Bab 11: Bayang-Bayang dari Jauh

1378 Words
​Di Dagestan, musim panas mulai berada di puncaknya. Udara di perbukitan terasa lebih kering dan hangat. Arslan baru saja menyelesaikan sesi latihan rutinnya di private gym. Keringat membasahi kaos hitamnya, menonjolkan otot-otot yang terbentuk sempurna hasil disiplin bertahun-tahun. ​Ia berjalan menuju area balkon, mengambil handuk, dan membasuh wajahnya dengan kasar. Pikirannya tidak sedang tertuju pada bisnis otomotif yang sedang ia kembangkan atau pada teguran halus orang tuanya soal pernikahan. Pikirannya melayang pada sebuah nama yang sudah beberapa bulan tidak ia dengar kabarnya. ​Arslan meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja kayu. Ia membuka aplikasi pesan singkat dan menekan profil Abdul Latif. ​ Apakah ia sudah punya kabar tentang kondisi Amina di Jakarta? pikirnya. ​ Arslan bukan pria yang gemar mencampuri urusan orang lain. Baginya, membantu Amina di London adalah tugas kemanusiaan yang sudah selesai. Namun, ia tidak bisa memungkiri ada satu bagian dalam dirinya yang merasa perlu memastikan wanita itu baik-baik saja.​ Ponselnya bergetar. Sebuah balasan masuk dari Abdul Latif: ​ "Arslan, aku baru saja menerima kabar dari istriku. Amina sudah mulai bekerja di sebuah toko pakaian muslim di Jakarta. Dia menolak menggunakan bantuan finansial yang kita berikan, dia bersikeras ingin mandiri demi memperjuangkan hak asuh anak-anaknya. Istriku sangat bangga padanya, tapi jujur aku khawatir, hukum di sana sangat berat bagi seorang ibu tanpa dukungan dana yang cukup." ​Arslan membaca pesan itu dengan tatapan datar. Namun, di balik sikap tenangnya, ada sesuatu yang bergejolak di dadanya. Mandiri, pikirnya. Kata itu memiliki bobot yang besar bagi seorang pria seperti Arslan yang juga membangun segalanya dengan keringat sendiri. ​Ia meletakkan ponselnya, lalu menatap hamparan padang rumput di luar jendela. Ia membayangkan Amina, seorang wanita yang pernah ia temukan dalam kondisi terpuruk, kini sedang berjuang di sebuah toko di Jakarta demi mendapatkan kembali hak yang direnggut darinya. ​Arslan tahu persis bagaimana rasanya berjuang sendiri. Ia tahu bagaimana rasanya ketika dunia seolah menuntut bukti nyata atas keberadaan kita. ​ "Toko pakaian," gumam Arslan pelan. ​Tiba-tiba, suara pintu ruang latihan diketuk pelan. Itu suara ibunya. ​ "Arslan, apakah kau di dalam?" ​Arslan segera memakai kembali kaosnya dan membuka pintu. Ibunya berdiri di sana dengan senyum teduh. ​ "Ayahmu sedang menyiapkan kunjungan keluarga teman Ayah yang kemarin kita bicarakan. Mereka akan datang akhir pekan ini. Ibu hanya ingin mengingatkanmu untuk bersiap." ​Arslan terdiam sejenak. Akhir pekan ini. Janji yang ia buat dengan orang tuanya untuk mulai mempertimbangkan calon istri mulai menagih waktu. Ia menatap ibunya dengan pandangan yang sulit diartikan. ​ "Ibu, beri saya waktu sedikit lebih lama. Saya hanya ingin memastikan bahwa segala hal yang saya mulai, bisa saya selesaikan dengan cara yang benar." ​ Ibunya menatap putranya dengan penuh kasih sayang, namun ada nada prihatin di matanya. "Arslan, kau adalah pria yang bertanggung jawab. Tapi jangan sampai tanggung jawab itu membuatmu lupa untuk hidup bagi dirimu sendiri." ​Arslan hanya mengangguk pelan, membiarkan ibunya pergi. Ia kembali ke balkon, menatap jauh ke arah ufuk. Ia sadar, ia harus membuat keputusan besar dalam hidupnya, sementara di belahan dunia lain, seseorang yang pernah ia tolong sedang berjuang keras untuk mempertahankan sisa hidupnya. ​ ​Arslan terduduk di kursi kerja kantor pribadinya. Ruangan itu luas, didominasi material kayu solid dengan pemandangan pegunungan yang menenangkan. Namun, hari ini pemandangan itu terasa hambar. Ia membuka laptopnya, menatap beberapa laporan keuangan dari bisnis otomotifnya di Makhachkala, namun pikirannya terus kembali pada satu poin: kemandirian Amina. ​ "Kerja di toko pakaian," gumamnya sekali lagi, seolah sedang menimbang beban kalimat tersebut. ​ Arslan tahu persis apa arti berjuang dari bawah. Ia tidak dilahirkan dalam kemewahan instan; peternakan dan kerajaan bisnisnya adalah hasil dari kerja keras yang tidak mengenal kata lelah. Ia menghargai kerja keras itu lebih dari apa pun. Ia tidak ingin memberikan bantuan berupa uang lagi kepada Amina, karena ia tahu itu akan melukai martabat wanita tersebut. Justru, ia ingin memberikan sesuatu yang lebih berharga: sebuah kesempatan. ​ Ia mengetik pesan kepada salah satu rekan bisnisnya di Jakarta, seorang pengusaha di bidang distribusi tekstil dan fashion muslim yang cukup besar. Arslan tidak meminta untuk memberikan pekerjaan cuma-cuma, melainkan ia meminta bantuan untuk memantau situasi di lapangan secara tidak langsung tanpa mengganggu privasi wanita itu. ​ Setelah mengirim pesan, Arslan bersandar di kursi. Ia merasa sedikit lebih lega. Ia tidak melanggar prinsipnya untuk tidak mencampuri urusan orang lain secara berlebihan, namun setidaknya ia telah memastikan bahwa seseorang yang ia hormati punya akses bantuan jika terjadi sesuatu yang fatal. ​ Tiba-tiba, suara ketukan pintu kembali terdengar. Kali ini bukan ibunya, melainkan kakak laki-lakinya yang sudah berada di ambang pintu dengan wajah serius. ​ "Arslan, Ayah sudah mulai menghubungi teman lamanya itu. Dia berharap kau benar-benar bersedia bertemu putrinya akhir pekan ini," ujar kakaknya dengan nada memperingatkan. ​ Arslan menghembuskan napas panjang. Ia menatap kakaknya dengan tatapan tajam yang membuat sang kakak terdiam sejenak. "Aku sudah berjanji pada Ayah, dan aku akan menepatinya. Tapi aku punya syarat." ​ "Syarat apa?" ​ "Pertemuan itu akan berjalan sesuai dengan caraku. Aku tidak akan membiarkan ada tekanan, apalagi pengaturan pernikahan yang terburu-buru. Jika di antara kami tidak ada kecocokan, aku berharap Ayah tidak memaksaku untuk melanjutkannya." ​ Kakaknya menghela napas, tampak lelah dengan sifat keras kepala adiknya. "Kau tahu Ayah. Dia hanya ingin kau tidak sendirian selamanya." ​ "Aku tidak sendirian," jawab Arslan pelan. "Aku hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk fokus pada hal yang benar-benar penting." ​ Setelah kakaknya pergi, Arslan kembali menatap layar laptopnya. Ia menyadari bahwa hidupnya kini terbagi menjadi dua dunia yang berbeda. Dunia di sini, di bawah kaki pegunungan Kaukasus yang menuntutnya untuk segera menikah, dan dunia di Jakarta, di mana seseorang sedang berjuang untuk bertahan hidup demi anak-anaknya. ​Ia menutup laptopnya dengan dentuman halus. Ia memutuskan untuk tidak memikirkan masa depan dulu. Untuk saat ini, ia harus bersiap menghadapi pertemuan akhir pekan nanti, sebuah pertemuan yang ia tahu akan menjadi awal dari ujian kesabarannya yang sesungguhnya. ​ ​Sore itu, suasana di peternakan milik Arslan tampak lebih tenang dari biasanya. Arslan keluar dari rumah kayu log cabin miliknya menuju area kandang kuda. Di sana, ia terbiasa melepaskan kepenatan dengan memacu kudanya menembus perbukitan yang kini mulai diselimuti warna keemasan saat matahari perlahan turun. ​ Ia menaiki kuda Arab kesayangannya. Sesaat sebelum ia menarik tali kendali, pikirannya kembali pada percakapan dengan Abdul Latif. Arslan adalah pria yang sangat mandiri dan menjaga jarak, ia tidak memiliki koneksi atau rekan bisnis di Jakarta yang bisa ia mintai tolong untuk memantau seseorang. Dunianya terbatas pada Kaukasus dan bisnis otomotifnya yang ia kelola dari pusat kota Makhachkala. ​ Arslan menghela napas panjang. Ia merasa frustrasi dengan keterbatasannya sendiri. Keinginan untuk memastikan Amina aman di Jakarta hanyalah bisikan nurani yang tidak bisa ia tindaklanjuti dengan tindakan nyata. Ia tidak ingin menggunakan perantara, dan ia pun tidak punya akses ke sana tanpa harus melanggar privasi wanita itu atau menyinggung martabatnya dengan bantuan yang tidak diinginkan. ​Ia menarik tali kendali, lalu memacu kudanya dengan kecepatan tinggi. Angin pegunungan menerpa wajahnya, mendinginkan pikiran yang sempat panas karena tuntutan keluarga. ​ Arslan tahu, pertempuran yang sebenarnya bukan di arena jiu-jitsu atau di papan catur bisnis, melainkan di dalam dirinya sendiri. Ia harus segera menjawab tuntutan orang tuanya, sementara di sisi lain, ia merasa bahwa setiap langkah yang ia ambil di Dagestan terasa seperti sedang menjauhkannya dari nuraninya sendiri. ​ "Siapa sebenarnya yang sedang aku tunggu?" tanyanya dalam hati saat kuda itu melambat di puncak bukit. ​Ia memandang hamparan luas tanah miliknya, tempat di mana ia merasa paling kuat dan paling aman. Namun, di balik kemegahan rumah dan peternakan ini, ia merasa ada ruang kosong yang belum terisi. Arslan sadar bahwa ia hanya bisa memanjatkan doa untuk keselamatan Amina dari jauh. Ia tidak punya kekuatan untuk menjangkau Jakarta secara fisik maupun melalui tangan orang lain. ​ Malam mulai turun, menyelimuti Kaukasus dengan kabut tipis. Arslan kembali ke rumah, membersihkan diri, dan menyiapkan pakaian terbaiknya untuk pertemuan akhir pekan. Ia akan menghadapi keluarga teman ayahnya dengan kepala tegak, namun ia juga sudah menyiapkan satu komitmen di dalam hatinya: ia tidak akan mengorbankan integritasnya hanya demi sebuah status pernikahan yang tidak berdasar pada ketulusan. ​Ia meletakkan ponselnya di meja, tepat di samping foto kecil turnamen terakhirnya di London. Kenangan tentang misi penyelamatan itu masih membekas. Ia tahu, hidupnya mungkin tidak akan pernah sama lagi setelah hari itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD