Cakka menatap makanannya dengan wajah tersipu. Senyumnya terpatri nyata seiring dengan semakin dalam lesung di pipi kirinya—ada dua macam sandwich dan juga kopi. Ia masih tidak menyangka jika hari abang ojek mengantarkan untuknya. “Gemesin banget, Si Moni,” ungkapnya. “Cakka!” “Ya?” Ia menoleh menemukan sang kakak yang sepertinya akan pergi. “Nih.” Nuni memberikan dua lembar uang berwarna merah jambu. “Buat makan.” “Udah! Nggak usah.” Cakka mengelak. “Gue ada, kok. Lo tau sendiri bisnis gue mulai bagus.” “Baru mulai, kan?” Nuna meraih tangan sang adik, memberikannya dengan paksa. “Simpan dulu uang lo buat beli alat musik baru.” Kemudian tak sengaja ia membidik makanan di atas meja. “Lo udah beli makan siang?” “Hadiah.” “Oya?” Wajah cantik sang kakak membelalak antusias. Sebab, Cak

