22
“OKAY, WOW, THAT WAS WEIRD,” seru aku keras saat Damon berkata dengan santai. Laki – laki itu menatap aku aneh, seperti aku barus aja bertindak berlebihan, namun aku tidak peduli. Aku tatap dia dengan ekspresi yang aku harapkan bisa menggambarkan isi hati aku saat ini—yang by the way, aku sendiri tak tahu sedang merasa apa.
Rasanya seperti jijik, aneh, dan senang? Secara bersamaan. Kau tahu saat aku menaiki sebuah wanana tinggi, lalu saat di momen kau akan turun jatuh ke bawah, perutmu terasa seperti sedang ada yang menggelitk? Itu yang aku rasakan saat ini. Begitu kata mate, keluar dari bingkai mulut Damon, aku merasa seperti akan mual dan berteriak secara bersamaan. Perut aku terasa seperti ada yang menggelitik keras, dan ada kepakan sayang kupu – kupu yang aneh di bawah abdomen. Dengan cepat aku membuyarkan lamunan itu, dan mengutuk diri aku sendiri di dalam hati. “Jangan katakan itu lagi, atau aku akan menyerangmu.”
“Jangan katakan apa lagi?” tanya Damon bingung.
“Mate,” aku berseru pelan. Dengan kuat aku mendorong Damon agar menjauh. “Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi, aku mohon.”
Damon memutar dua bola matanya dan pergi. "Jangan berlebihan," dia menoleh sekilas dan mengedipkan satu mata. "Mate."
***
TENTU SAJA DAMON HAWKWOLF menang. Selama aku kenal dengan laki – laki itu, satu hal yang aku tahu. Dia tidak pernah menyerah. Tidak pernah mundur dari kata – katanya. Dan akan melakukan apa saja agar keinginan dia terkabulkan.
Walau aku sudah protes terus – menerus kalau Archer dan Wyatt—yang by the way, masih belum aku kenal sampai sekarang—tidak butuh yang namanya mengawasi aku, dia tidak mau mendengarnya.
Bagi Damon, menjaga aku adalah hal paling utama di hidupnya. Kalau aku tersipu dan sediki tersentuh dengan diktum itu, aku tidak akan pernah mengakuinya.
Bisa di bilang, perlakuan Damon yang seperti itu memang sedikit . . . menyentuh hati. Siapa yang tidak suka di lindungi, di perhatiakan, dan di cemaskan seperti itu?
Tapi Damon tidak ada tempat sebagai laki – laki untuk melakukan itu di hidup aku. ‘Kan? Setidaknya, menurut aku begitu. Dia hanya melakukan ini, karena dia pikir kita ini pasangan jiwa atau semacamnya. Bukan karena dia benar - benar ingin melakukannya.
Aku masih tidak mengerti bagaimana konsep pasangan jiwa itu. Apa kah dia melihat aku dan langsung tahu? Apa kah saat kita bertemu malam itu di atas menara dia langsung sadar kalau aku ini pasangan jiwa dia seperti yang semua orang bilang?
Lagi pula, apa ‘sih yang di maksud pasangan jiwa oleh mereka? Apa aku terikat dengan laki – laki itu? Apa kita ini pasangan atau semacamnya? Aku tidak kenal dia. Oh my God, i just met him like last month.
Ini terlalu cepat dan terlalu terburu – buru.
Apa dia jatuh cinta pada pandangan pertama padaku, begitu?
Aku bergidik ngeri. Memikirkan hal itu saja membuat aku sedikit ilfeel. Bukannya aku tidak percaya pada cinta pada pandangan pertama . . . tapi aku tidak percaya pada cinta pandangan pertama.
Menurut aku, tidak mungkin yang namanya langsung memiliki afeksi diselubungi cinta pada orang yang baru kita kenal. Orang itu secara praktis adalah orang asing. Manusia yang tidak pernah kita temui sebelumnya, tidak pernah berbicara dengan kita, tidak pernah berbagi masalah dengan kita, tidak tahu apa yang kita suka dan tidak suka, dan bagaimana bisa kau mencintai orang yang tidak pernah melakukan itu semua dengan kamu?
Itu aneh. Dan lebih parahnya, menurut aku yang ada juga orang yang tertarik pada pandangan pertama.
Sungguh, jika aku bertemu dengan Brad Pritt, atau Leonardi D’Caprio muda, aku juga akan bilang itu cinta pada pandangan pertama. Karena mereka atraktif, menarik, dan oh sangat tampan. Aku akan menyatakan cinta aku yang abadi pada mereka detik itu juga.
Jadi menurut aku, semua masalah tentang pasangan jiwa ini omong kosong.
Aku bisa percaya kalau Damon itu penuh omong kosong, tapi Cordelia? Dan Hunter? Dan . . . semua saudaranya?
Masa Damon menyuruh mereka semua berbohong?
Belum lagi soal manusia serigala dan iblis Ingruth menyeramkan ini . . . apa yang sudah terjadi dengan aku dan hidup aku?
Sumpah, jika semua kembali normal, aku tidak akan pernah protes kenapa hidup aku membosankan lagi. Aku menyatuhkan dua tangan seperti berdoa, dan mendongak ke atas penuh harap.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Damon di sebelah aku, mengemudi dengan kecepatan normal dan santai.
Aku tidak menggubris dia. Yang ada, tangan aku semakin ke atas ketika permohonan aku semakin putus asa. Itu dia, laki – laki itu, dia yang ingin aku singkirkan dari hidup ini. Kembalikan hidup normal aku!
“Shay, aku mulai takut,” Damon menggerutu. “Apa kau kerasukan?”
Satu mata aku terbuka, menatap atap mobil. “Aku sedang berdoa.”
“Berdoa untuk apa?”
“Agar kau cepat pergi dari hidup aku,” kata aku tanpa banyak pikir. Setelah menggoyang – goyangkan dua telapak tangan yang menyatu ke atas dan puas, aku membuka mata sembari membuang napas panjang. “Agar semua kembali normal.”
“That’s nice,” kata Damon. Aku bisa mendengar nada bicara sarkas darinya. Ketika aku menoleh, laki – laki itu sedang mengatupkan rahangnya.
Baiklah . . . mungkin aku sedikit keterlaluan. Apa aku sudah menyinggungnya? Tapi siapa yang mau aku salahkan? Semua ini memang tidak normal.
“Kau mau tahu pendapat aku?” Damon memutar kemudi setir dan berbelok dari perempatan besar di New Cresthill.
Aku mengumbang pelan, “Hmh . . .” sebagai respon dari omongan nya. Aku tidak bisa berbohong kalau kembali berada di dalam mobil bersama Damon dalam waktu yang cepat seperti ini cukup membuat hati aku berdegup kencang.
Saat di awal dia menawarkan untuk mengantar aku sekolah, aku tidak membayangkan kalau aku pada akhirnya aku harus berada di dalam mobil bersama laki – laki itu. Aku harus memastikan berulang – ulang kalau dia benar – benar Damon, bahkan harus memanggil Cordelia dan Hunter untuk membuktikannya.
Damon menatap aku sedikit campur aduk saat itu, marah dan cemas, dan mungkin sedikit kesal sebab aku terus – menerus tidak percaya. Tapi akhirnya aku naik juga ke dalam mobil bersamanya.
Apa kalian menyalahkan aku? Terakhir kali aku bersama dengannya, laki – laki itu berubah menjadi iblis yang mengerikan dan berakhir di dalam hutan gelap.
“Menurut aku kau sedang dalam kondisi penyangkalan,” kata Damon.
Aku menoleh padanya. “Penyangkalan? Aku? Menyangkal apa?”
“Kalau ini semua nyata,” jelas Damon. “Kalau kau percaya. Kalau kau tahu kita memang pasangan jiwa.”
“Aku tidak tahu kalau kita pasangan jiwa,” balasku sengit. “Dan agar lebih jelas, aku tidak menyangkal. Aku sudah lihat dengan mata kepala aku sendiri. Iblis dan manusia serigala. Baiklah, kalian nyata. But soulmates? I don’t know about that.”
Damon mencengkeram kemudi setir keras. “Don’t do that.”
“Do what?”
“Denying us,” jawab Damon keras. Aku tidak bergedik, tidak juga merespon nada bicara dia yang mulai naik. Aku tahu dia frustasi. Sudah beberapa hari ini aku menghindari laki – laki itu, berkata kalau semua masalah tentang pasangan jiwa ini omong kosong, bahkan menolak berbicara dengannya beberapa kali.
Tapi lagi, ini semua masih baru bagi aku.
Dengan kesabaran yang tidak tahu aku punya, aku menjawab setenang mungkin. “Us? There is no us, Damon. Kau dan aku bahkan tidak tahu warna favorit masing – masing.”
“Hijau.”
“Apa?” tanyaku kaget.
“Hijau,” Damon menjawab dengan gigi gemeretak. “Green sage, for the exact color.”
Aku mengedipkan mata padanya. “B—bagaimana kau tahu?”
Damon mengeluarkan tawa yang terdengar seperti mencibir dan mencemooh menjadi satu. “Aku tahu semua yang harus aku tahu, Shay.”
“Makanan favorit aku?”
“California roll, sushi.” Damon mengeluarkan satu jari. “Apa pun itu yang ada telurnya, Big Mac from McDonald’s, dan Pho. Kau sangat suka Pho.”
Mulut aku mungkin menganga lebar, tapi tidak ada kata – kata yang keluar dari bingkai bibir itu. Dia benar. Damon . . . tahu semua makanan favorit aku. Bahkan makanan yang tidak akan aku acungkan sebagai top three makanan yang paling aku suka.
Bagaimana dia bisa tahu aku suka Pho?
Ini aneh . . . ini sungguh aneh. Aku memaksa menelan ludah sebab tiba – tiba aku merasa tenggorokan aku sangat kering. “Kau . . . apa kau menguntit aku? Did you do a back ground research on me?”
Damon tidak menoleh ke arah aku sama sekali, tidak ketika nada bicara aku pun menuduh seperti itu. Aku rasa, sesuatu yang tidak akan kami berdua sukai akan terjadi jika dua netra kami saling bertabrakan. Aku membiarkan dia fokus ke depan.
“Satu, kau selalu memesan California Roll di tempat Sushi di seberang kampus. Dua, kau selalu melahap habis semua sarapan yang di buat Cordelia, terutama jika ada telurnya. Tiga, Cordelia bilang kau memesan Big Mac saat pertama kali bertemu dan malamnya memesan McDonald’s,” jelas Damon panjang lebar.
“Dan yang terakhir?” tanya aku penasaran. “Kau tahu aku suka Pho dari mana?”
“Kau orang tinggal di Vietnam, Saoirse. Pho adalah makanan paling populer,” Damon menjawab santai. Dia berbelok lagi, membuat aku tersadar kalau kita sudah sampai ke parkiran kampus.
Ketika mobil sudah berhenti, aku melihat seorang laki – laki tinggi dan lesung pipi di wajahnya menghampir ke arah kami dari gedung kampus.
“Apa itu Wyatt?” tunjuk aku ke depan.
Damon mengangguk. “Iya. Archer akan ada di kelas ke dua kamu hari ini.”
“Damon, apa kau yakin mereka tidak apa – apa mengurus aku seperti ini? I’m sure they also don’t want to be baby sitters.”
“Kalau mereka keberatan, mereka tidak akan menawarkan diri,” jawab Damon sembari meraih tas kami di kursi belakang. Dia memberikan aku tas yang aku bawa, sementara dia mencabut kunci mobil.
Mereka . . . yang menawarkan untuk menjaga aku?
“Seberapa berbahaya nya makhluk ini?” tanya aku lirih. Aku tidak menoleh ke Damon, menolak untuk melihat iris mata cokelat keemasan milik dia. “Kenapa juga dia mau melukai aku? Dari semua orang yang ada di New Cresthill, kenapa aku?”
Damon bernapas keras. Hal itu membuat aku akhirnya menoleh ke laki – laki itu dan melihat dia sedang mencengkeram kunci mobil hingga membuat telapak tangan nya memutih. Dia mengatupkan rahang dan menatap kemudi setir lekat.
“Karena aku,” jawabnya. Suara laki – laki itu serak dan berat. “Aku akan menjelaskannya padamu.”
“Kapan?” tanyaku. “Aku butuh penjelasan tentang kenapa seorang iblis mengerjar aku, Damon.”
Dia membuang napas panjang. “Baiklah, selesai sekolah, saat aku menjemputmu, aku akan menceritakan semuanya.”
“Okay . . .” Hanya itu yang bisa aku katakan.
Saat kami berdua sudah turun, aku berkenalan dengan Wyatt—yang ternyata juga sangat tampan, apa mereka semua terlihat seperti dewa Yunani begini?—Damon melangkah untuk pergi ke kelasnya sendiri.
Tapi ketika aku dan Wyatt sudah ikut pergi, tiba – tiba suara lantang dan besar milik Damon berteriak di lorong gedung hingga menggema ke mana – mana.
“Saoirse Lee! It’s a date!” laki – laki sialan itu bahkan mengedipakan satu mata ke arah kami.
Pertama Wyatt yang tertawa, lalu diikuti semua orang yang mendengar pernyataan itu. Aku menyumpah rendah dan berlari ke dalam kelas.
***
Untungnya, kelas pertama dan ke dua, berakhir dengan cepat. Aku dan Wyatt ternyata memiliki kesamaan yang banyak, berhubung kami berdua suka membaca buku. Alhasil, selama pelajaran berlangsung, yang aku lakukan dengan laki – laki itu hanya membicarakan topik buku terkini, dan buku favorit kami.
Ternyata Wyatt sangat suka dengan buku fantasi, dan memaksa semua saudara laki – lakinya untuk setidaknya menonton versi film Harry Potter. Aku juga suka fantasi, terutama fantasi Romansa. Dan menurut Wyatt, buku favorit aku—the shadowhunters chronicles—adalah seri buku yang sangat bagus.
Semenjak itu, aku rasa aku dan Wyatt sudah menyandang predikat best friends.
Di pelajaran ke dua, aku tidak perlu khawatir Archer akan bosan atau menyesal sudah mau menjaga aku. Laki – laki itu tidur sepanjang kelas, mengabaikan apa yang dibicarakan oleh Profesor dan dunia luar. Aku tertawa tipis saat melihat laki – laki itu bahkan mengeluarkan saliva dari bibir yang terbuka dan memutuskan kalau dia lebih baik tidur saja.
Saat dua kelas itu berakhir, Archer mengantar aku ke parkiran, dan Damon sudah menunggu di depan mobilnya. Archer memeluk saudara laki – lakinya singkat, tersenyum ke arahku dan menepuk bahu aku ringan, dan pergi seperti dia tidak baru saja tidur selama dua jam lebih.
Bagus. Sekarang yang ada hanya tinggal aku dan Damon.
Laki – laki itu memandang aku seksama, lalu tertawa ketika aku tersipu. Sial. Bad move, Shay. Dia belari kecil ke arah kursi penumpang, dan membukakan pintu untuk aku. Aku berterima kasih padanya pelan, lalu naik.
“Kau Damon, ‘kan?” tanya aku lirih.
Senyum tipis yang tadinya ada di wajahnya hilang, digantikan bibir yang turun ke bawah. Dia mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya. “Hubungi aku.
Aku melakukan itu tanpa perlu berpikir. Saat nada dering di ponselnya berbunyi, aku mengangguk puas.
Kita berdua pergi meninggalkan parkiran kampus, dan berjalan menuju destinasi.
“Ke mana kita akan pergi?” tanya aku penasaran. New Cresthill sudah mulai gelap. Di sini, senja pun datang lebih dulu dari tempat yang lain. Oranye sinar menatari menyala dari balik pohon – pohon yang rindang, membuat refleksi indah di jalan dan atap – atap rumah. Aku bisa melihat penduduk New Cresthill yang ceria, lelah, dan fokus pada dunia masing – masing.
Terkadang, menurut aku New Cresthill adalah kota yang indah.
“Satu – satunya tempat makanan Asia di kota ini,” jawab Damon. “Aku harus melakukan yang terbaik untuk kencan pertama ini, ‘kan? Well, Saoirse Lee. I will take you to eat Pho.”
Lalu apa yang harus aku lakukan ketika seorang Damon Hawkwolf melakukan itu? Tersipu tentu saja. Dan laki – laki sialan itu tertawa puas mendengarnya.
What will happen with this date . . . ?