PART 9

1023 Words
9 “KAU SERIUS?” tanya aku pelan. Vokal aku terdengar lirih. “K—kau . . . serius?” Baiklah, mungkin terdengar sampai terbata itu berlebihan, tapi sungguh, aku merasa seperti dunia sedang bermain denganku. Aku berpikir keras seberapa besar persentase kebetulan pipa air rumah Nyonya Smith rusak, dan aku mencapai konklusi bahwa persentase macam begitu tidak mungkin terjadi. Sungguh, memangnya pernah kau berpikir saat menginap di rumah teman kamu sendiri, kau akan mengalami hal semacam ini? Mendadak saat kau hendak mandi kau tahu kalau pipa air di rumah mereka rusak? Ini seperti sebuah skenario bodoh yang punya satu tujuan untuk membawa dua karakter utama bersama. Itu saja. Aku merasa seperti gadis yang punya takdir buruk, dan harus terus – menerus diselamatkan oleh pahlawan kesiangan aku. Dengan semua tenaga yang aku punya, aku menahan diri agar tidak mengerang keras di depan wanita baik yang rasanya seperti ibu aku selama ada di New Cresthill. Aku mencoba untuk mengerti, mencoba unutk menafsirkan premis, namun gagal. Pada dasarnya, aku tidak habis pikir kenapa semua ini bisa terjadi padaku dari semua orang yang ada di muka bumi. Aku menalan ludah dan memijat kening. Nyonya Smith di depan aku ikut membuang napas berat, seperti ini juga hal yang sangat mengganggu baginya. “Kau bilang apa tadi?” tanya aku lagi, sembari menatap Nyonya Smith pasrah. Wanita itu balas menatap aku dengan wajah yang elusif, tak bisa aku jelaskan. “Cordelia bilang kau bisa menginap di sana selama beberapa hari sementara aku membenarkan pipa air di rumah ini. Ini rumah yang sudah tua, Saoirse. Aku minta maaf.” “Kau tidak perlu minta maaf,” kata aku pelan. “Tapi apa kau harus tinggal di sana?” “Di rumah Hawkwolf? Kenapa? Kau tidak mau?” Aku bisa melakukan ini, kan? Hanya beberapa hari saja? Aku yakin ini tidak akan seburuk yang aku pikirkan. Damon Hawkwolf mungkin juga tidak akan selalu ada di rumah. “Tidak . . . hanya saja,” aku menatap Nyonya Smith. “Lupakan saja.” Pada dasarnya, memangnya aku bisa apa? *** TAKDIR MACAM APA yang merusak pipa air Nyonya Smtih di saat aku menjadi salah satu murid pelajar yang harus tinggal di rumahnya? Sungguh, aku tahu dia bilang ini rumah yang sudah tua, tapi memangnya dia harus rusak saat aku sedang tinggal di sini? Saat aku sedang menjadi tamu? Aku tidak mungkin ada yang namanya kebetulan. Yah, mungkin saja sih, tapi ini semua seperti sebuah skenario yang sudah diatur rapih oleh penulisnya. Aku berharap kalau pipa air itu akan cepat selesai, karena sungguh, aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan di dalam rumah Hawkwolf yang besar dan masif. Apa aku akan menjadi anak bawang? Atau mereka semua bahkan tidak akan menganggap aku ada? Bukannya aku tidak tahu terima kasih atau apa, tapi seriously? Now? Aku tidak bisa berkata apa – apa selain setuju dengan saran Nyonya Smtih, walau tentu saja itu sesungguhnya bukan sebuah saran melainkan suruhan. Itu bukan permintaan, tapi pernutaan. Aku harus tinggal di rumah besar keluarga Hawkwolf. Lantas, apa yang bisa aku lakukan? Menolak hal itu . . .? Dan tingggal di mana? Aku tidak tahu siapa - siapa di kota ini. Satu – satunya teman yang aku tahu hanya Leo, dan mungkin Michael. Dan aku tidak mungkin minta menginap di rumah mereka. Selama dua minggu pula. Jadi begitu berita itu aku cerna, dan permintaan Nyonya Smith menjadi jelas di benak aku, aku hanya mengangguk dan naik ke atas dengan lesu. Aku membereskan barang – barang yang akan aku gunakans selema dua minggu, termasuk alat mandi, buku – buku sekolah, dan biola favorit aku yang aku bawa dari rumah. Aku turun sembari menggeret koper besar satu – satunya yang aku punya, mendapati Nyonya Smith sedang mempersiapkan sarapan—panekuk hangat dan maple sirup, serta jus jeruk yang dingin. Walau pun aku merasa buruk seperti sedang dikerjai oleh takdir dan pipa airnya, aku tersenyum hangat pada wanita cantik setengah baya di seberang mejaku. “Terima kasih, Nyonya Smith.” “Kau tahu, aku sangat minta maaf ini harus terjadi padamu,” dan dari nada bicaranya aku tahu dia benar – benar merasa bersalah. Aku mengulurkan tangan ke depan dan mengelus lengannya penuh afeksi. “Tidak masalah. Ini bukan salahmu. Apa yang bisa kau lakukan?” balas aku pelan. Dan itu memang benar. Nyonya Smith tidak sengaja merusak pipa air itu agar mengusir aku. Ini semua hanya sebuah takdir yang tak beruntung. “Cordelia sudah mengirim aku pesan. Katanya dia akan segera datang,” Nyonya Smith menawarkan aku blueberry yang dingin. Aku menggeleng. Nyonya Smtih meneruskan, “Dan er, katanya akan ada yang ikut untuk membantu membawa barangmu.” “Barang – barangku?” aku melirik satu koper, satu tas biola, dan tas ransel sekolah yang berisikan buku – buku tebal. “Er . . . itu tidak perlu. Aku baik – baik saja. tidak banyak yang aku bawa. Hanya dua minggu, ‘kan?” “Iya. Tapi mereka sudah dalam perjalanan,” kata Nyonya Smith pelan, seperti ingin melihat reaksi aku. Aku hanya tersenyum tipis padanya, terpaksa dan tertahan. Entah mengapa aku tahu siapa yang akan datang. Aku tahu siapa yang sedang dalam perjalan ke arah sini bersama Cordelia. Aku tahu Hawkwolf siapa yang akan muncul di depan pintu dan membantu aku membawa barang – barang. Aku tahu siapa yang akan berada di samping Cordelia saat dia keluar dari mobil yang katanya diberikan oleh Hunter. Oh, aku harap itu Hunter Hawkwolf. Tapi tentu saja tidak. Ketika aku dan Nyonya Smith sudah selesai sarapan, tidak butuh waktu lama bagi mobil familiar Cordelia Smith masuk ke halaman depan rumah cantik ini. Rumah yang pipa airnya tidak berfungsi ini. Dan aku tahu, dari sengatan listrik yang secara otomatis terasa di epidermis dan hati aku yang berdegup sangat kencang kalau bukan Hunter Hawkwolf yang datang. Aku menatap figur yang turun dari mobil. Begitu masif dan tegak dan kuat. Dan aku melihat Damon Hawkwolf memasang senyum besar, sangat besar hingga aku merasa bibirnya akan merekah panjang. Aku melihat garis kurva yang indah di wajah yang selalu datar. Dan aku tahu . . . ini akan menjadi dua minggu terlama di hidup aku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD