“Apa ini, Pak?” Pak Adrian menautkan alis ketika melihat kertas itu. “Kebetulan, lusa di rumah ada syukuran kelulusan Henandra, Bapak harap kamu bisa ajak ponakan kamu ini buat datang ke rumah! Siapa tahu, kita bisa jadi keluarga,” tukasnya seraya tersenyum pasti dan menatap lekat padaku. Hening sejenak, tapi kemudian Pak Adrian menatap wajah Pak Ranto. “Kalau begitu, lupakan saja, Pak. Keponakan saya sudah dijodohkan.” Pak Adrian menangkupkan tangan dan lantas berjalan kembali meninggalkan lelaki sepuh beruban itu. Padahal aku berharap banget dia bilang aku ini istrinya. Ah, mungkin benar … dia malu. Apalah aku yang hanya anak bau kencur ini di matanya, sedih. Aku berjalan murung dan mengikutinya naik ke mobil. Namun sepertinya dia melihat perubahan raut wajahku yang tak seceria

