16
“DAMON, APA YANG sebenarnya sedang terjadi?”
Aku sendiri bisa mendengar inkuiri itu terlepas dari bingkai mulut aku sendiri. Aku bisa merasakan kalau ada begitu banyak, bahkan sampai juta – jutaan pertanyaan di dalam sel serebrum. Benak aku rasanya seperti akan mengalami turbulensi ringan. Aku tidak bisa menafsirkan premis, walau aku yakin setelah Damon memberikan aku penjelasan sekali pun, aku masih tidak akan bisa memegang realita dan memahami fakta kalau ada sesuatu yang buruk sudah terjadi padaku.
Pada dasarnya, menurut aku, insting utama manusia adalah denial. Aku selalu menyangkal tentang berbagai macam hal yang tak membuat aku tenang dan bahagia. Seperti dulu saat aku tahu peliharaan kelinci aku yang pertama dibolehkan oleh ibu mati.
Aku menolak percaya. Selama berhari – hari aku menolak percaya kalau aku sudah kehilangan peliharaan kelinci itu dan bersikap seperti aku masih punya peliharaan tersebut. Aku yakin kalau apa pun yang akan dikatakan oleh Damon Hawkwolf ini adalah hal yang tidak baik.
Sungguh, aku masih bisa ingat bagaimana aku terjebak di dalam kegelapan tanpa arah. Rasanya seperti aku sedang tenggelam ke dalam suatu laut yang tak mendapatkan cahaya. Aku seperti ada di dalam air dan tak mampu mencari permuakaan. Rasanya seperti ada sesuatu yang menahan aku ke bawah, membuat aku tak bisa bergerak dengan cepat dan bereaksi seperti manusia pada umumnya. Aku hanya bisa mengapung di dalam, terambang seperti sampah yang tak ada gunanya.
Damon menelan ludah. “Kita bicarakan itu lagi nanti.” Pria itu mengerjapkan matanya pelan. “Kita bisa bicarakan itu lagi nanti setelah kau merasa lebih baik. Itu bisa menunggu.”
“Aku baik – baik saja saat ini,” protesku keras. “Aku harus tahu ada apa sebenarnya—“
“Tidak. Aku akan menjelaskan segalanya nanti, aku janji. Tapi tidak sekarang. Kau baru saja bangun, Shay. I just got you, back.”
Tidak ada ruang argumen untuk aku dalam kalimat terakhir Damon Hawkwolf.
Kalimat itu final.
Dan aku hanya bisa mengangguk lesu.
***
AKU TIDAK PERNAH MENDAPAT JAWABAN.
Inkuiri itu tersebut mengambang di udara sama seperti aku yang tidak ada arah di kegelapan, tidak mendapat respon sama sekali dari laki – laki yang aku tanyakan.
Bukan salah dia. Tapi salah alam bawah sadar aku yang kembali plin – plan alias, belum juga aku sadar lebih dari satu menit, hanya beberapa sekon saja sungguh, aku sudah kembali terlelap.
Setidaknya, aku pikir aku tertidur saat ini.
Semoga saja tidak butuh usaha banyak seperti tadi agar aku bisa kembali bangun. Kalau aku harus terus – menerus menggapai cahaya dengan menggunakan suara Damon sebagai sumber aku, aku bisa gila.
Suara Damon Hawkwolf.
Aku tidak paham kenapa dari segala banyak hal di dunia, satu – satunya sumber kekuatan aku agar bisa kembali sadar adalah vokal berat dan serak seorang Damon Hawkwolf.
Aku juga tidak paham kenapa begitu aku membuka mata, sosok laki – laki itu yang aku temui. Apa dia selama ini menunggu aku sampai sadar? Apa dia menunggu di sebelah situ dengan cemas? Apa dia menanti, cemas, dan . . . takut aku tidak sadar lagi?
Tapi aku tidak sepenuhnya bodoh. Aku tidak sepenuhnya tenggelam dalam gelap. Aku tahu jelas siapa yang memanggil aku.
Shay.
Aku tahu siapa yang menyebut nama itu berulang – ulang.
Shay . . . Shay . . . Shay.
Dia memanggil aku. Laki – laki menyebut nama aku terus – menerus hingga aku kembali ke permukaan.
Aku tidak tahu apa itu artinya. Tidak mengerti kenapa hati aku tidak mau berhenti berdegup kencang. Tidak tahu kenapa aku jatuh dalam mimpi yang terang dan tenang, dipenuhi cahaya dan kupu – kupu cantik.
Aku tidak tahu kenapa. Tidak mengerti kenapa.
Tapi dengan nama Damon Hawkwolf di dalam hati, aku merasa seperti gadis paling beruntung dan aman di dunia ini.
***
“Kau sudah bangun?”
Aku hanya bisa mengangguk. Setelah meneguk satu gelas air yang diberikan oleh Damon—lagi – lagi dia masih ada di samping tempat tidur aku.
“Merasa lebih baik?”
Aku mengangguk lagi.
“Ingin sesuatu? Kau butuh sesuatu, Shay?” tanya Damon pelan. Aku tidak bisa berpikir ketika tangannya yang masif mengelus jemari aku halus.
Oh my God, sejak kapan aku menjadi wanita seperti ini?
“Shay, kau butuh sesuatu?” ulangnya lebih kencang.
Nama itu lagi. Nama aku. Shay, Shay, Shay.
“Damon?” suara aku serak dan lemah, tidak seperti yang aku inginkan. Aku tidak tahu akau ada di mana sekarang. Tapi bukan itu yang aku pikirkan sekarang. Aku tidak peduli aku ada di mana.
Yang ada di pikiran aku hanya: “Apa yang terjadi?”
Seperti tahu kalau aku akan melontarkan inkuiri itu, Damon menegakkan bahunya lebar dan bersiap. Aku menelan ludah, merasakan tenggorokan menjadi kering lagi.
“Kau bertemu dengan Ingruth.”
Aku terdiam lama, mengobservasi wajah Damon yang datar. Tapi kali ini tidak ada ekspresi datar sama sekali. Yang ada dia terlihat . . . menyesal. Marah. Frustasi. Dan cemas. Semua bercampur menjadi satu.
“Ingruth?”
Damon meringis mendengar nama itu terlepas dari bingkai mulut aku. Lalu perlahan dia mengangguk. “Benar.”
“Siapa dia?”
“Seorang . . . iblis.”
Jika aku tadi terdiam, kini aku kehilangan kata – kata. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Merespon apa.
Apa ini semua lelucon? Aku berani bersumpah, oh my God, jika ini semua adalah lelucon, dan Damon sedang mengerjai dia dengan semua skenario mengerikan ini, aku akan melaporkan dia pada pihak yang berwajib.
Aku menahan napas.
“Tidak. Ini semua benar. Aku tahu ini susah untuk dipahami—“
“Damon,” aku mencoba berdiri, dengan kepala yang berat dan pening. Aku meringis dan mengerang, tapi dengan bantuan Damon, aku bisa duduk bersandar. Aku memberikan dia tatapan yang aku harap terlihat kesal. “Iblis? Apa kau pikir aku bodoh?”
“Aku tidak pernah berpikir begitu!”
“Iblis, Damon! Apa kau mendengar dirimu sendiri?” aku terbatuk, tapi aku tetap melotot ke arahnya. Aku tahu aku datang dari wilayah Asia yang masih percaya dengan hal – hal seperti ini. Tapi memangnya aku bisa dibodohi semudah itu?
Damon membuang napas panjang. “Shay, dengarkan aku. Tadi itu namanya Ingruth. Dia iblis yang berubah bentuk,” aku tertawa mencemooh. “Dan kau baru saja ditipu. Kau nyaris mati.”
“Iya, nyaris mati karena lelucon bodoh ini!” seru aku.
Laki – laki di depan aku merusak surainya frustasi. “Aku berkata benar!”
“Oh, baiklah, dia iblis! Aku bertemu iblis berubah bentuk,” aku mencemooh lagi. “Dan kau apa? Vampir?”
Dia terlihat tersinggung, seperti aku baru saja menghina seluruh keturunan keluarganya. “Jangan bercanda.”
Aku melotot lebar. “Aku bercanda?” aku sadar kalau nada bicaraku sudah terlalu tinggi. “Kau yang jangan bercanda!”
“Aku bukan vampir.” Dia menggerutu. Laki – laki itu mencibir.
“Lantas?”
Mungkin dia tidak sengaja. Mungkin dia terbawa emosi. Mungkin dia hanya ingin aku percaya padanya. Mungkin laki – laki ini putus asa.
Tapi aku tidak melewatkan kata terakhirnya.
“I am a werewolf.”