Suara sorak-sorai dari speaker laptop yang pecah sesekali memenuhi ruang tamu. Fadwa duduk bersila di samping Amina, matanya terpaku pada layar yang menampilkan profil Arslan sebagai salah satu atlet unggulan di kelasnya.
"Kak Amina lihat, dia selalu melakukan gerakan itu sebelum naik ke matras," tunjuk Fadwa pada layar.
Di sana, Arslan terlihat menutup mata sejenak, memegang ujung dadanya, dan bibirnya bergerak pelan. Amina memperhatikan dengan saksama. Ia tidak tahu apa yang diucapkan pria itu, tapi ia bisa merasakan kedisiplinan yang kental—sebuah ketenangan yang sangat kontras dengan dunia penuh teriakan yang pernah ia jalani bersama Ethan.
"Dia selalu seperti itu," lanjut Fadwa, suaranya kini lebih rendah. "Ayah bilang, Arslan bukan pegulat biasa. Setiap kemenangan adalah cara dia bersyukur karena Allah masih memberinya kekuatan untuk berdiri tegak."
Amina terdiam. Ia membandingkan pria di layar itu dengan Ethan. Ethan akan memaki jika kalah, dan akan menjadi sombong yang tak tertahankan jika menang. Namun, pria yang kini sedang membasuh wajahnya dengan handuk di sudut arena itu tampak sangat sederhana.
"Dia orang yang sangat tertutup, ya?" tanya Amina pelan, masih menatap layar.
Fadwa tertawa kecil. "Sangat! Jangan tertipu dengan otot-otot itu, Kak. Dia itu pemalu sekali kalau di depan wanita."
Amina tersenyum tipis di balik cadarnya. Rasa hormatnya pada Arslan kini bercampur dengan rasa takjub. "Dia menjaga dirinya sendiri dengan sangat baik."
"Benar sekali," Fadwa mematikan siaran live saat jeda pertandingan. "Itu sebabnya, Kak Amina jangan merasa tidak enak. Membantu Kakak bagi Arslan bukan cuma soal menolong orang, tapi soal prinsip hidupnya. Dia tidak mungkin membiarkan kehormatan seorang wanita terinjak-injak di depan matanya."
Amina menunduk, memainkan ujung kain cadarnya. Perkataan Fadwa menyentuh titik paling sensitif di hatinya. Selama ini, ia terbiasa merasa sebagai beban. Namun di sini, ia diperlakukan sebagai seseorang yang berharga.
"Fadwa," panggil Amina lembut.
"Menurutmu, mungkinkah aku bisa kembali berdiri tegak? Maksudku... aku tidak punya apa-apa sekarang. Bahkan untuk membeli kebutuhan dasar pun aku harus bergantung pada kalian. Dan dia... dia terus mengancam bahwa jika aku berani menuntut hak asuh anak-anak, dia akan memastikanku kalah karena aku 'tidak punya apa-apa'."
Fadwa terdiam sejenak, wajahnya yang ceria sedikit meredup. "Dia bilang begitu?"
Amina mengangguk lemah. "Dia bilang, di mata pengadilan, wanita yang tidak punya pekerjaan, tidak punya rumah, dan tidak punya uang, tidak akan pernah bisa memenangkan hak asuh anak. Dia ingin aku merasa kecil dan tidak berdaya."
Tiba-tiba, perhatian mereka teralihkan oleh suara dering telepon rumah. Abdul Latif yang baru saja keluar dari ruang wudhu segera mengangkatnya. Wajah pria tua itu tampak tenang, namun saat ia berbicara, alisnya berkerut dalam. Ia tidak banyak bicara, hanya sesekali mengangguk.
"Baik... ya, saya mengerti. Saya akan sampaikan," ujar Abdul Latif singkat sebelum menutup telepon.
Ia menoleh ke arah ruang tamu. Matanya bertemu dengan mata Amina yang kini menatapnya dengan cemas.
"Itu dari pengacara bantuan hukum yang dihubungi Arslan," kata Abdul Latif pelan. "Ethan baru saja mengirim pesan melalui pengacaranya. Dia tidak menuduh apa pun, dia hanya ingin mengingatkan posisinya. Dia bilang, jika kau berniat menuntut hak asuh atau nafkah, dia akan membuktikan bahwa kau sama sekali tidak punya kemampuan finansial untuk menghidupi anak-anak. Dia ingin kau menyerah sebelum prosesnya dimulai."
Amina merasakan dadanya sesak. Ancaman itu terasa lebih nyata daripada pukulan fisik. Ethan menyerang kelemahan terbesarnya: ketidakberdayaan ekonominya.
"Dia benar, Syaikh," bisik Amina lirih. "Saya memang tidak punya apa-apa. Saya bahkan tidak punya uang untuk menelepon adik-adik saya di Indonesia untuk meminta bantuan."
Abdul Latif melangkah mendekat, duduk di kursi kayu di hadapan Amina. "Amina, jangan biarkan dia menentukan nilai dirimu berdasarkan isi dompetmu. Ethan menggunakan uang sebagai senjata untuk membungkammu, tapi dia lupa satu hal."
"Apa itu, Syaikh?"
"Bahwa dia tidak berhadapan dengan wanita yang sendirian lagi. Dia sedang berhadapan dengan komunitas yang percaya bahwa setiap ibu punya hak atas anaknya, terlepas dari berapa jumlah uang di banknya."
Amina masih menunduk, namun tangannya yang mencengkeram kain cadar perlahan melonggar.
"Arslan..." bisik Amina. "Dia pasti sedang bertanding sekarang, mempertaruhkan segalanya di sana. Dan di sini, saya justru merasa seperti penghalang bagi kalian."
"Arslan sedang berjuang di gelanggangnya sendiri untuk membuktikan kekuatannya," kata Abdul Latif tegas. "Dan kau sedang berjuang di gelanggangmu sendiri untuk membuktikan bahwa kau bukan barang yang bisa dibuang. Jangan menyerah. Kita akan bicara dengan pengacara itu besok."
Amina menarik napas panjang. Ia menatap ke arah laptop yang tadi menayangkan wajah Arslan. Pria itu sedang berjuang, dan ia pun tidak boleh kalah oleh rasa rendah diri yang dipaksakan Ethan kepadanya.
Setelah panggilan telepon yang menyesakkan itu, Amina merasa dunianya kembali menyempit. Secara hukum, tanpa uang dan pekerjaan di Inggris, melawan Ethan untuk hak asuh anak-anak terasa seperti menabrak dinding beton. Ethan tahu itu, dan dia menggunakan kenyataan pahit tersebut untuk membuat Amina merasa kalah sebelum bertarung.
Keesokan harinya, Abdul Latif kembali menemani Amina ke Kedutaan Besar RI untuk kedua kalinya. Berbeda dengan kunjungan pertama yang penuh kepanikan, kali ini Amina lebih tenang meski hatinya perih.
Setelah keluar dari ruang konsuler, langkah Amina terasa lebih ringan namun sekaligus hampa. SPLP di tangannya adalah tiket kebebasan, tapi juga pengakuan kekalahan atas hak asuh anak-anaknya—setidaknya untuk saat ini.
Abdul Latif yang berjalan di sampingnya tampak mengerti. "Kadang kita harus mundur satu langkah untuk bisa melompat lebih jauh, Amina. Pulanglah, kuatkan dirimu di sana. Allah tidak tidur."
Amina hanya mengangguk pelan, mendekap tasnya erat.
Sore harinya, rumah Abdul Latif kembali kedatangan tamu yang paling dinanti. Arslan datang dengan langkah yang lebih tenang, meski ada gurat kelelahan di wajahnya. Namun, ada yang berbeda. Ia tidak hanya membawa tas olahraganya, tapi juga sebuah amplop cokelat besar yang ia genggam erat.
Di ruang tamu, mereka berkumpul. Arslan duduk di kursi kayu, tetap dengan pandangan menunduk, menjaga jarak yang sangat sopan dari Amina yang duduk di dekat Maryam.
"Syaikh," Arslan membuka suara, menyerahkan amplop itu kepada Abdul Latif. "Alhamdulillah, kemenangan kemarin membawa hasil lebih dari sekadar medali. Sponsor dan pihak penyelenggara memberikan bonus tambahan karena pertandingan yang bersih."
Ia berhenti sejenak, menarik napas dalam.
"Saya tahu Amina-hanim sedang kesulitan. Dana darurat kedutaan mungkin bisa membantu untuk tiket, tapi memulai hidup baru di Indonesia tidaklah mudah. Apalagi ada adik-adik yang harus ia bantu. Tolong gunakan ini untuk semua keperluan Amina-hanim. Untuk tiket, untuk modal di sana, apa pun."
Amina tersentak. "Tuan Arslan... tidak. Saya tidak bisa. Itu hasil kerja keras Anda, hasil keringat Anda di gelanggang. Saya sudah terlalu banyak merepotkan."
Arslan tetap menatap lantai, namun suaranya terdengar mantap.
"Saya seorang pemilik gym di Dagestan, Amina-hanim. Saya punya usaha yang cukup untuk menghidupi diri saya dan ibu saya di sana. Uang bonus ini... saya merasa ini bukan milik saya. Saya merasa Allah memberikan kemenangan itu agar saya bisa membantu Anda pulang dengan martabat yang utuh. Agar mantan suami Anda tidak bisa lagi menghina Anda karena Anda 'tidak punya apa-apa'."
Kata-kata itu menghujam jantung Amina. Arslan tidak memberinya sedekah; Arslan memberinya senjata untuk kembali berdiri tegak di hadapan harga dirinya sendiri.
"Besok pagi adalah jadwal kepulangan saya ke Dagestan," lanjut Arslan, suaranya sedikit merendah. "Tugas saya di London sudah selesai. Tiket saya sudah dipesan jauh hari. Jadi, saya titipkan ini lewat Syaikh agar semua urusan Anda lancar."
Suasana mendadak hening. Kabar kepulangan Arslan yang begitu mendadak—meski sudah terencana—membuat ada sesuatu yang berdesir di d**a Amina. Rasa syukur yang bercampur dengan rasa kehilangan yang aneh.
"Terima kasih, Arslan," ujar Abdul Latif dengan suara bergetar bangga. "Kau benar-benar menjalankan amanah sebagai seorang lelaki."
Amina menatap amplop itu, lalu menatap sosok tegap Arslan yang masih menunduk. "Tuan Arslan... terima kasih. Saya tidak tahu bagaimana cara membalasnya."
Arslan berdiri, merapikan jaketnya. "Jangan membalas saya. Jadilah kuat untuk adik-adik Anda dan anak-anak Anda suatu hari nanti. Itu sudah lebih dari cukup."
Ia kemudian berpamitan dengan Abdul Latif dan Maryam. Sebelum benar-benar melangkah keluar pintu, Arslan berhenti sejenak, tanpa menoleh.
"Semoga perjalanan pulang Anda selamat, Amina-hanim. Semoga Allah selalu menjaga Anda."
Dan dengan itu, Arslan melangkah pergi. Deru mesin mobilnya perlahan menjauh, meninggalkan Amina yang kini menggenggam amplop itu dengan air mata yang akhirnya tumpah.
Seorang lelaki yang bahkan tidak tahu bagaimana rupa wajahnya, baru saja memberinya harapan untuk hidup kembali.