Rea menata makanan dan minuman di atas meja. Di bantu dengan Bibi juga. Sementara Ibu, beliau menyelesaikan masakannya di dapur. Lalu datang ke ruang makan sambil membawa sayur yang telah matang. “Re, mana suamimu? Apa Nico belum bangun juga? Jangan-jangan anak itu tidur lagi?” cecarnya yang kesal pada tingkah putranya itu. “Bagaimana Intan bisa mencintainya?” tanya Bu Naima seraya menggelengkan kepalanya takjub. “Sepertinya Kak Intan sudah di pelet, Bu sama kakak,” timpal Rea sambil tergelak. Membuat Bu Naima dan bibi juga ikut tergelak. “Pagi, Bu,” sapa Kean ramah. Lalu duduk di salah satu kursi. “Pagi, juga, Kean. Apa tidurmu nyenyak? Kamu, sih, datangnya malam sekali. Lain kali menginaplah dengan istrimu jika weekend. Supaya kita bisa pergi jalan-jalan bersama,” ujar Bu Naima

