65. Menemui Sisil Sisil memandang kepergian Inaya dengan tatapan marah, ia tersenyum angkuh menatap punggung Inaya yang semakin menjauh. “Kamu lihat saja nanti, Nay! Fadhil akan menurut sama kamu atau sama aku.” ujarnya sambil mengepalkan kedua telapak tangannya. Sementara Inaya menghirup nafasnya dalam ketika menjauh dari Sisil. Dia cukup berani ketika menolak permintaan Sisil, tapi di dalam hatinya ada ketakutan yang ia rasa saat berhadapan dengan ular berkepala dua itu. Ya, Inaya merasa Sisil adalah makhluk jahat yang wajib ia hindari. Pintu lift terbuka, Inaya segera masuk ke dalam. Ia akan merasa lebih tenang jika berjauhan dengan wanita itu. Inaya menunggu Ratna di ruang tunggu yang tersedia di lantai 3. Ia tidak berani langsung masuk ke ruangan ayah mertuanya, jika Ratna

