Udara Jakarta yang panas dan lembap menyambut Amina begitu ia melangkah keluar dari pintu kedatangan internasional Bandara Soekarno-Hatta. Riuh rendah suara orang-orang, deru kendaraan, dan aroma khas tanah air seolah memeluknya dengan paksa, menyadarkannya bahwa pelariannya di London benar-benar telah usai.
Di balik kerumunan, ia hanya melihat tiga wajah yang sangat ia kenali. Usman, Umar, dan Rahma berdiri dengan mata sembab namun berbinar penuh harap. Tidak ada sosok ayah atau ibu yang menjemput, karena memang sudah lima tahun sejak mereka berempat menjadi yatim piatu setelah kedua orang tua mereka wafat di tahun yang sama. Begitu mata mereka bertemu, tangis pecah tanpa bisa dibendung. Amina berlari kecil ke arah mereka, membiarkan ketiga adiknya memeluknya erat di tengah keramaian bandara.
"Kakak pulang... Kakak benar-benar pulang," isak Rahma, adik bungsunya, sambil membenamkan wajah di bahu Amina.
Amina hanya bisa mengangguk, air matanya membasahi cadar yang ia kenakan. "Iya, Kakak pulang. Maafkan Kakak karena baru sekarang bisa kembali menemani kalian."
Usman, yang kini sudah tumbuh menjadi pemuda yang gagah, mengambil alih koper besar milik Amina. "Jangan minta maaf, Kak. Kami tahu Kakak juga menderita di sana. Yang penting Kakak sudah aman di sini. Ayo, kita pulang ke rumah peninggalan Ayah dan Ibu."
Perjalanan menuju rumah mereka di daerah Jakarta Timur terasa begitu emosional. Rumah yang dulu hangat oleh kehadiran orang tua mereka kini tampak sedikit menua, namun kenangannya tetap hidup. Amina menatap jalanan yang ia rindukan, namun di balik rasa haru itu, ada satu beban yang masih menghimpit dadanya. Statusnya kini bukan lagi istri dari seorang pengusaha di Inggris, melainkan seorang wanita yang pulang dengan luka yang dalam dan tanggung jawab besar sebagai kakak tertua.
Malam harinya, setelah makan malam sederhana yang mereka siapkan bersama, Amina duduk di kamar lamanya. Kamar itu masih sama, tidak ada yang berubah, seolah-olah waktu berhenti berputar sejak ia pergi lima tahun lalu.
Amina membuka ponselnya, menatap daftar kontak yang masih sangat kosong. Ia teringat pesan dari Ibu Maryam bahwa Arslan sudah mendarat di Dagestan. Amina menghela napas panjang. Ia ingin sekali berterima kasih secara langsung atas bantuan besar yang ia terima, namun ia sadar akan batasannya.
"Usman," panggil Amina pelan saat melihat adiknya itu lewat di depan kamar.
Usman masuk dan duduk di tepi tempat tidur. "Iya, Kak? Ada yang bisa Usman bantu?"
Amina menatap adiknya dengan serius. "Kakak tidak ingin terus-terusan meratapi apa yang terjadi di London. Kakak ingin mulai menata hidup lagi. Kakak harus segera mencari pekerjaan agar bisa membantu kalian, dan mungkin, suatu hari nanti, mengumpulkan uang untuk memperjuangkan hak asuh anak-anak di pengadilan."
Usman mengangguk mantap. "Kami semua akan bantu, Kak. Apapun yang Kakak butuhkan, bilang saja. Kita akan hadapi ini bersama-sama, seperti yang selalu Ayah dan Ibu ajarkan."
Amina tersenyum tipis, senyuman pertama yang terasa tulus setelah sekian lama. Ia tahu jalannya masih panjang dan terjal. Namun, berada di rumah peninggalan orang tua mereka memberikan kekuatan yang tidak ia miliki saat masih berada di bawah bayang-bayang Ethan.
Ia mematikan lampu kamar, mencoba untuk tidur. Di kegelapan malam Jakarta, Amina berbisik dalam hati, memohon agar langkah pertamanya di tanah air ini diberkahi, dan agar ia bisa menjadi sosok pengganti orang tua yang kuat bagi ketiga adiknya.
Pagi pertama di Jakarta tidak semudah yang Amina bayangkan. Meskipun suara azan subuh dari masjid dekat rumah memberikan ketenangan yang sudah lama tidak ia rasakan, kenyataan pahit mulai mengetuk pintunya.
Amina duduk di meja makan kecil di rumah sederhana peninggalan orang tuanya yang kini hanya dihuni bersama ketiga adiknya. Sebagai anak sulung yang sudah yatim piatu, ia merasa memikul beban yang sangat berat. Ia melihat ke arah Usman, Umar, dan Rahma yang menatapnya penuh harap.
Di atas meja, tergeletak sebuah amplop berisi uang fisik dalam mata uang Poundsterling yang diberikan oleh Ibu Maryam dan Abdul Latif tepat sebelum keberangkatannya. Itu adalah pemberian yang sangat besar, hasil kedermawanan mereka dan juga Arslan. Namun, Amina justru memandang amplop itu dengan perasaan campur aduk.
"Ternyata jauh lebih sulit dari yang Kakak kira," ujar Amina pelan. Ia menyentuh pinggiran amplop itu, namun tidak membukanya. "Selama di London, Ethan yang memegang kendali atas segalanya. Sekarang, setelah memegang uang ini sendiri, Kakak justru merasa enggan memakainya."
"Kenapa, Kak? Itu kan bantuan untuk Kakak mulai hidup baru," tanya Usman bingung.
Amina menarik napas panjang. "Kakak merasa sudah berhutang terlalu banyak kepada Ibu Maryam, Abdul Latif, dan Tuan Arslan. Mereka sudah menyelamatkan nyawa Kakak. Kakak tidak mau terus-terusan berhutang budi atau bergantung pada uang bantuan. Kakak ingin berdiri di atas kaki sendiri dengan hasil kerja Kakak sendiri."
Tiba-tiba, ponselnya berbunyi. Sebuah notifikasi email masuk. Dengan tangan gemetar, Amina membuka pesan dari pengacara keluarga Ethan di London. Matanya memanas saat membaca baris demi baris kalimat formal yang dingin.
Berdasarkan keputusan sementara, hak asuh penuh jatuh ke tangan Ethan. Amina dianggap tidak memiliki kemandirian finansial dan tempat tinggal yang stabil untuk menjamin kesejahteraan anak-anak di masa depan.
Amina menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Isak tangisnya pecah di hadapan adik-adiknya. Dunianya seolah runtuh. Ethan menggunakan status finansialnya sebagai senjata untuk menjauhkan anak-anak dari ibu kandungnya sendiri.
"Kak, jangan menangis," Rahma mencoba menenangkan sambil mengusap punggung kakaknya.
Amina menghapus air matanya dengan kasar. Rasa sedih itu kini perlahan berubah menjadi tekad yang membara. Ia teringat kembali pada pesan Arslan: Jangan pernah menyerah pada keadaan. Pria itu tidak menyelamatkannya hanya untuk melihatnya kalah oleh email ancaman.
"Kakak tidak akan memakai uang ini kecuali untuk keadaan yang benar-benar darurat," tegas Amina sambil menyimpan amplop itu ke tempat yang aman. "Kakak harus bekerja. Kakak harus punya penghasilan dari keringat Kakak sendiri supaya pengadilan tahu bahwa Kakak mampu menghidupi anak-anak."
Amina menyadari bahwa sebagai lulusan SMA, ia harus realistis. Ia tidak punya waktu untuk memilih-milih pekerjaan. Ia butuh langkah nyata.
"Besok Kakak akan keliling pasar di daerah sini. Kakak dengar ada toko pakaian muslim yang sedang mencari tenaga bantuan. Kakak akan mulai dari sana," katanya pada adik-adiknya dengan sorot mata yang penuh tekad.
Ia menatap foto anak-anaknya di layar ponsel yang kini terasa sangat jauh. "Satu hari nanti, Kakak akan jemput kalian dengan uang hasil kerja Kakak sendiri. Kakak janji."
Keesokan harinya, matahari Jakarta sudah terasa menyengat meski waktu baru menunjukkan pukul delapan pagi. Amina melangkah dengan gamis hitam sederhana dan khimar yang menutup auratnya dengan rapi. Ia tidak membawa tas besar, hanya dompet kecil berisi identitas diri dan semangat yang ia paksa untuk tetap tegak.
Ia menyusuri deretan ruko di kawasan pusat perbelanjaan pakaian muslim. Ia berhenti tepat di depan sebuah toko yang cukup ramai. Di kaca depannya tertempel selebaran kertas bertuliskan: Dibutuhkan Karyawan Toko.
Amina menarik napas dalam, memantapkan hatinya, lalu melangkah masuk. Aroma kain baru dan dupa lembut menyambutnya. Seorang wanita paruh baya, pemilik toko, sedang sibuk melipat tumpukan jilbab di meja panjang.
"Permisi, Bu," sapa Amina dengan suara yang berusaha ia buat setenang mungkin.
Pemilik toko menoleh, menatap Amina dari atas ke bawah. "Ya, cari apa?"
"Saya melihat selebaran di depan, Bu. Saya bermaksud melamar untuk posisi karyawan toko," ujar Amina sopan.
Wanita itu berhenti melipat. Ia meletakkan jilbabnya lalu menatap Amina lebih intens. "Kamu tinggal di mana? Pendidikan terakhir apa?"
"Saya tinggal tidak jauh dari sini, Bu. Pendidikan terakhir saya SMA," jawab Amina jujur. Ia tidak ingin berbohong tentang masa lalunya.
"Kamu terlihat sopan, dan saya suka cara kamu bicara. Tapi jujur saja, di sini kerjanya keras. Harus angkat dus stok, berdiri hampir delapan jam, dan melayani pelanggan yang kadang cerewet. Kamu sanggup?"
Amina mengangguk mantap. "Saya sanggup, Bu. Saya tidak mencari pekerjaan yang mudah, saya hanya mencari pekerjaan yang halal dan bisa saya kerjakan dengan sungguh-sungguh."
Wanita itu tersenyum tipis. "Baiklah. Nama kamu siapa?"
"Amina, Bu."
"Saya Bu Hajah Ratna. Mulai hari ini kamu bisa bantu-bantu di sini. Gaji harian dulu selama masa percobaan satu bulan. Kalau saya lihat kerjamu bagus, kita bicarakan kontrak tetap. Bisa mulai besok?"
"Alhamdulillah, bisa, Bu. Terima kasih banyak," jawab Amina, matanya berkaca-kaca karena haru.
Sepanjang perjalanan pulang, Amina merasa bebannya sedikit berkurang. Ia tidak lagi duduk termenung meratapi email dari pengacara Ethan. Kini, ia punya jadwal, punya tanggung jawab, dan punya tujuan. Uang hasil keringatnya nanti akan ia simpan dengan rapi, terpisah dari uang bantuan yang ia terima dari London.
Sesampainya di rumah, ia disambut oleh wajah-wajah penuh harap adik-adiknya. Tanpa perlu ditanya, Amina tersenyum lebar.
"Kakak dapat pekerjaan, Man. Mulai besok Kakak kerja di toko pakaian muslim," ucapnya.
Usman dan adik-adiknya tampak lega, namun Amina tahu ini hanyalah permulaan. Ia melangkah menuju kamarnya, mengeluarkan amplop berisi Poundsterling dari persembunyiannya. Ia memandang uang itu sekali lagi, lalu menyimpannya lebih dalam ke dasar lemari. Uang itu akan tetap menjadi saksi bisu kebaikan hati Arslan, namun ia bertekad bahwa saat ia nanti berdiri di depan hakim, ia akan membawa bukti bahwa ia adalah seorang ibu yang mandiri, yang menghidupi anak-anaknya dari hasil keringat sendiri.
Amina mengambil cermin kecil, merapikan letak cadarnya, dan menatap matanya sendiri. Ia melihat wanita yang dulu rapuh, namun kini sedang ditempa oleh keadaan untuk menjadi baja.