3. Membekap

1395 Words
“Baiklah, ayo menikah.” Deg ... Syera terkejut mendengar kalimat Moiz. Seketika matanya membola memandang pria tampan di sampingnya. “Maaf, Tuan. Sepertinya saya salah dengar,” ucap Syera kaku. Moiz menggeleng, ia menyadarkan punggungnya di sandara sofa sembari memandang Syera. “Kau tidak salah dengar. Saya ingin kau menjadi istri saya.” Syera terpaku di tempat, ia tentu saja sangat terkejut dan tak percaya. Gadis itu menggeleng pelan, mencoba tetap waras dan menganggap jika kalimat Moiz betul-betul salah dengar. “Ekhm, sekali lagi maaf, Tuan. Sepertinya saya terlalu banyak pikiran akhir-akhir ini sehingga saya—” Moiz tersenyum miring menatap Syera. “Tidak, sudah saya katakan jika kau tidak salah dengar.” Syera memandang Moiz dengan wajah cengo. Tiba-tiba seorang pria masuk dan memberikan sebuah map kepadanya. Syera menerima map tersebut sembari memandang Moiz yang masih di posisi awal. “Silakan kau baca, itu adalah surat tawaran saya untuk pernikahan kita.” Syera memandang Moiz dengan wajah tak percaya. Ia sungguh tak menyangka jika Moiz benar-benar mengajaknya menikah. Kini gadis itu berpikir jika pria berkuasa dihadapannya saat ini tengah mempermainkannya. “Apa maksud Anda, Tuan? Saya ke sini untuk mencari pekerjaan, bukan untuk hal main-main seperti ini. Saya—” “Kau ke sini untuk mencari pekerjaan, itu artinya kau butuh uang, bukan?” sela Moiz angkuh. Syera mengepalkan tangannya, tetapi ekspresi wajah gadis itu masih terkondisikan. Ia menarik napas pelan menjaga ekspresi wajahnya. “Yah, intinya saya ke sini untuk mencari pekerjaan. Jika memang tidak ada pekerjaan untuk saya, maka saya mohon izin.” “Anggap saja ini pekerjaan. Kau akan saya bayar selama kau menjadi istri saya. Hem, anggap saja ini adalah pernikahan kontrak, kau akan menjadi istri bayaran saya.” Syera kembali dibuat tak percaya mendengar kalimat Moiz. “Istri bayaran? Pernikahan kontrak? Apa-apaan itu, Tuan?” “Memang begitu, saya sedang membutuhkan istri. Yah, karena saya tidak memiliki wanita yang cocok untuk saya nikahi, jadi saya terpaksa mencari istri bayaran. Kau adalah kandidat yang cocok menyandang gelar sebagai istri seorang Moiz Vaterham. Kau tidak sadar, jika banyak wanita mengantri untuk menjadi istri saya.” Tangan Syera kembali terkepal, matanya menajam menatap Moiz yang begitu enteng berbicara. Kalimat Moiz secara tidak langsung menganggap wanita hanya barang, dan pernikahan hanyalah sebuah permainan. Padahal, bagi Syera, pernikahan adalah suatu hal sakral yang harusnya dilaksakanan sekali seumur hidup, bersama orang tercinta. Syera juga sedari dulu bertekad untuk mencari suami yang mencintainya serta menghargainya, sekarang ia malah bertemu dengan pria seperti Moiz. Pria angkuh, selalu menganggap wanita barang. “Maaf, sepertinya Anda salah mencari orang. Saya tidak berminat melakukan pernikahan semacam ini.” “Kenapa? Padahal pekerjaannya sangat mudah, bukan? Kau hanya perlu menjadi istri saya, lalu saya bayar. Kau juga tetap bisa melakukan pekerjaanmu, intinya keseharian seperti biasa. Hanya saja, statusmu sudah berubah menjadi istri saya.” Moiz menaikkan sebelah alisnya menatap Syera angkuh. “Anda sudah menipu saya, Tuan. Saya permisi.” “Kenapa menipu? Bukankah ini juga pekerjaan? Semuanya sesuai dengan isi brosur. Pekerjaan dengan waktu bebas, dari segi mana saya menipu Anda, Nona?” tukas Moiz tenang. Syera memandang Moiz dengan tangan masih terkepal. Perlahan ia menarik napas pelan dan tersenyum paksa. “Saya permisi, Tuan.” Syera tiba-tiba berdiri dari duduknya dan bergerak cepat ke pintu ruangan kerja Moiz. Moiz pun menyeringai melihat pergerakan Syera. Ia seakan sudah menebak jika gadis itu tak akan langsung menerima tawarannya. “Jika kau berubah pikiran, datang saja ke sini. Yah, setidaknya saya masih bisa menunggu perubahan pikiramu dalam satu minggu ke depan. Jika tidak, maka saya akan mencari kandidat lain. Kau bisa meminta besaran nominal yang kau inginkan jika menjadi istri saya,” ucap Moiz sebelum Syera benar-benar keluar dari ruangan kerjanya. Syera tak menoleh sama sekali, gadis itu terus melangkah pergi dari sana. Asisten Moiz menunduk hormat kepada Moiz. “Apa saya perlu mengejarnya, Tuan?” “Tidak usah, saya jamin dia akan kembali ke sini dalam minggu ini.” Moiz tersenyum miring, sudah sangat percaya diri jika Syera akan kembali ke sana. Syera kini tampak sangat marah. Wajahnya memerah, ekspresi yang sedari tadi ditahannya kini terlepas sudah. Beruntung gadis itu masih bisa menahan umpatannya, mengingat ia sedang di lingkup umum. “Pria gila, sungguh aku tidak menyangka jika orang yang selama ini aku kagumi ternyata seorang pria gila. Selama ini aku memang mengatahui gosip jika Tuan Vaterham adalah manusia keji tanpa hati, ternyata itu semua benar. Aku mengaguminya karena kepiawaiannya dalam berbisnis. Pasti karena kekuasaan serta kekayaannya itu, dia menganggap wanita sebagai barang yang bisa dibeli dengan uang dan baginya pernikahan hanyalah sebuah mainan,” geram Syera di sela langkahnya. Gadis itu terus berceloteh marah di trotoar jalan. Ia mendongak menatap gedung tinggi di depan sana sembari misuh-misuh dengan rasa kesal, geram serta marah. Gadis itu tak menyadari jika pergerakannya di bawah sana saat ini tengah diperhatikan oleh Moiz dari ruangannya. Ruangan kerja Moiz adalah dinding kaca, sehingga bisa melihat jelas keadaan di bagian gerbang utama gedung perusahaan Vaterham Company. Moiz tersenyum miring, ia menerka jika Syera kini mungkin sedang mengumpati dan menyumpahinya. “Sebentar lagi kau akan berada dalam genggamku, Syera Winola,” desisnya. *** Syera memandang sang kakek yang tengah menatapnya. Meski setruk, Desmond masih bisa mendengar dan melihat orang-orang di sekitarnya. Desmond hanya tak bisa bergerak dan berbicara, kondisi tubuhnya juga lemah, sehingga perlu dirawat intensif dengan beberapa alat bantu. Sorot mata Desmond membuat Syera tersenyum hangat. “Kakek tidak usah khawatir begitu, aku pasti bisa mendapatkan pekerjaan tambahan. Tapi ya begitu, memang sangat sulit, sudah lima hari ini aku banyak mengikuti wawancara dan sulit menemukan yang bisa aku kerjakan. Rata-rata kerja full time, dan itu sangatlah sulit, aku ‘kan juga harus mengajar di kampus,” celoteh Syera bercerita. Meski sang kakek tidak pernah bisa menyahut kata-katanya. Syera tetap menjadikan Desmond sebagai teman bercerita. “Ah, sudahlah. Sekarang kakek tidurlah, aku juga akan segera pulang. Aku besok akan kembali ke sini lagi,” tutur Syera tersenyum kepada Demond. “Aku juga akan mencoba bernegosiasi dengan kepala rumah sakit, memohon pertambahan waktu, setidaknya satu minggu lagi,” sambungnya di dalam hati. “Oh, ternyata itu benar Anda, Nona Winola.” Syera terkejut ketika dirinya berniat berdiri, suara berat seseorang mengalihkan perhatian. Syera menoleh dan terpaku ketika melihat Moiz mengintip dari pintu ruangan sang kakek. Moiz masuk ke dalam kamar itu, ia melirik Desmond yang terlihat melotot. Moiz tersenyum miring menatap pria tua tak berdaya itu. “Moiz Vaterham, apa yang ingin dia lakukan di sini? Syera, larilah larilah, dia tidak boleh mencelakai Syera,” teriak Desmond di dalam hati, karena ia tak bisa berbicara. Moiz berdecih melihat pergerakan bola mata Desmod. Tampaknya pria berumur itu berusaha untuk berbicara ataupun bergerak untuk memberi kode kepada Syera, cucunya. Namun, sayang semua usahanya sia-sia. “Apa yang Anda lakukan di sini, Tuan Vaterham.” Syera berdiri dan menunduk singkat kepada Moiz. Meski merasa kesal dan marah, Syera masih berusaha sopan dan hormat. “Ah, tidak. Saya tadi ada keperluan di rumah sakit ini. Saat sedang berjalan, tidak sengaja melihat Anda masuk ruangan ini. Apa dia keluarga Anda, Nona?” Moiz bertanya pura-pura tak tahu. “Iya,” sahut Syera singkat. “Ah, begitu.” Moiz mengangguk-angguk sembari melirik Desmond. “Lalu bagaimana, apa Anda sudah berubah pikiran? Besok adalah hari terakhir kesempatan yang saya berikan untuk Anda, loh. Jika Anda bersedia jadi istri saya, maka—hmpp.” Kalimat Moiz terhenti ketika tiba-tiba Syera menutup mulut pria itu. Tentu saja Moiz terkejut dengan tindakan tiba-tiba Syera, apalagi gadis itu langsung menariknya keluar ruangan. Syera melirik Desmond dengan wajah cemas. “Kakek tidak boleh mendengar itu, kalau dia tahu aku ditawarkan menjadi istri bayaran seseorang, dia pasti sedih,” batin Syera. Syera menutup pintu ruangan sang kakek, lalu mendongak menatap Moiz. Ia melotot ketika menyadari tangannya masih membekap mulut pria tampan itu. Syera langsung mundur dengan wajah kaku. “Maaf, Tuan.” Syera menggaruk puncak kepalanya yang tak gatal. “Itu, saya hanya tidak ingin kakek saya mendengar itu.” Moiz mengalihkan wajah sembari berdeham. “Saya masih menunggumu sampai besok. Pikirkan baik-baik sebelum kesempatan ini hilang.” Syera memandang kepergian Moiz dari sana. Ia menatap telapak tangannya yang baru saja membekap mulut Moiz. Plak ... “Dasar, kenapa kamu melakukan itu?” Syera berceloteh sembari memukul tepalak tangannya sendiri. “Semoga saja nanti malam dia tidak datang untuk membunuhku karena berani membekap mulutnya dengan lancang seperti itu,” sambungnya lesu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD