PART 18

1521 Words
18 SELAMA HIDUP AKU¸ aku yakin aku tidak pernah butuh diperiksa bagian mental atau semacamnya. Aku yakin aku orang yang cukup waras, orang yang cukup normal, dan orang yang tidak sakit atau apa pun itu. Aku yakin aku gadis yang punya benak yang normal, walau aku tidak yakin seratus persen sel serebrum di kepala ku masih berfungsi dengan baik. Tapi aku yakin aku ini bukan semacam gadis yang tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Aku selalu yakin akan semua pilihan yang aku buat, termasuk menjadi murid pertukaran pelajar ini. Walau sesungguhnya, aku mulai menyesal saat ini. Jadi, saat aku melihat pemandangan di hadapan aku, aku merasa mungkin aku tidak senormal yang aku pikirkan. Mungkin semua ini sudah membuat aku hilang akal, dan aku tidak lagi punya akal sehat yang baik. Aku tidak tahu kenapa aku hanya bisa mematung di depan itu semua, namun aku bisa merasakan mata aku membulat besar. Jantung aku mengalami fluktuasi yang besar, dan berdegup begitu kuat hingga aku merasa seperti buah hati itu akan keluar dari rongga penahannya. Aku menelan ludah berkali – kali, melihat perubahan yang tak pernah bisa aku bayangkan di hidup aku sebelumnya. Aku terpana melihat sosok yang aku kenal, familiar, dan mengisi hari – hari aku di New Cresthill, selalu bersama aku walau tak pernah aku minta, dan menolong aku dalam setiap kesulitan. Damon Hawkwolf muncul di hadapan aku seperti seorang laki – laki yang datang dari dunia lain, tak seharusnya ada di bumi dan bersama kami para manusia biasa. Pria itu berdiri seperti sebuah kekuatan yang kuat, tak bisa diganggu dan dijatuhkan. Dia Damon Hawkwolf. *** Gila, gila, gila. Aku tidak pernah tahu arti murni dari kata itu. Salah satu vokabulari tersebut punya banyak sekali makna. Gila yang baik, atau gila yang buruk? Gila dalam arti hilang akal, atau gila sebab itu bukan sesuatu yang mengikuti normal di dunia? Gila itu banyak sekali konotasi – nya. Aku bahkan tidak pernah melihat secara langsung orang sakit jiwa. Aku tidak tahu bagaimana rasanya berinteraksi dengan mereka. Sampai sekarang, orang gila itu hanya aku lihat dari teve seri, dari film, atau dari buku – buku yang aku baca saja. Di realita? Tidak pernah. Aku bahkan tidak pernah melihat rumah sakit jiwa seperti apa. Tapi sekarang rasanya aku mau mendaftarkan diri aku sendiri ke dalam salah satu rumah sakit jiwa paling bagus di dunia. Karena sungguh, orang normal dan berpikiran sehat mana yang tidak pingsan, tidak kaget, tidak . . . tidak merasa gila melihat seekor serigala besar dan masif, berubah menjadi manusia, menjadi laki – laki yang kau kenal di depan dua mata kamu sendiri? Aku bisa gila. Sepertinya New Cresthill bukan kota biasa. Aku tidak mengerti kenapa aku bisa berpindah ke sini. Kenapa aku mau – maunya melakukan program pertukaran pelajar, dan ke kota yang tidak aku kenal pula. Aku mungkin sudah gila dari dulu. Iya benar. Hanya itu satu – satunya alasan kenapa aku bisa melihat hal – hal tidak normal seperti ini. Ayolah . . . manusia serigala? Akan lebih baik jika Damon berubah menjadi vampir saja. Setidaknya, aku dulu adalah Team Edward, bukan tim manusia serigala. Hanya satu yang ada di pikiran aku . . . ini semua hanya mimpi. Jadi ketika aku merasakan visual terdistorsi, lagi, aku membiarkan itu terjadi. Aku lelah, tubuh aku sakit, dan kepala aku begitu berat hingga aku pikir otak aku akan pecah menjadi dua. Sungguh, tidak akan aneh jika aku berubah menjadi fragmen – fragmen menjijikan saat ini juga. Di tengah halaman belakang rumah besar keluarga Hawkwolf. Sebelum aku menerima kegelapan—lagi, oh my God, aku rasa kehilangan kesadaran bisa menjadi hobi terbaru aku—sosok Damon yang gagah dan besar berlari ke arah aku. Wajahnya panik. Ekspresi nya tidak lagi datar. Aku melihat dia menderap ke aku, dan aku pingsan. Pingsan sembari merasakan hangat dekapan dari seseorang. Aku bisa merasakan rasa hangat dan nyaman, hingga aku tak takut saat kegelapan kembali mengambil alih benak dan raga aku seperti kemarin. *** “Ini mungkin berat untuknya,” kata suara seorang gadis yang aku kenal. Cordelia Smith. Gadis yang rumahnya sedang aku tempati. Gadis yang kamar tidurnya dirubah dan aku gunakan, sebab dia sudah pindah ke rumah kekasihnya. Cordelia yang membawa aku ke halaman belakang. Cordelia yang membiarkan aku melihat . . . serigala hitam berubah menjadi Damon Hawkwolf? “Ini akan berat bagi semua orang,” kata suara yang tidak begitu aku yakin. Bukan Damon, bukan Cordelia. Apa Hunter? Kekasih gadis itu? “Ini adalah sesuatu yang berat. Titik.” Cordelia mendengkus. “Tidak begitu berat,” gumam Hunter pelan. Tapi nyatanya, gadis itu mendengarnya. “Kau ingat saat aku pertama kali tahu kalian itu apa? Aku nyaris mati.” “Mati?” Damon. Itu suara Damon. Kenapa dia terdengar lirih? “Shay tidak akan mati,” gerutu Cordelia. “Beri dia waktu untuk memproses semua ini.” Tidak ada yang menjawab. Hening membuat aku semakin tidak nyaman. Secara perlahan aku berusaha membuka mata walau pun kepala aku rasanya seperti di timpa oleh ribuan batu bata yang berat. Tapi aku mengurungkan niat saat mendengar vokal Damon lagi. “Apa dia akan baik – baik saja?” tanya pria itu. “Saoirse gadis yang kuat,” jawab Cordelia. “Mama bilang kalau dia baru pertama kali melihat gadis yang penuh determinasi dan semangat. Dia juga bilang kalau Saoirse adalah gadis yang pemberani. Dia akan baik – baik saja.” “Apa itu pertanyaan yang ingin kau tahu?” Hunter menyahut. Sepertinya mereka berdua sedang beradu argumen dalam pikiran masing – masing sebelum akhirnya Damon berkata, “Tidak. Aku ingin tahu apa dia . . . bisa menerima aku.” “Bagaimana jika kita bicarakan itu nanti? Mungkin saat Shay sudah sadar?” “Bagaimana jika sekarang?” Semua mata tertuju padaku. Aku sempat merasa tidak percaya diri. Tapi aku kesampingkan perasaan itu dengan bangun dari tempat tidur kamar yang disediakan untuk aku. Semua ekspresi mereka berbeda. Hunter yang canggung, Cordelia yang panik, dan Damon yang . . . takut? Aku menuggu lama. Saat aku sadar tidak ada yang akan membuka mulut kecuali jika aku memulainya, dengan susah payah aku melomtarkan inkuiri itu. “Manusia serigala?” Suara aku mungkin saja tidak terdengar saking tipis dan seraknya, tapi berdasarkan reaksi mereka yang langsung tegap dan mengantisipasi, aku tahu kalau mereka mendengar inkuiri itu. “Kalian benar – benar serigala?” tanya aku lagi, menatap mereka semua. Pertama Hunter yang menatap aku dengan gaya tidak tahu harus bagiamana, Cordelia yang menatap aku simpatik—seperti dia paham betul perasaan aku saat ini, dan Damon yang menolak menatap aku sama sekali. Cordelia menyikutnya. Dia masih tidak bergeming. Aku membuang napas panjang. “Apa tidak ada yang akan menjawab pertanyaan aku?” “Aku sudah mengatakannya,” kata Damon. “Aku manusia serigala.” “Dan yang kemarin,” aku menunjuk udara. “Benar – benar iblis?” Semua tiga kepala mengangguk. “Kalian ingin aku percaya itu?” “Bukti tadi masih kurang?” Damon membalas, wajahnya tak percaya. Jika ini kartun, dia mungkin akan berubah merah. Atau asap keluar dari dua lubang telinga laki – laki itu. “Apa yang aku lihat tadi?” nada bicaraku mulai naik. “Bisakah kalian lebih masuk akal? Aku mulai merasa gila.” “Kau tidak akan merasa gila jika kamu percaya!” Aku membuang muka darinya, ketika dia sudah menatap aku lekat. Hunter dan Cordelia sama – sama membeku. Secara perlahan Hunter menarik gadis itu pergi. Sebelum mereka keluar, Cordelia menahan diri di pintu. “Shay, aku tahu rasanya menjadi dirimu. Dulu . . . aku juga bukan bagian dari semua ini. Tapi percayalah, kita, Damon, tidak akan pernah menyakiti kamu. Ini semua nyata, Saoirse. Jika kau mau membuka mata, kau akan sadar.” Cordelia menutup pintu pelan. “Dia benar.” Damon menelan ludah. “Aku . . . tidak bisa menawarkan apa – apa lagi. Kau sudah melihat sendiri tadi.” “Manusia serigala,” napasku terlepas berat. “Dan apa, kalian punya sekawanan?” Damon mengangguk. “The Infernal Warriors.” Aku menahan diri agar tidak tertawa. Mungking itu akan terdengar seperti aku meremahkan Damon. Tapi sungguh, aku tahu aku memang sudah melihat bukti dengan dua mata kepala sendiri. Aku tahu kalau yang aku lihat kemarin bukan Damon yang sedang mengerjai aku, atau makhluk normal. Sungguh, aku sudah tahu segalanya. Tapi sulit sekali bagi aku untuk menerimanya. “Jadi kau . . . Knight?” Damon mengangguk lagi. Matanya mulai dipenuhi harap. Aku harus berusaha sekuat tenaga agar hati aku tidak berdegup eksesif. “Itu aku. Serigala hitam.” “Ini gila.” “Ini nyata.” “Dan kau ada di mimpiku?” tanyaku. “Begitu?” “Iya.” “Bagaimana bisa?” aku membuang tanganku ke udara. “Itu tidak mungkin!” “Itu sudah terjadi,” Damon berdecak. “Itu bisa terjadi.” “Kenapa? Kenapa aku dan kamu bisa berinteraksi di mimpi?” Damon meregangkan bahunya. Dia menyiapkan diri, seperti akan melawan sesuatu. Atau mungkin dia akan membuat topik argumen yang baru. “Karena kita pasangan jiwa.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD