17
AKU MASIH INGAT seperti apa aku dulu saat masih seorang gadis remaja. Yah, bukannya aku mau bilang sekarang aku sudah sangat tua juga, sih. Aku tahu aku belum setua itu, dan aku belum lama baru meninggalkan masa – masa remaja.
Tapi masih membekas di dalam hati ketika aku masih remaja dulu. Sudah aku bilang aku ini gadis yang tidak banyak mau, kan? Aku bukan gadis yang sering meminta banyak hal pada semesta. Aku hanya ingin selalu selamat, selalu sehat, dan jauh dari masalah. Jadi, aku hanya seorang gadis yang lebih senang menghabiskan waktu sendiri dari pada bersama dengan yang lain. Dan pada dasarnya, aku selalu mencari hal untuk menghabiskan waktu luang. Alhasil, aku menghabiskan waktu dengan membaca berbagai macam buku.
Dalam hidup aku, aku sudah menjalani begitu banyak kehidupan berkat semua buku yang aku baca. Mulai dari yang genre thriller, horor, komedi, romansa tentu saja, dan genre yang paling aku suka jika berhubungan dengan buku adalah fantasi. Aku sangat suka buku dengan genre fantasi sebab rasanya seperti sebuah dunia yang penuh magis dan indah. Seperti sebuah dunia lain yang tak bisa didapatkan oleh orang banyak.
Jadi, tentu saja konklusi dari permbicaraan ini adalah, aku dulu salah satu penggemar berat buku Twilight yang sempat menjadi sangat eminen di masyarakat banyak. Twilight itu sempat menjadi heboh, dan menjadi pop culture di dunia yang besar. Tentu saja aku sudah membaca semua bukunya, menonton semua filmnya, dan sempat terobsesi oleh Edward Cullen alias Robert Pattison yang merupakan celebrity crush pertama aku. Dulu, aku juga bukan tim Jacob yang merupakan manusia serigala.
Manusia serigala . . . lelucon macam apa ini?
Apa Damon pikir hanya karena aku baru kembali dari kegelapan aku bisa dibohongi seperti ini?
I am a werewolf.
Apa dia sudah gila?
***
HA . . . HA . . . HA . . .
Setidaknya aku harap aku tertawa. Aku harap aku mengeluarkan reaksi dari diktum itu. Sungguh, kalimat macam apa itu? Jawaban macam apa itu?
Siapa laki – laki di dunia ini yang merespon inkuiri dari seorang gadis setelah dia tidak sadarkan diri selama beberapa hari, dan memutuskan untuk menjatuhkan bom ( yang aku yakin adalah bom bunuh diri sebab Damon Hawkwolf akan mati jika dia berani mengerjai aku seeperti ini ) padanya?
Aku bukan orang yang skeptis. Bukan juga orang yang mudah tersulut emosi dan menolak penjelasan dari orang. Menurut aku, bagaimana pun keadaannya, lebih baik mendengar eksplanasi orag terlebih dahulu sebelum membiarkan api membara.
Tapi sungguh. Dalam situasi seperti ini, siapa yang tidak menganggap laki – laki seperti Damon adalah lelucon besar?
“Di mana aku?” hanya itu yang terlepas dari bingkai bibir. Setelah—yang aku harapkan—tertawa lebar dan memberikan kesan kalau aku menganggap dia manusia bodoh.
Damon Hawkwolf menganga. Setidaknya, aku dari rahang laki – laki yang tampan itu, aku tahu dia sedang termangu menatap aku. Yah, siapa yang ingin dia salahkan?
Memangnya aku akan percaya begitu saja kalau dia, apa katanya, manusia serigala?
Oh my God, lebih baik dia mengatai aku adalah gadis bodoh secara frontal di depan wajah aku dari pada harus seperti ini. Akan lebih baik bagi laki – laki yang entah kenapa bisa menjadi sumber bagi aku kembali sadar itu agar secara jelas berteriak, HA. HA. Shay, kau gadis yang terlalu polos.
And borderline stupid . . .
“Apa kau bilang?” Damon mengernyitkan dahi.
“Di mana aku?” tanya aku lagi. Aku mengulang inkuiri itu sembari untuk pertama kaliinya mengobservasi keliling. Segalanya putih. Aku sedang duduk bersandar di tempat tidur yang empuk dan masif. Si sisi aku terdapat pembatas tempat tidur yang kokoh, di satu sisi, pembatas itu diturunkan ke bawah bagi akses Damon agar bisa maju ke depan.
Di ujung ruangan terdapat teve yang cukup besar, menjadi satu – satunya benda hiburan di kamar ini. Di depan aku terdapat serangkaian buvet, dan di salah satu tempat kosong ada lemari pendingin kecil berwarna silver.
Aku mencoba menoleh ke samping, namun leher aku terasa nyeri, jadi aku berakhir menatap Damon lagi, walau aku menghindari dua netra cokelat miliknya.
I don’t know why . . . .
“Kau bertanya di mana kamu sekarang?”
“Salah?” aku menunjuk sekeliling. “Aku tidak tahu aku ada di mana. Terakhir kali yang aku ingat—“
Aku terdiam. Semua fenomena kembali terjadi. Aku tertidur di kelas. Damon datang. Aku dan Damon naik ke mobil. Damon yang lain menghubungi aku dengan panik. Aku berakhir di hutan.
Dan . . .
“Ingat apa?” tanya Damon. Ekspresi wajah laki – laki itu tidak terlihat puas, namun ada tanda – tanda seperti bagaimana bisa kau menjelaskan apa yang baru saja terjadi? Sepetri aku harus percaya dengan apa yang dia baru katakan.
“Aku—aku berakhir di—di hutan . . . er, kau ada di sana.”
“Aku ada di sana?” dia menaikkan dua alis. “Lucu. Bukan begitu yang aku ingat.”
Aku menelan ludah. Tenggorokan itu semakin terasa kering. Kepala aku pening dan sakit dan berat. Segalanya berat. Aku hanya ingin kembali tidur. Ingin melupakan ini semua saja. Mungkin ini semua masih mimpi. Mungkin aku belum tertidur.
Sebab, apa yang akan aku lakukan jika kata – kata Damon itu . . . benar?
Aku nyaris menertawakan diri sendiri. Do I even hear myself? Itu terdengar seperti plot sebuah buku romansa – fantasi yang picisan. Aku tidak mungkin berakhir seperti salah satu pemeran utama gadis yang tiba – tiba bertemu sosok supernatural seperti itu.
Damon mendesah frustasi. “Memangnya kau pikir aku sedang bercanda?”
Kenapa juga jadi dia yang tersinggung?
“Dengar, jika ini sebuah lelucon bodoh darimu—“
“Lelucon?” nada bicara Damon lebih dari tersinggung. Dia terdengar . . . sakit hati. Apa karena aku? Karena apa yang aku bilang?
Memangnya, apa yang harus aku katakan?
“Kau pikir ini semua lelucon?”
“Damon—“ aku membasahi bibir. “Kau pikir aku bisa percaya begitu saja dengan apa yang kau katakan? Ini? Kau? Manusia serigala?”
“Aku serius.”
Sudah. Dua kata itu saja. Aku. Serius. Seperti aku tidak baru saja pingsan selama . . . berapa lama aku pingsan dan tidak sadarkan diri? Aku menatapnya skeptis. Iya. Aku Saoirse, akhirnya bisa merasakan sentimen itu untuk pertama kalinya.
Tidak peduli dengan apa yang dia katakan. Aku hanya ingin—ingin pulang saja.
“Bawa aku pulang.”
Damon semakin frustasi. Dia bersandar ke kursi, dua tangannya jatuh di dua sisi tubuh, mengepal. Aku tidak peduli.
Aku tidak peduli, ‘kan?
“Shay—“
“Trik yang bagus. Jika aku tertarik untuk mendengarnya, aku akan bertanya bagaimana bisa kau melakukan hal itu. Mungkin rekaman suara? Atau menyewa orang yang suaranya mirip denganmu? Entahlah.” Aku mengibaskan tangan. “Di mana aku, di rumah sakit? Aku tidak akan mengganggu kamu lagi jika aku bisa pulang sekarang.”
“Kau sudah hilang akal?” Damon mendesis. “Ada banyak hal yang harus kita bicarakan! Aku baru saja memberi tahu kalau aku adalah—“
“A werewolf? Wow. Great. What an amazing plot twist,” aku berusaha bertepuk tangan, tapi manuver itu terlihat pelan dan menyedihkan. “Apa kau satu kawanan dengan Jacob atau semacamnya? Punya musuk Vampir?”
Damon menggeleng tidak percaya.
“Apa kau akan berubah menjadi serigala besar dan menakutkan dan—oh, berbulu? Katakan padaku. Apa kau lebih seperti manusia serigala di Twilight, atau manusia serigala seperti di Teen Wolf?”
Damon berdiri dari kursi dengan hentakan yang keras. Aku tercekat, menanti apa yang akan dia lakukan. Laki – laki itu bernapa dengan keras. Dadanya naik dan turun memburu. Aku tidak tahu jika apa yang aku lakukan sudah kelewatan, tapi setidaknya, itu tidak lebih parah dari apa yang sudah dia lakukan padaku.
Right?
Lagi pula, Damon Hawkwolf dan aku bukan teman.
Setelah beberapa waktu berlalu, aku pikir dia akan mengatakan sesuatu. Dari wajahnya yang mulai memerah, dua tangan mengepal keras, dan napas tidak karuan, aku pikir dia akan berteriak, membentak, atau semacamnya.
Tapi setelah menarik dan membuang napas berturut – turut, dia menutup mata. Tangannya membasuh wajah, dan mendongak ke atas.
“Damon?” panggilku ragu.
Laki – laki itu menelan ludah sama seperti aku. Lalu dia menggeleng. “Lupakan saja. Kau benar.” Dia terlihat seperti akan berkata sesuatu, tapi dia menahan dirinya sendiri. Damon menarik napas panjang dan membuatnya berat.
Aku mengatupkan rahang.
“Akan aku antar kau pulang.”
***
Ternyata benar, aku ada di rumah sakit. Tapi yang salah adalah, rumah sakit itu secara harafiah adalah salah satu di antara ruangan banyak di rumah besar keluarga Hawkwolf. Aku terpaku, aku termangu, dan tentu saja aku terpana.
Begitu Damon membawa aku keluar—laki – laki itu memaksa agar dia menggendong aku ala putri raja, dan aku tidak bisa membantah sebab aku masih terlalu lemah—aku langsung mengenali tangga panjang yang memutar.
Damon tidak membuang waktu banyak. Hanya dalam beberapa menit saja, aku sudah berada di atas tempat tidur kamar tamu aku.
Dia tidak berkata apa – apa. Hanya mengecek jika aku sudah nyaman, dan pergi.
Begitu saja.
Aku bahkan belum bisa membuatnya merasa bersalah sebab pemainannya sudah kelewatan, tapi memangnya aku bisa membuatnya tinggal?
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
Realita menampar aku di pipi. Siapa yang ingin aku bohongi? Aku—aku bingung.
Memori masih terdistorsi. Aku tidak bisa berpikir jernih. Aku ingat sosok wanita tua yang mengerikan. Aku ingat . . . berlari keluar dari mobil dan panik. Aku ingat . . . serigala hitamku. Knight. Aku ingat dia melawan sosok itu, menyeret dia pergi ke dalam hutan.
Dia bukan Damon.
Tidak lama jari – jari aku bergetar. Aku merasakan teror yang sama ketika aku berada di mobil saat itu. Aku mulai tidal bisa berpikir—
“Shay?” Cordelia masuk dari pintu kamar. Dia tersenyum tipis dan duduk di ujung tempat tidur. “Kau merasa lebih baik?”
“Mungkin.”
“Kenapa?” tanya gadis manis itu. “Apa yang membuatmu terihat seperti itu?”
Aku tidak akan bertanya seperti aku terlihat sekarang ini. “Katakan padaku semua ini lelucon, Cordelia. Damon . . . dia bilang dia—“
“A werewolf?”
“You know?”
“So is Hunter.”
Aku menutup mulut. Untuk pertama kalinya, aku tidak punya jawaban sama sekali. Tidak ada vokabulari di dalam bibir. Lidah menjadi lindap. Diktum terhalang rasa kaget. Bahkan Cordelia juga? Tapi jika gadis manis yang aku pikir tidak akan perah bisa yang namanya menyakiti orang ini berkata hal yang sama, lalu apa yang harus aku percayai sekarang?
“Apa yang kamu bilang—I don’t understand. You all are being confusing. This is non – sense. Stop playing with my mind.”
“Aku tidak sedang mencoba membohongi kamu, Shay.”
“How am I supposed to believe that?”
“Kalau begitu ikut aku,” kata Cordelia sembari berdiri dan mengulurkan tangan. Insting mengatakan agar aku menolak ajakan itu. Lagi pula, aku nyaris tidak bisa bergerak saat ini. Aku tidak bisa meladeni apa pun ini yang sedang mereka lakukan. Tapi aku butuh kepastian. Aku butuh bukti.
"Untuk apa?" tanya aku pelan. Aku tak tahu harus berpikir apa saat ini.
"Kau ingin percaya? Maka ikut aku dan aku akan memberikan bukti padamu. Aku akan membuat kau percaya semua ini, dan membuat kau melihat secara langsung kalau ini bukan kebohongan. Kita tidak pernah bohong dan mengatakan hal yang tidak benar, Shay."
Jadi aku terima uluran tangan Cordelia.
***
Aku biarkan dia menuntun aku ke halaman belakang rumah, sembari membawa beban tubuh aku selama perjalanan. Aku biarkan dia membuka pintu geser yang terarah ke belakang. Kami berdua berjalan menyelusuri jalan setapak kecil, yang menuju lahan besar dan berumput rindah. Pohon – pohon rindah berdiri dengan kokoh. Daun – daun nya bergeser tertimpa dersik angin.
Aku hendak bertanya ketika jawaban itu terpampang nyata di depan mataku. Begitu banyak serigala besar dan masif, mengerikan. Out of this world. Aku menganga, membiarkan realita menyusul dengan cara kerja otak. Serigala besar berbagai warna, mulai dari cokelat, putih, abu – abu, dan hitam.
Hitam. Serigala hitamku.
Dan seperti bisa mengetahui keberadaan aku, serigala itu menoleh. Knight menoleh. Dia berdiri tegak, magnifisen, gagah, dan—oh, really amazing. Selama beberapa saat kami berdua hanya saling tatap. Tapi kemudian, dia menggelengkan kepala. Dua tangan bersiap. Aku melihat serigala hitam itu bermanuver, dan tiba – tiba saja dia bergetar.
“Cordelia . . . apa yang sedang terjadi?” tanyaku. Atau bisik aku. Entahlah. Semoga saja inkuiri itu tidak hanya ada di dalam kepala aku saja.
Cordelia mengumbang pelan, berusaha untuk mendukung beban tubuh aku di sisi tubuhnya. Sementar serigala yang lain mulai berhenti berkativitas, menjadi begitu sadar akan kehadiran dua orang gadis manusia yang tidak pada tempatnya.
Secara insting aku menarik Cordelia ke belakang.
Tapi gadis itu menahan aku. Senyum tipis di wajahnya. Senyum? Bisa – bisanya dia tersenyum di saat seperti ini? “Stay. And see for yourself.”
Aku menahan napas dan menunggu. Dia . . . berubah. Tulang bergesek, erangan keras melolong, wajah yang menunduk ke bawah dan perlahan, hilang, hilang, hilang. Aku menarik napas panjang saat seirgala hitam itu hilang dari visual, dibalik ilalang tinggi dan rumput yang tebal.
Lalu aku melihat laki – laki yang baru saja membawa aku ke kamar tidur. Laki – laki yang suaranya membuat aku kembali sadar. Laki – laki yang memberikan diktum terbesar di hidup aku. Dia berdiri, tegak dan gagah. Berjalan ke arahku.
Damon Hawkwolf.
Is a werewolf.