Pagi itu, udara Dagestan terasa lebih dingin dari biasanya. Langit masih keabu-abuan, enggan beranjak dari sisa malam. Arslan berdiri di halaman peternakan, memeriksa pagar kayu yang kemarin sempat patah. Napasnya keluar dalam uap tipis, sementara kuda-kuda dan domba-domba di kejauhan mulai beraktivitas.
Hari itu seharusnya berjalan seperti biasa, sampai ponselnya bergetar di saku jaket.
Sebuah notifikasi email muncul dengan subjek: "INVITATION - SELF DEFENSE SEMINAR & CHARITY EVENT - JAKARTA, INDONESIA".
Arslan terdiam sejenak. Indonesia. Ia membuka email tersebut dan membacanya perlahan. Undangan formal baginya untuk menjadi pelatih tamu dalam seminar bela diri internasional yang bekerja sama dengan lembaga amal. Mereka memuji fokus Arslan pada adab dan perlindungan terhadap yang lemah.
"Perlindungan," gumamnya pelan.
Kata itu seolah menghantam dadanya, memanggil bayangan sosok Amina yang sempat ia tolong di London.
Tak lama, Rustam, salah satu karyawan kepercayaannya yang sedang membawa peralatan bengkel, mendekat. "Kenapa melamun, Bos? Pagar itu sudah hampir rubuh, perlu dipaku ulang."
Arslan menyimpan ponselnya. "Nanti, Rustam."
Rustam mengamati raut wajah Arslan yang tampak tidak seperti biasanya. "Wajahmu seperti sedang memikirkan ulang strategi pertandingan. Ada apa?"
"Ada email undangan seminar bela diri di Indonesia," jawab Arslan singkat.
Rustam bersiul pelan. "Jauh juga. Kau tertarik?"
"Mereka akan membayar, plus untuk amal," sahut Arslan.
Rustam tersenyum tipis, memahami keraguan yang tersirat. "Kalau niatnya baik, kenapa tidak? Kalau di sana ternyata tidak ada apa-apa, setidaknya kau dapat pengalaman. Tapi kalau ada hal lain yang Allah siapkan... berarti memang Dia yang sedang menggiringmu."
Kata-kata itu membuat Arslan terdiam. Untuk pertama kalinya, ia mempertimbangkan dengan serius bahwa perjalanan ini mungkin bukan sekadar kebetulan.
Malam harinya, di ruang utama rumah batu, suasana terasa jauh lebih berat. Arslan duduk bersama Ayah dan Ibu. Setelah Arslan menjelaskan tentang undangan tersebut, suasana hening menyelimuti ruangan.
Ayah meletakkan gelas tehnya dengan denting yang cukup keras di atas meja kayu. Ia menatap Arslan dengan tatapan yang sulit diartikan—ada kekecewaan yang terselip di sana.
Mereka baru saja melewati fase yang cukup alot di mana Arslan menolak lamaran seorang gadis baik-baik yang telah dipilihkan keluarga. Bagi Ayah dan Ibu, penolakan itu adalah luka yang belum sepenuhnya kering.
"Kau menolak gadis itu," suara Ayah memecah sunyi, rendah dan penuh penekanan. "Dan sekarang, kau ingin pergi ke tempat yang sangat jauh, ke negeri yang bahkan tidak kita kenal budayanya?"
Ibu memandang Arslan, matanya berkaca-kaca. "Ibu tidak bermaksud menghalangimu, Arslan. Tapi hati kami masih sedih atas keputusanmu tempo hari. Kau bilang belum siap menikah, tapi sekarang kau justru berencana pergi ribuan kilometer jauhnya."
Arslan menunduk, merasakan sesak di dadanya. Ia tahu betapa besarnya harapan orang tuanya untuk melihatnya tenang dan menetap.
"Saya tidak bermaksud lari, Ayah, Ibu," jawab Arslan lirih. "Saya hanya merasa... jalan yang selama ini saya tempuh belum membawa saya pada jawaban atas apa yang dicari hati saya. Saya merasa perlu melakukan perjalanan ini."
Ayah menghela napas panjang, sebuah helaan napas seorang pria yang lelah namun tetap mencintai anaknya. "Pergilah jika itu memang perlu. Tapi ingat, jangan mencari jawaban di luar sana jika kau tidak berniat memperbaikinya di sini.
Kecewa kami bukan karena kau ingin pergi, tapi karena kami merasa kau sedang menjauh dari ketenangan yang sebenarnya sudah ada di depan mata."
Ibu menyentuh tangan Arslan dengan lembut. "Pergilah, Nak. Tapi jangan membawa hati yang menyimpan harapan pada manusia di sana. Jika kau memang belum siap menikah, maka jangan berikan harapan pada siapa pun yang kau temui di negeri orang. Ibu tidak ingin kau menambah luka, baik lukamu sendiri maupun luka orang lain."
Arslan mengangguk mantap, meski hatinya terasa perih. "Baik, Ibu. Saya akan menjaga amanah itu."
Dalam hati, ia memanjatkan doa yang dalam, "Ya Allah, kalau perjalanan ini hanya akan membuatku lalai, maka gagalkanlah. Tapi jika ini adalah bagian dari jalan-Mu—entah itu ujian atau jawaban atas doa—maka kuatkanlah aku."
Di belahan bumi yang lain, Jakarta sedang disapa oleh hujan sore yang deras. Amina baru saja selesai mengunci pintu toko alat tulis tempat Rahma bekerja, setelah ia menjemput adiknya itu. Mereka berdua berjalan pelan di bawah payung besar, menuju halte bus terdekat.
"Kak, tadi di toko ada brosur seminar internasional," ujar Rahma memecah keheningan. "Tentang Self Defense dan pemberdayaan perempuan. Menarik sekali, apalagi pembicaranya dari berbagai negara."
Amina menoleh sekilas, namun pikirannya masih tertuju pada beban biaya sewa rumah yang harus dibayar minggu depan. "Seminar apa lagi itu? Pasti biayanya mahal, Rahma."
"Tidak, Kak. Katanya ini acara amal. Banyak sponsor yang mendanai, jadi terbuka untuk umum dan gratis untuk pelajar atau mereka yang terdampak kekerasan rumah tangga," terang Rahma antusias. Ia mengeluarkan secarik brosur yang sudah sedikit basah di bagian ujungnya.
Amina mengambil brosur itu. Matanya menyapu deretan teks dengan lelah, hingga pandangannya berhenti pada daftar nama pelatih tamu. Jantungnya berdegup kencang seolah ada sesuatu yang menghantam dadanya.
Arslan Karataev.
Nama itu tertulis rapi di sana. Amina merasa dunianya seolah berhenti berputar selama beberapa detik. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana pria itu hadir di masa tergelapnya di London, sosok yang tidak banyak bicara namun memiliki keberadaan yang sangat kokoh—seseorang yang bahkan tidak sempat ia ucapkan terima kasih dengan layak saat ia harus pergi meninggalkan Inggris dengan terburu-buru.
"Kak? Kenapa diam?" tanya Rahma heran.
Amina segera melipat brosur itu dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Tidak apa-apa. Hanya... nama ini. Aku merasa pernah dengar namanya di masa lalu."
"Wah, mungkin itu orang penting!" Rahma tersenyum lebar. "Bagaimana kalau kita coba daftar? Siapa tahu bisa ikut sesi motivasinya. Kakak butuh healing dan penguatan, kan?"
Amina menatap rintik hujan di depannya. Pikirannya melayang pada nasihat Arslan dulu di London tentang kekuatan untuk bertahan. Ia merasa ada dorongan aneh di dalam hatinya—sebuah bisikan bahwa mungkin ini adalah kesempatan untuk menutup satu babak dari masa lalunya yang menggantung.
"Kita lihat nanti ya, Rahma," jawab Amina lirih.
Malam itu, di rumah sederhana mereka, Amina tidak bisa tidur. Ia memandangi langit-langit kamar yang temaram, memikirkan pria yang dulu pernah menjadi pelindungnya di negeri jauh itu. Ia membayangkan Arslan, yang ia tahu hidup di pegunungan jauh yang tenang, kini harus melangkah ke hiruk-pikuk kota besar Jakarta.
Apakah dia benar-benar akan datang? Jika pun dia datang, untuk apa? Dan apakah aku punya keberanian untuk menyapanya setelah semua yang terjadi padaku?
Amina menarik napas panjang, mencoba menenangkan hatinya yang bergemuruh. Ia menyadari bahwa nama itu bukan sekadar deretan huruf di atas kertas. Itu adalah sebuah babak yang belum selesai, sebuah kenangan yang kini perlahan mendekat ke ambang pintunya. Ia tidak tahu apakah ini adalah awal dari pemulihan atau justru ujian baru, tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa ada sesuatu yang dinanti dalam hidupnya yang selama ini terasa datar dan penuh duka.
Pagi itu, suasana di rumah sederhana Amina cukup riuh. Umar dan Rahma sudah bersiap sejak subuh, mengenakan pakaian rapi untuk menghadiri seminar bela diri internasional yang sempat mereka bicarakan. Amina memilih untuk tinggal di rumah, namun Usman membujuknya untuk ikut ke kajian rutin di lantai atas gedung yang sama dengan tempat seminar itu diadakan.
"Kak, sudah siap?" tanya Usman setelah memarkir motor tuanya.
Amina mengangguk, meski jemarinya yang tersembunyi di balik sarung tangan hitam meremas ujung bajunya sendiri. Saat mereka berjalan melewati lobi utama, pandangan Amina tertuju pada sebuah spanduk besar: "Guest Speaker: Arslan Karataev - International Self Defense Seminar".
Langkah Amina terhenti seketika. Namanya. Pria itu—sosok yang dulu pernah menolongnya.
"Kak?" suara Usman membuyarkan lamunan.
"Lift-nya sudah datang."
Amina mengerjapkan mata, menyadari jantungnya berdegup tidak karuan. "Iya, Man. Maaf."
Di saat yang bersamaan, dari pintu VIP, Arslan Karataev melangkah masuk. Ia baru saja tiba, dikawal oleh staf panitia. Sambil berjalan, pandangannya tidak sengaja menyapu lobi. Matanya terpaku pada seorang wanita bercadar yang sedang berdiri menunggu lift.
Cara wanita itu berdiri, ketegangan di bahunya... Arslan tidak akan pernah melupakan siluet itu. Ia adalah wanita yang dulu pernah ia tolong. Wanita yang sempat ia khawatirkan nasibnya bertahun-tahun lamanya.
Langkah Arslan melambat. Ia berhenti sejenak, membuat staf di sampingnya bingung.
"Tuan Karataev? Ada yang salah?" tanya staf tersebut.
Arslan menatap pintu lift yang mulai menutup. "Wanita itu..." gumamnya pelan. "Apakah dia salah satu peserta seminar kita?"
"Yang mana, Tuan?"
Namun, lift sudah tertutup rapat dan membawa Amina naik ke lantai atas. Arslan terdiam, menatap angka lantai yang terus beranjak naik. Ada perasaan aneh yang menjalar di dadanya—rasa lega sekaligus ingin tahu yang mendalam.
Di dalam lift, Amina bersandar pada dinding logam yang dingin. Ia meletakkan tangan di d**a, mencoba mengatur napas.
Apakah dia benar-benar pria itu? Ia merasa dunianya seolah sedang ditarik oleh benang ketetapan Allah yang tak terlihat. Ia datang ke gedung ini untuk mencari ketenangan bagi hatinya yang hancur karena rindu pada anak-anaknya, namun Allah justru mempertemukannya kembali dengan pria yang dulu pernah menjadi saksi titik terendahnya.
"Kakak tidak apa-apa?" tanya Usman khawatir. Ia tidak bisa melihat wajah Amina yang tertutup cadar, namun Usman menangkap kegelisahan dari sorot mata kakaknya yang tampak kosong dan kehilangan arah.
Amina menggeleng pelan, meski pikirannya berteriak. Jika dia di sini, apakah dia tahu bahwa aku masih terjebak dalam bayang-bayang itu? Atau apakah dia akan melihatku sebagai wanita yang sama, yang dulu pernah ia tolong?