21
“KAU BANGUN, karena Damong memanggil namamu?” tanya Orion mengulang apa yang baru saja aku katakan. Laki – laki aku menatap aku dengan dua alis tinggi, sementara yang lain menunggu aku menjawab pertanyaan itu. Aku hanya bisa mengangguk pelan, menjawab pertanyaan ulang dari Orion. Ya, itu memang benar. Aku bangun karena Damon memanggil aku. Dan segalanya memang simple seperti itu. Aku tidak tahu kapan aku bisa sadar kalau nama itu adalah panggilan dari Damon, setiap kata yang selalu mengalir di dalam benak aku. Shay . . . Shay . . . Shay . . . lagi dan lagi seperti sebuah ritme yang merdu. Tapi sekarang aku sudah tahu kalau itu memang benar Damon. Dia terus memanggil aku, menyebut aku dengan nama panggilan yang aku larang untuknya, dan membuat aku kembali sadar.
“Wah, itu pembuktian yang sangat mutlak.” Talon berdecak. Tapi bukan karena kesal, melainkan karena kagum. Entah apa yang membuatnya merasa kagum, tapi aku malah merasa malu. Talon bertepuk tangan ria. “Wah, selamat. Kalian memang benar pasangan jiwa.”
Kalimat itu lagi. Aku sadar aku akan marah, tapi aku menahan diri sebab Talon rasanya seperti pelampiasan jika aku meledak di depannya. Aku melotot ke arah pria itu, tapi dia tidak mengerti apa maksud dari tatapan aku yang tajam. “Tidak ada bukti lain lagi,” lanjut Talon. “Itu sudah jelas,”
“Apa maksudnya?” tanya aku heran.
Talon menggeleng tak percaya. “Masih sulit bagimu untuk mengerti? Itu artinya kau dan Damon Hawkwolf memang terikat. Panggilan darinya kapabel membawa kamu kembali ke realita, Shay. Panggilan dari Damon sanggup membuat kau kembali sadar dari kegelapan yang dibentuk oleh seorang iblis.” Talon menatap aku heran. “Kau masih butuh butki? Itu saja sudah cukup sebagai bukti kalian memang terikat kuat.”
***
PERJALAN KECIL kami ke dalam hutan itu membuktikan kalau suasana hati aku masih bisa naik. Semenjak hari kemarin aku, Orien, Talon, dan Archer kembali ke rumah, aku tidak lagi turun ke bawah. Bahkan ketika Cordelia mengajak aku turun untuk makan malam sekali pun.
Selama satu malam, aku hanya bisa berpikir satu hal.
Kenapa kau bisa sadar, Saoirse?
Bagaimana bisa kau sadar?
Kita juga penasaran, begitu kata tiga saudara laki – laki yang baru aku tahu ternyata saudara kembar. Aku tidak pernah melihat saudara laki – laki kembar tiga secara langsung. Satu – satunya kembar tiga yang pernah aku lihat adalah tiga anak kembar eminen dari Korea Selatan.
Daehan, Minguk, Manse. Tiga anak kembar laki – laki yang aku suka.
Tentu saja, bukan hanya inkuiri penasaran mereka yang membuat aku tetap terjaga. Yang paling membuat aku tidak habis pikir adalah satu respon aku.
Karena dia memanggil aku.
Memang benar. Panggilan Damon Hawkwolf lah yang berhasil membuat aku kembali sadar. Berenang ke atas permukaan menggapai satu titik cahaya. Cahaya yang bisa ada karena Damon kerap memanggil nama aku.
Shay. Entah kenapa aku bisa mengambil satu sumber dari vokal tersebut.
Dan yang paling aku tidak mengerti lagi, kenapa juga aku bisa menganggap suara Damon Hawkwolf sebagai titik kekuatan aku?
Archer bilang kalau itu adalah hal biasa bagi dua orang pasangan jiwa. Aku harus menahan diri agar tidak mencibir ke arahnya. Kata itu lagi. Pasangan jiwa.
Panggil aku gadis skeptis, atau gadis yang menyangkal realita, tapi memangnya jika ada laki – laki yang baru kalian kenal tiba – tiba memberikan titel pada hubungan kalian berdua kalau kalian itu pasangan jiwa, kau akan percaya begitu saja?
Walau pun laki – laki nya setampan dan semenarik Damon Hawkwolf.
Talon bersiul. Dia melirik aku sekilas, lalu mengedipkan satu mata pada aku. Ikatan yang menarik, begitu katanya. Pada Talon, aku mengernyitkan mata. Ikatan? Aku dan Damon baru kenal di hari pertama sekolah. Ikatan apa yang kita punya?
Kecuali ikatan antar kelas yang sama di kampus.
Orien, laki – laki itu hanya menatap aku. Sorot netranya memperlihatkan kalau laki – laki itu . . . cemburu? Aku mengangkat alis padanya, membiarkan dia secara direk menatap aku tanpa malu. Lalu dia mengedikkan bahu saat aku mengangkat dagu padanya untuk bertanya apa?
Laki – laki itu berdecak dan balik menatap air terjun yang mengalir. “Aku hanya ingin menemukan pasangan jiwa aku juga.”
It’s safe to say, walau pun pengalaman itu menarik dan luar biasa, tapi komentar – komentar terakhir mereka tentang pasangan jiwa membuat aku kembali merenyuk.
Pasangan jiwa. Konsep yang asing dan aneh.
Apa aku harus percaya dengan kata – kata asing dari orang yang sama asingnya?
Apa yang harus aku lakukan, percaya pada mereka semua, atau percaya pada diri sendiri? Dan jika memang benar Damon dan aku adalah . . . pasangan jiwa. What does that make us now?
***
“Makan, Shay.” Cordelia menggelengkan kepalanya. Wajahnya mengingatkan aku akan ekspresi wajah Nyonya Smith yang menghakimi aku ketika aku tidak menghabiskan seluruh makanan di piring.
Aku nyaris tersenyum lebar, tapi aku tahan. Apa lagi ketika Damon Hawkwolf muncul dari balik pintu dapur dan duduk di sebelah aku. Kursinya mengeluarkan bunyi berderit, terutama ketika dia menariknya dengan pelan dan sengaja.
Lalu saat dia sudah duduk puas, Damon mengedipkan satu mata padaku.
Untung saja Cordelia tidak memberikan aku garpu, atau lebih buruk lagi, pisau. Yah, walau pun pisau roti juga. Aku yakin pisau roti kapabel melumpuhkan laki – laki ini.
Dengan segala kekuatan yang ada, aku menarik piring yang diberikan Cordelia dan memaksa menelan roti panggang darinya.
“Kelas apa hari ini?” tanya Damon tanpa basa – basi.
“Er . . .” Aku berpikir antara ingin menjawab atau tidak. “Aku ada kelas pagi.”
“Sekarang?”
“Pukul sepuluh,” jawabku sembari melirik jam dinding di ruang tengah yang terlihat dari luar pintu dapur. Dua jam lagi.
Kalau aku jalan kaki dari sekarang . . . sudah lah. Entah kapan aku akan sampai. Memikirkan jalan keluar ke pintu gerbang saja sudah sukses membuat lutut aku lemas.
Damon mengangguk. “Akan aku antar.”
Aku tidak protes dengan diktum itu. Tentu saja, Damon tidak berhenti sampai situ saja. Dia juga berkata, “Dan akan aku bawa pulang juga.”
Er . . . baiklah?
“Oh, aku juga sudah koordinasi dengan yang lain,” kata Damon sembari meraih botol Nutella di sebelah aku dan mengoleskannya di roti panggang milik dia. “Hari ini, Archer dan Wyatt akan ada di kelas kamu.”
“Apa?” tanya aku otomatis.
“Hari ini, Archer dan Wyatt akan ada di kelas kamu,” ulang Damon lagi. Dia menekankan setiap katanya lebih pelan dan jelas, seperti sedang berbicara dengan anak kecil yang tidak bisa mengerti kata – kata.
Aku menyipitkan mata pada laki – laki itu. “Untuk apa?”
“Menjaga kamu tentu saja,” Damon menjawab seperti itu hal paling jelas di dunia ini.
“I don’t need a babysitter,” protes aku keras. Aku melirik Cordelia untuk meminta bantuan, tapi gadis itu hanya melumat bibir bawahnya, menatap aku dengan tatapan bersalah. Di sampingnya, Hunter bertingkah seperti gelas berisikan kopi di depannya itu berlian yang bersinar.
Aku membuang napas pada dua orang itu.
“You don’t need one, but I need you to be safe,” Damon melihat aku dengan sorot netra yang begitu dalam. Aku merasakan hati yang berdegup kencang, benak tak bisa berpikir, tubuh membeku di bawah tatapan intens itu. “I need you to be okay, mate.”