Happy Reading
........
James berjalan ke arah Ayana, wajah tampan, tubuh bagus itu semua membuat Ayana tidak sadar bahwa matanya tertuju ke arah tersebut. James sangat gemas melihat tatapan Ayana huh jika saja dia bisa memiliki gadis itu sekarang.
"Apa yang kamu lihat sayang hemm... apa kamu menyukai ini?" Tanya James sembari menunjuk ke arah perutnya dan tanpa sadar Ayana Pun langsung mengangguk.
"Eh..anu...aku itu tidak aku tidak menyukainya!" Bantah Ayana sambil mengutuk mulutnya yang dengan begitu lancangnya mengatakan iya.
"Tidak perlu malu-malu seperti itu, aku akan memberikannya secara suka rela jika kamu menyukainya baby girl." Di akhir kalimatnya James tertawa, pria dingin itu akhirnya tertawa karena tingkah Ayana. Baru kali ini James tertawa dengan tulus jika biasanya dia tertawa maka tawa yang keluar hanya tawa mengejek atau tawa yang tidak memiliki ekspresi sama sekali.
"Tidak!!" Teriak Ayana wajahnya memerah karena malu. Padahal ia dan James hanya dua kali bertemu dan tidak akrab sama sekali eh maksudnya tiga kali bertemu hari ini sungguh Ayana tidak menyangka jika dunia begitu sempit karena dia bisa dengan mudah bertemu dengan orang yang sama.
"Baiklah-baiklah, aku tahu kamu mau tapi kamu hanya malu mengungkapkannya baby, bagaimana kepala mu masih sakit?" Tanya James sambil berjalan ke arah meja dan mengambil segelas air hangat untuk Ayana.
"Minum air hangat sayang." James memberikan segelas air hangat yang sudah disediakan nya.
"Terima kasih."
Ayana meminumnya, dia tidak menyangka jika James perhatian kepadanya seperti ini padahal mereka tidak saling mengenal. Namun Ayana tidak boleh baperan karena mungkin saja James ingin sesuatu darinya.
"Kamu mandi dulu lalu setelah itu kita sarapan." Perintah James, pria itu berjalan menuju lemari pakaian miliknya sedangkan Ayana masih belum bangun dari atas kasur dia memeriksa tubuhnya dan ternyata dia masih mengenakan pakaian yang sama seperti semalam dia pikir James sudah melakukan hal yang tidak-tidak kepada tubuhnya.
"Sampai kamu akan di sana, apa kau tidak lapar hmm?" Tanya James dengan suara maskulinnya yang membuat Ayana tersadar kemudian dia bangun kepalanya masih pusing entah air apa yang ia minum semalam sehingga dia tidak mengingat apapun yang terjadi.
Tapi dia bersyukur karena yang menolongnya adalah James orang yang menurut Ayana cukup baik tapi entah lah Ayana tidak bisa menilainya sekarang karena dia tidak terlalu dekat dengan James.
Di Bali
Sejak tadi Inez terus mengomel karena melihat foto anaknya beredar dimana saja, bukan dia melarang namun Inez tidak ingin anaknya merusak perempuan sebelum perempuan itu menjadi istrinya. Inez sangat menentang hal itu dia tidak ingin James seperti Roy dulu yang memiliki masa lalu yang cukup sulit yang membuatnya sulit mempercayai Roy.
"Sayang biarkan saja, toh James juga sudah berumur 25 tahun aku yakin dia juga ingin merasakannya sayang!" Kata Roy pria tua yang tampan itu memeluk istrinya dari belakang tak perduli di sana masih ada anak-anaknya yang lain.
"Aishh Daddy mengambil kesempatan biar bisa meluk Mommy ya!" Kata Bella anak perempuannya, Roy melotot ke arah Bella yang membuat gadis kecil itu terkikik geli melihat kelakuan ayahnya.
Inez melepaskan tangan Roy dari pinggangnya kemudian dia duduk di sofa, hari ini nenek James akan datang dari Amerika. Nyonya Hamerra sudah lama tidak menjenguk cucu-cucunya terakhir kali lima tahun lalu dan itu pun karena suaminya atau kakek dari anak-anak Roy memiliki pekerjaan di indonesia.
"Jangan terlalu di pikirkan, James sudah dewasa sayang." Sekali lagi Roy membujuk istrinya agar tidak memikirkan James, ah anak itu selalu saja mendapatkan perhatian lebih dari Inez dan hal itu membuat Roy cemburu.
"Kamu tidak mengerti Roy, aku tidak ingin dia di cap sebagai lelaki tidak benar. Ini Indonesia sayang dimana semua berita yang kecil akan di besar-besarkan dan aku tidak ingin itu terjadi kepada anak kita." Jelas Inez akhirnya Roy mengerti tentang kekhawatiran istrinya.
"Kamu tenang saja aku akan menyuruh media menghapus berita-berita itu hmm." Inez mengangguk.
Kemudian dia menatap kedua anaknya yang masih dengan setia duduk di sofa yang tak jauh dari mereka. Damian sibuk dengan ponselnya sedangkan Bella sibuk dengan novel yang sedang ia baca.
"Setelah nenek datang, mamah mau ngajak kalian makan di luar. Damian jangan kemana-mana Mamah perhatikan beberapa hari ini kamu selalu buat masalah!" Damien langsung menyimpan ponselnya ketika suara Inez memanggil namanya. Damian akui jika dia sangat takut kepada ibunya dari pada sang ayah. Roy selalu mengijinkan apapun yang ingin Damian lakukan sedangkan Inez dia jarang mengijinkan jika sesuatu yang Damian inginkan tersebut bisa menyakiti dirinya.
"Iii---iya Mom...Maaf." Sembari menundukkan kepalanya Damian meminta maaf, ia akui jika selama ini dia hanya bisa membuat Mommy Nya stres akan kelakuannya di kampus.
"Kamu sudah sering meminta maaf tapi kamu selalu mengulangi kesalahan yang sama, Jika sekali lagi kamu melakukannya Mommy akan menyita semua fasilitas yang Daddy mu berikan paham?!" Roy hanya diam dia tidak ada kuasa menolong putranya di hadapan sang ratu sangat terlihat jelas jika Damian butuh pertolongan ayahnya namun apa mau dikata dia sangat tahu ayahnya tidak bisa menolongnya.
"Damian tidak akan melakukannya lagi Mom tapi Reg selalu menganggu ku jadi aku membalasnya!" Bela Damian, Inez paham bagaimana anaknya namun dia tidak ingin Damian melakukan kekerasan di lingkungan kampus terlebih sampai membuat Reg masuk rumah sakit.
"Kali ini Mom tidak menghukum mu tapi ingat jangan ulangi lagi dan jenguk Reg siang ini bawa dia buah-buahan." Perintah Inez kemudian dia berdiri dan berjalan ke dapur cukup hari pagi ini dia marah-marah kepada nak dan suaminya.
"Mommy!!" Damian hendak protes kepada sang ratu namun dengan cepat Roy melototi nya.
"Sudahlah nak turuti perkataan Mommy mu, jenguk Reg dan minta maaf kepadanya." Lalu Roy pun mengikuti jejak sang istri.
"Siapa suruh kakak berurusan sama Reg." Ucap Bella ikut-ikutan yang membuat Damian melirik sang adik padahal Bella tidak tahu jika selama ini Reg memuja gadis itu dan Damian berusaha menjauhkan adiknya dari jangkauan Reg sialan itu.
"Sudahlah anak kecil mana paham!" Ejek Damian lalu dia berlari ke kamarnya ketika Bella melempar buku nya ke arah Damian saat pria tampan itu mengatakan jika Bella anak kecil.
Damian tertawa puas saat melihat wajah marah adik nya, Damian kembali membuka ponselnya dia penasaran siapa gadis yang kakaknya gendong Damian pikir kakaknya itu gay jika mengingatnya saja Damian hendak tertawa terbahak.
"Tuan muda kedua anda baik-baik saja?" Tegur maid yang tidak sengaja melewati Damian di lantas atas, Damian berhenti tertawa.
"Oh tentu saja aku baik-baik saja, kau tahu kakak akan segera menikah kau lihat berita baru-baru ini?" Tanya Damian kepada maid tersebut, sikap humble anak majikannya ini membuat maid yang bekerja untuk keluarga Smith merasa betah bekerja untuk mereka.
"Tentu saja saya melihatnya Tuan muda pertama menggendong seorang gadis, saya bersyukur akhirnya kita akan mendapatkan anggota baru di rumah ini Tuan." Damian bertepuk tangan akhirnya bisa mendapatkan teman mengobrol yang nyambung.
"Jika kakak datang jangan lupa bersihkan kamarnya, baru-baru ini aku tidur di sana." Setelah mengatakan itu Damian langsung masuk ke dalam kamarnya sambil tertawa, karena melihat wajah maid tersebut jelas saja maid itu heran karena setiap hari ia membersihkan kamar Tuan muda pertama tapi selalu di berantaki oleh Damian.
......
Next?
Jangan lupa Love Nya biar aku lancar nulisnya