PART 10

1463 Words
10   TINGGAL di rumah yang tidak familiar tentu bukan impian banyak orang. Tapi memang ‘sih, secara teknis rumah Nyonya Smith juga merupakan rumah yang tidak familiar. Bukannya aku tidak tahu terima kasih atau apa, hanya saja rasanya seperti aku sedang dipaksa untuk pindah ke rumah lain secara paksa. Aku tidak punya pilihan lain selain menurut dan ikut dengan anjuran Nyonya Smith, karena memangnya aku punya siapa lagi? Tentu saja aku bisa melaporkan ini ke pihak kampus, atau konsultasi dengan pihak pertukaran pelajar, namun aku tidak ingin nama baik Nyonya Smith jadi tercoreng atau semacamnya. Bagaimana jika mereka mengira kalau dia bukan host yang kompeten atau semacamnya? Bagaimana jika aku malah dipindahkan ke tempat lain secara permanen? Jadi aku biarkan dua minggu ini menjadi gangguan kecil yang akan aku jalani secepat mungkin dan move on. Lagi pula, aku akan sibuk di kampus. Aku juga bisa mencari – cari alasan agar bisa pulang malam dan tidak perlu berada di rumah itu dengan waktu yang lama. Aku hanya akan tidur, pergi, dan pulang, dan mengulangnya lagi, lagi, dan lagi setiap hari. Tapi itu semua tidak bisa dengan mudah dilakukan ketika aku melihat secara jelas mansion yang aku tatap dari jauh saat berada di jalan tol menuju New Cresthill. Rumah besar yang terletak di tengah hutan dan di kelilingi oleh pagar besar dan tinggi menjulang itu terlihat luar biasa. Napasku terhempas habis, aku tidak bisa berkata-kata, hanya kapabel menganga seperti orang bodoh dan mungkin norak. Aku tidak akan menyalahkan mereka jika mereka akan menertawakan aku atau semacamnya. Begitu aku sudah turun dari mobil, aku terpana ke atas memandang rumah yang tinggi, luksurius, serta cantik. Gaya rumahnya seperti gaya Victorian ala Eropa jaman dulu. Banyak patung – patung klasik di mana – mana, bahkan di belakang aku, terdapat bunderan yang diisi oleh air mancur deras. Di tengahnya terdapat patung cupid kecil yang sedang memanah. Aku menarik napas panjang saat Cordelia membuka pintu dan membuat aku melihat interiror di dalam rumah. Segalanya berwarna emas, tonase gelap, seperti hitam dan abu, dan putih. Intinya, aku seperti baru saja masuk ke istana kerajaan. Sepetri aku berada di kastil indah yang tidak orang banyak ketahui. Apa karena ini mereka berada jauh dari peradaban lain? Populasi terdekat sekitar satu sampai dua kilo meter dari sini, yang jalannya hanya disampingi oleh pohon besar dan hutan gelap. Mereka menyembunyikan kecantikan ini dari semua orang? “Kaget?” suara Damon Hawkwolf menyadarkan aku dari keadaan terpana. Aku menoleh ke arahnya, mengerjapkan mata pada laki – laki yang menatap aku balik dengan ekspresi datar. Koper aku yang cukup besar, satu tas biola, dan tas ransel yang berat berisikan buku – buku tebal untuk sekolah semuanya dia angkat. Tanpa beban. Hmh . . . boleh juga. Aku meliriknya dari ujung mataku, berusaha menerka apa yang ada di dalam kepala laki – laki itu, apa menurutnya tentang aku yang harus tinggal di sini, apa opini dia tentang gadis asing yang belakangan ini selalu muncul di hidupnya tanpa sengaja itu, tapi tentu saja aku tidak bisa melihat apa – apa. Damon Hawkwolf itu ahli dalam mimik wajah. Seorang profesional. Baru beberapa minggu mengenalnya saja, aku tahu dia tidak banyak tersenyum. Tidak banyak bercanda. Tidak banyak melakukan apa – apa selain diam dan merenyuk. Persis sekali seperti lemari pending tiga puluh pintu. Dingin dan diam. “Er . . . bukannya aku ingin tahu atau apa, bukan juga karena aku ingin memanfaatkannya, tapi apa kalian milyoner atau semacamnya?” tanyaku sebelum aku bisa mundur dari melontarkan inkuiri itu. Sesunguhnya, semenjak aku tahu histori famili Hawkwolf, melihat rumah mereka yang besar, dan mendengar cerita – cerita tentang mereka, aku sempat berpikir mungkin mereka pemilik kota ini. Atau keluarga kaya raya yang tidak berani orang lawan. Terlebih karena orang – orang sepertinya takut pada mereka. Inkuiri itu mengundang tawa dari Cordelia, dan samar aku mendengar gelak harsa juga dari Hunter. Merasa seperti orang bodoh, aku hanya menghisap bibir ke dalam dan mengedikkan satu bahu acuh tak acuh. Padahal di dalam hati aku sudah berteriak malu dan kesal. Panggil aku norak atau semacamnya, tapi tidak semua orang punya air mancur dan bundaran di rumahnya, ‘kan? “Tidak,” jawab Hunter. “Kami hanya beruntung karena harta yang diturunkan.” “Oh. Kalian punya orang tua yang kaya?” “Er, begitulah,” Hunter mencoba merespon. Jawaban ambigunya membuat aku mengangkat dua alis. “Dengar, apa yang orang katakan? Jangan dengarkan. Kami bukan seperti itu. Kami tinggal di sini, ya karena rumah kami di sini, bukan karena ingin menjauh dari orang lain atau merasa tidak level dengan mereka.” “Tidak pernah ada yang mengatakan itu,” kataku membela. “Aku juga tidak pernah berpikir begitu ‘kok.” “Belum,” kali ini Cordelia yang menyahut. Dia memegang tangan Hunter mesra, lalu menatap aku dengan senyum kecil. “Belum saja. Tapi Shay, kau tahu ‘kan kalau kami tidak mungkin menyakiti siapa – siapa?” Aku mengernyitkan dahi. Kenapa juga dia harus bertanya begitu? Tentu saja aku tahu mereka tidak akan melukai siapa pun. “Er . . . iya, tentu saja aku tahu.” Cordelia mengangguk, membasahi bibirnya lalu menunjuk Damon yang masih sibuk berdiri membawa semua barangku dengan dagu. “Damon di sini akan mengantarmu ke kamar tamu, OK?” Aku belum juga sempat protes atau apa, tapi dua pasangan yang jelas – jelas sedang jatuh cinta itu lebih dulu pergi dan meninggalkan aku sendiri. Well . . . tidak sendiri, karena ada seorang laki – laki tinggi dan masif dengan sifat dingin yang berdiri tidak jauh. Lagi, sebelum aku sempat bicara, dia sudah lebih dulu berjalan ke arah tangga. Aku buru – buru mengejarnya, kewalahan sebab dia memiliki langkah yang besar . “Tunggu,” seru aku ketika dia sudah mulai naik tangga. Aku mengerang kesal dan mengerjarnya. Begitu langkah kaki kami sudah sama, aku mencoba mengambil salah satu bawaan aku tapi Damon tidak memberikannya. “Aku bisa membawa nya sendiri.” “Lupakan saja,” gerutunya. “Apa yang kau bawa di sini? Tubuh manusia?” Aku bergedik ngeri. “Jangan ngaco. Dan jaga bicaramu . . . kau terdengar seperti pembunuh.” Damon hanya terkekeh. “Itu buku pelajaran. Dan baju tentu saja.” “Berapa banyak baju yang kau bawa? Cukup untuk satu tahun?” dia menggoyangkan koper aku seperti benda itu tidak berat sama sekali. “Ingin tinggal di sini lebih dari dua bulan?” Aku mendengkus padanya. “Jika aku bisa tinggal di tempat lain, aku akan memilih tempat itu. Lebih baik sempit – sempitan dengan Michael di kasur kecilnya dari pada harus di sini.” Damon menggeram. Aku terkesiap ketika dia melihat aku dengan wajah yang marah. “Apa yang kau katakan? That is nonsense. Kau tidak boleh tinggal di mana – mana kecuali di sini.” “Kau pikir kau siapa?” “Damon Hawkwolf.” “Apa hebatnya Damon Hawkwolf?” “Banyak,” jawabnya santai sembari meletakkan koper aku di atas anak tangga dan akhirnya menyeret benda itu. Tanap banyak pilihan aku mengikutinya. Dia berhenti tepat di depan kamar dengan pintu yang ditulisakan guest room. Aku melihatnya membuka pintu dan masuk sembari membawa semua barang – barang aku . Kamar itu terlihat mewah. Seperti aku baru saja menyewa kamar hotel dengan bintang lima atau semacamnya. Semua interironya berwarna emas, membuat aku merasa seperti putri raja. Aku mengumbang pelan dan tidak bisa menahan eksklamasi pelan dari bibir, “Wow . . .” Lagi – lagi Damon Hawkwolf sialan itu menertawakan aku tipis. Aku menatapnya penuh sangsi. “Maafkan aku karena norak.” Dia memberengut. “Aku tidak berpikir begitu.” “Oh, lantas?” “Kau terlihat menggemaskan,” katanya santai. Begitu santai hingga aku mengira dia tidak bermaksud mengatakan itu sama sekali. Laki – laki itu meletakkan semua barang – barang aku, koper di samping tempat tidur, tas biola dan ransel sekolah di atas kasur. “Kau bermain biola?” Aku mengerjapkan mata padanya, berusaha menyadarkan diri dari rasa kaget sebab Damon Hawkwolf baru saja memuji aku. Aku mengangguk pelan, tidak berani berkata apa – apa karena siapa tahu aku sedang bermimpi. Kenapa juga aku harus berdegup kencang begini? Kenapa tiba – tiba jarak di antara aku dan dia terasa sangat dekat? Seperti ada tali yang menyambungkan kita? Kenapa juga tiba – tiba rasanya aku akan meledak dan bisa tahu suhu tubuh hangat dari Damon Hawkwolf? Laki – laki itu mengeluarkan suara kecil, seperti puas dan bangga, tapi untuk apa? Dia mendekat ke arahku. Satu tangannya terulur naik dan mengelus surai aku subtil. Mata kami saling bertatapan dan aku menelan ludah saat dia tersenyum lebar. “I live violin. I hope you can play me any song,” lalu sebelum dia keluar dari kamar, dia menoleh sekali lagi. “Welcome home, Little Shay.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD