8
“SAOIRSE, KAU merasa lebih baik sekarang?” tanya Nyonya Smith saat dia mengetuk kecil di pintu kamar yang sedang terbuka. Aku menutup buku yang sedang aku baca (yang sedang aku coba baca namun selalu gagal) dan tersenyum tipis ke arah Nyonya Smith.
Wanita setengah abad itu masuk ke dalam kamar tidur aku, kamar tidur yang seharusnya dulu milik Cordelia dan duduk di ujung kasur aku yang kosong. Dia memberikan aku satu gelas air yang terisi penuh. Aku tersenyum lagi saat sadar itu berisi air hangat. Lalu satu tangannya yang lain memberikan aku sebuah pil yang berwarna hijau, membuat aku mengerutkan kening. Jangan salah, aku sedikit percaya pada Nyonya Smith.
Iya, sedikit, karena sungguh, walau aku tahu dia wanita yang sangat baik, dia masih orang asing yang tak aku kenal. Mau tak mau, masih ada rasa tak percaya di dalam hati menyangkut Nyonya Smith. Aku raih pil hijau itu dan aku observasi. Aku tidak pernah melihat obat ini sebelumnya, dan aku tidak mau membuat Nyonya Smith yang duduk di hadapan aku tersinggung. Wanita itu melihat aku ragu dan menggurat garis harsa yang kecil.
“Bagus, kau punya insting yang kuat,” kata Nyonya Smith. “Tenang saja, itu obat tidur. Untuk membantu kamu istirahat malam ini. Kau pasti masih sedikit terguncang, kan?” Nyonya Smith meraba kening aku pelan. “Kau tidak panas. Untung saja. Itu berarti kau menerima ini semua dengan cukup baik. Kau yakin sudah kenyang? Masih ada sisa banyak makan malam di bawah.”
Aku mengangguk. “Aku yakin. Kau sudah memberi aku makans seperti akan memberikan makan untuk satu desa,” candaku. “Terima kasih atas segalanya.”
“Jangan sungkan. Kau sudah menjadi tanggung jawabku di sini,” dia mulai berdiri dan berjalan ke ambang pintu. “Saoirse?”
“Iya, Nyonya Smith?” aku berhenti saat hendak menelan pil hijau yang dia berikan.
Wanita itu menelengkan kepalanya sedikit. “Kau tak perlu takut. Segalanya sudah menjadi takdir dan jalan hidup, Saoirse.”
Aku mengerjapkan mata. Aku menelan obat tidur itu.
Dan aku terlelap sepanjang malam.
***
BUNGA TIDURKU DIPENUHI oleh binatang buas dan brutal yang tidak memiliki niat jahat padaku sama sekali.
Ketika alam bawah sadarku berganti menjadi mimpi dibawah realita, aku langsung secara otomatis menemukan serigala hitam yang sama di tengah hutan terbuka yang berisikan bunga – buang cantik.
Bukan pohon – pohon besar dan rindang, bukan juga daun dan ranting yang raksasa. Hanya ada bunga berwarna – warni mulai dari lavender, merah, dan putih, menyerbakkan wangi yang indah dan menenangkan jiwa.
Aku terpana di tengah dataran luas itu. Panorama terlihat persis seperti adegan di salah satu film favorit aku yang berjudul Twilight. Rumput dan ilalang tinggi yang cantik. Angin berdesik hilir. Langit membiru indah, sesekali dihempas oleh kolosal kapas putih yang megah. Antariksa menyinari bumi dengan sinar ultra violet dari mentari, dan aku berdiri dengan gaun putih yang melayang.
Di depan serigala hitam magnifisen. Majestik. Indah. Buas namun elegan. Brutal tapi protektif.
Protektif padaku.
Sekian lama aku berdiri di sana, menatap serigala hitam itu tepat di dua mata emasnya. Dia tidak bergerak sama sekali, mematung similar dengan aku. Entah karena dia tidak ingin aku takut padanya, atau dia yang takut mendekat ke arahku.
Apa yang dia takutkan? Apa yang membuatnya ragu? Kenapa dia berpikir keras untuk mendekat ke arahku?
Satu kaki aku yang menginjak rumput liar maju. Maju dan maju sampai aku menemukan tubuhku berjalan ke arahnya, mengitari bunga – bunga cantik yang mekar. Dua penopang tubuhku menginjak bumi dan bentala untuk menghampiri makhluk misterius itu.
Serigala hitamku yang gagah.
Sementara dia masih diam, tidak membuat suara, tidak bergerak sama sekali. Dia memerhatikan aku yang berjalan menuju dia. Seperti berpikir kenapa aku mau mendekatinya. Wajahnya menyerupai wajah memberengut, ekspresi yang aku pikir terlihat menggemaskan, walau seharusnya aku bertanya bagaimana bisa seekor serigala merenyuk?
Jarak kami semakin dekat, dan tahu – tahu saja aku sudah berhenti tepat di depan serigala itu. Dia begitu masif dan besar. Begitu raksasa. Aku yakin tidak ada serigala yang sebesar dia. Moncongnya berada tepat di depan wajahku, walau aku berdiri tegak. Dua kaki nya terlihat dua kali lipat jauh lebih besar dari kaki aku. Dari jarak sedekat ini, aku bisa melihat bulunya yang terbang terhilir dersik angin, memberikan aku aromatik yang sangat familiar.
Aku tidak bisa mengingat dari mana aku sempat mencium rasik itu tatkala serigala hitam di depanku maju. Mataku melebar. Kepalanya menunduk, lalu dia menyodorkan atas kepalanya ke arahku.
Tidak perlu seorang jenius untuk tahu apa yang dia mau. Secara ragu dan pelan aku mengulurkan tangan ke atas. Jari – jariku menunggu penuh antisipasi di antara jaraknya di samping sisi tubuhku, ke atas kepala serigala hitam itu.
Begitu epidermis aku menyentuh kepalanya, sengatan listrik yang bervoltase tinggi menyala di antara kami. Serigala itu bertatih, dia mengeluarkan erangan puas seperti anjing yang diberikan hadiah. Jari – jariku otomatis bergerak dan mengelusnya, merasakan bulu yang halus dan tebal.
Aku tersenyum lebar. Lalu senyum itu berubah menjadi gelak harsa ketika serigala hitam di depanku itu menjadi ketagihan dan menyeka kepalanya padaku.
Dia terdiam. Begitu juga aku. Apa aku melakukan sesuatu yang salah? Apa aku membuatnya marah?
Alarm bahaya segera menari di benak, tapi serigala hitam itu hanya mendongak dan menatap aku penuh tanya. Penuh kagum? Entahlah. Dia seperti melihat sesuatu yang baru. Mendengar sesuatu yang berbeda.
Aku mundur satu langkah, yang diikuti dengan suara ptotes dari serigala hitam itu.
“Er . . . apa kau serigala yang baik?” tanyaku. Lalu satu detik kemudian aku merasa seperti orang bodoh.
Serigala hitam di depanku mengangguk. Mengangguk? Darahku rasanya berhenti mengalir. Aku pikir aku salah lihat, tapi dari cara binatang buas di hadapanku ini memandang aku seperti siap menjawab pertanyaan yang lain, aku tahu aku tidak salah.
“Kau tidak akan melukai aku?”
Sungguh, ekspresi wajahnya terlihat tersinggung. Bak aku baru saja melontarkan inkuiri yang bodoh dan tak tahu diri. Kemudian dia menggeleng dengan cepat, geraman tipis terlepas dari gigi besar dan tajam miliknya.
Seperti sedang berkata “Tentu saja tidak!”
Aku mengangguk pelan. “Baiklah,” kataku. “Setidaknya aku percaya. Kau sudah menyelamatkan aku tadi. Terima kasih, by the way. Aku belum mengatakannya.”
Dia mengeluarkan suara puas lagi. Aku maju dan mengelusnya untuk memberikan dia sebuah hadiah.
Serigala hitam di depanku suka dengan manuver itu.
“Ini mimpi yang aneh,” gumamku sembari melepas tanganku dari kepalanya, lalu duduk bersila di bawah. Serigala hitam itu ikut turun. Dia menjatuhkan dirinya di atas rumput – rumput halus, menelentangkan diri dan mengistirahatkan kepala besarnya di atas pangkuanku.
Well . . . sebisa dia. Kepalanya begitu besar hingga hanya seperempat saja yang berhasil bersantai di atas pangkuan aku.
Tanganku secara otomatis bertemu atas kepalanya lagi untuk mengelus dia. “Siapa namamu?”
Dia hanya menggerakkan kepalanya naik dan turun, mengabaikan pertanyaan aku.
“Bolehkan aku memberikan kamu nama?” tanyaku ragu. Aku meningkatkan manuver tanganku agar membuat dia senang. Serigala hitam itu mengarahkan sorot mata emasnya ke atas, memandang aku dari bawah bulu tebalnya.
Well . . . itu terlihat seperti sebuah izin darinya, ‘kan? Ini benar – benar mimpi yang aneh. Terlalu tidak biasa bahkan bagi aku yang sudah terbiasa dengan hal – hal supernatural.
“Er, siapa ya kira – kira?”
Serigala hitam itu menatap aku datar. Similar dengan seseorang, tapi aku tak bisa menebaknya. Aku tersenyum padanya. “Menurutmu apa aku harus memberikan nama yang keren dan maskulin, atau lucu dan menggemaskan?”
Dia menggeram rendah. Aku tahu itu bukan sebuah tanda bagi alarm bahaya di benak aku untuk menyala. Dia tidak akan melukai aku. Jadi aku tertawa. Menertawakan sebuah makhluk masif di atas pangkuan aku, yang bisa menyerang aku kapan saja.
Yang bisa melepas kepalaku dari lehernya. Yang bisa merobek tubuhku menjadi dua. Yang bisa menggigit aku sampai aku menghilang dari bumi. Yang bisa memakan aku hidup – hidup.
Karena entah kenapa, aku yakin, yakin seratus persen, bahkan jauh lebih yakin dari pada saat aku tahu kalau aku akan mendapat program pertukaran pelajar ini, kalau serigala hitam di depan aku ini tidak akan pernah melukai aku secara sengaja.
“Hmh . . . keren dan maskulin, ya?”
Dia mengangguk. Lalu serigala hitam yang walau pun besar dan brutal tapi semakin lama terlihat menggemaskan di mataku itu kembali menjatuhkan kepalanya dalam posisi miring di atas pangkuan aku.
“Baiklah,” kataku setuju. “Keren dan maskulin lebih cocok untuk kamu.”
Serigala hitam itu mendengkur puas.
“Akan sangat bodoh jika aku menamai kamu Wolf, ya?” suara tidak puas terlepas dari mulut buasnya. Aku terkekeh. Suara itu terdengar seperti sebuah dengkusan kesal dari manusia. “Ada temanku yang menamai anak anjingnya Pup. Ada juga orang – orang yang menamakan kucing mereka Kat.”
Dia protes lagi.
“Baik – baik . . .” Kataku sembari tertawa, mengangkat dua tangan ke atas dalam bentuk menyerah. Kali ini dia protes keras, sebab aku tidak lagi mengelus kepalanya halus. “Oh, manja.” Aku mencibir tapi tanganku secara otomatis mulai mengelus dia lagi.
“Lalu apa, ya?” aku mengumban pelan. “Aku tidak pernah menamai orang.”
Serigala hitam itu tidak menjawab aku, mungkin terlalu konten dan enak di bawah sana. Tidak ada yang terpintas di dalam benak sama sekali, terlebih ketika aku hanya berbicara dengan seekor serigala yang tidak bisa menjawab pertanyaan aku sama sekali.
Lalu saat aku teringat kejadian tadi pagi, ketika dia datang secara tiba – tiba bak seorang ksatria yang menolong putrinya, aku tersenyum lebar dan puas. Aku tahu dari posisinya, tahu dari cara dia berdiri, tahu dari apa yang telah dia lakukan, kalau serigala hitam ini akan melindungi aku selalu.
Dia serigala yang protektif. Baik. Dan penolong. Dan ketika dia mendongak ketika merasakan aku mengumbang senang, aku menangkup dua tangan aku di depan wajahnya—yang by the way, terlihat begitu komikal sebab dua tanganku tenggelam di dalam wajah besarnya—dan memberikan dia garis kurva terbesar di hidup aku.
“Knight,” seruku mantap. “Itu nama kamu mulai dari sekarang. Like my black knight. Karena kau sudah menyelamatkan aku. You saved me from the other wolf, so you are my Knight.”
Dari reaksinya, aku tahu dia puas dengan jawaban itu. Jadi, bunga tidurku malam itu bisa dibilang indah. Menyenangkan. Dan penuh magis.
***
Siapa bilang kalau hari sabtu itu hari yang menyenangkan? Begitu aku terbangun dari tidur pulas yang diisikan oleh serigala hitam kesayangan aku, Knight, aku langsung tahu kalau ada yang tidak beres.
Saat aku buru – buru menyikat gigi dan merapihkan diri sembari mengabaikan air yang keluar dari keran sedikit dan macet. Aku turun ke bawah dan menemukan Nyonya Smith sedang berjalan mondar – mandir, satu tangan di pinggang, satu tangan memegang ponsel di telinganya.
Wajah dia terlihat cemas dan kesal secara bersamaan, membuat secara otomatis menjadi ikut terjaga. “Ada apa?” tanyaku pelan, takut mengganggu konversasi dia bersama siapa pun itu yang ada di seberang telepon.
“Iya,” Nyonya Smith menjawab. Dia melihatku, memberikan aku satu senyum yang kecut, dan mengangkat satu jari sebagai tanda agar aku menunggu. “Iya, aku tahu. Tapi aku baru saja menggantinya enam bulan lalu. Bagaimana bisa sudah rusak lagi?”
Aku berjalan ke area dapur dan menuangkan aku secangkir kopi hitam yang sudah tersedia. Bless Mrs. Smith. Aku meminum kopi itu sembari menunggu sampai Nyonya Smith selesai berbicara.
“Baiklah,” dia membuang napas besar. Bahunya tegang, dan ekspresi wajahnya sangat stres. “Apa lagi yang bisa aku lakukan? Berapa? Kau—ah, lupakan saja. Baik. Aku tunggu.” Nyonya Smith mematikan hubungan ponsel dan menatap aku penuh sesal. “Shay, aku minta maaf.”
“Untuk apa?” tanyaku bingung.
Nyonya Smith duduk di sampingku dan merangkul bahuku. “Pipa air di rumah ini rusak lagi. Itu artinya, aku tidak akan mendapat akses air. Aku sudah membenarkannya baru – baru ini, sekitar enam bulan yang lalu, tapi entah kenapa benda tua menyedihkan itu rusak lagi.”
Aku mengelus lengannya prihatin. “Aw, that sucks . . . lalu bagaimana? Kau sudah memanggil tukang air?”
“Iya,” jawabnya. “Tapi Shay . . . er, ada pipa yang bocor dan rusak. Kata mereka, itu akan membutuhkan waktu sekitar dua minggu.”
“Dua minggu?” tanyaku kaget. Dua minggu tanpa air? Itu sama saja dengan tidak punya rumah.
Membaca raut wajahku, Nyonya Smith buru – buru menambahkan. “Kau tidak perlu khawatir!” dia tersenyum padaku. Tapi senyumnya seperti merasa bersalah atau semacamnya. Aku menunggu dia meneruskan, hatiku sudah merasa tak enak dari raut wajah wanita setengah baya tercantik yang pernah aku lihat itu.
Well . . . selain ibu aku sendiri tentu saja.
“Er, aku sudah menghubungi Cordelia,” dia meremas bahuku pelan. “Katanya, kau bisa menginap di sana selama dua minggu selama pipa air di betulkan. Bukankah itu menyenangkan? Kau akan tinggal di mansion milik keluarga Hawkwolf.”
Aku memucat. Aku akan tinggal di rumah yang sama bersama Damon Hawkwolf?