Hari yang Arslan hindari akhirnya tiba. Pagi itu, peternakannya tampak lebih tenang dari biasanya, namun ketegangan di dalam d**a Arslan justru memuncak. Ia telah berjanji pada ayahnya untuk datang berkunjung ke rumah keluarga teman lamanya di pusat kota Makhachkala. Ini bukan sekadar kunjungan silaturahmi biasa; ini adalah "pengadilan" bagi masa depannya.
Arslan mengenakan setelan jas semi-formal berwarna abu-abu gelap, penampilannya terlihat sangat rapi dan berwibawa. Namun, saat ia menatap cermin di ruang pribadinya, ia merasa seperti sedang mempersiapkan diri untuk sebuah pertandingan berat, bukan pertemuan yang penuh kehangatan.
Dalam perjalanan menuju kota, Arslan mengendarai mobilnya sendiri. Ia membiarkan jendela terbuka, membiarkan udara pegunungan yang dingin menerpa wajahnya. Ia memikirkan sosok wanita yang akan ia temui nanti, Zoya. Ayahnya sering membanggakan kecerdasan dan latar belakang keluarga Zoya yang sangat terpandang.
Setibanya di rumah mewah keluarga tersebut, Arslan disambut dengan sangat hangat oleh teman ayahnya. Rumah itu begitu megah, dengan interior yang sangat klasik dan tertata rapi, sangat kontras dengan kediaman Arslan yang lebih bernuansa kayu dan alam.
"Arslan, selamat datang! Kami sudah menunggumu," sapa sang tuan rumah dengan senyum lebar.
Di ruang tamu yang luas, Arslan diperkenalkan kepada Zoya. Wanita itu tampak anggun dengan pakaian yang sangat modis, duduk dengan posisi yang sempurna. Saat tatapan mereka bertemu, Arslan memberikan senyum sopan yang sangat terjaga. Ia tidak merasakan ketertarikan, hanya tanggung jawab yang berat untuk tidak bersikap kasar.
Selama jamuan makan siang, percakapan mengalir begitu saja. Ayah Arslan dan teman lamanya sibuk membahas politik dan ekonomi, sementara Arslan lebih banyak mendengarkan. Zoya sesekali melontarkan pertanyaan tentang bisnis otomotif Arslan. Arslan menjawab dengan tenang, jujur, namun sangat hati-hati.
Di balik ketenangan wajahnya, pikiran Arslan melayang jauh ke Jakarta. Ia membayangkan Amina yang mungkin sedang menata pajangan di toko pakaian muslim, berjuang dengan peluh sendiri. Kontras antara kemewahan di ruang makan ini dan perjuangan hidup Amina membuat Arslan merasa sangat terasing.
"Zoya, mengapa tidak mengajak Arslan melihat kebun bunga di halaman belakang? Kalian butuh waktu untuk berbicara lebih santai," ujar ibu Zoya dengan nada yang sangat jelas maksudnya.
Arslan menghela napas pelan. Ini adalah momen yang ia takutkan. Ia pun berdiri dengan sopan dan mempersilakan Zoya. Saat mereka berjalan menuju halaman belakang yang luas dan tertata indah, Arslan tahu bahwa di sana, di bawah tatapan orang tua mereka dari balik kaca jendela, ia harus menentukan sikap.
Apakah ia akan berpura-pura mengikuti arus, atau ia akan jujur pada dirinya sendiri—bahwa hatinya saat ini sedang berada di tempat yang sangat jauh, di sebuah toko kecil di Jakarta, bersama seseorang yang sedang berusaha bangkit dari kehancuran?
Kebun bunga di belakang rumah Zoya tertata begitu rapi, setiap tanaman tampak dirawat dengan tangan-tangan ahli. Namun, bagi Arslan, keindahan yang terlalu teratur ini justru terasa menyesakkan. Zoya berjalan di sampingnya dengan langkah yang anggun, aroma parfum yang lembut menguar dari tubuhnya.
"Kebun ini adalah kebanggaan Ibu," Zoya membuka percakapan dengan nada tenang. "Ayahmu bilang kau sangat menyukai ketenangan. Apakah peternakanmu juga memiliki suasana seperti ini?"
Arslan berhenti di dekat sebuah bangku kayu putih. Ia menatap hamparan bunga di depannya tanpa benar-benar melihatnya. "Peternakan saya jauh lebih liar, Zoya. Lebih banyak debu, suara kuda, dan aroma tanah basah setelah hujan. Jauh dari kesan... teratur seperti ini."
Zoya terkekeh pelan. "Itu terdengar menantang. Mungkin itu sebabnya kau dikenal sebagai pria yang tangguh di dunia olahraga."
Arslan tidak menjawab pujian itu. Ia memutar tubuhnya, menatap Zoya dengan pandangan yang jujur namun tetap menjaga sopan santun. "Zoya, saya sangat menghormati keluargamu dan Ayah saya. Namun, saya adalah pria yang menghargai kejujuran di atas segalanya."
Zoya tampak terkejut, namun ia tetap tenang. Ia menunggu Arslan melanjutkan.
"Saya datang hari ini karena kewajiban seorang anak," suara Arslan rendah dan tegas. "Saya tidak ingin membuang waktumu dengan berpura-pura bahwa saya datang untuk mencari pendamping hidup dengan harapan yang sama seperti yang diinginkan orang tua kita."
"Apakah kau sedang mengatakan bahwa kau tidak tertarik pada saya?" tanya Zoya, suaranya sedikit bergetar, namun tatapannya tetap tajam.
"Saya tidak mengatakan Anda tidak baik, Zoya. Anda sangat luar biasa," jawab Arslan cepat. "Hanya saja... hati saya saat ini sedang tidak berada di tempat yang memungkinkan untuk membangun hubungan baru. Saya memiliki komitmen lain yang harus saya selesaikan dengan diri saya sendiri sebelum saya bisa membuka pintu bagi orang lain."
Zoya terdiam sejenak. Ia menatap Arslan seolah sedang membaca sesuatu yang tersembunyi di balik mata pria itu. "Komitmen yang dimaksud? Apakah itu bisnis? Atau ada hal lain yang tidak bisa kau ceritakan?"
Arslan teringat Amina—seorang wanita yang berjuang di tengah kota besar sendirian, tanpa perlindungan dan tanpa kemewahan. "Itu sesuatu yang sangat pribadi. Dan saya tidak ingin memulai sebuah hubungan di atas fondasi ketidakjujuran."
Zoya menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis—kali ini senyum yang lebih tulus. "Kau pria yang aneh, Arslan. Kebanyakan pria di posisimu akan mencoba memenangkan hati saya hanya untuk menyenangkan orang tua mereka. Kau justru memilih untuk jujur, meski itu membuatmu terlihat tidak sopan di mata mereka."
"Sopan atau tidak, kejujuran adalah satu-satunya hal yang saya miliki," pungkas Arslan.
Zoya mengangguk, menyiratkan bahwa pembicaraan ini sudah sampai pada titik akhirnya. Mereka berdiri di sana dalam keheningan yang cukup lama, di bawah tatapan orang tua mereka dari balik kaca jendela yang kini tampak seperti penonton dalam sebuah sandiwara yang hampir selesai.
Begitu Arslan dan Zoya kembali masuk ke ruang tamu, atmosfer di ruangan itu berubah drastis. Ayah Arslan dan ayah Zoya yang sedari tadi berbincang dengan antusias, kini menatap keduanya dengan tatapan penuh selidik. Ibu Zoya menyambut dengan senyum tipis yang tampak sedikit dipaksakan, seolah ia bisa merasakan bahwa percakapan di kebun tadi tidak berjalan seperti yang direncanakan.
"Bagaimana? Apakah kalian sudah menemukan keselarasan?" tanya ayah Arslan, suaranya sarat dengan harapan yang begitu besar.
Arslan berdiri tegak, tangannya terselip di saku celana. Ia bisa merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya, namun tatapannya tetap tenang. Ia tidak akan membiarkan ayahnya jatuh pada ilusi yang ia buat sendiri.
"Zoya adalah wanita yang sangat luar biasa, Ayah," ujar Arslan dengan nada formal namun tegas. "Tapi, saya sudah jujur padanya. Saya tidak ingin menjadi pria yang memberikan harapan palsu, apalagi di hadapan keluarga yang saya hormati ini."
Ruangan itu mendadak hening. Ayah Arslan yang wajahnya tadi cerah, perlahan meredup. "Apa maksudmu, Arslan? Kau tidak menghargai waktu mereka?"
"Justru karena saya menghargai mereka, saya tidak bisa berpura-pura, Ayah," jawab Arslan tenang. "Saya tidak bisa memulai sebuah hubungan jika hati saya sendiri belum siap. Saya tidak ingin merusak kebahagiaan orang lain hanya karena tuntutan yang sebenarnya tidak adil bagi Zoya."
Zoya, yang berdiri di samping Arslan, akhirnya angkat bicara. "Ayah, Ibu... Arslan benar. Kami sudah berbicara, dan saya sangat menghargai kejujurannya. Mungkin, kami memang tidak memiliki kecocokan yang diharapkan oleh kalian."
Ayah Zoya hanya terdiam, wajahnya tampak kecewa namun ia tidak menunjukkan kemarahan yang meledak-ledak. Ia pria yang memahami prinsip, meski hatinya pasti merasa tersinggung.
Ayah Arslan bangkit berdiri, raut wajahnya menunjukkan rasa malu yang mendalam. "Saya mohon maaf atas perilaku putra saya. Saya tidak menduga dia akan bersikap sekeras ini."
"Tidak perlu meminta maaf, Ayah," sela Arslan dengan nada penuh hormat. "Saya hanya ingin menjadi pria yang memegang janji saya pada diri sendiri. Saya janji untuk memberi tahu Ayah jika saya sudah menemukan kesiapan itu, dan hari ini saya menyadari bahwa saya belum sampai di titik itu."
Arslan menunduk hormat kepada keluarga Zoya, lalu berbalik dan berjalan keluar tanpa menoleh ke belakang. Di dalam mobil, ia memukul setir dengan telapak tangannya satu kali. Ia tahu, perjalanan pulang akan menjadi momen yang sangat canggung dan berat bersama ayahnya di dalam mobil. Namun, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, beban di pundaknya sedikit terangkat.
Ia baru saja memilih untuk menghadapi kemarahan keluarganya demi kejujuran. Kini, ia hanya berharap bahwa tindakannya hari ini adalah langkah yang benar—langkah yang mendekatkannya pada sosok wanita yang tanpa sadar telah mengubah cara pandangnya tentang hidup: Amina, yang di belahan bumi lain, sedang berjuang dengan kejujuran yang sama di tengah kerasnya pasar Jakarta.