Chapter. 04

1012 Words
Happy reading ........ Mbak Elva pulang pukul 8 malam, aku pikir dia tidak pulang malam ini, karena sedari tadi pagi kami berpisah dia tidak membalas 1 pesan pun dari ku. "Mbak kenapa, ada masalah di tempat kerja?" Tanya ku, wajah Mbak Elva sangat kusut terlihat sekali dia kelelahan. Aku menyiapkan makanan untuk mbak Elva selagi dia duduk di atas sofa yang ada di kos itu. "Iya nih Ay, tadi mbak di tegur gara-gara menumpahkan minuman di jas pelanggan tetap di situ." Jawab Mbak Elva dengan lesuh. "Terus gimana mbak, mbak di pecat?" Makanan yang Ayana sediakan sudah siap, Mbak Elva langsung makan. "Engga Ay, mbak cuma di tegur. Oh iya gimana sama kamu?" Tanya Mbak Elva kepada Ayana. "Akhirnya Mbak, Ayana dapat pekerjaan dan mulai hari Senin Ayana kerja." "Terus kaki kamu kenapa?" "Heheh.... Tadi Ayana nolongin seseorang yang hampir di tabrak tapi malah Ayana yang kena batunya Mbak." Jelas Ayana, Elva hanya bisa menggeleng. Teman dari adiknya ini sangat unik, entah dia ikhlas menolong orang itu atau tidak. "Makasih ya Ay, udah masakin ini buat mbak." Ayana mengangguk kini keduanya duduk sebentar di ruang kecil tersebut. "Mbak mau minta tolong, hari Minggu nanti kamu bisa gak gantiin Mbak kerja?" Tanya Mbak Elva. Aku yang mendengar nya terdiam, bukannya apa tapi aku tidak pernah sebelumnya bekerja di tempat Mbak Elva kerja. "Boleh Mbak, tapi kerjaan Ayana apa aja mbak di sana?" Tanya Ku, aku hanya memastikan saja agar aku tau apa yang harus aku lakukan di club malam itu nantinya. "Oh tenang Ay, kamu cuma nganterin pesanan untuk pelanggan tetap. Cuma itu aja kok Ay." Aku mengangguk mendengar perkataan Mbak Elva. Jadi aku tidak perlu khawatir jika sudah berada di sana nantinya. Setelah Mbak Elva selesai makan kami langsung menuju kamar untuk tidur. Rasanya hari ini cukup melelahkan dan aku butuh istirahat yang cukup. Besok adalah hari Sabtu jadi, besok aku tidak kemana-mana dan seperti besok akan lebih menyenangkan jika aku berjalan-jalan bersama Mbak Elva. ....... Paginya, di apartemen milik James. Pria itu kini sudah siap untuk pergi olah raga. Kali ini ia akan lari pagi karena selama di Bandung ia jarang sekali olah raga di luar karena James sendiri memiliki tempat olah raga pribadi di apartemen nya. "Roni, siapkan penerbangan ke Bali. Hari ini setelah selesai olah raga kita langsung berangkat menuju Bali." Roni mengangguk, tuannya ini serba tiba-tiba yang kadang membuat Roni harus ekstra cepat untuk melakukan perintah dari tuannya tersebut. James berangkat, dia berlari menuju taman yang tidak jauh dari apartemennya, di sana sudah banyak orang tentunya. Beberapa pasangan yang melakukan olah raga bersama dan lainnya. Tanpa memperdulikan sekitarnya, James terus berlari dan tanpa sengaja ia bertambrakan dengan seseorang. "Aduh, aish kenapa pagi-pagi sekali aku sudah mendapatkan kesialan sih." Omel wanita itu yang membuat James menatap wanita yang baru saja ia tabrak. "Maaf saya tidak sengaja. Apa anda terluka?" Tanya James namun wanita itu tidak menggubris pertanyaan nya yang membuat James menatap lebih teliti ke arah wanita tersebut. "Aya?" Tanya James memastikan, yang membuat wanita tersebut menengok ke arah nya dan benar saja wanita itu adalah Ayana wanita yang menyelamatkan diri nya kemaren. "Ah tuan." Ucap Ayana sambil berdiri, dia menunduk sebentar."Saya minta maaf karena sudah menabrak anda. Anda baik-baik saja?" Tanya Ayana dia sangat malu karena saat ia mengomel tadi suaranya sangat keras. Dasar sialan. Maki Ayana dalam hati. "Tidak apa, mau sarapan bersama di sana?" Tanya James sambil menunjuk ke arah sebuah cafe sederhana. "Uhm boleh." Kata Ayana dengan ragu, sebenarnya ia ingin menolak namun tidak enak. Jadi keduanya berjalan menuju ke arah cafe yang James maksud tadi. Mereka berdua duduk di salah satu kursi kosong di sana dan memesan makanan. "Kamu menjalani program diet?" Tanya James karena melihat pesanan Ayana. Ayana menggeleng." Tidak mana mungkin aku diet kau tidak lihat tubuhku sudah kecil seperti ini." Kata Ayana. James mengangguk. "Aku pikir kau diet seperti kebanyakan wanita di luar sana." Tidak lama pesanan mereka datang, Ayana memakan bubur ayam miliknya sedangkan James tadi hanya memesan roti bakar dengan selai kacang. Mereka sarapan dalam diam, sesekali James menatap gadis di hadapannya yang terlihat begitu cantik bahkan tanpa make up sekalipun. Ayana yang sadar diperhatikan sejak tadi langsung mengangkat kepalanya dan menatap James."Kenapa, Apa ada sesuatu di wajahku?" Tanya Ayana sambil mengambil sehelai tisu dan membersihkan area bibirnya. James yang melihat hal tersebut langsung meneguk ludahnya dengan kasar. "Sial kenapa wanita ini sangat sexy!" Maki James dalam hati, dia tersenyum ke arah Ayana."Ah itu tadi ada sesuatu di bibir mu tapi sudah kau bersihkan." Kata James yang membuat pipi Ayana memerah karena malu. "Kamu sudah selesai?" Tanya James, Ayana mengangguk lalu keduanya berjalan keluar dari cafe setelah James membayar pesanan mereka tadi. "Terima kasih atas ajakan sarapan paginya tuan." Ucap Ayana. "Sama-sama, tapi bisa kah kau memanggilku James saja tanpa embel-embel tuan." Tanya James "Itu rasanya tidak sopan, kau seperti orang penting di kota ini." Kata Ayana yang membuat James terkekeh pelan. "Kau ini ada-ada saja. Panggil aku James okey." Ayana mengangguk setuju. Dia pamit dengan James karena arah mereka pulang berlawanan. "Mau ku antar?" Tanya James. "Oh tidak perlu, kosan ku dekat dari sini." Ucap Ayana lalu setelah itu ia pergi dari hadapan James. James menatap kepergian Ayana dengan wajah yang terlihat bahagia. Astaga kenapa dia seperti ini, seperti remaja yang baru saja jatuh cinta. James benar-benar tidak habis pikir namun dia bersyukur karena bisa menyukai seorang wanita. Karena selama ini orang-orang menganggap nya seorang gay karena jarang sekali berdekatan dengan seorang perempuan. Keluarganya pun begitu, ibunya selalu mengatakan jika James harus mencari pasangan mulai sekarang dan tentunya sang ayah juga. Ayahnya yang sangat gencar mencari wanita untuk James karena pria tua itu cemburu jika James mendekati ibunya sendiri. Tipe suami posesif dan membuat istrinya terkekang namun ibunya tidak pernah mengeluh atas sikap ayahnya terhadap sang ibu. James sangat ingin memiliki istri seperti ibunya, sangat sederhana, apa adanya dan juga ramah. Ibunya juga hanya berfokus untuk mengurus suami dan anak-anak nya. Oleh karena itu James sangat tidak ingin jika ibunya disakiti oleh sang ayah, karena James sudah tahu tabiat sang ayah yang duku sering mengencani wanita lain. ........
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD