Syera mendongak dan menatap bangunan tinggi dihadapannya. Ia tentu saja tahu gedung tinggi yang begitu familiar di negara ini.
“Aku kemarin tidak ngeh, ternyata tempatnya benar-benar Vaterham Company,” gumam Syera tak percaya.
Entah sudah ke berapa kalinya Syera membaca ulang brosur di tangannya. Ia memastikan alamat yang tertera di dalam brosur tersebut tidak salah.
Kini dosen muda itu kembali membaca alamat dan menarik napas ketika memastikan ia tak salah. Perlahan Syera melangkah ke arah pintu utama gedung tinggi Vaterham Company.
Pengalaman Syera di dunia kerja sebagai dosen sudah cukup untuk membuatnya selalul memperlihatkan senyuman dan keramahan. Meski di dunia pendidikan ia terkesan tegas, tetapi orang-orang mengenalnya ramah serta lemah-lembut.
“Kira-kira pekerjaan apa yang sedang dibuka di perusahaan besar ini? Aku jadi sedikit tidak percaya diri, kemungkinan mereka mencari karyawan bagian administrasi, tapi aku ‘kan bukan anak administrasi,” gumam Syera di sela langkahnya.
Vaterham Company adalah salah-satu perusahaan besar di negara itu. Perusahaan itu adalah pemegang utama bisnis perhotelan serta penginapan terjaya di negara tersebut.
“Maaf, permisi.” Syera akhirnya sampai ke meja resepsionis.
Seorang wanita resepsionis tersenyum kepada Syera. Meja resepsionis tersebut cukup ramai saat ini.
“Selamat siang, Nona. Ada yang bisa kami bantu?”
Syera balik tersenyum, dengan ramah ia mengulurkan brosur tadi kepada resepsionis tersebut.
“Saya ingin mencoba melamar pekerjaan yang katanya sedang dibutuhkan di sini, Mbak. Dalam brosur itu tidak diberitahukan persyaratan dan juga hal detail lain, hanya disebutkan alamatnya saja. Jadi saya ingin bertanya lebih jelas terlebih dulu, tetapi saya sudah membawa beberapa persyaratan umum yang biasa digunakan untuk melamar pekerjaan,” terang Syera dengan kalimat lemah-lembutnya.
Kening resepsionis itu terlihat berkerut memperhatikan brosur di tangannya. Ia mengangkat kepalanya dan menatap Syera dengan senyum ramah layaknya seorang resepsionis.
“Maaf, Nona. Sepertinya ini hanyalah brosur palsu yang dibuat oleh orang-orang tidak bertanggung jawab. Masalahnya saat ini perusahaan kami sedang tidak merekrut karyawan.”
Syera terkejut mendengar penjelasan resepsionis tersebut. “Ah, begitu, ya? Ha-ha, tidak heran, sih. Memang banyak brosur palsu seperti ini, kalau begitu saya permisi, Mbak. Terima kasih dan maaf karena sudah mengga—”
“Eh, tunggu, Nona!”
Kalimat Syera terhenti ketika seorang pria bergegas mendekat dari dalam ruangan resepsionis. Resepsionis wanita tadi terlihat terkejut ketika kepala resepsionis mengambil brosur di tangannya.
“Maafkah kami, ini sebenarnya benar-benar brosur resmi dari perusahaan kami. Tapi memang saya yang lalai tidak memberitahu bagian resepsionis. Mari ikut saya, Nona, saya yang akan mengantarkan Anda ke tempat wawancaranya,” tutur pria tadi ramah.
“Wawancara? Langsung wawancara, Pak? Saya belum mengantar biodata dan persyaratannya,” tutur Syera bingung.
“Masalah itu nanti akan dibahas, Nona. Kalau Nona memang bersedia dan berminat, boleh langsung masuk wawancara dulu. Nanti akan dijelaskan apa saja pekerjaan Anda, jika nanti Anda tidak berminat, bisa menolak.”
Syera mengerutkan keningnya bingung. Ia tentunya merasa aneh karena sekelas Vaterham Company terlihat begitu memudahkan orang untuk melamar pekerjaan. Namun, satu hal yang terbesit di dalam benak Syera saat ini adalah kesulitan pekerjaan tersebut.
“Aku mengira harus memasukkan surat lamaran dulu, lalu menunggu diterima atau tidak untuk tahap wawancara, lalu kalau diterima wawancara, pasti ada tahap lainnya. Aku pernah dengar kalau Vaterham Company sangat ketat dalam pemilihan pegawai, tapi kenapa sekarang malah terkesan begitu mudah? Kalau terlihat gampang begini, biasanya pekerjaannya sulit,” batin Syera menerka-nerka.
Meski merasa bingung, bimbang dan ragu, Syera memutuskan untuk mencobanya terlebih dulu. Ia sangat membutuhkan pekerjaan tambahan saat ini. Apalagi mendengar gaji karyawan di Vaterham Company sangatlah tinggi, membuat Syera berusaha untuk bisa.
Denting notifikasi lift yang ditumpanginya mengalihkan perhatian Syera. Gadis itu terkejut ketika melihat nomor lantai tujuannya. Ia menoleh ke arah kepala resepsionis di sampingnya.
“Mari, Nona, ikut saya.”
“Maaf, Pak. Tapi, setahu saya gedung ini ada lima puluh lantai.”
“Benar, Nona.”
“Lalu, sekarang kita ada di lantai ke lima puluh, artinya ini adalah ruangan presiden direktur,” tutur Syera.
“Betul, Nona.”
Syera mengerjapkan matanya beberapa kali. “L-lalu, kenapa kita ke sini, Pak? Bukannya saya akan melakukan wawancara, tidak mungkin saya wawancara di ....”
Kepala resepsionis itu tersenyum ketika Syera menghentikan kalimatnya. “Anda memang akan langsung diwawancarai oleh Presdir Vaterham, Nona.”
“Apa?” Mata Syera membulat tak percaya.
“Mari, Nona. Presdir sudah menunggu Anda, saya sudah memberitahukan beberapa menit lalu kalau Anda datang untuk wawancara mengenai brosur itu.”
Syera menunduk menatap brosur di tangannya. Gadis itu meneguk salivanya kasar, wajahnya sedikit memucat. Ia sungguh tak menyangka jika dirinya akan diwawancarai langsung oleh presiden direktur Vaterham Company.
Padahal selama presiden direktur perusahaan ini terbilang sangat sulit ditemui dan diajak berbicara. Namun, sekarang Syera malah akan berhadapan dengannya secara tatap muka.
“Rupanya tebakanku benar, hal yang terlihat gampang nyatanya tak segampang itu. Ini lah kenapa perasaanku tadi tak tenang. Astaga, bagaimana bisa aku harus wawancara dengan seseorang yang sangat berpengaruh di negara ini? Bahkan tak semua pebisnis handal bisa bertemu dengan Tuan Vaterham. Sekarang aku tanpa janji temu, tanpa rencana apa-apa, malah akan menemui dan bertatap muka dengannya?” celoteh Syera di dalam hati, tentunya ia merasa tak percaya dan gugup saat ini.
“Silakan masuk, Nona.”
Syera mematung ketika seorang sekretaris wanita membukakan pintu besar itu untuknya. Syera tersenyum kikuk kepada sekretaris tersebut.
“Tuan, nona pembawa brosur itu sudah datang.”
“Hem, keluar.”
“Baik, Tuan.” Sekretaris itu melangkah keluar dan kembali menutup pintu ruangann tersebut.
Syera masih menunduk, ia merasa kaku berada dihadapan orang berpengaruh di negara ini. Bahkan Syera tak sempat mengintip wajah presiden direktur gedung tinggi ternama ini.
“Syera Winola?”
Syera terkejut ketika pria itu menyebut namanya. Secara spontan gadis itu mengangkat kepalanya dan memandang pria yang tengah duduk di kursi kebesarannya saat ini.
Sepersekian detik dua pasang mata itu saling beradu tatap, sebelum akhirnya Syera kembali menunduk.
“Iya, Tuan. Saya Syera Winola,” balas Syera ramah. “Tapi kenapa bisa dia tahu? Sedangkan aku belum memperkenalkan diri, termasuk kepada para resepsionis tadi. Lalu, aku tidak menyangka ternyata presiden direktur Vaterham Company masih sangat muda dan—tampan. Aku selama ini berpikir jika Tuan Vaterham itu adalah bapak-bapak kepala lima beranak lima mungkin?” sambungnya berceloteh di dalam hati.
Moiz tersenyum miring melihat Syera menunduk dihadapannya. “Dia rupanya lebih cantik dilihat dari dekat,” batin Moiz.
“Duduklah, Nona Winola.” Moiz tiba-tiba berdiri, mengejutkan Syera karena pria itu mendekat ke arahnya.
“Ekhm, terima kasih, Tuan. Tapi saya sedikit bingung sampai sekarang. Katanya saya akan diwawancarai, tetapi saya malah diajak ke sini. Saya merasa, mungkin ada kesalahpahaman. Mungkin saja karyawan Anda salah orang, saya ke sini karena brosur ini.” Syera mengulurkan brosur di tangannya kepada Moiz.
Perlahan pria tampan itu meraihnya dan memandang brosur itu dengan senyum penuh makna. “Memang saya sedang mencari orang yang mendapatkan brosur ini.”
Kening Syera berkerut. “Maksudnya, Tuan?”
“Silakan duduk dulu.” Moiz melangkah ke arah single sofa di dalam ruangan itu, kemudian duduk sembari memandang Syera.
Merasa ditatap, Syera langsung bergerak ke arah sofa dan ikut duduk karena sudah dipersilakan. Pergerkaan gadis itu tentunya sangat ringan, halus dan elegan, karena Syera sudah terbiasa, meski ia sedang gugup.
Moiz memiringkan kepalanya, ia menopang dagu sembari memperhatikan Syera yang semakin tak tenang. Syera tak dapat bersuara saat ini, karena kesopanan serta tata krama dalam wawancara, ia harus menunggu pewawancara untuk mengajukan pertanyaan.
Moiz memainkan lidahnya di dalam mulut sembari menyeringai tanpa sepengetahuan Syera. “Sayang sekali nona cantik, kau harus menjadi alat balas dendamku. Kalau kau tidak banyak tingkah, wajah cantikmu ini tidak akan hancur di tanganku,” batin Moiz.
“Kenapa dia memperhatikanku sampai seperti itu? Kalau begini aku menjadi semakin tidak nyaman,” tutur Syera bermonolog di dalam hati.
Beberapa menit kondisi ruangan itu sangat hening, karena tak ada di antara mereka yang bersuara. Moiz sendiri sibuk memperhatikan wajah cantik Syera, sedangkan dosen muda itu diam dengan tenang meski ia tak nyaman.
“Baiklah, ayo menikah.”
Deg ...