Bab 17: Antara Fitnah dan Perisai​

1531 Words
Suasana di gang sempit itu tidak pernah benar-benar sunyi. Sejak Amina kembali dari London dua tahun lalu dengan status janda tanpa membawa ketiga anaknya, label "wanita bermasalah" sudah melekat erat padanya. Bagi para tetangga yang gemar menghakimi, mustahil seorang ibu kehilangan hak asuh kecuali jika ia melakukan kesalahan besar—dan selingkuh adalah bumbu paling sedap dalam setiap gosip di tukang sayur. ​ Kehadiran Arslan yang tinggi besar, berwajah asing, dan berwibawa, bagaikan bensin yang disiram ke api fitnah yang selama ini sudah membara. ​ "Lihat itu, kan? Benar kata saya. Pasti simpanannya yang di London dulu menyusul," bisik seorang ibu dari balik jendela rumah seberang. ​ "Pantas saja suaminya yang dulu nggak kasih anak-anaknya ikut. Ternyata kelakuannya begini, bawa laki-laki ke rumah siang bolong," sahut yang lain dengan nada sinis yang sengaja dikeraskan. ​ Di depan pagar, Amina merasa telinganya panas. Ia bisa merasakan tatapan-tatapan tajam itu menusuk punggungnya. Usman, sebagai adik laki-laki tertua yang kini menjadi tulang punggung sekaligus pelindung utama Amina, segera pasang badan. Matanya yang tajam melirik galak ke arah sekumpulan orang di ujung gang sebelum ia menarik lengan kakaknya masuk ke dalam rumah. ​ "Masuk, Kak. Jangan didengar," desis Usman tajam. ​ Begitu pintu rumah tertutup dan dikunci rapat, keheningan yang menyesakkan menyerbu. Di ruang tengah, Umar dan Rahma sudah menunggu dengan wajah tegang. Mereka sempat melihat interaksi di depan pagar tadi dari balik tirai. ​ "Usman! Siapa pria itu?" suara Umar meninggi, penuh kecemasan. "Kau tahu posisi kita sedang di ujung tanduk. Tetangga sudah bicara yang bukan-bukan sejak Kak Amina pulang. Sekarang ada pria asing datang mencolok seperti itu, besok-besok mungkin kita diusir karena dianggap membawa maksiat ke lingkungan ini!" ​ Amina jatuh terduduk di kursi kayu, wajahnya disembunyikan di balik kedua telapak tangannya. "Dia Arslan, Mar... pria yang menolongku di London dua tahun lalu." ​ "Menolong?" Rahma mendekat, merangkul bahu Amina. "Tapi kenapa dia sampai bicara soal lamaran, Kak? Itu gila. Kita tidak tahu siapa dia sebenarnya. Bagaimana kalau ini hanya jebakan Ethan? Ethan sengaja mengirim orang agar Kakak terlihat punya pria lain, sehingga alasan dia menahan anak-anak di London semakin kuat di mata hukum!" ​ Usman terdiam, dadanya naik turun menahan emosi. "Aku tidak tahu siapa pria itu sebenarnya, tapi dia bilang dia tahu masalah anak-anak. Dia bilang dia punya cara untuk melawan Ethan." ​ "Lawan bagaimana, Man?" Umar menyela dengan nada frustrasi. "Di luar sana, orang-orang sudah mulai mengarang cerita bahwa pria itu adalah alasan Kak Amina diceraikan Ethan. Fitnah ini akan membunuh reputasi kita! Dan yang paling parah, kalau Ethan tahu ada pria asing mendatangi rumah ini, dia akan punya bukti di pengadilan bahwa Amina adalah ibu yang tidak bermoral." ​ Usman mengepalkan tangannya. Ia tidak tahu soal beban keluarga Arslan di Dagestan atau soal penolakannya terhadap Zoya—yang ia tahu hanyalah Arslan adalah pria yang pernah menyelamatkan nyawa kakaknya. Namun, sebagai adik tertua, ia juga takut jika niat baik Arslan justru menjadi bumerang yang mematikan. ​ "Dia bilang dia akan datang besok secara resmi," ucap Usman pelan namun tegas. "Dia ingin bicara dengan kita semua, terutama dengan aku sebagai wali Kak Amina. Dia ingin membawa masalah ini ke jalur yang paling terhormat agar tidak ada lagi celah untuk fitnah." ​ Umar mengusap wajahnya dengan kasar. "Terhormat? Di tengah tetangga yang sedang mengasah lidah untuk menghakimi kita? Ini adalah pertaruhan paling berbahaya dalam hidup kita, Amina. Jika kita salah langkah, kau tidak akan pernah melihat Abdullah, Abdurrahman, dan Fatima lagi selamanya." ​ Amina hanya bisa terisak. Di satu sisi, ia merasa Arslan adalah secercah harapan, namun di sisi lain, ia merasa tembok fitnah di sekelilingnya semakin tinggi dan siap merubuhkannya kapan saja. ​ ​Di sebuah apartemen sempit di pinggiran London yang pengap, Ethan duduk membungkuk di depan monitor komputernya. Cahaya biru dari layar adalah satu-satunya sumber kehidupan di kamar yang berantakan dengan tumpukan bungkus makanan instan. Wajahnya tampak kusam, dengan garis-garis kelelahan dan gurat kegagalan yang terpahat jelas setelah melewati perceraian ketiganya. ​ Istri ketiganya baru saja pergi meninggalkannya bulan lalu, muak dengan pola narsistik dan ketidakmampuannya sebagai kepala keluarga yang lebih suka menghabiskan waktu di forum internet daripada mencari nafkah yang layak. Ethan lebih bangga dengan kemampuannya berdebat tentang agama di kolom komentar daripada menghafal surat-surat pendek yang benar. ​ "Sialan! Kenapa semua wanita sama saja? Tidak ada yang bisa mengerti beban kepalaku!" maki Ethan sembari membanting mouse ke meja. ​Alih-alih berkaca pada kegagalannya, Ethan justru sibuk mengetik pesan manis di sebuah aplikasi kencan muslimah lainnya. Kali ini, sasarannya adalah seorang akhwat asal Indonesia yang terpikat oleh citra "Pria London yang religius" yang ia bangun dengan apik. ​ "Dek, Abang sudah tidak sabar ingin ke Indonesia bulan depan. Abang ingin melamar kamu dan membawamu ke London untuk bersama-sama mendidik anak-anak Abang secara islami. Anak-anak sangat butuh ibu yang salehah seperti kamu..." ​Kalimat itu diketiknya dengan lancar, sebuah kebohongan yang sudah ia hafal di luar kepala. Kenyataannya, ketiga anaknya—Abdullah, Abdurrahman, dan Fatima—sedang terlantar. Karena orang tuanya yang sudah sepuh kini benar-benar jatuh sakit dan kelelahan, Ethan terpaksa menitipkan anak-anaknya di sebuah daycare murah hingga larut malam. Ia hampir tidak pernah menjemput mereka tepat waktu, terlalu sibuk bermain game atau mencari mangsa baru di internet. ​ Ethan tidak tahu apa yang sedang terjadi di Jakarta saat ini. Ia tidak tahu bahwa pria yang paling ia takuti di London—Arslan Karataev—telah mendarat di tanah kelahiran Amina. Ia tidak tahu bahwa Arslan-lah yang selama dua tahun ini diam-diam memberikan "sedekah anonim" kepada panti asuhan tempat anak-anaknya terkadang dititipkan, memastikan mereka makan daging dan memakai pakaian hangat saat Ethan sibuk berjudi online. ​ "Bulan depan," desis Ethan penuh ambisi. "Aku akan ke Indonesia. Aku akan membawa pulang istri baru yang lebih patuh, dan sekalian aku akan mematahkan harapan Amina di pengadilan lokal sana jika dia masih berani menuntut hak asuh." ​ Ethan bersandar di kursi rusaknya, tersenyum licik. Ia tidak menyadari bahwa di saat ia sibuk merencanakan pernikahan keempatnya, Arslan sedang bersiap untuk memberikan kejutan yang akan meruntuhkan seluruh dunia manipulatifnya. Baginya, Amina harus tetap menderita di dermaga air matanya, tidak boleh ada kebahagiaan bagi wanita yang pernah ia buang saat larut malam itu. ​ ​Di dalam kamarnya yang terkunci rapat, Amina bersimpuh di atas sajadah. Ia telah melepas cadarnya, memperlihatkan wajah yang sembap dengan gurat kesedihan yang seolah telah mengerak. Di tangannya, ponsel itu bergetar pelan, menghubungkannya melintasi samudra menuju London—kepada sosok yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri. ​ Wajah Maryam muncul di layar. Wanita sepuh itu terpekik kecil melihat kondisi Amina yang tampak begitu hancur. Bagi Amina, Maryam bukan sekadar sahabat, melainkan pelindung dan tempatnya mengadu sejak ia terombang-ambing di London. ​ "Amina? Nak, ada apa? Kenapa matamu sampai bengkak begitu?" tanya Maryam dengan nada cemas, suaranya gemetar seperti seorang ibu yang merasakan kepedihan anaknya. ​"Ibu..." suara Amina parau, nyaris habis ditelan isak. "Arslan... dia datang ke sini, Bu. Dia melamarku di depan Usman. Tetangga di sini memfitnahku, mereka bilang dia selingkuhanku dulu. Aku takut... aku takut kalau kabar ini sampai ke Ethan, dia akan semakin menyiksa anak-anakku." ​ Maryam menarik napas panjang, wajahnya yang bijaksana tampak menyimpan rahasia besar. Ia menoleh ke arah suaminya, Abdullatif, sebelum kembali menatap Amina dengan lekat. ​ "Amina, Nak... dengarkan Ibu," kata Maryam lembut namun tegas. "Jangan takut pada Ethan. Dia tidak akan pernah berubah. Kau tahu sendiri bagaimana dia memperlakukan orang tuanya. Ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan pun dia bentak jika kemauannya tidak dituruti dalam sekejap. Ayahnya yang sudah lemah pun tidak ia hargai. Dia bukan depresi, Amina... dia hanya seorang narsistik yang merasa dunia harus berputar di bawah kakinya." ​ Amina tertegun, tangisnya mereda sejenak. Ia teringat bagaimana Ethan selalu merasa benar dan tidak segan-segan mempermalukan siapa pun yang menghalangi keinginannya, termasuk keluarga kandungnya sendiri. ​ "Selama dua tahun ini, kau mungkin mengira anak-anakmu bertahan karena kebaikan hati Ethan," lanjut Maryam, air matanya mulai menggenang. "Tapi nyatanya tidak. Ethan membiarkan mereka terlantar di daycare murah sampai larut malam hanya agar dia bisa bebas bermain game dan mencari mangsa baru di internet. Dialah yang menyebabkan orang tuanya kelelahan sampai jatuh sakit." ​ "Lalu... bagaimana mereka bisa tetap sekolah dan makan dengan baik, Bu?" tanya Amina lirih. ​ "Arslan," jawab Maryam singkat namun bermakna dalam. "Arslan-lah yang selama ini menambal semua lubang yang ditinggalkan Ethan. Dialah yang membayar biaya tambahan secara anonim, memastikan Abdullah, Abdurrahman, dan Fatima tidak kelaparan saat Ethan sibuk dengan dunianya sendiri. Arslan melakukan itu semua tanpa kau ketahui karena dia menghormatimu, Amina." ​ Dunia seolah berhenti berputar bagi Amina. Ia merasa begitu kecil di hadapan kenyataan ini. Ternyata, pria asing yang dianggap "fitnah" oleh tetangganya adalah tangan kanan Tuhan yang selama dua tahun ini menjaga napas anak-anaknya dari kejauhan. ​ "Dia melamarmu karena dia ingin kau punya kekuatan hukum untuk melawan narsisme Ethan," tambah Maryam. "Arslan mencintaimu sejak malam di London itu, dan dia menunggu sampai detik ini untuk memastikan kau memiliki pelindung yang nyata. Jangan biarkan lidah tetangga atau ketakutanmu pada Ethan menghalangi jalanmu untuk mengambil kembali anak-anakmu." ​ Amina menutup mulutnya, sujudnya kali ini terasa begitu berat namun penuh syukur. Di atas sajadahnya, ia menyadari bahwa badai yang dibawa Arslan bukanlah untuk menghancurkannya, melainkan untuk meruntuhkan tembok kesombongan Ethan yang selama ini mengurung hidupnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD