Tubuh Linzi terpaku mendengar Aden kecelakaan dari kakak iparnya. Mata Linzi mendadak memanas, jantungnya seperti teriris pisau tipis-tipis. Dan ini lebih sakit dari satu bulan yang lalu dirinya membatalkan pertunangan mereka. "Kenapa aa bisa kecelakaan, Mbak?" tanya Linzi dengan suara serak, seperti ingin menangis. Bahkan bibirnya ikut bergetar. Aiza mendesah lesu, "Dia kecapekan, Zee. Pas perjalanan pulang ke rumah kemarin malam, Aden nabrak pohon karena mengantuk. Itu kakakmu yang bilang ke Mbak tadi. Sekarang Kak Libra juga ada di Rumah Sakit." Akhirnya air mata Linzi luruh. Dia mengusap kasar air matanya. Sudah cukup! Kali ini dia tidak bisa seperti ini lagi. Walau bagaimanapun, dia mencintai Aden. "Aku pengen ke sana, Mbak." Aiza mengangguk, "Ya sudah, ayok." Linzi beranjak d

