Syera menarik napas dalam sebelum ia hembuskan perlahan. Gadis itu memejamkan mata sejenak, kemudian mendongak menatap bangunan tinggi di depan sana.
“Akhirnya aku kembali lagi ke sini,” gumam Syera tersenyum miris.
Berusaha keras selama enam hari ini mencari pekerjaan, tetapi Syera tidak mendapatkan apa-apa. Tak ada pekerjaan yang cocok dengannya, jika pun cocok, waktu kerjanya sangat sulit sebab Syera juga sibuk di kampus sebagai dosen.
“Setidaknya aku sudah berusaha. Terserahlah jika nanti dia menertawakan dan mengejekku. Pasti dia akan menilaiku sebagai wanita sok jual mahal yang mencoba menjunjung kehormatan. Nyatanya, aku kalah, aku kembali lagi ke sini karena tidak memiliki pilihan,” gumam Syera sedih sekaligus sendu.
Setelah kemarin-kemarin ia mencaci dan mengumpati Moiz. Kini gadis itu memutuskan untuk menerima tawaran pria itu. Syera tentunya berpikir panjang sedari kemarin, bahkan tadi malam ia tak bisa tidur.
“Baiklah, Syera. Ini demi Kakek, sangat sulit untukku sekarang karena pihak rumah sakit tidak bisa memberi waktu, mereka malah semakin mendesak. Sekarang ayo kita pergi dan mendengar tawarannya secara jelas.”
Pergerakan Syera ke arah pintu utama gedung Vaterham Company diperhatikan oleh sepasang mata tajam. Moiz tersenyum sinis melihat kedatangan Syera, meski ia belum tahu tujuan gadis itu kembali datang ke perusahaannya, tetapi Moiz seakan sudah bisa menebak.
“Benar bukan? Sekeras apa pun kau mencoba jual mahal, kau tidak akan bisa kalah menghadapi Moiz Vaterham,” gumam Moiz berdecih angkuh.
Moiz menunggu kedatangan Syera dengan wajah angkuhnya. Ia duduk di sofa tunggal di dalam ruangan itu sembari menyilangkah kedua kakinya, sungguh kesan arogan itu tampak begitu jelas.
“Tuan, Nona Winola datang ingin bertemu!” Suara sekretarisnya di luar sana akhirnya terdengar.
“Suruh dia masuk!”
Tak lama pintu pun terbuka, sekretaris itu masuk disusul oleh Syera yang sempat beradu tatap dengan Moiz beberapa detik. Syera menunduk singkat sebagai kesan hormat seperti biasa saat bertemu dengan pria itu.
“Selamat siang, Tuan.”
Moiz tersenyum miring mendengar sapaan sopan dari Syera. “Duduklah,” sahutnya tak suka basa-basi.
Syera langsung duduk di atas sofa, ia merasa dejavu sebab dirinya duduk di posisi sama seperti ketika awal datang ke ruangan itu.
“Saya sudah menduga Anda akan datang ke sini lagi.”
Syera mengepalkan tangannya perlahan, tetapi ekspresi wajahnya masih terkontrol. Kalimat dan nada suara Moiz yang begitu angkuh membuat Syera merasa direndahkan dan diejek. Namun, ia hanya bisa menahan dan tetap tersenyum sebagai formalitas.
“Saya ingin mendengar secara jelas tentang tawaran Anda, Tuan.”
Moiz kembali tersenyum mendengar itu. “Itu map-nya sudah di depan Anda. Silakan Anda baca dan pahami dengan betul, anggaplah ini kesempatan terakhir Anda. Jika memang masih tidak tertarik, saya akan mencari kandidat lain.”
Syera memandang map di atas meja yang berada tepat di depan lututnya. Perlahan ia meraih map berwarna kuning tersebut, dan membukanya secara perlahan.
Moiz memperhatikan pergerakan bola mata Syera yang tengah membaca isi map. Pria itu menilai wajah serta tubuh wanita yang akan dijadikan istri bayaran, sekaligus jalan balas dendamnya.
“Dia benar-benar cantik rupanya,” batin Moiz tersenyum miring.
Moiz juga melihat jelas bagaimana mata Syera membulat ketika membaca isi dokumen di dalam map. Syera mengangkat kepalanya dan menatap Moiz yang menaikkan sebelah alis seakan bertanya akan arti tatapan Syera.
“Apa Anda tidak salah tulis dengan nominal ini, Tuan?” tanya Syera kepada Moiz.
“Kenapa? Apa masih kurang? Kau bisa menambahkannya, kau tulis saja ingin bayaran berapa per bulannya. Nanti dokumennya akan direvisi oleh asisten saya.”
Syera menggeleng cepat. “Bukan begitu maksud saya, tidak usah direvisi,” sahutnya kaku. “Maksudku ini bukan karena kecil, tapi karena sangat besar. Bahkan bayaran bulanan ini setara dengan gajiku enam bulan sebagai dosen,” sambungnya di dalam hati.
Syera kembali melanjutkan membaca isi dokumen yang cukup rinci dan detail, sehingga begitu panjang. Tiba-tiba Syera kembali melotot bahkan sampai tersedak ludah sendiri, cukup mengejutkan Moiz.
Pria itu menatap Syera yang masih terbatuk sembari menutup mulutnya. Moiz dengan cepat meraih botol air mineral dan membuka penutupnya.
“Minumlah. Aku tidak ingin ada orang mati di ruangan ini hanya karena tersedak,” ucap Moiz sembari menyodorkan botol air mineral tersebut.
Syera meraih botol itu dan meminum isinya dengan perlahan. Ia berdeham kecil dengan wajah merahnya. Moiz memandang gadis itu dengan heran.
Syera sendiri malah tak fokus sekarang. Pikirannya ada pada poin kesekian dalam perjanjian pernikahan kontrak yang diajukan Moiz.
“Astaga, aku kira aku hanya akan menyandang gelar begitu saja. Jadi aku juga harus melayaninya sebagaimana seorang istri? Bahkan melayaninya masalah ... ranjang? Oh God, aku harusnya sadar sedari awal, tidak mungkin dia bersedia membayarku semahal itu jika hanya untuk untuk menjadi istri pajangan, bukan?” celoteh Syera di dalam hati.
Poin penting yang menjadi penyebab Syera terkejut adalah pernyataan di mana Moiz menegaskan jika Syera harus melayaninya masalah ranjang sebagaimana para istri seharusnya.
“Nona Winola!”
“Eh!” Syera terkejut ketika suara berat Moiz memanggilnya. “Ah, maaf, Tuan. Saya sedikit tidak fokus, saya mengingat kakek saya mungkin sudah menunggu di rumah sakit saat ini,” kilahnya.
Moiz menaikkan sebelah alisnya mendengar itu. “Kalau begitu kau putuskan saja sekarang. Saya tidak akan menunggu lagi, Anda harus memutuskannya sekarang, bersedia atau tidak. Jika memang tidak, maka saya bisa mencari kandidat lain,” tegas Moiz.
Pria itu sengaja menekan dan menyudutkan Syera supaya gadis itu segera menerima dan mereka menikah. Nyatanya, meski Syera menolak, Moiz tentunya tidak akan mencari wanita lain, sebab aslinya Moiz tak mencari istri tetapi ia menikahi Syera karena alasan pembalasan dendam.
Syera menarik napas dalam, tentunya ini bukan keputusan yang mudah baginya. Menikah dengan orang yang bahkan baru ditemuinya, apalagi hanya menjadi istri bayaran, sungguh membuat Syera merasa sedih sekaligus terhina.
“Secara tidak langsung aku sama saja dengan wanita bayaran. Jika orang-orang tahu, aku pasti bisa dianggap sebagai w************n, menikah dengan Tuan Vaterham hanya karena uang. Menjadi pemuas nafsu, yah—berbagai hal lainnya. Tapi, nyatanya aku memang menikah dengannya karena membutuhkan uang, bukan? Tak apa, dalam perjanjian, ini hanya pernikahan selama dua tahun. Jadi selama dua tahun ini, aku akan mengumpulkan uang dari gajiku di sini dan mulai membuat bisnis atau usah kecil-kecilan. Sehingga ketika terlepas darinya nanti, aku tidak akan kesulitan. Satu hal paling pasti ... aku tidak boleh melibatkan perasaan dalam pernikahan ini. Jangan sampai jatuh kepadanya, Syera. Yah, meski ia memang pria yang tampan,” ujar Syera kembali membatin.
“Sepertinya Anda sangat suka melamun, Nona Winola.”
Syera kembali disadarkan oleh suara berat Moiz. Ia mengangkat kepalanya dan memandang Moiz yang memiringkan kepala menatapnya.
“Apa Anda sudah memikirkannya? Saya juga tidak memiliki banyak waktu, pekerjaan saya masih banyak,” sambung Moiz datar.
“Ini hanya pernikahan dua tahun ‘kan, Tuan? Saat dua tahun nanti, kita akan berpisah dengan baik-baik.”
“Yah, sesuai isi kontrak di tanganmu.”
Syera menarik napas dalam. “Baiklah, Tuan. Saya bersedia menjadi istri bayaran Anda. Tenang Syera, dua tahun tidak lama,” ucapnya menyambung kalimat terakhir di dalam hati.