NAYM 02 - Lamaran Lelaki Muda

2145 Words
"APA?!" teriak Mirnawati dan Indira bersamaan. Mata mereka membulat sempurna dengan mulut yang menganga lebar. Indira menengok cengo pada sang ibu yang ternyata berdiri di ambang pintu. Jantungnya tiba-tiba saja berdebar kencang saat Ettan dengan lantang mengucapkan kalimat keramat yang selama ini ia hindari. Farhat terdiam di tempatnya. Ia menatap tak percaya pada Ettan yang justru tersenyum lebar di depannya. Matanya sesekali melirik pada istri dan anaknya bergantian. Wajah kedua wanita terbaik dalam hidupnya itu masih tak berubah. Masih menganga dengan mata yang membulat lebar. "Ibu, Indira," panggil Farhat berusaha menyadarkan Indira dan Mirnawati yang masih setia dengan keterkejutannya. Mereka menatap Ettan dengan tatapan yang sulit diartikan. "Ayah, dia mau melamar anak kita!!" pekik Mirnawati setelah sadar. Ia menunjuk Ettan heboh saat remaja yang pernah diceritakan putrinya itu kini justru melamar putri semata wayangnya. Benar-benar tak terduga. Mendengar pekikan ibunya, Indira pun bereaksi marah. "Ibu!" tegur Indira saat ia mendapati tatapan penuh antusias dan senang di mata ibunya. Ia kemudian beralih pada Ettan yang masih duduk manis di kursinya. Matanya menatap nyalang dan tajam saat ia menatap wajah ingusan remaja di depannya. "Kamu!" tunjuk Indira marah di depan wajah Ettan yang seketika terkejut melihatnya. "Keluar dari sini!" usir Indira sambil menunjuk pintu rumahnya. Melihat Indira yang mengusirnya, nyali Ettan pun menciut. Ia menatap Indira setengah takut saat menyadari jika peluang dirinya mendapatkan Indira mungkin saja hilang setelah ini. Indira menahan letupan emosi yang bersarang di dadanya. Ia masih menatap tajam pada Ettan yang belum beranjak dari duduknya. Remaja itu justru terus memandangi wajahnya takut dan sama sekali tidak menggubris kata-katanya. Ettan memang menatapnya, tetapi tubuh Ettan terasa membeku saat jarak di antara dirinya dan Indira semakin dekat. "Keluar!" ucap Indira penuh penekanan. Ia masih setia menunjuk pintu rumahnya. Namun bukannya segera keluar, Ettan justru mencuri pandang pada ibu dan ayah Indira yang ternyata telah duduk berdampingan. Ia menampakkan raut memelasnya saat Indira masih gencar mengusirnya. "Ettan!" "Indira!" Bentakan itu terdengar keras dari dua orang yang berbeda. Indira membentak Ettan dan Farhat membentak Indira. Farhat merasa anaknya benar-benar tidak tahu sopan santun dalam memperlakukan tamu. Meski kedatangan Ettan di rumahnya masih sangat asing dan berhasil mengusik ketenangan keluarganya, ia tetap tidak bisa membiarkan Indira bersikap semaunya. Menurut Farhat, sikap Indira tidak pernah berubah. Indira bukanlah gadis yang lembut, tetapi ia juga bukan gadis yang kasar. Ia hanya akan bertindak di luar batas saat ia merasa jika dirinya dalam bahaya atau terlalu tertekan. Indira memang selalu merasa tidak nyaman jika berada di dekat lelaki yang sama sekali tidak memiliki hubungan keluarga dengannya. Farhat memang bukanlah orang yang berpendidikan, tetapi bukan berarti ia tidak memiliki tata krama. Pendidikan tidak bisa sepenuhnya berkaitan dengan pribadi atau tata krama seseorang. Menurut Farhat, banyak orang yang berpendidikan, tetapi mereka sama sekali tidak memiliki tata krama dan jelas saja jika tata krama tidak bisa dikaitkan dengan pendidikan. Farhat tak ingin hal itu terjadi pada Indira. Ia ingin Indira menjadi pribadi yang baik luar dan dalamnya. Farhat tidak ingin pendidikan yang bertahun-tahun Indira tempuh menjadi sia-sia. "Ayah," gumam Indira saat melihat sang ayah yang tengah menatapnya tajam. Ditatap seperti itu, Indira pun menunduk. Indira menyadari kesalahannya. Di antara ibu dan ayahnya, memang ayahnyalah yang paling tegas. Ayahnya benar-benar disiplin dan cekatan dalam berbagai hal sehingga Indira terkadang merasa kesal pada ayahnya. Namun, Indira segera menepisnya. Ia tidak ingin membantah ayahnya karena jujur saja, ayah dan ibunya adalah sosok yang selalu menjadi alasan Indira bertahan. "Duduk!" titah Farhat yang langsung dituruti oleh Indira. Indira tampak benar-benar patuh pada Farhat dan hal itu membuat Ettan merasa sedikit senang. Ketakutan yang beberapa saat lalu menghampirinya kini entah hilang ke mana. Menatap raut wajah kesal, pasrah, dan tegang dari Indira ternyata bisa menghiburnya. Lucu juga. "Ibu, jangan liatin Ettan terus!" tegur Farhat saat melihat tatapan istrinya yang terus tertuju pada Ettan. Ettan menggeliat tidak nyaman, ditatap sedemikian rupa oleh calon mertuanya berhasil membuatnya gugup. Mirnawati tersenyum malu, ia lalu memutuskan pandangannya dan duduk tenang di samping suaminya. Lain dengan Mirnawati, maka lain lagi dengan Indira. Gadis yang berusia 23 tahun itu justru merasa tidak terima. Ettan dengan seenaknya melamarnya padahal mereka sendiri baru berteman sekitar tiga bulan yang lalu. Itu pun hanya sebatas teman organisasi dan tidak lebih. Dan semua ini berawal dari Ettan yang mengajaknya pulang bersama. Seharusnya ia tolak saja! Farhat berdehem singkat. Ia menatap Ettan dengan penuh ketegasan membuat Ettan yang ditatap seperti itu pun membalas tatapan Farhat dengan penuh rasa tanggung jawab dan keseriusan. "Bisa diulangi apa tujuan Nak Ettan ke sini?" tanya Farhat sambil sesekali melirik pada Indira yang tampak semakin emosi. Indira melirik Ettan tajam. Ia berharap Ettan meralat ucapannya. Ettan mengangguk singkat. Ia kemudian memandang Indira dengan penuh kelembutan. "Saya ingin melamar Kak Indira untuk diri saya sendiri!" tegas Ettan membuat Indira menahan napasnya. Indira menatap tak percaya pada Ettan yang bersikap seolah tidak memiliki beban saat mengatakan bahwa ia ingin melamar dirinya. Farhat mengangguk singkat. "Atas dasar apa Nak Ettan melamar anak saya?" tanya Farhat sambil melirik Indira. Ia pernah mendengar dari istrinya jika Ettan adalah teman Indira dalam organisasi kepenulisan dan mereka belum lama berteman. Tentu ia harus waspada dan ekstra hati-hati terhadap niat baik Ettan. Walau Ettan tidak memiliki tampang kriminal, bukan berarti ia bisa lengah begitu saja, bukan? Sekarang banyak orang jahat yang berkedok malaikat. Ettan menarik napasnya dalam dan menghembuskannya pelan. "Saya ingin Kak Indira menjadi pendamping hidup saya karena selama saya mengenalnya, Kak Indira berbeda dari gadis lainnya dan hal itu yang membuat saya ingin menjadikan Kak Indira sebagai istri saya. Saya yakin jika Kak Indira adalah orang yang tepat." Indira membeku di tempatnya. Dirinya tiba-tiba saja menjadi bodoh saat mendengar alasan Ettan melamar dirinya. Alasan macam apa itu? Dirinya berbeda? Apa ia seorang pahlawan? Ouh, tidak. Ettan sepertinya sudah gila sehingga menganggapnya berbeda dari gadis lainnya. Padahal jika dicermati, Indira sama saja dengan mereka. "Berbeda seperti apa maksud Nak Ettan?" tanya Farhat lagi. Ia juga merasa sedikit heran dengan jawaban Ettan. Menurutnya anaknya sama saja dengan gadis lainnya. Bahkan Farhat merasa jika anaknya jauh dari sifat feminim wanita. "Dia berbeda, Pak. Dia tidak sama dengan perempuan yang sering berkeliaran di sekitar saya. Kak Indira menjaga dirinya dengan baik dan tidak bersikap rendah sebagai wanita." Indira membulatkan matanya. Jantungnya tiba-tiba saja berdebat kencang saat mendengar jawaban Ettan yang sepertinya menyanjung dirinya. Ah, Indira rasanya ingin meleleh saja. Eh, tetapi tidak boleh! Ia tidak boleh luluh secepat ini! Farhat dan Mirnawati tersenyum bangga. Mereka melirik pada Indira yang sedang sibuk menatap ke luar rumah. Dari pipi anaknya, sepertinya Indira merasa malu. Farhat tersenyum kecil. Dasar perempuan, awalnya menolak dan ujung-ujungnya luluh juga jika sudah disanjung penuh cinta! "Nak Ettan, kamu tahu bahwa melamar seorang gadis bukanlah permainan, bukan?" tanya Farhat dan langsung diangguki oleh Ettan. "Dan sekarang saya tanya, di mana orang tua kamu? Seharusnya mereka datang bersama dengan Nak Ettan," tanya Farhat melanjutkan. Tubuh Ettan menegang seketika. Pertanyaan yang sejak tadi selalu ia khawatirkan akhirnya keluar juga dari bibir calon mertuanya. Jujur saja, Ettan bingung menjawabnya karena ia sendiri tidak dapat menjelaskan keadaan keluarganya. Ettan menghela napasnya dalam dan bimbang sehingga menarik perhatian tiga orang yang tengah memperhatikannya saat ini. "Dia pasti mau main-main, Ayah!" tuduh Indira mengambil kesempatan yang ada. Ia berharap jika ayahnya tidak akan melanjutkan perbincangan ini lagi karena demi apa pun, Indira tidak ingin semakin terjebak dalam situasi ini. Ettan membelalakkan matanya. Ia bersumpah jika ia tidak berniat mempermainkan Indira sama sekali. "Indira menolak lam—" "Ibu saya telah meninggal!" potong Ettan panik saat ia mendengar penolakan Indira. Meski Indira belum menyelesaikan ucapannya, ia bisa menebak kelanjutannya. Dan ia tidak ingin ditolak sebelum berjuang. Dari awal mengenal Indira, Ettan sudah menargetkan Indira sebagai pencapaian besarnya. Ia benar-benar menginginkan Indira untuk menjadi pendamping hidupnya. Indira, Farhat, dan Mirnawati membeku di tempatnya. Mereka terdiam dengan pandangan yang sulit diartikan oleh Ettan. Ettan tertunduk dalam saat ia lagi dan lagi harus berjuang sendirian tanpa kehadiran orang tuanya. "Nak Ettan," panggil Farhat pelan. Ettan mengangkat kepalanya dan tersenyum kecil. "Saya akan menjelaskannya secara singkat." Ettan memejamkan matanya dan menarik napasnya dalam. "Ibu saya meninggal ketika melahirkan saya dan saya hanya tinggal bersama ayah saya. Tapi beberapa tahun yang lalu, ayah saya pindah ke luar negeri karena perusahaan di sana sangat membutuhkan dirinya dan ayah saya juga ingin menyembuhkan luka karena ditinggal oleh ibu saya. Selama ini ayah saya selalu bersama saya dan sangat sulit bagi ayah saya untuk melupakan lukanya. Jadi, ayah saya menitipkan saya pada para pelayan dan supir kepercayaan ayah saya untuk menjaga saya." Indira menganga mendengarnya. Ia tidak percaya pada penjelasan Ettan. Rasanya sangat tidak mungkin jika seorang remaja ceria dan baik seperti Ettan sebenarnya kekurangan kasih sayang. Tiba-tiba saja Indira merasa sedih. Ia tidak menyangka jika Ettan lebih dari yang selama ini ia bayangkan. Sudut hati terdalamnya seolah tersentil saat melihat raut wajah Ettan. Jika sudah seperti ini, Indira rasanya ingin menangis saja. Ia sangat sensitif jika membahas orang tua. "Saya hanya bisa membawa supir saya ke sini, Ayah. Saya tidak ingin mengganggu Ayah saya karena selama di Indonesia, Ayah tidak bahagia. Ayah saya sangat mencintai ibu saya." Mirnawati dan Farhat menatap iba pada Ettan. Dari raut wajahnya, Ettan sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia sedang berbohong. Farhat mengangguk pelan. "Saya paham dan saya harap Nak Ettan kuat menjalaninya. Tapi saya ingin ada orang tua dari pihak Nak Ettan untuk melamar anak saya. Kita tidak berbeda negara dan tidak berbeda kota juga. Apa Nak Ettan bisa membawa seseorang yang kamu percayai ke sini?" pinta Farhat. Sebagai orang tua, Farhat tidak akan membiarkan anaknya dilepaskan begitu saja. "Saya akan mengajak om Burhan ke sini, Pak. Tapi saat ini om Burhan sedang pulang kampung, istrinya melahirkan." Ettan menatap melas pada Mirnawati dan Farhat. Ia berharap jika Farhat dan Mirnawati bisa memberinya kesempatan karena demi apa pun, ini memanglah salahnya yang melamar terlalu mendadak dan dia tidak ingin ditolak. "Om Burhan?" gumam Farhat bingung. Ia tidak tahu siapa yang tengah Ettan maksud. "Om Burhan itu supir yang ayah saya limpahkan tanggung jawab untuk menjaga saya, Ayah. Dia yang selalu menjadi wali saya selama ayah tidak ada di Indonesia. Biasanya dia selalu ada di rumah dan libur hanya dua minggu setiap tiga bulan sekali. Tapi sudah satu bulan ini om Burhan libur karena istrinya melahirkan anak ketiganya. Jadi, saya hanya tinggal bersama para pelayanan saat ini," jelas Ettan membuat Farhat dan Mirnawati mengangguk. "Lalu kapan dia akan kembali?" tanya Farhat. Ia harus segera mengambil keputusan dan tidak ingin membiarkan hal ini terjadi berlarut-larut. "Saya belum tahu, Ayah. Om Burhan belum mengabari saya lagi, tapi om Burhan sempat bilang sebelum dia pulang bahwa dia tidak akan meninggalkan saya lebih dari dua bulan. Sepertinya satu bulan lagi om Burhan akan pulang jika kondisinya memungkinkan. Untuk anak ketiga om Burhan, istrinya melahirkan secara operasi. Jadi, om Burhan butuh lebih banyak waktu bersama istrinya." Jujur saja, Ettan sudah merasa cemas saat menatap raut wajah Farhat dan Mirnawati yang tampak menimbang keputusan. Mereka tampak sangat berat memberikan keputusan. "Untuk lamaran kali ini saya tolak!" tegas Farhat membuat tubuh Ettan lemas seketika. Indira yang mendengar hal itu pun membulatkan matanya. Dalam hati Indira memekik senang karena ia tidak perlu berurusan dengan Ettan yang berhasil membuatnya bimbang. Ia merasa tidak cocok dengan Ettan, tetapi ia juga merasa tidak tega dengan Ettan. Huft, Indira benci pada dirinya yang sering labil tiba-tiba! Tatapan Ettan berubah menjadi sendu. Ia menghela napasnya pasrah saat mendengar penolakan yang Farhat ucapkan. "Saya hanya ingin menerima lamaran jika ada orang tua yang mendampingimu. Selain itu, yang jauh lebih berhak adalah Indira. Jika Indira menolak lamaranmu, maka saya tidak dapat bertindak. Saya hanya bisa menerima lamaran kamu jika Indira setuju menikah denganmu!" lanjut Farhat membuat Indira membulatkan matanya. Dengan cepat Indira menengok pada sang ayah yang berhasil membuatnya jatuh secara tiba-tiba. Ia tidak menyangka jika ayahnya justru memberi kesempatan pada Ettan yang notabennya sudah mendapatkan penolakan pertama dari Indira. "Ma—maksud Ayah saya masih diberi kesempatan? Saya boleh mendekati Kak Indira lagi?" tanya Ettan tak percaya. Bibirnya terasa bergetar sehingga ia tergagap. Farhat mengangguk dengan senyum kecilnya. Ettan teramat senang seperti mendapatkan harta karun. "Ya. Nak Ettan anak yang baik dan tidak ada salahnya saya memberi kesempatan. Asal dengan satu syarat, Nak Ettan harus menjaga jarak dengan Indira. Coba saja dulu, semoga Indira luluh pada Nak Ettan." Farhat rasa, tidak ada salahnya ia memberikan kesempatan pada Ettan. Ettan adalah lelaki yang baik dan entah kenapa ia sama sekali tidak ragu pada Ettan. Ia yakin jika Ettan bisa menjaga putrinya dengan baik. "Ayah!" bentak Indira saat ia merasa jika Farhat berlaku tidak adil pada dirinya. Ia menatap Farhat kesal saat ayahnya itu justru memberikan kesempatan pada Ettan untuk mendekati dirinya. Tidak tahukah ayahnya jika Indira tidak ingin menikah dengan lelaki yang jauh lebih muda? Indira takut memiliki nasib yang sama seperti teman-temannya. "Ayah tidak ingin kamu salah melangkah, Indira." Sementara itu, Ettan memekik senang di tempatnya. "Kak Indira, Ettan siap berjuang!" Dan setelahnya Indira hanya bisa mendelik tajam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD