Bab 39: Labirin Rasa

738 Words

​Kegelapan subuh masih menyelimuti lereng pegunungan Dagestan, menyisakan sunyi yang hanya dipecah oleh deru angin di balik dinding batu. Di dalam kamar utama, cahaya lampu minyak yang mulai meredup menciptakan bayangan panjang yang menari di langit-langit. Setelah menunaikan shalat subuh berjamaah, Arslan tidak membiarkan Amina beranjak dari sajadahnya. Ia membimbing istrinya kembali ke tempat tidur besar yang masih menyimpan sisa kehangatan tubuh mereka. ​ Di luar, anak-anak masih terlelap jauh di kamar atas, terbungkus selimut tebal yang kedap suara. Rumah itu benar-benar menjadi milik mereka berdua dalam remang fajar. ​ Arslan mengunci tatapan Amina, tangannya yang besar dan kasar perlahan menelusuri garis wajah istrinya, dari dahi hingga turun ke bibir yang sedikit bergetar. Tidak

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD