Prolog
"TOLONG!"
Kakinya jenjangnya berlari tanpa tahu arah. Yang dipikirkannya hanya bagaimana ia bisa lepas dari kekejaman dunia yang menghantamnya kali ini.
"AXEL JANGAN LARI KAMU!"teriak seorang berbadan tegap. Gadis yang dipanggil bukannya berhenti malah semakin mempercepat laju larinya.
"Tuhan, aku mohon selamatkan aku. Berikan aku keadilan sekali saja,"lirihnya penuh harap. Merasa bahwa ia sudah melewati hari-hari yang melelahkan, dan kali ini ia hanya meminta satu pertolongan.
Tangisnya pecah, merasa sesuatu mulai mengucur dari kakinya. Gadis bernama Axel itu berhenti.
"Tolong..."lirihnya pasrah. Suara langkah mulai terdengar mendekat, gadis bermata bulat itu semakin terisak membayangkan masa depannya setelah ini.
Ia akan hancur.
Ditangan Ayahnya sendiri, Lelaki yang pertama kali melihatnya hadir di dunia. Axel, gadis bernama Axel itu sudah pasrah sekarang, mungkin ia pernah membuat sebuah kesalahan di kehidupan sebelumnya sampai harus merasakan hal seperti ini.
Ia kembali berjalan dengan langkah pelan, dihadapannya kini banyak mobil-mobil berlalu-lalang. Axel sudah membulatkan tekadnya, jika dirinya tak berhasil lolos dari genggaman Ayahnya maka mengakhiri hidup adalah jalan keluar yang Axel ambil.
"Axel! berhenti!"
Teriakan itu membuat Axel semakin ketakutan, suara yang setiap hari ia dengar,suara yang selalu membuatnya ketakutan dan di bayang-bayangi oleh kekerasan.
Ketakutan itu berubah menjadi rasa keberanian, ia harus mengakhiri hidupnya.
Selangkah lagi, namun sebuah mobil yang seharusnya menabraknya malah membanting stir kearah kanan, setelahnya Axel merasakan tarikan yang membawanya menjauh dari orang-orang yang mengejarnya.
Apa Axel lolos kali ini?