Mam?" tebak Reo yang sudah pasti benar karena aroma hangat jahe yang menguar kemana-mana. Kemudian Reo duduk di kursi yang berseberangan dengan maminya. "Iya Sayang. Itu sudah Mami buatkan untuk kamu dan juga Rei." Reo meraih cangkir di hadapannya dan menikmati isinya. Lalu matanya tertuju pada dua lembar kertas yang berada di atas meja. Segera ia letakkan cangkir yang digenggamnya dan bertukar memegang lembaran kertas tersebut. "Apa ini Mam?" tanya Reo. Belum sempat Ratri menjawab, Rei datang dan langsung duduk mengisi kursi kosong di sebelah maminya. "Rei, minum dulu teh jahenya. Mumpung masih hangat," ucap Ratri. Rei mengangguk, kemudian meminum teh buatan Ratri. "Ini formulir pendaftaran les?" tanya Reo lagi. "Iya. Tadi siang Papi kalian meminta Mami mengambil formulir pendaftaran les semua mata pelajaran. Ini sudah Mami ambil dua lembar. Jadi kalian isi masing-masing ya." "Rei juga 'kan Mam?" tanya Reo. "Iya," jawab Ratri pasti. Lantas Ratri mengambil selembar kertas dari tangan Reo kemudian memberikannya pada Rei. Sedangkan Rei menerima lembaran itu dengan raut wajah datar. Reo mengembuskan nafas lega karena ibunya yang memang sangat pengertian. Ia yakin sekali jika ayahnya hanya akan mendaftarkan les untuk dirinya. Jika seperti itu keadaannya, Reo pun akan meminta agar Rei juga mendaftar les. Tak peduli bagaimana reaksi ayahnya, jika ia mendapatkan sesuatu atau apa pun, maka Reo akan meminta hal yang sama untuk Rei. Dan biasanya, ayahnya akan menyerah dengan keinginan Reo. Begitu pula dengan Ratri, meskipun sebenarnya tujuan Agam hanyalah mendaftarkan les untuk Reo, tapi sebagai ibu, Ratri selalu berusaha bersikap adil. Hingga apa yang Reo dapat, Ratri memastikan jika Rei pun mendapatkan hal yang sama. Biarlah nanti ujungnya dia yang menanggung amarah suaminya, daripada harus pilih kasih kepada putra kembarnya. *** Pagi ini giliran Rei yang mengendarai motor. Setibanya di sekolah, Reo lebih dulu ke kelas karena ia diminta menemui Bu Anjani. Sementara Rei harus memarkirkan motornya di parkiran. Usai memarkirkan motor dan hendak melangkah ke lobby, Rei dihampiri oleh Bagus yang langsung menggandengnya. "Apa-apaan ini?" tanya Rei. Rei berusaha melepaskan lengan Bagus yang bertaut dengan lengannya. Namun Bagus makin mengeratkannya. "Jangan banyak bacot. Udah ikut aja," bisik Bagus. Dengan terpaksa Rei mengikuti langkah Bagus yang menggandengnya. Ternyata, Bagus membawa Rei ke luar gerbang sekolah. Tak ada yang mencurigai mereka akan pergi ke mana. Apalagi pagi itu suasana sekolah masih belum terlalu ramai. Bagus membawa Rei ke bangunan setengah jadi yang berjarak beberapa puluh meter dari sekolah. Bangunan itu sudah ditinggal pemiliknya sehingga menjadi bangunan lusuh yang tak terawat. Di sana ternyata ada Janu dan Galih yang sudah menunggu. "Wah yang ditunggu akhirnya datang juga," ucap Galih komplit dengn senyumannya yang mengejek. Kini Rei di kelilingi oleh Bagus, Galih dan juga Janu. Dengan gaya tengilnya mereka memandang remeh ke arah Rei yang terlihat tak nyaman berada di tengah-tengah mereka. "Ka-kalian mau apa?" tanya Rei sedikit terbata. Rei hanya menundukkan wajahnya tanpa berani menatap ketiga laki-laki yang memang sudah seringkali merundungnya. "Udah santai aja, gak usah tegang gitu dong," ucap Galih sambil menepuk-nepuk pipi Rei. "Tau nih, kayak baru pertama kali aja Lo ketemu kita," timpal Bagus. "Udah langsung intinya aja! Kita bertiga belum sarapan. Jadi mending Lo beliin kita makanan. Gue mau ketoprak yang di seberang sekolah. Gue gak mau tau ya, lima belas menit lagi Gue mau tiga porsi ketoprak harus udah ada di sini!" ucap Janu seenaknya. Janu mendorong Rei agar segera melangkah menuruti perintahnya. Akibat dorongan Janu, Rei jatuh terduduk. Rei refleks mendongakkan wajahnya dan tanpa sengaja menatap Janu yang tengah memandangnya sinis. "Buruan jalan! Lo gak punya duit ya?" hardik Galih. Bagus membantu Rei untuk berdiri. Kemudian Bagus meraba saku baju dan celana Rei. Tak ditemukan sepeser rupiah pun. Saat itu, memang Rei sedang tidak menyimpan uang di sakunya. Lantas Galih langsung merampas tas milik Rei dan mengacak-acak isinya. Galih menemukan dompet milik Rei dan mengeluarkan semua isinya. Rei mencoba merebut tasnya namun tangannya ditepis oleh Janu dan Rei kembali didorong hingga jatuh tersungkur. "Jangan diambil semuanya, Gal!" seru Rei ketika melihat Galih menggenggam empat lembar uang pecahan seratus ribuan dan selembar uang lima puluh ribu. Namun Galih tak mengindahkan ucapan Rei. Ia malah menghardik Rei agar menutup mulutnya. Lalu Galih melemparkan uang pecahan lima puluh ribu pada Rei dan meminta Bagus menyimpan sisanya. "Udah sana beli! Udah ada kan uangnya," kata Bagus sambil memasukan uang milik Rei ke dalam saku celananya. "Inget ya, waktu Lo cuma lima belas menit dari sekarang. Kalo sampe Lo telat, tau sendiri kan akibatnya!" ancam Janu. Rei mengambil kembali dompet dan juga tasnya yang sudah dihempaskan Galih padanya. Tanpa banyak protes, Rei pergi meninggalkan ketiga laki-laki yang kerap kali merundungnya. Sebenarnya dalam hati Rei sudah sangat jenuh dan muak diperlakukan seenaknya oleh Janu, Galih, dan juga Bagus. Awalnya Rei yang nilai akademisnya selalu paling bawah, sering dibandingkan dengan Reo yang selalu berada di posisi atas. Rei mencoba tak peduli karena itu bukanlah kali pertama ia dibanding-bandingkan dengan kembarannya. Karena Rei yang tak pernah protes ataupun melawan, makin ke sini rundungan Janu dan kawanannya makin seenaknya saja. Yang tadinya hanyalah perkataan yang membandingkan, lalu ketiga laki-laki perundung itu jadi berani menyuruh-nyuruh Rei semau mereka. Bahkan kali ini, mereka sampai mengambil uang milik Rei. Padahal jika dilihat dari latar belakang keluarga mereka bertiga, mustahil jika mereka kekurangan uang. Tapi memang pada dasarnya mereka yang gemar menindas dan merundung, jadi mereka melakukan apapun sesuka hati mereka. Bukannya Rei takut untuk melawan, selama ini Rei hanya ingin menghindari konflik. Jika Rei membuat masalah di sekolah dan sampai pada pemanggilan orang tua, sudah terbayang apa yang akan ia terima dari ayahnya. Maka dari itu, Rei sengaja diam dan berusaha meredam semuanya. Hingga para perundung itu semakin menjadi dan sesuka hati merundungnya. Rei berjalan cepat ke arah gerbang sekolah dan menyebrangi jalan raya untuk menghampiri penjual ketoprak. Beruntung sekali saat ini hanya ada dua orang yang sedang mengantri. Biasanya beberapa orang mengantri sampai mengelilingi gerobak ketoprak itu. Rei langsung memesan tiga porsi ketoprak dan membayarnya. Setelah orang pertama berlalu, Rei cukup terkejut karena orang kedua memesan lima porsi. Yang itu artinya butuh waktu cukup lama untuk menunggu giliran pesanannya dibuatkan. Sambil gelisah menunggu pesanannya, Rei memperhatikan jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Rei berharap semoga bapak penjual ketoprak itu tak terlampau lama membuatkan ketoprak. Melihat Rei yang gelisah dan terus menerus menatap penunjuk waktu di tangannya, ibu yang memesan ketoprak itu akhirnya menawarkan Rei lebih dulu dan menunda pesanannya. Ibu itu berpikir jika Rei gelisah takut terlambat masuk sekolah. Rei pun tak menyiakan kesempatan ini dan berterimakasih kepada ibu tersebut. Usai mendapatkan pesanannya, Rei berlari berpacu dengan waktu yang tersisa hanya tiga menit lagi. Meskipun yakin dirinya tak akan tepat dengan waktu yang diberikan Janu, Rei tetap berlari menuju bangunan setengah jadi itu. Dan benar saja, di sana sudah tak ada siapa-siapa. Rei berusaha mengitari bangunan itu namun memang sudah tak ada siapapun di situ. Rei terlambat lima menit dari waktu yang sudah ditentukan. Dengan langkah gontai Rei keluar dari bangunan itu. Namun dirinya langsung tersadar dengan jam masuk sekolah yang tinggal beberapa menit lagi. Rei langsung mengambil langkah seribu menuju gerbang sekolahnya. Lagi-lagi Rei kalah dengan waktu. Gerbang sekolahnya sudah tertutup rapat tepat sekali di depan Rei. Dengan nafas yang tersengal-sengal karena kelelahan berlari, Rei mencoba memohon pada satpam agar membolehkannya masuk. Namun peraturan tetaplah peraturan yang satpam tersebut pun tak berani melanggarnya. Rei sudah terlambat, itu artinya tidak diperbolehkan masuk sekolah. Satpam tersebut mempersilahkan Rei pulang atau masuk di jam pelajaran kedua. Tak lama muncul seorang siswi dengan nafas terengah-engah dan langsung memohon pada satpam agar dibolehkan masuk. Namun satpam itu kembali menjelaskan jika nanti diperbolehkan masuk saat jam pelajaran kedua. "Jadi bagaimana, kalian mau pulang saja atau mau menunggu masuk di jam pelajaran kedua?" tanya satpam. "Nunggu aja, Pak," jawab kedua siswa dan siswi itu hampir bersamaan. "Ya sudah sebutkan saja nama kalian dan dari kelas berapa, biar saya catat buat absen ke kelas kalian masing-masing kalau kalian tidak ikut pelajaran pertama karena terlambat." Kemudian satpam tersebut menanyakan lebih dulu kepada siswi. "Saya Pamela dari 11 IPS 4." *** Di kelas, Reo keheranan karena tak menemukan kembarannya. Apalagi saat jam pelajaran hendak dimulai, Rei belum juga menunjukan batang hidungnya. Reo sudah menduga jika ini pasti ada sangkut pautnya dengan Janu dan kawanannya yang kerap merundung Rei. Bukan Rei saja, Janu, Galih, dan Bagus memang suka merundung siswa yang lainnya juga. Reo tak membuang kesempatan saat melihat Janu izin pada guru yang sedang mengajar untuk ke toilet seorang diri. Selang beberapa menit, Reo pun melakukan hal yang sama dan bergegas menyusul ke toilet. Janu baru saja keluar bilik toilet dan sudah ada Reo yang menunggunya di ambang pintu keluar. Dengan cepat Reo menutup pintu dan menguncinya. Janu hanya tersenyum remeh melihat tindakan Reo. "Di mana Rei?" tanya Reo langsung pada intinya. "Cih! Kenapa Lo tanya Gue? Emang Gue pengasuhnya?" ucap Janu sambil berdecih mengejek. "Lo Gak usah pura-pura gak tau! Gue tau pasti ini ada sangkut pautnya sama Lo dan temen-temen Lo 'kan?" "Terus Lo mau apa?" tanya Janu menantang. Reo yang emosinya tersulut karena ucapan dan raut wajah Janu yang menantangnya, langsung mencengkeram kerah baju Janu. "Lo tinggal kasih tau di mana Rei, atau ...." "Atau apa?" tanya Janu dengan ekspresi wajah yang mengejek. Tanpa diduga, Reo melayangkan kepalan tangannya ke pipi Janu yang menjalarkan rasa panas dan membuat cairan berwarna merah segar mengalir dari salah satu lubang pernapasan Janu. Reo sudah tidak bisa lagi menahan kesabarannya. Apalagi dengan ucapan dan mimik wajah Janu yang seolah sengaja memancing amarahnya. Masih dengan mencengkeram kerah baju Janu, Reo berkata, "Lo tuh udah sering nge-bully Rei. Kali ini gue gak akan tinggal diem. Jadi ini sebagai peringatan buat Lo dan komplotan Lo! Jangan pernah berani macem-macem lagi sama Rei atau Gue bisa bikin Lo lebih parah dari ini!" Setelah itu, Reo melepaskan Janu yang sama sekali tidak bereaksi apapun meski Reo sudah meninggalkan bekas memar di wajahnya hingga mimisan. Kemudian Reo pergi meninggalkan Janu begitu saja. Sementara Janu menyaksikan kepergian Reo dengan tatapan sinis. "Reo ..., Lo pikir gue takut sama ancaman Lo? Lo salah! Gue sama sekali gak takut. Karena Lo duluan yang mulai, maka dari sini gue janji kalo Gue akan bales apa yang Lo lakuin ke Gue." Lalu Janu menyeka cairan merah dari hidungnya seraya seringai licik mengembang dari bibirnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD