PART 23

1657 Words
23 “KAU AKAN membawa aku makan Pho?” tanya aku sekali lagi saat aku masih tidak pecaya kalau Damon bisa memikirkan hal itu. Aku menatap dia tak percaya, merasa seperti gadis yang cukup beruntung. Sungguh, aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Seperti seorang gadis yang dipikirkan oleh seseorang. Someone has never really think of me this much, dan jujur saja, hati aku sedikit terasa hangat mendengar pengakuan dari Damon itu. Aku bersungut saat Damon tertawa tipis, tak salah lagi sebab melihat wajah aku yang super kaget. Aku menahan diri agar tidak mengulurkan tangan dan memukul bahunya keras. Pria itu memegang kemudi setir dan membelokkan kami ke sebuah jalan yang cukup ramai dan hidup. Banyak lampu yang dipasang di sekitar jalan, membuat tempat itu terlihat terang tidak hanya karena lampu sen mobil Damon yang sedang menyala. Dia mengumbang pelan saat aku masih menatap dia lekat, tapi tak kujung merespon apa yang aku tanyakan. Aku mengerang kesal. “Damon, serius. Kau akan membawa aku makan Pho? Memangnya kau pernah makan makanan itu sebelumnya? Di sini ada tempat makan semacam itu?” tanya aku terus – menerus. Aku mengangkat alis saat laki – laki di kursi pengemudi itu hanya mengeluarkan gelak harsa lagi. Jika aku tidak berpikir dia sedang mengemudi, aku pasti sudah memukulnya hingga pria itu tidak sadarkan diri. “Lihat saja nanti,” kata Damon akhirnya. Di menunjuk ke depan. “Kita sudah dekat. Aku ingin kau jujur dan mengatakan apa kau suka dengan masakan tempat ini atau tidak,” kata Damon sembari mengemudi dengan santai. Sementara aku? Aku tidak bisa menahan rasa senang dan tak sabar. Aku gosok dua tangan di depan, dan menunggu kita berdua sampai di tempat makan tersebut. Baiklah. Aku rasa Damon memang benar – benar akan membuat kencan pertama ini sebagai pengalaman yang terbaik yang pernah aku rasakan. *** KONTRAS DENGAN APA YANG AKU PIKIRKAN¸ hal yang dianggap seorang laki – laki bernama Damon Hawkwolf sebagai sebuah kencan itu tidak seburuk yang ada di dalam benak aku. Baiklah, aku memang tidak berpikir kalau kencan kecil ini akan menjadi pengalaman terbaruk yang akan aku alami. Terutama sebab kencan ini di adakan bersama seorang laki – laki yang tampan dan berani semacam Damon Hawkwolf. Tapi berhubung aku masih tidak bisa menerima label yang dia berikan untuk aku seenak dirinya sendiri, semua masalah tentang pasangan jiwa itu, aku masih menaruh rasa kesal dan frustasi padanya. Setidaknya, sebelum Pho di sajikan dan aku otomatis lupa dunia. Uap yang keluar dari makanan khas favorit aku itu mengeluarkan aroma yang familiar. Aku nyaris menitikkan air mata sebab tiba – tiba saja teringat kampung halaman dan rumah aku. Bayang – bayang jalanan sibuk dan di penuhi banyak orang, bising kendaraan mobil dan motor, banyak pedagang jualan di pinggir jalan. Semuanya. Terutama keluar aku tentu saja. Mama akan membuatkan Pho dengan resep khusus dari Nenek. Sebuah resep yang sudah turun – temurun di keluarga kami. Apa lagi kalau di sajikan di tengah hujan yang dingin. Rasa Pho akan meledak di dalam mulut. Aku tidak melirik Damon, tidak juga mempertanyakan maksud dia apa membawa aku datang ke sini. Aku sibuk menahan air mata, dan langsung menyantap sendok pertama Pho di restoran ini. Nostalgia. Itu yang aku rasakan. Rasanya seperti aku bisa melihat langsung dapur Mama yang kecil. Suara – suara saudara aku bermain di ruang tamu. Suara teve yang kencang menyetel film animasi yang buruk. Suara mesin tanaman di rumah sebelah. Bahkan aku bisa mendengar jentik air dari dalam kamar mandi—yang by the way, sudah seperti itu selama bertahun – tahun di rumahku tapi tidak pernah di benarkan sama sekali. Kali ini, mata aku sampai berkaca – kaca. “Kau baik – baik saja?” tanya Damon pelan. Bagus, sekarang aku terlihat seperti gadis bodoh. Siapa yang menangis di restoran Asia dan di depan satu mangkuk Pho yang matang dan panas? Aku mengangguk, berkedip cepat agar mata aku segera kering lagi. “Iya. Kuahnya terlalu panas,” jawab aku sembari berdeham canggung. Damon ikut mengangguk, tapi matanya menyorotkan keraguan. “Enak?” Nyatanya, Pho ini bukan buatan Mama. Bukan juga buatan orang yang Khas. Tapi ini tetap Pho. Rasanya sama. Dan aku berterima kasih karena Damon sudah mau melakukan ini untuk aku. “Enak. Rasanya seperti di rumah,” kata aku jujur. Jika aku memberikan dia senyum tipis di bibir, aku tidak akan mengakuinya. Selama beberapa saat hanya itu saja yang terlewat di antara kami. Damon sibuk makan, matanya juga berkaca – kaca, untuk alasan yang jauh berbeda. Sementara aku sibuk menikmati setiap sendok, berharap rasa rindu dan nostalgia di dalam hati cepat hilang. Ayolah, Shay . . . it’s only been like a month. Masa kau sudah serindu ini? “Kau suka?” tanya Damon. Laki – laki itu berdeham, berkali – kali minum air, dua matanya sudah nyaris menitikkan air dari dalam kelopaknya. “Pedas?” tanya aku balik. Tentu saja Damon Hawkwolf menggeleng. Laki – laki. Ada apa dengan mereka dan ego yang tinggi? Memangnya kalau tidak tahan pedas secara otomatis membuat kegagahan mereka menurun? Ini hanya cabai. “Hmh . . .” Aku menelengkan kepala. “Lucu. Kau terlihat seperti orang yang sedang kehausan di gunung pasir. Are you sure you can take this? If you don’t, it’s fine. Tidak semua orang punya toleransi pedas yang sama.” “Aku baik – baik saja,” cibir Damon. Dia mengelap bibir, yang sudah merah by the way. Laki – laki itu menelan ludah sebelum memberikan bukti kalau dia memang tidak masalah dengan kuah pedas Pho. Dia mengambil sendok yang penuh dan memasukkannya ke dalam mulut. Satu detik . . . dua detik . . . tiga detik . . . Yep. Laki – laki itu tersedak. Aku ingin tertawa, sungguh. Tapi Damon terlihat seperti akan mati tersedak. Wajah dan lehernya merah. Dia terlihat tidak bisa bernapas. Jadi aku buru – buru meraih minum aku sendiri dan memaksanya minum. Ketika dia sudah mulai tenang, dengan tangan aku yang menepuk – nepuk punggungnya, baru aku tertawa. Tawa yang semakin lama semakin keras. “Aku lega kau menganggap ini lucu,” dia mendesis kesal. Suaranya lebih serak dari biasanya. Dia masih terengap, tak bisa dipungkiri kalau Pho itu nyaris membuat dia kehilangan nyawa. Aku menutup mulut, tapi dari bahu aku yang berguncang, masih jelas terlihat kalau aku terus tertawa. “Setidaknya ada orang yang di untungkan dari tragedi ini,” kata Damon sembari mendelik ke arah aku. “Oh, come on . . . tadi itu cukup lucu,” aku merentangkan dua tangan ke udara. “Jadi, kau tidak suka pedas?” “Aku suka pedas,” Damon menggerutu. “Tapi ini gila! Bagaimana bisa kau tahan? You don’t even break a sweat! Apa kau punya kekuatan tesembunyi atau semacamnya?” Aku tertawa mencemooh. “Ini belum apa – apa. Pho buatan Mama aku lebih pedas dari pada ini.” Damon memucat, aku bisa melihatnya. Jadi gelak tawa aku jelas tersembur lagi. Laki – laki itu memutar dua bola matanya, tapi dia terlihat lebih tenang dan sorot matanya mulai terlihat seperti dia juga menganggap ini lucu. Pria di depan aku itu menggeser mangkuk Pho – nya ke depan, memutuskan untuk tidak lagi menyentuh makanan itu. Di lain waktu, aku mungkin akan protes keras dan memarahinya, sebab membuang – buang makanan adalah hal yang paling aku tidak suka di dunia ini. Tapi berhubung laki – laki itu baru saja nyaris mati sebab satu sendok kuah Pho yang super pedas menurut dia sendiri, aku membiarkannya. Setelah puas, aku melanjutkan makan. Damon menyibukkan dirinya dengan meminum satu gelas jus jeruk dingin yang baru dia pesan. “Lebih baik jus peach,” komentar aku setelah menelan daging yang besar. “Akan membuat kau segar dan menghilangkan pedas lebih cepat.” Damon buru – buru memesan yang aku katakan. Senyum aku lebar ketika melihat tingkah laki – laki itu. Makanan aku habis tanpa banyak bicara, apa lagi setelah insiden Damon, aku buru – buru menghabiskannya agar tidak canggung menjadi satu – satunya yang makan di antara kami. “Jadi . . .” Damon bersandar. Wajahnya tidak lagi merah. Dua tangan di bersatu di atas meja. “Jadi . . . apa?” “Orien mengatakan sesuatu padaku kemarin,” katanya sembari menatap aku lekat. “Oh, ya?” Laki – laki itu mengangguk. Aku menahan napas. Orien, kau laki – laki tidak tahu diri. Dari cara dia memandang aku dengan penuh arti. Dan bibirnya yang menyeringai aku senang, aku bisa menebak apa itu yang di katakan oleh Orien. Hanya ada satu alasan kenapa dia terlihat sengak dan senang secara bersamaan. Konversasi antara aku, Archer, Talon, dan Orien kemarin di air terjun kembali terngiang. Kenapa kau bisa sadar, Saoirse? Bagaimana bisa kau sadar? Kita juga penasaran . . . Sial. Apa mungkin memang yang terjadi beberapa waktu lalu itu adalah pertanda kalau aku dan dia . . . aku bahkan tidak bisa menyelesaikan kalimat itu. Aku tatap laki – laki yang duduk di hadapan aku, determinasi terlintas di mimiknya. “Memangnya apa yang Orien katakan?” tanya aku pelan. “Kalau kau bisa bangun sebab panggilan dari aku,” Damon tersenyum lebar. “Saoirse Lee. Apa kau sadar itu artinya apa?” Kalau aku dan Damon Hawkwolf memang benar – benar pasangan jiwa? Aku tidak menjawab. Aku rasa aku tidak perlu menjawab kata – kata itu sebab Damon sendiri sudah tahu artinya apa. Dia melihat aku seperti baru saja mendapatkan hadiah yang besar. Dan aku bahkan tidak bisa mengelak dan membela diri sendiri. Nyatanya, satu – satunya hal yang kapabel membangunkan aku kala itu memang suara dia. Vokal laki – laki di depan aku yang serak dan berat, penuh harap dan cemas. Shay, panggilnya. Terus dan terus dan terus lagi. Damon mengangguk. Satu manuver itu sanggup menjawab segalanya. “Itu artinya kau dan aku,” Damon menunjuk kami berdua. “That is the proof that you and I are Mates.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD