Happy reading
........
Malam ini Ayana bekerja di club malam, ia menggantikan Mbak Elva yang tidak bisa bekerja untuk malam ini. Tadi Mbak Elva menyuruhnya untuk mencari orang yang bernama Tory katanya dia adalah teman Mbak Elva yang bisa membantu Ayana disini.
Lalu tiba-tiba dari arah belakang ada seseorang yang menepuk pundaknya dan membuat Ayana terkejut. Ayana langsung membalikkan badannya dan melihat siapa orang yang dengan beraninya membuatnya terkejut.
"Maaf nona membuat anda terkejut. Saya Tory teman nya Mbak Elva." Kata seorang wanita cantik tadi. Hampir saja Ayana membentak nya dan memaki wanita yang bernama Tory ini.
"Oh iya.... Aku Ayana. Aku akan menggantikan Mbak Elva sementara dari mana kamu tahu kalau aku adalah orang yang menggantikan Mbak Elva?" Tanya Ayana, Tory menarik tangan Ayana menuju sebuah ruangan yang tak lain adalah ruang istirahat untuk karyawan di club tersebut.
"Ini, mbak Elva mengirimkan ku foto mu." Tunjuk Tory. Ayana mengangguk.
"Sekarang kamu ganti pakaian, pakaian kamu ada di sana." Tunjuk Tory ke arah loker, Ayana langsung berjalan menuju loker tersebut. Lalu ia mengambil pakaiannya.
Tidak lama setelah itu Ayana keluar dari dalam ruang ganti, dan ia sangat mengutuk pakaian yang sekarang ia kenakan.
"Sial, kenapa pendek seperti ini dan ini? Apa-apaan di bagian d**a sangat sesak!!" Omel Ayana sambil berusaha untuk menurunkan Rok nya.
"Sialan itu sangat pas di tubuhmu." Kata Tory ia terkagum melihat tubuh Ayana yang sangat pas di tempat-tempat tertentu.
"Iya pas, tapi kau tidak lihat ini. Ini sungguh sangat sesak aku tidak bisa dan aku malu." Ungkap Ayana namun tidak ada waktu lagi untuk Tory mencari baju untuk Ayana.
"Sudah gunakan itu saja, sekarang tugasmu adalah ambil napa yang ada di meja bartender itu lalu bawa ke lantai atas. Di sana sudah tertulis ruangan nomor berapa." Instruksi dari Tory membuat Ayana tidak berkutik ia langsung berjalan menuju meja yang Tory tunjuk tadi.
Beberapa pasang mata terus menatap tubuh Ayana yang membuatnya tidak nyaman. Ia menyesal mau-mau saja mengganti kan Mbak Elva namun ia juga tidak bisa menolak karena Mbak Elva sudah banyak membantunya.
"Hey manis... duduk lah disini sebentar." Goda seorang pria. Hal itu membuat Ayana ketakutan dan dengan langkah lebar Ayana langsung menaiki tangga untuk mengantar pesan yang ia bawa. Dia masuk ke dalam ruangan yang bertuliskan angka 23, setelah mendapatkan ijin dari pemilik ruangan Ayana langsung ke masuk ke dalam ruangan tersebut.
Di ruangan itu Ayana melihat 3 pria dan 4 wanita, Ayana memilih untuk mengalihkan pandangannya dan fokus untuk meletakkan minuman yang di pesan oleh mereka dan tanpa dia sadari jika mata tajam itu menatap ke arahnya sedari tadi.
Ayana pamit untuk keluar setelah urusan nya selesai namun sebelum itu salah satu dari tamu pria di ruangan tersebut menghentikan langkah nya.
"Tunggu sebentar nona, kau pekerja baru disini?" Tanya nya Ayana mengangguk.
"Pantesan saja kau tidak tahu, ini ambil tips mu. Terima kasih sudah mengantarnya." Ayana hendak menolak namun terlanjur pria itu sudah meletakkan uang tersebut ke telapak tangannya.
"Te---terima kasih tuan." Ucap Ayana lalu ia keluar dari dalam ruangan itu.
.........
"Huhu.... Astaga aku pikir aku akan di omeli ternyata tidak." Ucap Ayana kepada dirinya sendiri. Lalu ia menatap uang di tangannya dan melihat berapa jumlah uang tersebut.
"Oh...Ini banyak sekali, ad---ada enam ratus ribu. Ini bisa membeli kebutuhan selama sebulan." Kata Ayana ia bersorak kegirangan saat mendapatkan tips sebanyak itu. Dia tidak menyangka jika orang kaya tidak semuanya pelit.
Tingkah lakunya dilihat oleh pria yang sejak tadi mengikutinya semenjak ia keluar dari dalam ruangan nomor 23.
Malam semakin larut orang-orang banyak berdatangan, Ayana pikir semakin malam akan semakin sedikit namun dia salah. Semakin malam pelanggan semakin bertambah.
Ayana yang kelelahan setelah mengantar pesanan pelanggan, duduk sebentar di meja bagian pojok. Ia kehausan dan langsung memanggil Tory yang tengah membawa nampan berisi air.
"Aku minta satu, aku haus dari tadi lupa minum." Kata Ayana tanpa pikir panjang dia langsung meminum air tersebut dengan sekali teguk.
"Aaa---itu Ayana itu air beralkohol!" Kata Tory dengan panik. Ayana yang baru saja meneguk nya tidak mendengar perkataan Tory karena suara musik yang begitu nyaring.
Ayana kembali mengambil 1 gelas air tersebut dan meneguk nya. Rasa pahit di tenggorokan Ayana membuatnya memejamkan mata sebentar. Lalu ia menatap ke arah Tory namun matanya tiba-tiba berkunang-kunang.
"To---Tory.... Kenapa aku tiba-tiba pusing dan mataku berkunang-kunang?" Tanya Ayana dengan polos. Tory menepuk dahinya dengan keras lalu ia menyimpan nampan yang sedari tadi ia pegang.
"Kau itu mabuk!" Teriak Tory namun Ayana tidak mendengar kesadaran sisa sedikit saja. Ia menatap jam yang ada di pergelangan tangannya.
"Ini jam pulang ku, aku harus pulang." Kata Ayana, Tory mengangguk dan membantu Ayana berdiri menuju ruang ganti. Lalu setelah itu Ayana menyuruh Tory untuk meninggalkan dirinya sendiri di dalam ruang tersebut.
Ayana mencuci wajannya lalu setelahnya ia mulai mengganti pakaian, Ayana tidak menyadari jika sedari tadi dia di ikuti oleh seorang pria. Keluar dari dalam club Ayana bisa bernapas dengan lega namun pusing di kepalanya membuat pandangan Ayana semakin buram dan tubuhnya ambruk di depan club, seorang pria yang sejak tadi mengikuti Ayana langsung menghampiri gadis tersebut dan kemudian membopongnya ke arah mobil mewah yang sudah terparkir dengan rapi tidak jauh dari keberadaan mereka.
"Langsung ke apartemen!" Perintahnya dengan nada dingin, yang membuat sopirnya mengangguk dengan kaku. Pria tersebut terus menatap wajah Ayana sampai tanpa di sadari bibirnya sudah menempel dengan bibir milik Ayana. Sopir yang ada di depan pura-pura tidak melihat dia tidak ingin mengambil resiko jika nanti tuannya akan memarahi dirinya.
Tidak puas hanya dengan menempel bibir mereka, pria itu langsung menggerakkan bibirnya dengan perlahan lalu kemudian melumatnya bibir milih Ayana membuatnya candu, rasa manis tiba-tiba terasa dari bibir tersebut yang membuat gairahnya langsung meningkat.
"Bisa cepat sedikit?!" Tanyanya dengan tidak sabar kepada sang sopir.
"Bi--bisa Tuan." Jawab sopir tersebut dengan gemetar tidak lama mereka tiba di sebuah apartemen mewah dengan pencahayaan yang terang dan juga beberapa orang yang masih berlalu lalang walaupun hari hampir pagi.
Pintu mobil langsung dibuka, sedangkan pria tadi menggendong Ayana beberapa karyawan maupun orang-orang yang masih berlalu lalang di lobby apartment menatap ke arahnya.
Siapa yang tidak mengenal pria itu? Jelas semua orang mengenal nya namun mereka sangat penasaran dengan siapa wanita yang ada di pelukannya tersebut.
.......
Next?