Bab 16: Strategi di Balik Bayang

1687 Words
​Di sebuah sudut kafe di Jakarta, Arslan Karataev menatap layar ponselnya dengan tatapan sedingin es. Pesan suara dari ayahnya di Makhachkala masih terngiang, menuntutnya pulang untuk menikahi Zoya bulan depan. Namun, kabar dari Abdullatif di London-lah yang benar-benar memicu badai di dalam dadanya. ​“Arslan, Ethan benar-benar licik. Dia menggunakan aturan hadhanah sebagai ancaman. Dia tahu Amina mulai bangkit, jadi dia mengancam akan memutus akses anak-anak selamanya jika Amina berani menikah lagi. Amina hancur, dia bilang pada Maryam bahwa dia sudah mematikan keinginan untuk menjadi istri siapa pun demi anak-anaknya.” ​Arslan menarik napas panjang, jemarinya bergerak cepat di atas layar. Ia tidak lagi ingin bermain di balik bayang-bayang yang terlalu jauh. Ia mengetik pesan balasan kepada Abdullatif dengan ketegasan yang mutlak: ​“Katakan pada Maryam untuk menguatkan Amina. Dan sampaikan ini padanya: Aku tidak akan membiarkan Amina menghadapi ancaman Ethan sendirian. Aku telah memutuskan untuk melamarnya.” ​Di seberang sana, Abdullatif tampak terkejut. Hanya butuh beberapa detik sampai ponsel Arslan bergetar hebat. Panggilan masuk dari London. ​ "Arslan! Apa kau gila?" suara Abdullatif terdengar panik namun tertahan. "Kau tahu risikonya? Jika kau melamarnya, Ethan akan menggunakan itu untuk menyerang hak asuh anak-anaknya! Kau justru akan memberikan Ethan peluru yang dia cari!" ​ Arslan bersandar di kursinya, suaranya terdengar tenang namun berwibawa, ciri khas pria yang tumbuh di kerasnya pegunungan Dagestan. "Justru sebaliknya, Abdullatif. Ethan berani mengancam karena dia tahu Amina sendirian. Dia merasa kuat karena lawannya adalah seorang wanita yang ketakutan. Tapi jika aku berdiri di sampingnya sebagai suaminya, dia tidak akan lagi berhadapan dengan wanita lemah, tapi denganku." ​ "Tapi aturan itu..." ​ "Aturan itu berlaku untuk ibu yang menelantarkan anaknya demi kesenangan pribadi. Aku akan membuktikan di pengadilan internasional bahwa Ethan adalah seorang narsistik yang manipulatif. Aku akan melamar Amina bukan untuk menjauhkannya dari anak-anaknya, tapi untuk memberinya perlindungan hukum dan finansial yang tidak bisa dihancurkan oleh pria mokondo seperti Ethan." ​ Arslan terdiam sejenak, matanya menatap tajam ke depan. "Aku sudah menolak Zoya. Aku sudah mempertaruhkan kehormatanku di depan keluargaku sendiri. Sekarang, aku akan mempertaruhkan segalanya untuk Amina." ​ "Kau benar-benar serius?" tanya Abdullatif dengan nada tak percaya. ​"Pria Dagestan tidak pernah main-main dengan ucapannya. Cari tahu di mana rumahnya di Jakarta sekarang. Aku tidak akan muncul sebagai pria asing yang mengganggu, aku akan datang dengan cara yang paling terhormat." ​ Setelah menutup telepon, Arslan berdiri. Tekadnya sudah bulat. Ia tidak peduli jika ayahnya marah besar karena ia menolak Zoya, atau jika seluruh keluarga Karataev menentangnya. Baginya, menyelamatkan Amina dari "penjara" mental yang diciptakan Ethan adalah jihad pribadinya. ​ Ia melangkah keluar kafe, matanya menyisir jalanan Jakarta. Ia harus menemukan rumah itu. Ia harus melihat wanita yang selama lima tahun ini hanya ia pantau dari kejauhan. Sebelum ia melayangkan lamaran itu, ia perlu memastikan satu hal: bahwa Amina masih memiliki sisa kekuatan untuk percaya bahwa tidak semua laki-laki adalah pemangsa seperti Ethan. ​ Arslan turun dari ojek daring di ujung gang, langkahnya mantap meskipun jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Ia telah menolak Zoya secara final melalui pesan singkat yang tegas kepada keluarganya di Dagestan. Baginya, tidak ada jalan kembali sebelum ia menuntaskan apa yang ia mulai di London dua tahun lalu. ​Ia berjalan menyusuri gang sempit itu, sosoknya yang tinggi besar menarik perhatian beberapa warga, namun Arslan tetap fokus pada tujuannya. Hingga akhirnya, ia berdiri beberapa meter dari pagar kayu rumah sederhana itu. ​ Di sana, Amina baru saja hendak melangkah masuk ke dalam rumah setelah menyerahkan kantong belanjaan pada Usman. Wajahnya terlihat sangat lelah, sisa-sisa air mata masih membekas di sudut matanya yang sembap. ​ "Kak, masuklah. Istirahat," suara Usman terdengar lembut. ​ Tepat saat Amina berbalik, Arslan menguatkan hatinya. Ia tidak ingin lagi menjadi penonton dari kejauhan. Ia tahu Ethan sedang menggunakan kelemahan Amina yang sendirian sebagai senjata untuk terus menindasnya. ​ "Assalamu’alaikum," suara Arslan rendah, namun berat dan berwibawa, membelah keheningan sore di depan rumah itu. ​ Amina dan Usman tersentak. Mereka menoleh serempak. Mata Amina membelalak, napasnya seolah tertahan di tenggorokan saat mengenali sosok pria yang berdiri di depannya. Tentu saja ia mengenalnya. Dialah Arslan, pria yang dua tahun lalu menyelamatkannya dari kedinginan jalanan London saat Ethan mengusirnya tanpa belas kasihan. ​ Usman segera pasang badan, melangkah satu tindak di depan kakaknya dengan tatapan waspada. "Tuan Arslan? Ada perlu apa sampai mencari ke rumah kami?" Usman bertanya dengan nada yang sedikit melunak karena ia tahu jasa pria ini terhadap kakaknya, namun tetap protektif. ​ Arslan tidak maju selangkah pun. Ia tetap berdiri di jarak yang sangat sopan, menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat. "Maaf jika kedatangan saya lancang, Usman. Saya tidak bermaksud mengusik ketenangan keluarga kalian." ​ Pandangan Arslan beralih sepenuhnya kepada Amina, yang kini berdiri mematung sembari meremas ujung jilbabnya. "Amina, saya tahu apa yang sedang terjadi di London. Saya tahu apa yang sedang dilakukan Ethan kepada Anda saat ini." ​ Mendengar nama 'Ethan' disebut, bahu Amina bergetar. Ketakutan itu kembali muncul. "Bagaimana... bagaimana Anda bisa tahu sedalam itu, Arslan?" bisiknya dengan suara serak. ​ "Saya memiliki rekan di London yang memantau situasi anak-anak Anda setiap hari," jawab Arslan jujur. "Saya tahu Ethan menggunakan aturan hak asuh untuk mengancam Anda agar tetap dalam ketakutan dan kesendirian. Dia ingin Anda merasa tidak berdaya karena Anda tidak memiliki sandaran." ​Arslan menatap Usman dengan sorot mata yang jujur. "Usman, saya datang ke sini bukan untuk sekadar menawarkan bantuan hukum. Saya datang karena saya tahu pria seperti Ethan tidak akan berhenti sampai ada seseorang yang berani berdiri menghalanginya." ​ Amina menatap Arslan dengan bingung sekaligus takut. "Apa maksud Anda?" ​Arslan menarik napas panjang, suaranya terdengar sangat serius dan tulus. "Saya tahu hukum mengatakan hak asuh bisa sulit bagi wanita yang menikah lagi. Tapi saya juga tahu, selama dua tahun ini dia telah melanggar hak Anda sebagai ibu dengan memutus akses komunikasi secara sepihak. Itu adalah kejahatan." ​ Arslan menatap Amina lekat-lekat. "Saya ingin menawarkan sebuah komitmen. Jika Anda mengizinkan, saya ingin berdiri di depan Anda sebagai pelindung—bukan lagi hanya sebagai penyelamat yang lewat." ​ "Saya ingin melamar Anda, Amina. Bukan untuk menambah beban hidup Anda, tapi untuk menjadi alasan agar Ethan tidak lagi memiliki celah untuk mengintimidasi Anda sebagai wanita yang sendirian. Biarkan saya menjadi tembok yang melindungi Anda dan anak-anak Anda darinya." ​ Suasana seketika menjadi sangat sunyi. Usman terpaku, sementara Amina merasa dunianya seolah berhenti berputar. Di tengah keputusasaannya yang mendalam, di saat ia baru saja ingin "mengikhlaskan" anak-anaknya, pria dari masa kelamnya di London itu datang menawarkan perlindungan yang paling berani. ​ ​Keheningan yang menyusul ucapan Arslan terasa begitu mencekik. Angin sore yang berembus di gang sempit itu seolah berhenti seketika. Usman terpaku di tempatnya, menatap Arslan dengan mata yang membelalak tak percaya. Baginya, Arslan adalah sosok pahlawan dari masa lalu, namun tawaran ini... ini terlalu besar untuk dicerna dalam sekejap. ​ Amina masih membisu. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga ia merasa pening. Lamaran? Di saat ia baru saja tersungkur karena ancaman Ethan yang menggunakan status kesendiriannya sebagai senjata? ​ "Tuan Arslan," Usman akhirnya memecah keheningan, suaranya sedikit bergetar. "Anda tahu apa yang Anda katakan? Kakak saya... Kak Amina baru saja kehilangan harapan untuk bertemu anak-anaknya karena ancaman pria itu. Jika Kakak menikah dengan Anda, Ethan akan memiliki alasan hukum yang sah di pengadilan London untuk memutus hak asuh selamanya. Anda bukan menolongnya, Anda justru bisa membuatnya kehilangan segalanya!" ​ Arslan tidak goyah. Ia menatap Usman dengan ketenangan seorang pria yang telah menghitung setiap risiko. ​ "Justru karena itulah saya di sini, Usman," jawab Arslan dengan nada rendah yang mantap. "Selama dua tahun ini, Ethan menang karena dia tahu Amina tidak memiliki dukungan finansial dan perlindungan hukum yang kuat untuk melawan narasi-narasinya. Dia merasa berkuasa atas wanita yang dia anggap lemah dan sendirian." ​ Arslan beralih menatap Amina, yang kini air matanya mulai luruh membasahi pipi. "Amina, saya bukan pria yang tidak mengerti hukum. Saya tahu risiko hadhanah. Namun, saya memiliki bukti bahwa Ethan telah melakukan penelantaran emosional dan manipulasi dokumen selama dua tahun ini. Jika Anda menjadi istri saya, Anda akan memiliki kewarganegaraan dan dukungan hukum yang jauh lebih kuat untuk menyeretnya ke pengadilan internasional, bukan lagi pengadilan lokal yang bisa dia dikte." ​ "Tapi... kenapa?" suara Amina nyaris tak terdengar, serak oleh isak tangis yang tertahan. "Kenapa Anda mau melakukan ini untuk saya? Kita... kita hampir tidak saling mengenal." ​ Arslan terdiam sejenak. Ia tidak bisa mengatakan bahwa selama dua tahun ini ia tidak pernah sedetik pun melupakan sorot mata penuh duka Amina di London. Ia tidak bisa mengatakan bahwa ia telah menolak dunianya di Dagestan hanya untuk memastikan wanita ini tetap berdiri tegak. ​ "Di tempat asal saya, Dagestan, kami diajarkan bahwa kehormatan seorang wanita adalah sesuatu yang harus dijaga oleh setiap lelaki yang memiliki nurani," ucap Arslan pelan. "Melihat Anda disiksa secara mental oleh pria seperti Ethan selama dua tahun ini adalah penghinaan bagi saya sebagai seorang pria. Saya tidak meminta Anda mencintai saya sekarang, Amina. Saya hanya meminta izin untuk menjadi perisai Anda." ​ Usman menoleh pada kakaknya, melihat keraguan dan ketakutan yang berperang di wajah Amina. "Kak..." ​Amina menunduk, tangannya gemetar hebat. "Saya... saya tidak tahu harus bicara apa. Anak-anak saya... Abdullah, Abdurrahman, Fatima... mereka adalah nyawa saya. Saya tidak berani melakukan apa pun yang bisa membuat mereka menjauh." ​ "Maka biarkan saya yang mendekatkan mereka kembali kepada Anda," potong Arslan cepat. "Saya tidak akan memaksa Anda memberi jawaban hari ini. Saya hanya ingin Anda tahu bahwa Anda tidak lagi sendirian. Besok, saya akan kembali ke sini untuk berbicara dengan keluarga besar Anda—dengan wali Anda—secara resmi jika Anda mengizinkan." ​ Arslan memberikan anggukan hormat sekali lagi, lalu ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama yang ia letakkan di pagar kayu, karena ia tahu menyentuh tangan Amina saat ini adalah pelanggaran adab. ​ "Pikirkanlah, Amina. Jangan menyerah karena rasa takut yang diciptakan Ethan. Karena rasa takut itulah satu-satunya kekuatan yang dia miliki atas Anda." ​ Tanpa menunggu balasan lebih lanjut, Arslan berbalik. Ia berjalan pergi meninggalkan gang itu dengan langkah tegap, meninggalkan Amina dan Usman yang masih berdiri mematung di depan rumah mereka, seolah-olah baru saja dihantam badai yang membawa harapan di tengah kehancuran.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD