PART 11

2328 Words
11 WELCOME HOME, LITTLE SHAY. Aku mengerjapkan mata beberapa saat sebelum akhirnya bisa menafsirkan premis. Apa dia baru saja memanggil aku dengan nama panggilan . . . oh, no. He did not! Aku tak tahu apa yang membuat dua tungkai kaki aku bergerak. Aku tidak tahu apa yang membuat aku merasa seperti seorang gadis pemberani yang tak peranh malu di depan orang banyak sebelumnya. Tapi untuk pertama kali dalam hidup aku, aku bergerak sendiri. Entah kenapa saat Damon menyebut aku dengan nama kecil aku, rasanya seperti ada yang meledak di abdomen, tapi sungguh, sejujurnya itu rasa yang tak buruk. Tapi aku tak mau membiarkan Damon berpikir kalau dia bisa melakukan itu. Shay adalah nama kecil aku, dan aku hanya akan membiarkan orang – orang terdekat dan yang aku sayangi saja yang boleh memanggil aku dengan sebutan itu. Aku juga merasa sangat tersinggung saat dia menyebut aku dengan titel di sebelah nama panggilan aku. Little. Baiklah, aku mengerti, aku memang kecil, mungil, dan tidak seperti wanita dewasa pada umumnya. Aku lebih masuk dalam kategori anak kecil dari pada wanita dewasa, dan memangnya aku tidak tahu itu? Memangnya dia harus memutuskan untuk membuat aku selalu sadar kalau aku ini kecil dan pendek? Aku mendengus saat mengejar laki – laki itu keluar. Damon masih berjalan santai tak jauh dari kamar tidur yang sekarang aku tempati. Pria itu berjaland dengan dua tangan di dalam saku celana, bersikap seolah dia tidak sedang membuat aku kesal dan marah. Aku berhenti tepat di depannya, menghalangi jalan pria itu hingga dia tidak bisa pergi. Lalu, aku hanya memastikan dia mendengar ini sebelum aku lari dan kembali mengunci diri di dalam kamar tidur. “Jangan pernah panggil aku Shay karena itu hanya untuk orang – orang yang aku sayang.” *** MALAM DI HARI PERTAMA aku menginap di kediaman Hawkwolf bisa di bilang terlalu unik. Bagaiamana tidak? Aku secara praktis tidak bisa tidur. Mataku tidak mau tertutup, tubuh aku tidak mau istirahat. Seperti ada sesuatu yang menjanggal dan aku tidak mengerti. Rasanya ada yang menatap aku tapi tak tahu apa. Atmosfer di udara menjadi dingin tapi tubuhku panas. Tengkuk aku bergidik ngeri, surai epidermis-nya secara insting bergerak naik sebab merasa seperti ada yang memerhatikan. Selama satu malam aku hanya menatap langit – langit kamar di atas tempat tidur, terjaga tanpa bisa menutup mata sama sekali. Aku tidak bisa tenang. Walau pun atmosfer itu tidak membuat aku merasa takut atau dalam bahaya, tapi tetap saja, aku tidak bisa membiarkan rasa alien dan asing yang membuat benak dan sanubari penuh alarm. Ketika mentari mulai bersinar, suara burung berkicau, dan dari suara – suara di lantai bawah menunjukkan kalau hari sudah mulai pagi, aku akhirnya mengerang kesal dan menyibak selimut. Aku meringis ketika dua tungkai kaki aku menyentuh lantai. Rasa dingin segere menyerang kulit. Aku tidak menyeret tubuh aku ke dalam kamar mandi, bersiap – siap untuk sekolah secepat mungkin. Entah bagaimana caranya aku akan ke kampus. Rumah ini terletak di ujung kota New Cresthill, jauh dari peradaban, jauh dari kendaraan umum. Heck . . . bahkan untuk keluar dari gerbang rumah mereka saja membutuhkan waktu yang lama karena berjalan beberpaa mil ke depan sana. Aku memutar dua bola mata dan harus menanyakan perihal ini pada Cordelia. Dia ‘sih enak punya kendaraan pribadi, dan jika tidak juga punya kekasih tampan dan baik hati sejenis Hunter Hawkwolf yang bisa mengantar dia ke mana saja, sudah jelas tidak akan peduli menjadi supir privat miliknya. Tapi aku? Aku tidak punya siapa – siapa. Tidak mungkin juga aku minta Michael atau Leo menjemput aku ke sini. Sungguh, aku rasa rumah ini memang dibangun secara sengaja agar menjauh dari populasi manusia. Begitu aku turun ke bawah membawa tas ransel dan memegang ponsel di satu tangan, Cordelia terkesiap di kursi meja makan. Aku memberikan dia senyum tipis yang terpaksa. Refleksi aku tadi di depan kaca kamar mandi sanggup membuat aku cukup terkejut juga. Cordelia menepuk kursi kosong di sebelahnya dengan prihatin. Dia memberikan aku piring yang sudah berisikan sarapan ala Inggris. Aku berterima kasih padanya. Gadis itu menatap aku dan melumat bibirnya ke dalam. “Malam yang sulit?” tanya dia tanpa ada nada bicara yang salah. Aku terkekeh pelan, tak ingin dia mengira kalau aku marah atau semacamnya. “Aku hanya tidak biasa tidur di tempat yang baru. Itu saja.” “Aha, aku paham,” Cordelia mengangguk. “Aku juga terkadang seperti itu. Apa lagi jika di kamar hotel.” “Kalau di kamar hotel, aku bisa pastikan kau tidak akan pernah yang namanya tidur, Babe,” Hunter menyahut dari sisi lainnya, mengedipkan mata pada Cordelia. Gadis di sebelah aku itu memekik halus dan memukul bahu kekasihnya, sementara aku tertawa. “Tapi Shay, kau tidak masalah ‘kan tinggal di sini untuk sementara?” tanya dia lagi. “Iya. Lagi pula, apa lagi yang bisa aku lakukan? Aku tidak punya tempat lain untuk tinggal,” kataku sembari meneguk jus jeruk pelan. “Aku yang seharusnya bertanya seperti itu. Kalian tidak masalah dengan aku tinggal di sini?” tanyaku balik, lebih untuk Hunter yang duduk di samping Cordelia dari pada untuk gadis itu sendiri. Laki – laki yang sadar kalau inkuri itu adalah tanggung jawab dia, menoleh padaku. Dia memberikan aku satu senyum yang cukup ramah. “Tidak masalah. It’s good to have you here.” Oh. Baiklah . . . mungkin mereka tidak seburuk yang aku pikirkan. “Aku tidak sabar hingga kau bertemu dengan yang lain,” Cordelia bertepuk tangan senang, matanya bersinar seperti anak kecil yang mendapat hadiah saat ulang tahun. Hunter menggeleng tapi tersenyum dan mengusap pucuk kepala gadis itu. Aku sudah tahu yang dimaksud dari yang lain. Bukan rahasia lagi kalau ada tujuh saudara laki – laki yang tinggal di rumah mansion besar di ujung New Cresthill. Hutan lebat itu menyembunykan kaum Adam yang tampan dan berani, tinggi dan masif dari sekitar penduduk. Dan aku juga diam – diam tak sabar ingin bertemu dengan mereka. “Mereka tidak ada sekarang?” tanyaku sok santai, sembari mengunyah telur orak – arik yang enak. “Tidak pagi ini.” Aku mengangguk pada Cordelia. “Kenapa?” suara familir itu membuat aku nyaris tersedak karena terkejut. “Tidak sabar mau melihat laki – laki?” Aku mendengkus, dan begitu tatapan aku menyatu dengan Damon Hawkwolf, aku semakin membuang napas dengan memburu. “Yah, aku harap hanya karena mereka saudara laki – laki kamu, tapi mereka tidak seperti kamu sama sekali.” “Dan seperti apa aku?” “Dingin, tidak punya malu, tidak tahu diri . . .” Hunter menahan tawa, sementara Cordelia menggigit bibir sembari menatap kami bolak – balik. Damon yang berdiri menarik kursi di seberang aku dengan keras dan duduk sembari mennyeringai aku. “Hmh, pagi – pagi sudah cari masalah?” “Hmh, pagi – pagi sudah kurang kerjaan?” balasku tidak mau kalah. Damon terkekeh dan mengabaikan aku. Dia sibuk dengan sarapannya sendiri dan menuangkan jus jeruk ke dalam gelas. “Er . . . by the way, Cordelia?” panggil aku saat konversasi sudah terhenti. Gadis di sampingku menoleh. “Iya, Shay, ada apa?” “Bagaimana caranya aku pergi ke kampus dari sini?” tanyaku pelan. Aku harap aku tidak harus berjalan kaki atau semacamnya. Sesuai dengan perhitungan aku saja, dengan menggunakan mobil membutuhkan waktu sekitar tiga puluh hingga empat puluh limat menit. Berapa lama jika aku jalan kaki dari rumah ini ke kampus dan kembali lagi? “Oh,” Cordelia menepuk jidat. “Benar juga.” Bagus, satu – satunya hal paling penting saat aku menginap di sini dan mereka melupakan fakta itu. Hunter mengumbang pelan, jelas – jelas berpikir jalan keluar sementara Cordelia berdecak. “Shay, tidak masalah, kau bisa menumpang aku, kita bisa mengatur jadwal. Hunter juga akan mencoba agar bisa menyesuaikan—“ “Akan aku urus.” Damn Hawkwolf memotong kata – kata Cordelia bak pisau tajam yang memotong daging mentah. Aku mengerjapkan mata, Cordelia terdiam, sementara Hunter menahan tawa, matanya penuh arti yang tidak bisa aku jelaskan. “Apa?” tanyaku tak percaya. “Akan aku urus,” ulangnya santai. Garpunya memotong sosis dan membawanya ke mulut. Setelah selesai mengunyah, dia menatap aku dan mengedikkan bahu. “Kelas kita rata – rata sama. Kau bisa menunggu aku sebelum pulang, atau aku menunggu kamu. Dan siapa pun yang punya kelas lebih pagi, akan pergi ke kampus saat itu juga.” “Er . . .” Aku menelengkan kepala, sulit menelan informasi ini. “Kau serius?” “Apa aku terlihat bercanda?” “Kau tidak pernah terlihat seperti apa pun,” balasku cepat. Hunter tertawa keras. Cordelia terkekeh. Damon di depanku mencibir tidak suka. “Dengar, aku tahu kau bermaksud baik—“ “Apa kau punya pilihan lain?” potongnya lagi. Damon melipat dua tangan di depan d**a, menantang aku untuk membalas ucapannya, melawan apa yang dia katakan. Tapi memang beanr ‘kan? Aku tidak punya pilihan Sesuatu yang sepertinya sedang terjadi padaku secara berturut-turut. “Itu ide yang cukup baik, Shay.” Dan tentu saja Cordelia harus menambahkan, membuat Damon tersenyum puas. Aku setengah merasa tertegun melihat senyum lebar itu di bibirnya, setengah lagi masih merasa kesal sebab dia menang. Tapi memang benar, aku tidak punya opsi lain. Jadi aku hanya mengangkat satu alis, dan mengedikkan bahu, tanda kalau aku tidak akan adu argumen dengan dia. Laki – laki di seberang aku itu mengangguk puas. Sial. Aku akan membalasnya. “Shay, jika kau mau, aku bisa mengantar kamu juga jika ada waktu,” tawar Cordelia. Damon mendelik ke arahnya, tapi aku tidak mengabaikan itu. Aku mengangguk pada gadis cantik di sampingku. “Tentu saja. Semoga kau selalu ada waktu,” kataku sembari melirik ke arah Damon. Laki – laki itu tidak bereaksi. “Kau yakin kau baik – baik saja?” tanya Cordelia sekali lagi saat kami sudah selesai sarapan. Apa penampilan aku seburuk itu? Aku menelan rasa kantuk dan menolak agar menguap lebar di depan mereka semua. Gantinya, aku tersenyum tipis. “Iya. Sedikit pusing, tapi aku mungkin akan tidur di kelas Histori atau semacamnya.” Cordelia tertawa. “Hmh, baiklah. Semoga apa pun itu yang membuatmu tidak bisa tidur cepat hilang,” katanya dengan penekanan pada diktum tersebut. Aku mengerutkan kening padanya, tapi Cordelia dengan cepat memeluk aku dari samping dan pergi bersama Hunter yang terkekeh lagi. Aku membiarkan dua pasangan tak masuk akal itu pergi, walau sejujurnya aku masih ingin meminta penjelasan pada mereka berdua. Damon ikut berdiri, kunci mobil siap dan mengedipkan satu mata padaku. “Want a ride with me?” *** Damon Hawkwolf itu orang gila. There. I said it . . . Jika dia bukan orang gila, setidaknya dia adalah pengemudi yang buruk sebab dari caranya mengebut bukan main walau pun di jalanan kosong yang dihimpit hutan besar sudah membuatnya menjadi pengemudi paling tidak tahu aturan dalam sejarah semua pengemudi tidak tahu aturan. Aku membuang napas panjang saat dia akhirnya memelankan laju mesin mobil di parkiran kampus dan memtikannya. Begitu mobil mati, aku melepas sabuk pengaman dan memukul bahunya keras. Aku harap keras sebab rasanya malah jari – jari aku yang kesakitan. “Kau sudah gila?” “Kenapa? Takut?” “Er, tentu saja?” aku merentangkan dua tangan ke udara. “Aku takut kehilangan nyawaku!” Damon menggeleng dan tertawa. “Kau tidak akan pernah kehilangan nyawamu bersama aku, Shay.” “Jangan panggil aku Shay,” aku mencibir tidak suka. “Hanya teman – teman terpilih yang boleh memanggil aku Shay,” kataku. Panggil aku kekanak – kanakan, tapi dari ekspresi tersinggung di wajah Damon, aku tidak menyesal sama sekali. “Oh, jadi begitu?” “Hmh,” aku meraih ransel di bawah kaki dan membuka pintu keluar. Sebelum aku menutup pintu mobil, aku mendesis ke arahnya, “Dan lain kali, mengemudi sepetri orang waras!” Tawa lepas dari Damon termakan pintu mobil yang sudah tertutup. Aku mendengkus dan berjalan cepat ke arah kelas pertamaku, membiarkan rasa marah dan kesal menjauhkan rasa kantuk dan membuat aku segar bugar. Profesor kelas pertamaku sudah ada di dalam kelas. Aku segera berlari ke kursi yang paling jauh, berharap jika aku ketiduran dia tidak akan melihatku. Rasa kantuk itu tentu saja datang kembali tanpa disuruh, apa lagi ketika kita ditugaskan untuk membaca rangkuman yang profesor itu berikan. Tak lama aku tertidur, dan sentuhan di bahu membuat aku tersadar. Saat mataku terbuka, kelas sudah kosong. Tidak ada profesor, tidak murid – murid lain. Aku mengerutkan kening, merasa kalau aku belum terlelap selama itu. Tapi saat ponselku berbunyi tanda notifikasi, aku membukanya dan mendapat pengunguman kalau semua kelas hari ini dibatalkan sebab ada kabut tebal yang melanda kota. Aku mengepalkan tangan dan memekik yes pelan, sebelum tersadar kalau aku dibangunkan oleh seseorang. Damon berdiri di samping kursi aku, dua tangan di sisi tubuh, wajahnya datar dan pucat. Dia menatap aku dalam diam dan hanya seperti itu, sebelum akhirnya pergi keluar tanpa bicara apa – apa. Aku mengerang kesal, buru – buru mengejarnya ke parkiran kampus. Langkah aku jauh berbeda dari dia yang kakinya panjang. Ketika aku sampai, Damon sudah berada di dalam mobil, dua tangan siap di kemudi. Aku masuk, dan membiarkan Damon segera menjalankan mobil itu keluar area kampus. Ketika aku melirik ke sekeliling, memang kabut yang cukup tebal sudah mulai terlihat, membuat aku sedikit khawatir apakah Damon bisa mengemudi di situasi seperti ini atau tidak, mengingat dia tadi pagi. Tapi laki – laki itu terlihat tidak terganggu dengan kabut sama sekali. Malah, dia hanya fokus ke depan seperti aku ini tidak ada. Tak lama, ponsel aku bergetar dari dalam celana. Aku mengeluarkannya, dan mematung saat nama di layar kaca terlihat. Ragaku seperti akan keluar dari tubuhnya. Perlahan tanpa mematahkan fokus dari depan, aku mengangkat telepon dengan napas tercekat. “Shay? Saoirse? Di mana kau? Aku ada di depan kelasmu.” Damon Hawkwolf menggerutu dari seberang telepon. Aku bergetar. Mataku melirik pelan, pelan, pelan ke samping. Makhluk di sebelahku ikut menoleh, pelan, pelan, pelan. Lalu tersenyum lebar. Dan aku berteriak keras.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD