bc

Sudut Segi Tiga

book_age18+
8
FOLLOW
1K
READ
like
intro-logo
Blurb

Apakah kau tahu seberapa dahsyat cinta pertama?

Hal yang paling ditakutkan oleh semua pemeran protagonis dalam suatu ikatan. Tidak lain dan tidak bukan ialah CINTA PERTAMA. Hal yang selalu membuat pemeran utama tiada henti hentinya kacau dan sulit untuk tidur nyenyak?

Jangan tanyakan tokoh utamanya siapa!

karena jawaban yang keluar akan selalu sama.

SUDUT

note: cover by me

chap-preview
Free preview
Satu
Gelap perlahan menghampiri, menggerogoti perasaan yang masih terpacu menunggu apa yang di tunggu. Tangisan bayi 3 bulan memberikan sebuah kesan berat dengan remang cahya bulan yang mulai mengambang. "Cup cup anak mama." Tutur Kania menatap perempuan kecilnya. Nampak jelas rasa khawatir dari perempuan berusia 24 tahun itu. Entah seberapa besar sesuatu yang membuat nya terbiasa berdiri di teras setiap hari. Suara mesin mobil memecah sedikit rasa khawatir nya. Kaki jenjangnya menerjang menapaki setiap anak tangga kecil, langkahnya kian membesar berbarengan dengan semakin mendekatnya mobil ke rumah. Wanita berambut hitam panjang itu, Berjalan di bawah sinar bulan yang terpapar menyinari kulit putihnya. Langkahnya kian cepat, menyongsong sesuatu yang ia tunggu dari tadi. Bahkan bayi di gendongannya pun ikut tenang menyambut sesuatu yang di nantikan ibundanya. Sekuat tenaga Kania mendorong pagar hitam yang mulai terkelupas, bau besi berkarat yang setiap hari dengan menusuk hidungnya tak pernah ia hiraukan. Semua menghilang ketika tangannya menyentuh tangan yang ia nantikan. Cahaya lampu mobil menyorot rumah 2 lantai dengan pintu yang di hiasi ukiran kayu Jepara. Pintu mobil terbuka menampakkan sosok yang ditunggu Kania sedari tadi. Pria berkulit sawo matang dengan tinggi badan sekitar 172 cm, terlihat tampan dengan rambut kelimisnya. Senyum Kania menyongsong pada Pria itu. Nampak pria itu membalas senyuman Kania padanya. Kania berjalan menghampirinya dan segera mencium tangan pria itu. "Mas Angga, mau mandi dulu?" Tanya Kania sambil tersenyum manis. "Ia, mas gerah banget." Ucap Angga." "Qilla gadis kecil papa." Tutur Angga sambil menyentuh bayi perempuan kecil di gendongan istrinya. Angga melangkah masuk ke dalam rumah, rumah yang bersih dan rapi. Ketika pertama kali masuk ke dalam rumah, figura berukuran 1 meter persegi menyambut orang yang memasukinya. Kania nampak begitu cantik di dalam foto tersebut, gaun putih yang ia kenakan nampak serasi dengan warna kulitnya. Begitupun dengan Angga, ia terlihat tampan dengan jas hitam yang melekat di tubuh bidangnya. "Mas duduk aja dulu aku siapin air dlu bentar." Ucap Kania sambil berjalan meninggalkan Angga yang sedang duduk di sofa. * "Mas, kenapa jadi empat hari dinasnya?." Tanya Kania sambil berjalan menghampiri Angga. "Biasa ada kendala jadi semua skedulnya berantakan." Ucap Angga sambil mengelus rambut hitam istrinya. "Emm. Dari kemarin Qilla nangis terus mas."Ucap Kania sambil menatap Qilla yang lelap dalam gendongannya. "Jangan mengada-ngada, mana? tuh tenang gitu." Gurau Angga sambil tertawa kec. "Kan papanya udah pulang." Seru Kania sambil menatap suaminya. "Jadi Qilla kangen gitu? Atau kamu yang kangen?" Tutur Angga di ikuti senyuman. Angga yang melihat istrinya cemberut, Mendekatkan wajahnya dan melumat bibir istrinya. Kania sedikit terkejut, namun apa daya dia sudah sangat merindu suaminya. Kerinduan Kania beberapa hari ini benar-benar terlepaskan. Qilla yang berada di gendongan Kania pun nampak begitu tenang dan larut dalam kebahagiaan yang dirasakan ibunya. Angga melepaskan ciumannya dan menatap istrinya lekat. Kania segera melepaskan dasi yang menempel di leher suaminya. Angga tersenyum menatap istrinya. "Udah biar aku aja. Kasian Qilla pengen rebahan." Ucap Angga sambil berdiri. Angga melepas kancing bajunya satu persatu, punggung yang kokoh nampak jelas semakin menjauh. Angga melemparkan kemeja putihnya ke keranjang pakaian kotor di dekat kamar mandi dan mengambil handuk yang sudah Kania siapkan. Setelah memastikan Qilla sudah tertidur pulas Kania sesegera mungkin pergi ke dapur untuk mempersiapkan makan untuk suaminya. Sebelum itu Kania bahkan sudah menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Kania sudah memanaskan wajannya, ia berniat menggoreng telur untuk suaminya. Angga adalah pria sederhana di mata Kania, pria yang begitu dewasa dan seorang yang bisa di andalkan. Dan tentunya ia tak terlalu pemilih soal makanan bahkan makanan kesukaannya saja telur. Dapur minimalis dengan meja makan dengan 4 kursi yang mengelilinginya, nampak begitu indah. Ini juga adalah hasil kerja keras kania tentunya. Ia selalu membersihkan dapur nya setiap hari. Ya karena memang saat ini keseharian yang ia miliki hanyalah mengurus Aqilla Yusuf buah hatinya. Rangkulan nan lembut menerobos di sela sela kesibukan Kania. Kania memalingkan wajahnya menatap seseorang yang sedang menempel di tubuhnya. Kania nampak bahagia ia tersenyum dan kemudian melanjutkan masaknya. Dan Angga pun tetap fokus pada kegiatan nya, menciumi leher jenjang istrinya. "Udah mas makan dulu!" Ucap Kania sambil berbalik menghadap suaminya. Tanpa di komandoi Angga melanjutkan ciuman nya di bibir tipis istrinya. Kania membalas ciuman suaminya, putaran detik menyaksikan pasangan yang sedang berciuman melepas kerinduannya. "Udah mas makan dulu! Katanya udah laper." Ucap Kania sambil memundurkan wajahnya, mengakhiri ciuman yang semakin memanas. "Ya udah ayo, tapi nanti lanjut ya!" Ucap Angga sambil tersenyum dan berjalan mengikuti langkah istrinya. "Ibu gak kesini selama aku pergi?" Tanya Angga sambil memasukan sesuap nasi ke mulutnya. "Nggak mas kan mas perginya juga cuma 3 hari. Eh 4 hari." Ucap Kania menarik perkataannya. "Kamu marah? Kan aku udah ngabarin kamu juga! kalo kesel sana marahin pimpinan perusahaan mas. jangan sama mas." Ucap Angga diiringi senyuman yang nampak begitu menawan. Sudah hampir 4 tahun Angga bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang pemasaran itu. Ia bisa bekerja di tempat itu tentu saja berkat Kania. Ayah Kania membiarkan nya bekerja di perusahaan itu. Bukan main ayah Kania dengan koneksi yang ia miliki tentunya mudah mendapatkan pekerjaan, apalagi untuk menantunya. Kania merasa sangat beruntung bisa menjadi istri dari pria yang menjadi cinta pertamanya itu. Dalam pernikahannya yang sudah mencapai 2 tahun ini tak pernah ada hal-hal buruk yang terjadi. Bahkan pertengkaran kecil pun jarang sekali. Dalam kurun 9 bulan saja ia sudah di percayai oleh tuhan untuk mengandung buah hati dari suami tercinta nya. Kania bahakan rela berhenti bekerja dari pekerjaan yang sangat ia sukai. Kania hanya bekerja sekitar 2 tahun di perusahaan majalah yang cukup terkenal di kota ini. "Mas besok kerja?" Tanya Kania sambil menatap suaminya. "Ummm" Gumam Angga. Melihat itu Kania hanya bisa pasrah dan pasrah. "Udah makannya?" Tanya Kania melihat Angga yang memundurkan kursinya dan berjalan ke wastafel. Kanya segera membereskan bekas makan suaminya dan membawanya ke tempat cuci piring. "Cepet Mas tunggu di kamar!" Ucap Angga sambil mengedipkan matanya. Kanya hanya tersenyum melihat tingkah suaminya. ** Kania membuka lebar pintu kamarnya. nampak Angga sudah berbaring dengan baju tidur yang sama dengan yang kania kenakan. Kania berjalan perlahan menghampiri suaminya. "Gimana Qilla udah tidur kan?" Tanya Angga. Kania menjawabnya dengan anggukan kepala. Tanpa basa basi Angga langsung saja melumat bibir istrinya. Angga juga mungkin sudah merindukan sosok istrinya ini. Tubuh indah Kania jatuh di pelukan suaminya. ciumannya semakin panas setiap detiknya, bahkan angga sudah melepas seluruh kancing baju istrinya. Nampak jelas payudaranya Kania mencuat. p******a yang gempal karena pengaruh kondisi menyusuinya. tak berselang lama posisinya saat ini sudah berada dalam ke kangan Angga. Tubuh Angga yang atletis nampak jelas di mata Kania. Angga melepaskan seluruh pakaian yang Kania kenakan. Tetap saja Kania selalu merasakan jantungnya berdetak kencang ketika melakukan hubungan intim dengan suaminya. sesuatu sudah menerobos masuk ke kemaluannya.membuat Kania mengluarkan Suara desahan yang begitu nikmat dari mulutnya. Nafas keduanya semakin memburu. Ciuman keduanya tah henti-hentinya. Kania menggerakkan bibirnya tepat ke leher Angga. Bibirnya terhenti seketika, ketika matanya tertuju pada tanda merah di leher suaminya. Jantung nya seakan akan berhenti berdetak, pikirannya mulai berlarian kesana kemari. Penolakan yang jiwanya paksakan mengarah pada kenyataan yang diperlihatkan oleh matanya. "Mas?" -Bersambung

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Tentang Cinta Kita

read
191.6K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
207.4K
bc

My Secret Little Wife

read
100.3K
bc

Siap, Mas Bos!

read
14.2K
bc

Single Man vs Single Mom

read
97.1K
bc

Iblis penjajah Wanita

read
3.8K
bc

Suami Cacatku Ternyata Sultan

read
15.8K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook