Sinar matahari pagi yang pucat menerobos masuk melalui celah gorden tebal, menyentuh dinding batu kamar utama yang selama ini terasa dingin dan tak tersentuh. Namun pagi ini, suasana di dalam ruangan itu terasa sangat berbeda. Keheningan yang menyelimuti bukan lagi kesunyian yang kaku, melainkan ketenangan yang dalam setelah dinding pembatas di antara mereka runtuh semalam. Amina perlahan membuka mata, merasakan kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia tidak lagi terbangun sendirian di kamar tengah yang sepi. Di sampingnya, Arslan masih berbaring, satu lengannya yang kokoh dan berotot melingkar protektif di pinggang Amina, seolah memastikan bahwa wanita itu tidak akan pergi ke mana-mana. Amina tertegun sejenak, menatap wajah suaminya dari jarak yang sangat dekat. Dal

