Pagi itu, terminal keberangkatan Bandara Heathrow terasa begitu dingin. Amina berdiri di antara deretan koper besar, menggenggam tas kecil yang berisi dokumen berharganya. Di tangannya, terselip SPLP dari kedutaan.
Namun, ada satu ganjalan yang sejak semalam membuat Amina tidak bisa tidur. Ia baru saja bicara dengan petugas kedutaan melalui telepon yang difasilitasi Abdul Latif. Bantuan dana darurat dari pemerintah memang ada, namun birokrasi pencairannya memakan waktu cukup panjang, sementara ia harus segera pergi karena tekanan mental dan rasa rindu yang tak lagi bisa ia bendung.
Saat sedang melangkah menuju gerbang pemeriksaan, Abdul Latif menarik lengannya lembut, mengajak Amina duduk sejenak di kursi tunggu.
"Amina," ujar Abdul Latif dengan suara yang sangat tenang namun tegas. "Ada hal yang harus kau tahu mengenai tiketmu."
Amina menatap imam itu dengan waswas. "Syaikh, apa ada masalah dengan tiket saya?"
"Bukan masalah, justru sebuah jalan keluar," Abdul Latif menatapnya dalam. "Bantuan dana darurat dari kedutaan itu sangat membantu, tapi prosesnya akan memakan waktu berminggu-minggu. Kau tidak bisa menunggu selama itu di sini, dalam kondisi psikologis yang seperti ini."
Amina menunduk, meremas kain cadarnya. "Lalu... bagaimana dengan biaya perjalanannya, Syaikh?"
"Arslan sudah menyelesaikannya," jawab Abdul Latif jujur. "Dia membayar tiketmu menggunakan sebagian bonus kemenangannya. Dia tidak ingin kau menunggu birokrasi yang lambat itu. Dia menganggap ini sebagai pinjaman atau pun sedekah, terserah bagaimana kau memandangnya. Tapi yang pasti, dia ingin kau segera sampai di rumah."
Amina terdiam. Wajahnya memucat di balik cadar. Baginya, menerima uang tiket dari seorang pria yang bukan mahram adalah hal yang sangat berat. Ia merasa seperti telah merepotkan orang yang benar-benar asing baginya.
"Syaikh... kenapa dia harus melakukan itu? Saya tidak ingin berutang budi yang tidak bisa saya bayar," bisik Amina dengan suara tercekat.
"Amina, dengarkan aku," Abdul Latif menyentuh pundak Amina dengan gerakan ayah kepada anaknya. "Arslan adalah seorang pengusaha dan atlet yang tahu persis nilai dari sebuah perjuangan. Dia membayar tiket ini bukan untuk membuatmu berutang budi padanya, tapi dia sedang menyelamatkan masa depanmu. Dia ingin kau selamat. Tidakkah kau pikir, bukankah ini cara Allah menjagamu lewat tangan orang lain?"
Amina menunduk dalam. Air mata jatuh tanpa suara. Ia bukan merasa terhina, tapi ia merasa sangat tidak layak diperlakukan sedemikian baik.
"Katakan padanya..." Amina terisak pelan. "Katakan pada Ibu Maryam untuk sampaikan pada Arslan... bahwa saya akan menggantinya. Entah bagaimana caranya, saya akan berusaha mengembalikan setiap sen yang ia keluarkan."
"Simpan dulu pikiran itu," potong Abdul Latif lembut. "Pulanglah, temui Usman, Umar, dan Rahma. Itu adalah prioritasmu sekarang."
Abdul Latif kemudian mengeluarkan sebuah ponsel sederhana. "Ini ponsel dari kami—aku dan Maryam. Di dalamnya sudah ada nomor kami berdua. Jika kau sudah sampai dan sudah tenang, kau bisa menghubungi kami lewat Maryam. Arslan tidak menitipkan nomor pribadinya karena dia mengerti posisimu, tapi dia menitipkan pesan bahwa kau harus berjanji untuk menjaga dirimu baik-baik di sana."
Amina menerima ponsel itu dengan tangan gemetar. Ia tidak berani bertanya lebih jauh. Ia hanya bisa mengangguk, menyadari bahwa di tengah dunia yang terasa runtuh, ia dikelilingi oleh orang-orang yang menjaganya tanpa meminta imbalan.
"Sudah waktunya," bisik Fadwa yang sejak tadi berdiri tak jauh dari mereka, matanya berkaca-kaca.
Amina berdiri. Ia mencium tangan Maryam dan Abdul Latif. Ia melangkah melewati gerbang pemeriksaan dengan hati yang jauh lebih berat, bukan karena beban ekonomi lagi, melainkan karena rasa syukur yang tak terhingga kepada sosok-sosok yang telah menyelamatkan martabatnya.
Saat ia duduk di kursi ruang tunggu terminal, ia menatap ponsel sederhana di tangannya. Ia tidak memiliki nomor Arslan, tapi ia tahu, di suatu tempat di dunia ini, ada seorang pria yang baru saja memberikan tiket kebebasan baginya tanpa sedikit pun menuntut kehadirannya.
Di ruang tunggu bandara yang luas, Amina duduk terpekur. Suara pengumuman keberangkatan dalam bahasa Inggris yang fasih terdengar bersahutan, namun pikirannya melayang jauh melintasi benua.
Ia memegang ponsel sederhana pemberian Abdul Latif dan Maryam.
Selama bertahun-tahun di bawah kendali Ethan, ponsel adalah barang mewah yang haram ia sentuh tanpa pengawasan. Memegang benda ini sekarang—sebuah sarana untuk menghubungkan dirinya kembali dengan dunia yang sempat terenggut—terasa seperti memegang nyawa yang baru saja ia temukan kembali.
Namun, sebelum rasa lega itu menetap, gelombang kesedihan yang hebat menghantam dadanya. Lima tahun. Lima tahun ia mengabdikan diri di tanah asing ini, mencoba membangun keluarga dengan penuh harap, namun harus berakhir dengan selembar surat darurat dan status yang hancur.
Ia teringat anak-anaknya. Rasa perih itu tak tertahankan, seperti ada sesuatu yang dicabut paksa dari ulu hatinya. Ia pulang bukan karena ingin meninggalkan mereka, tapi karena ia butuh tetap hidup—ia butuh menjadi kuat agar suatu saat nanti, ia punya pijakan untuk menjemput mereka kembali.
Dengan tangan yang masih gemetar, ia menekan nomor yang sudah dihapalnya di luar kepala. Nomor rumah keluarga di Jakarta.
Panggilan tersambung. Jantung Amina berdegup kencang, seirama dengan deru pesawat yang sedang melakukan take-off di landasan pacu.
"Halo? Asalamualaikum..." suara di ujung sana terdengar sangat familiar, namun kini lebih berat dan dewasa. Itu suara Usman, adik laki-lakinya.
Amina menahan isak tangisnya di balik cadar. "Wa... wa'alaikumussalam... Usman? Ini Kak Amina."
Hening yang panjang terjadi di seberang sana. Begitu panjang hingga Amina mengira panggilannya terputus. Lalu, suara Usman pecah, diikuti oleh suara Umar dan Rahma yang berteriak histeris di latar belakang saat mendengar nama kakaknya disebut.
"Kak? Kak Amina? Ya Allah, Kakak? Kakak di mana sekarang?!" suara Usman terdengar bergetar hebat, disusul suara Umar yang merebut ponsel, "Kak! Rahma menangis terus setiap dengar suara Kakak!"
Amina memejamkan mata, membiarkan luka itu terbuka lebar lewat kata-katanya. "Usman... Umar... Rahma... dengarkan Kakak."
Ia menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suaranya. "Kakak sudah cerai. Pernikahan Kakak sudah selesai. Kakak pulang bukan lagi sebagai istri siapa-siapa. Kakak hanya ingin pulang ke kalian. Kakak ingin pulang ke rumah."
Isak tangis ketiga adiknya terdengar pecah di ujung telepon. Di saat itulah, beban di pundak Amina terasa sedikit terangkat. Mengakui kegagalannya di hadapan adik-adiknya ternyata tidak seburuk yang ia bayangkan. Mereka tidak mencaci, mereka justru menangis karena rindu yang tertahan selama bertahun-tahun.
"Pulang, Kak... pulang. Jangan pikirkan apa-apa lagi. Kami tunggu di bandara besok. Usman, Umar, dan Rahma akan jemput Kakak di sana," ujar Usman dengan suara serak, mencoba menenangkan saudaranya yang lain.
"Doakan Kakak ya, Man. Doakan perjalanan Kakak selamat sampai ke rumah. Kakak rindu sekali..."
Setelah menutup telepon, Amina menatap layar ponsel itu lama. Ia merasa ada satu pesan yang harus ia sampaikan sebelum ia benar-benar meninggalkan jaringan Inggris ini. Ia tidak memiliki nomor Arslan, dan ia tidak mungkin memintanya. Namun, ia merasa perlu menyampaikan rasa terima kasihnya melalui perantara.
Ia mengetik sebuah pesan di draf, lalu mengirimkannya ke nomor Maryam—istri sang imam.
"Ibu Maryam, sampaikan salam dan rasa terima kasih saya yang tak terhingga kepada Tuan Arslan. Dia telah menjadi jalan saya untuk bisa mendengar suara adik-adik saya, Usman, Umar, dan Rahma. Mereka menunggu saya di Jakarta. Terima kasih atas segalanya. Semoga Allah membalas kebaikan beliau dengan kebahagiaan yang tidak terputus."
Tak lama kemudian, ponselnya bergetar. Sebuah balasan masuk dari Maryam.
"Akan saya sampaikan segera pada suamiku agar diteruskan pada Arslan. Amina, jadilah kuat. Kami semua mendoakanmu."
Amina mematikan ponselnya saat instruksi untuk masuk ke pesawat terdengar. Ia berjalan menuju garbarata, melangkah masuk ke dalam burung besi yang akan membawanya pulang.
Saat ia duduk di kursinya dan memasang sabuk pengaman, Amina menatap keluar jendela untuk terakhir kalinya. London perlahan menghilang di balik awan. Perasaan sedih itu masih ada, namun kini ada warna baru di sana: keberanian.
Ia bukan lagi Amina yang tertindas. Ia adalah Amina yang sedang pulang untuk menyembuhkan diri, kembali ke pelukan Usman, Umar, dan Rahma.