Seminar bela diri telah usai, namun Arslan Karataev masih terjebak dalam pikirannya sendiri. Ia menolak ajakan makan siang dari para panitia, memilih untuk menyendiri sejenak di koridor dekat area lift. Kepalanya penuh dengan bayangan wanita bercadar yang ia lihat di lobi tadi pagi—siluet yang sama dengan wanita yang dulu ia tolong saat dunia seolah merenggut segalanya dari tangan wanita itu.
Sementara itu, di lantai atas, kajian rutin telah selesai. Amina melangkah keluar dari aula masjid bersama Usman. Ia merasa sedikit lebih tenang setelah mendengar tausiyah, meskipun bayangan Arslan di lantai bawah masih sesekali melintas di benaknya.
"Kita langsung pulang, Kak?" tanya Usman.
"Iya, Man. Aku hanya ingin segera istirahat," jawab Amina pelan.
Mereka pun berjalan menuju lift. Saat pintu lift terbuka di lantai dasar, suasana lobi sudah jauh lebih lengang dibandingkan pagi tadi. Amina melangkah keluar dengan tatapan yang tetap tertunduk, sementara Usman berjalan sedikit di belakangnya.
Di ujung koridor lobi, Arslan yang hendak melangkah menuju pintu keluar tiba-tiba menghentikan langkahnya. Matanya tertuju pada sepasang sosok yang baru saja keluar dari lift. Ia tidak tahu mengapa, tapi ia merasa harus memanggil wanita itu.
"Permisi..." suara berat itu terdengar, menghentikan langkah Amina.
Amina membeku. Suara itu. Suara yang dulu membelanya dengan dingin namun penuh wibawa di depan mantan suaminya. Tubuhnya gemetar hebat, ia tidak berani menoleh.
"Maaf mengganggu," lanjut Arslan, kini melangkah mendekat dengan sopan, menjaga jarak beberapa meter. "Saya tidak bermaksud lancang, tapi... apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"
Usman, yang menyadari situasi tidak biasa ini, segera berdiri sedikit di depan kakaknya, menatap Arslan dengan waspada namun tetap tenang. "Maaf, Tuan. Anda siapa dan ada keperluan apa dengan kakak saya?"
Arslan terdiam sejenak, menatap Usman lalu beralih ke sosok wanita di belakangnya. "Saya Arslan. Saya tidak bermaksud buruk. Hanya saja... ada kenangan yang membuat saya merasa harus memastikan sesuatu."
Amina perlahan mengangkat wajahnya, meski cadarnya tetap terpasang. Pandangan mereka bertemu. Mata Arslan yang tajam kini menatap mata Amina yang teduh namun menyimpan samudera kesedihan yang dalam. Seketika, Arslan tahu. Ia tidak salah.
"Anda..." Arslan tertegun. "Wanita di halte bus itu. Anda yang dulu..."
Dunia seolah berhenti bagi Amina. Ia tidak menyangka akan berhadapan langsung dengan orang yang menjadi saksi saat ia berada di titik paling rendah dalam hidupnya—saat ia diusir tanpa membawa apa pun, malam itu.
"Tuan salah orang," suara Amina bergetar, berusaha menahan tangis yang mendesak naik. Ia tidak ingin Arslan melihatnya dalam kondisi serapuh ini, apalagi di depan adiknya.
Namun, Arslan tidak tertipu. Ia melihat ketakutan di mata wanita itu—bukan ketakutan terhadap dirinya, melainkan ketakutan karena harus mengingat kembali masa lalu yang pedih.
"Saya tidak salah," balas Arslan lembut, suaranya kini lebih rendah, penuh hormat. "Saya sudah lama mencari tahu apakah Anda baik-baik saja setelah malam itu. Saya... saya hanya ingin memastikan bahwa Anda sekarang sudah berada di tempat yang jauh lebih aman."
Suasana di lobi gedung yang mulai sepi itu mendadak terasa begitu sesak bagi Amina. Kata-kata Arslan yang lembut—namun sarat dengan ingatan akan kehancuran dirinya—menghujam tepat di ulu hati. Ia merasa telanjang, meski tubuhnya terbalut gamis dan wajahnya tersembunyi di balik cadar.
"Saya baik-baik saja," jawab Amina lirih, hampir seperti bisikan.
Jemarinya mencengkeram ujung gamis dengan erat, berusaha menyembunyikan getaran yang tak bisa lagi ia kendalikan. "Terima kasih untuk waktu itu, Tuan. Tapi saya harus pergi sekarang."
Tanpa menunggu jawaban, Amina menarik lengan baju Usman. "Man, ayo pulang."
Usman, yang sejak tadi mengamati Arslan dengan insting seorang pelindung, sedikit mengangguk sopan namun tegas kepada pria asing di depannya itu. "Maaf, Tuan. Kami permisi."
Arslan tidak menghalangi. Ia membiarkan mereka melangkah menjauh. Namun, matanya tak lepas dari punggung wanita itu. Ia melihat bagaimana langkah kaki Amina yang semula mantap kini berubah sedikit gontai—sebuah pola jalan yang familiar, yang mengingatkannya pada malam di mana ia memapah wanita itu menuju masjid.
"Tunggu," suara Arslan kembali memecah keheningan lobi, kali ini sedikit lebih mendesak.
Amina berhenti, namun ia tidak membalikkan badan.
"Saya tidak tahu apa yang sedang Anda lalui sekarang," lanjut Arslan dengan nada suara yang penuh ketulusan, tanpa ada niat sedikit pun untuk mengorek luka. "Tapi saya ingin Anda tahu satu hal... Saya tidak pernah lupa bagaimana Anda berdiri tegak malam itu setelah semuanya dirampas dari Anda. Anda adalah wanita paling kuat yang pernah saya temui."
Amina memejamkan mata. Kalimat itu bukan sekadar pujian; itu adalah pengakuan atas harga diri yang dulu pernah diinjak-injak oleh mantan suaminya. Air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya jatuh, membasahi kain cadarnya.
Ia tidak berbalik. Ia hanya menunduk dalam, mencoba memulihkan diri, lalu melanjutkan langkah dengan cepat menuju pintu keluar.
Di luar gedung, udara sore yang terik menyambut mereka. Usman segera menghidupkan motor tuanya. Selama perjalanan, Usman tidak bertanya sepatah kata pun. Ia tahu kakaknya sedang bergelut dengan badai besar di dalam batinnya. Ia membiarkan Amina memeluk pinggangnya dengan tangan yang masih gemetar.
Sementara itu, di dalam gedung, Arslan masih berdiri mematung. Ia menatap pintu keluar yang baru saja tertutup. Kenangan tentang halte bus, tentang tatapan putus asa wanita itu, dan kini tentang sorot mata yang tetap menyimpan duka namun penuh kehormatan—semuanya menyatu dalam benaknya.
Ia merasa seolah-olah Allah baru saja mengirimkan sebuah jawaban melalui pertemuan yang sangat singkat ini. Ia tidak tahu siapa wanita itu sebenarnya, siapa namanya, atau bagaimana hidupnya sekarang.
Namun satu hal yang pasti: ia merasa perjalanannya dari Dagestan ke Indonesia, yang awalnya ia anggap sebagai sebuah ketidaksengajaan, ternyata memiliki tujuan yang jauh lebih dalam.
Suasana di lobi gedung yang mulai sepi itu mendadak terasa begitu sesak bagi Amina. Kata-kata Arslan yang lembut—namun sarat dengan ingatan akan kehancuran dirinya—menghujam tepat di ulu hati.
"Saya baik-baik saja," jawab Amina lirih. Jemarinya mencengkeram ujung gamis dengan erat, berusaha menyembunyikan getaran yang tak bisa lagi ia kendalikan. "Terima kasih untuk waktu itu, Tuan. Tapi saya harus pergi sekarang."
Tanpa menunggu jawaban, Amina menarik lengan baju Usman. "Man, ayo pulang."
Usman mengangguk sopan namun tegas kepada pria di depannya. "Maaf, Tuan. Kami permisi."
Saat mereka hendak melangkah, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang mantap dari arah lorong samping. Dua sosok yang sangat dikenal dunia muncul dengan wajah bersahaja namun berwibawa. Khabib Nurmagomedov dan Islam Makhachev baru saja keluar dari ruang istirahat khusus setelah selesai menyapa para peserta seminar.
Khabib melirik Arslan yang tampak tertegun, lalu beralih menatap dua orang yang baru saja berpamitan. Ia bisa menangkap ketegangan di udara, meski tidak tahu apa yang sedang terjadi.
"Ada apa, Arslan?" tanya Khabib dengan suara berat yang khas. Ia menatap Arslan, lalu menatap punggung Amina dan Usman yang melangkah menjauh.
Islam Makhachev, yang berdiri di samping Khabib, menyipitkan mata dengan naluri seorang petarung. Ia merasakan ada sesuatu yang belum selesai di antara mereka. "Kau kenal wanita itu?" tanya Islam singkat.
Arslan tidak segera menjawab. Matanya masih terpaku pada punggung Amina. "Dia... dia wanita yang pernah saya tolong di London bertahun-tahun lalu, saat ia diusir dari rumahnya dalam kondisi yang sangat memilukan. Saya tidak menyangka akan bertemu dengannya di sini."
Khabib menghela napas panjang, menepuk bahu Arslan dengan tangan kekarnya. "Dunia ini kecil, Arslan. Allah punya cara-Nya sendiri untuk mempertemukan orang-orang yang berkaitan dengan takdir kita. Jika dia memang orang yang sama, dan sekarang dia ada di sini, itu bukan kebetulan."
Islam mengangguk setuju, menatap pintu lobi tempat Amina menghilang.
"Kalau itu adalah wanita yang dulu kau jaga kehormatannya di saat paling sulit, jangan biarkan dia pergi begitu saja tanpa tahu bahwa dia punya pelindung di sini."
Arslan terdiam. Kata-kata dari dua orang yang paling ia hormati itu memberinya keberanian. Ia menoleh ke arah pintu keluar. Di luar gedung, udara sore yang terik menyambut Amina dan Usman. Usman segera menghidupkan motor tuanya. Selama perjalanan, Usman tidak bertanya sepatah kata pun. Ia tahu kakaknya sedang bergelut dengan badai besar di dalam batinnya.
Sementara itu, Arslan masih berdiri mematung di lobi, ditemani oleh Khabib dan Islam. Ia merasa seolah-olah Allah baru saja mengirimkan sebuah jawaban melalui pertemuan yang sangat singkat ini.
Di atas motor, Amina menengadahkan wajahnya ke langit. Ia tidak lagi memikirkan pria itu. Ia hanya memikirkan anak-anaknya. Ya Allah, bisik hatinya di sela deru mesin motor.
Jika aku masih berharga di mata-Mu, kuatkanlah aku untuk anak-anakku. Izinkan aku memeluk mereka kembali, meski harus melalui jalan yang paling terjal sekalipun.
Amina baru saja melangkah keluar dari lift menuju area lobby utama yang mulai sepi. Ia tidak menyadari ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan gerak-geriknya dari kejauhan. Begitu sampai di dekat pilar besar, ia berdiri diam, menunggu Usman yang sempat berhenti sejenak untuk membetulkan tali tasnya.
Amina menunduk, fokus pada layar ponselnya—membuka sebuah folder tersembunyi yang berisi foto-foto lama anak-anaknya. Ia tidak menyadari bahwa seseorang baru saja berhenti beberapa meter di depannya.
Amina merasakan keheningan aneh, seperti ruang tiba-tiba mengecil. Ia mendongak.
Dan dunia seolah berhenti.
Di hadapannya, Arslan berdiri dengan postur tubuh yang tegap namun tenang. Tidak ada langkah mendekat yang lancang. Arslan segera menundukkan pandangan—bukan karena tidak ingin melihat, tapi karena ia tahu caranya menghormati.
"Assalamu’alaikum," suara Arslan terdengar rendah, terukur, dan penuh ketenangan yang sangat familiar bagi Amina.
Amina membeku. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena ketakutan, tapi karena guncangan emosi yang tak terduga. Suara itu... suara yang dulu membela kehormatannya di tengah badai malam di London. Suara pria yang tidak pernah meminta balasan atas kebaikan yang ia berikan.
"Wa’alaikumussalam," jawab Amina lirih, nyaris seperti bisikan yang tertahan di balik cadarnya.
Arslan tidak mendongak. Ia menjaga jarak aman, menghormati ruang pribadi wanita di depannya. "Apa… Anda baik?" tanyanya, dengan nada yang bukan ingin tahu secara berlebihan, melainkan bentuk kepedulian yang tahu batas.
Amina menarik napas panjang, berusaha mengendalikan getaran di tangannya. Ia tahu siapa pria ini, meski ia tak pernah benar-benar mengenal namanya secara personal. "Iya," jawabnya jujur. "Sedang belajar baik."
Itu adalah jawaban yang tidak dibuat-buat. Sederhana, namun mengandung luka yang tidak pernah benar-benar sembuh. Arslan menerima jawaban itu tanpa bertanya lebih jauh. Ia tidak menanyakan "kenapa", tidak menanyakan di mana dia sekarang, dan tidak menanyakan tentang Ethan yang telah menghancurkan hidupnya.
Arslan tahu, di pertemuan yang tidak direncanakan ini, tidak semua pertanyaan pantas diajukan.
"Terima kasih," bisik Amina lagi, matanya sedikit berkaca-kaca. "Untuk yang dulu."
Arslan mengerti maksudnya, namun ia menolak untuk mengungkitnya. "Tidak," jawabnya singkat, suaranya tetap rendah. "Saya tidak melakukan apa-apa."
Tiba-tiba, langkah kaki mendekat dari belakang. Usman muncul dan berhenti mendadak saat melihat kakaknya berhadapan dengan seorang pria asing yang berbadan tinggi besar. Insting protektif Usman langsung menyala. Ia maju satu langkah, menatap Arslan dengan waspada.
"Kak?" suara Usman terdengar kaku.
Tanpa perlu diminta, Arslan langsung mundur setengah langkah ke belakang. Satu gerakan kecil, namun penuh adab yang menunjukkan bahwa ia bukan ancaman. Usman yang tadinya siap untuk bersikap kasar, mendadak kehilangan argumennya saat melihat tatapan Arslan yang sama sekali tidak menantang, melainkan penuh hormat.