17. Cegil vs Cogil

1240 Words

Pagi-pagi sekali, Moni terheran menemukan Nada yang sedang berkutat pada laptop. Fokus sekali. Ia sempat melirik, menelisik apa yang sedang dibukanya sehingga sangat serius. “Lo mau casting?” Seketika Nada tersentak kaget. “K-kepo banget, lo.” “Lagian fokus amat.” Moni mengambil air mineral. Kemudian ia tertegun. “Lo cari side job?” “Uhm.” Nada menjawab dengan lesu. “Gaji gue masih belum cukup buat kebetuhan pribadi sama Ayah-Ibu, adek gue. Lo juga tau, lah, namanya anak sulung. Gue juga masih beruntung, masih ada bokap yang kerja dan adek gue yang nggak rewelan kaya adek lo.” “Beuh. Adek gue bukan lagi rewel. Durhaka dia.” Moni menarik kursi di depan Nada. “Apa mau gue infoin lagi kalau ada loker freelance di sekolahan?” Nada tertawa. “Lo lupa? Gue udah apply dua kali di sekolahan l

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD