NAYM 03 - Kecurigaan Sinta

2147 Words
"Kak Indira!" panggil Ettan antusias di depan rumah. Lelaki yang bahkan belum lulus kuliah itu kembali mendatangi Indira untuk yang kesekian kalinya. Seolah tak sakit hati karena lamarannnya yang ditolak kemarin, Ettan justru semakin sering mendekati Indira dan keluarganya. Dia tak jengah meski Indira selalu mengusirnya dan mengejeknya sebagai "bocah bau kencur". Bagi Ettan, Indira tak pernah salah di matanya. Ettan pun tak pernah merasa sakit hati karena perbuatan Indira. Ettan yakin jika Indira akan tetap luluh pada dirinya. Indira memejamkan matanya kesal. Ini masih pagi—jam tujuh pagi—dan sekarang anak ingusan itu sudah kembali bertandang ke rumahnya. Memanggilnya dari luar rumah seolah sedang mengajak temannya bermain bola! Gila! Indira tidak bisa membayangkan dirinya nanti jika ia benar-benar menikah dengan Ettan. Bisa-bisa ia terkena darah tinggi nanti. Indira bukan anak remaja yang baru pubertas. Dia tidak suka diperlakukan seperti ini! Terkesan sangat anak-anak dan Indira benci itu! Dia wanita dewasa! "Assalamu'alaikum, Kak. Kok, enggak nyaut, sih?" tanya Ettan sembari membuka pagar rumah. Tak lupa ia mengucap salam saat memasuki rumah "calon istrinya" tersebut. Setidaknya Ettan memiliki tata krama yang tinggi. Yaa, meski jiwa remaja dan anak-anaknya sering kali muncul tidak tahu tempat, ia tetap tahu apa yang harus dilakukan sebagai pria dewasa. Ettan tahu mana yang benar dan salah. Selagi tidak melanggar aturan atau norma yang ada, menurut Ettan sah-sah saja. "Wa'alaikumussalam. Indira, ada yang ngucap salam itu dijawab, dong! Dosa tahu," tegur Mirnawati sembari menjawab salam dari Ettan. Matanya menatap Ettan dengan ramah. Meski ia sempat mendengar panggilan Ettan untuk Indira tadi, ia sama sekali tidak merasa marah. Menurut Mirnawati, setiap orang memiliki caranya sendiri untuk memikat orang yang mereka cintai, termasuk juga dengan Ettan. Dia tahu jika Ettan ingin Indira menerimanya apa adanya. Ettan tidak ingin menjadi orang lain. Indira menekuk wajahnya. "Ya!" jawab Indira sembari memakai sepatunya. Indira kembali merasa kesal pagi ini. Semenjak Ettan hadir di dalam hidupnya, ia menjadi tak tenang. Lebih-lebih lagi saat Ettan dengan terang-terangan melamarnya, orang tuanya itu selalu saja membela Ettan sehingga Indira selalu menjadi pihak yang disalahkan. Padahal sebelum Ettan datang, dia tidak pernah semengenaskan ini. Kalau begini jadinya, Indira bukan semakin dekat dengan Ettan, tetapi semakin ingin menjauhi Ettan. Laki-laki yang sering ia ejek sebagai remaja labil itu seakan memiliki seribu cara untuk selalu berada di dekatnya. "Jawab dulu salamnya, Indira!" tegur Mirnawati. Indira semakin menekuk wajahnya. Dia menatap Ettan dengan tajam saat lelaki itu sudah berbincang hangat dengan sang Ibu. Dia pikir Indira tidak tahu jika Ettan berusaha mendekati orang tuanya agar dia luluh dan berubah pikiran? Ouh, Indira bukan gadis remaja yang mudah dikelabui. Maaf, Indira tidak akan mengubah keputusannya. Dia tetap tidak akan menerima Ettan sebagai suaminya. Apa kata dunia jika ia menikah dengan bocah ingusan yang ia kenal melalui suatu organisasi? Apa dia tidak akan ditertawakan?! Pastinya, Indira akan malu luar biasa. "Udah di dalem hati!" ketus Indira sembari berdiri. Dia merapihkan pakaiannya dan bergegas menyalami sang Ibu. Hanya Ibunya karena ayahnya sudah pergi sejak subuh tadi. Ettan memperhatikan dalam diam. Dia pun ikut mencium punggung tangan Mirnawati dan segera pamit. Dia akan mengantar Indira ke kantor pagi ini, hitung-hitung sekalian berangkat ke kampus. "Berangkat dulu, ya, Bu!" ucap Indira sembari membuka pagar. Dia langsung saja keluar rumah tanpa mempedulikan Ettan yang berjalan di belakangnya. "Eh, Kak! Tungguin! Mau ke mana? Ini motornya di sini," cegah Ettan sembari menarik pelan pergelangan tangan Indira. Indira membuang wajahnya. Ia sengaja melakukannya, melewati motor Ettan begitu saja karena tak ingin berangkat bersama Ettan. Demi apa pun, Indira bisa menaiki kendaraan umum seperti biasanya! "Lepas," desis Indira. Ettan menggelengkan kepalanya pelan dan lekas memakaikan helm kepada Indira. Kemudian, dia langsung menaiki motornya dan menyalakannya. Tangannya terulur untuk meminta Indira naik ke atas motor. Ettan yakin, Indira akan kesulitan menaiki motor sport-nya. Indira masih menolak. Dia justru bersidekap d**a tanpa berniat menerima uluran tangan dari Ettan. Mirnawati yang melihat hal itu pun turun tangan. Anaknya ini benar-benar keras kepala. Untung saja Ettan sabar menghadapinya. Jika tidak, mungkin sudah sejak dulu Ettan menjauhi Indira. "Indira, cepet berangkat. Katanya sekarang masuk lebih pagi," tegur Mirnawati membuat Indira menengok. Mendengar hal itu, Indira pun mendengus kesal. Mau tidak mau, Indira pun menerima tawaran Ettan untuk berangkat bersama. Dia dengan enggan mengulurkan tangannya yang langsung diterima dengan baik oleh Ettan. "Alhamdulillah, rezeki dari Allah, nih!" ucap Ettan polos saat Indira telah duduk di atas motor. Indira merengut kesal mendengarnya. Ettan terlalu banyak basa-basi membuat Indira merasa jengah. Sementara itu, Mirnawati yang melihat hal itu pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Namun, Mirnawati yakin jika cepat atau lambat Indira pasti akan luluh. Karena di balik tingkah konyolnya, Ettan bisa merubah dirinya dalam sekejap menjadi pria dewasa yang bertanggung jawab. Saat ini, Indira hanya belum melihatnya. "Jangan kege'eran!" ketus Indira saat motor Ettan mulai melaju. Ettan memilih mengabaikannya. Terserah Indira ingin berkata apa, yang jelas dia akan tetap memperjuangkan cintanya. ***** "Eh, Ira! Itu si Ettan kenapa ngeliatin kamu terus?" tanya Sinta sembari diam-diam menunjuk Ettan yang tertangkap basah tengah menatap Indira penuh minat. Entah sadar atau tidak, tetapi sejak tadi Ettan sama sekali tak mengalihkan pandangannya. Dia sepertinya tidak peduli jika ada orang yang memergokinya. Indira yang dipanggil seperti itu pun menengok. Matanya menatap terkejut pada Ettan yang berhasil menarik perhatian temannya. "Ira, jawab dong!" tuntut Sinta membuat Indira menghela napas. Indira sendiri tidak tahu kenapa Ettan terus menatapnya, yang jelas Ettan berhasil menyulut emosi di dalam dirinya. Anak itu seperti tidak tahu malu. Menatapnya seolah dunia hanya miliknya, tanpa mempedulikan apa pun termasuk kenyamanan Indira sendiri. Indira merasa sangat tidak nyaman dengan tatapan yang Ettan berikan. "Aku enggak tahu, Sin! Biarin ajalah, mata-mata dia, kok!" jawab Indira tak ingin mengambil pusing. Bohong! Semua itu bohong! Indira hanya beralibi di depan Sinta, padahal kenyataannya dia benar-benar merasa terganggu. Jika saja mereka tidak sedang berkumpul, Indira pastikan dia sudah mencolok mata Ettan saat ini juga. Sinta masih tak puas. Dia ini ahlinya dalam dunia percintaan dan menurut pandangannya, tatapan Ettan sangat berbeda. Bukan tatapan junior pada seniornya yang dia dapati, tetapi tatapan seorang pemuda yang tengah jatuh hati. Sinta menduga jika Ettan tengah jatuh hati pada..., Indira! Sahabatnya! Ya ampun, benarkah ini? Ah, ia harus segera meminta penjelasan. "Aku mencium bau-bau percintaan di sini. Kamu pasti menyembunyikan sesuatu dari aku, kan?" tebak Sinta membuat Indira yang tengah membaca buku pun gelagapan. Tangannya yang semula tengah memegang buku tiba-tiba saja melemas. Entah kenapa, tetapi Indira selalu saja sensitif jika membahas Ettan. Dia merasa sangat tidak nyaman, tetapi dia tidak bisa mengelak jika takdir selalu mempertemukannya dengan Ettan. Saat ini, Indira tengah berkumpul bersama organisasi menulisnya. Itu berarti, Ettan ikut serta di dalamnya. Lelaki itu sebelum dekat dengan Indira saja tidak pernah absen sekalipun, apa lagi setelah dia melamar Indira. Ettan rela berkumpul jam berapa pun itu. Tak peduli tengah malam atau pagi buta, Ettan akan tetap mengusahakannya. Semua demi Indira, demi hatinya yang sekeras batu, dan demi mimpinya untuk menjadikan Indira sebagai ibu dari anak-anaknya. "Enggak ada apa pun yang aku sembunyiin, Sin! Udah, ya. Biarin aja Ettan mau ngeliatin siapa, itu urusannya. Enggak ada kaitannya sama aku," jawab Indira sembari menenangkan debaran jantungnya yang menggila. Semoga saja Sinta tidak curiga lagi karena jika Sinta masih tetap meneruskan penyelidikannya, Indira bisa berada di dalam bahaya. Temannya itu tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang ia inginkan. Sinta semakin curiga. Tidak biasanya Indira bersikap demikian. Namun, sepertinya dia tidak akan mendapatkan jawaban lain jika bertanya pada Indira. Jadi, dia akan bertanya langsung pada Ettan yang menjadi pelakunya.  Sinta ingin mendekati Ettan, tetapi sepertinya ia harus menahan diri terlebih dahulu karena saat ini Ettan tengah duduk bersama teman laki-lakinya. Akan sangat memalukan jika dia bertanya hal pribadi pada Ettan di tengah keramaian seperti ini. Biasanya saat tengah kumpul seperti ini, mereka akan saling berbincang dan berbagi ilmu. Duduk bersama para pengurus dan anggota pun sering mereka lakukan. Ettan sendiri termasuk ke dalam pengurus meski ia baru bergabung. Otaknya yang pintar dan sifatnya yang humble membuat banyak orang menyukainya. "Nanti, deh, aku tanyain. Indira aneh banget soalnya, pasti ada apa-apa, nih." ***** "Indira nyebelin, deh! Pulang duluan, katanya mau pulang bareng pake angkot! Mana Ardi udah pulang lagi!" dumel Sinta kesal saat tak menemukan Indira di sekitarnya. Rupa-rupanya, gadis itu sudah pulang ketika mereka selesai berkumpul. Sebelum bubar tadi, Sinta memang meminta Indira untuk menunggunya sebentar karena dia ingin berbincang dengan saudaranya yang satu organisasi juga dengan mereka. Rencananya, Sinta ingin berkunjung ke rumah Indira. Dia sudah lama tidak bertemu orang tua Indira yang sudah dia anggap sebagai orang tuanya sendiri. Namun, kini Indira meninggalkannya. Gadis itu benar-benar menyebalkan! Padahal mereka sudah sepakat, Indira juga mengatakan jika tak masalah dia menunggu sebentar karena Indira tahu jika Sinta dan saudaranya jarang bertemu. Rumah mereka saling berjauhan. Tanpa sengaja, mata Sinta menatap pada Ettan yang hendak mengeluarkan motor dari parkiran. Ya ampun, kenapa dia bisa sampai lupa jika masih ada Ettan di sini? Kalau dia tahu sejak tadi, kan, dia bisa meminta Ettan untuk mengantarkannya. Ettan itu baik, polos, dan bertanggung jawab. Jadi, sudah dapat dipastikan jika Ettan tidak akan membiarkannya pulang sendirian. Apa lagi dia teman dari Indira. "Eh, Ettan!" panggil Sinta sembari melambaikan tangan. Matanya menatap Ettan yang langsung membuka kaca helmnya. Saat melihat Sinta, Ettan pun menaikkan sebelah alisnya. Dia tidak tahu mengapa Sinta memanggilnya, tetapi Ettan tetap menghampirinya. Ettan pikir mungkin saja Sinta butuh bantuan bukan? Jadi, tak ada salahnya dia mendekat. "Iya, Kak?" tanya Ettan sopan. Matanya menatap Sinta bingung. Mendapati Ettan yang tengah berdiri di depannya, Sinta merasa sangat senang. Dia seperti ini karena Indira dan Ettan harus bertanggung jawab. Sebuah rencana licik pun tiba-tiba menghampiri Sinta. Dia jadi teringat dengan pembicaraannya dengan Indira mengenai hubungannya dengan Ettan. Ah, dia berjanji untuk meminta penjelasan pada Ettan bukan? Baiklah, ini saatnya dia beraksi. Indira mengelak, Ettan pun jadi! "Kamu lihat Indira enggak? Aku dari tadi nyariin Indira, tapi enggak ketemu. Aku telpon enggak dijawab. Barang kali kamu tahu gitu dia ke mana. Mungkin aja kamu liat dia keluar, kan?" tanya Sinta sembari celingukan. Dia memasang wajah lesunya membuat Ettan menggaruk kepalanya pelan. Ettan merasa bingung untuk menjawab. Bukan karena dia tidak memiliki jawabannya, dia justru memiliki jawabannya. Namun, dia tidak yakin jika menjawab adalah pilihan yang paling tepat. "Ettan, kamu tahu enggak?" tanya Sinta lagi saat Ettan tak kunjung menjawabnya. Ettan gelagapan di tempatnya sehingga dia dengan refleks menggelengkan kepalanya. Akan sangat aneh jika dia tiba-tiba saja tahu ke mana dan apa saja yang Indira lakukan. Meski mereka adalah teman, hal itu tidak mungkin terjadi jika hanya jalinan teman biasa, bukan? "Enggak, Kak. Lagian ngapain kak Indira ngasih tahu aku. Mungkin aja dia ada urusan mendadak, Kak. Emangnya kenapa, Kak?" jawab Ettan membuat Sinta mengangguk pelan. Masuk akal juga, tetapi ia belum puas. Jawaban Ettan yang lama itu memberi kesan jika dia harus menyiapkan jawaban secara dadakan. Padahal dia hanya perlu menjawab saja, bukan? Pertanyaan yang Sinta ajukan pun sangat sederhana. Sementara itu, Ettan meringis kecil di tempatnya. Dia tahu betul apa yang menjadi alasan Indira pulang ke rumah dan meninggalkan Sinta. Om Burhan sudah memberi kabar. Katanya sekitar dua minggu lagi dia akan pulang dan segera melamar Indira untuk Ettan. Ettan sempat mengirimkan pesan pada Indira tadi dan jawabannya adalah Indira marah! Buktinya saja dia langsung pergi karena tak ingin melihat wajah Ettan lebih lama. "Enggak apa-apa, katanya mau pulang bareng sekalian aku mau mampir ke rumah Indira, tapi dianya malah ninggalin. Tadi aku abis ngobrol sama Ardi. Tahu, kan, kalau Ardi itu saudara jauhku?" ujar Sinta pada Ettan yang langsung menganggukkan kepalanya. Bukan rahasia lagi jika Aris dan Sinta bersaudara. Mereka bahkan sudah seperti anak kembar karena disusui oleh orang yang sama—ibu Aris. Namun, rumah mereka saat ini saling berjauhan. Jadilah mereka jarang bertemu. Ditambah lagi orang tua Aris dan Sinta sudah tidak ada sehingga jika mereka bertemu, bisa saja orang menuduh mereka berbuat macam-macam. "Nah, sekarang Aris udah pulang pas aku lagi nyari Indira. Yang lain juga udah pada bubar. Kalau gini, aku pulang sama siapa? Di daerah sini, kan, rawan. Susah juga dapet angkot, kalau sama Indira, kan, ada temennya!" lirih Sinta. Sebenarnya itu hanya akal-akalannya saja. Namun, Ettan yang polos sangat mudah dikelabui. Dia justru merasa kasihan pada Sinta. Tempat di mana mereka berkumpul memang rawan dan Ettan dibuat tidak mengerti pada Indira yang dengan beraninya pergi sendiri begitu saja. Jujur saja, Ettan merasa khawatir dengan Indira. Terlebih lagi Indira belum memberi kabar jika dia sudah sampai di rumah. Namun, Indira bersikeras tidak ingin diantar pulang. "Ya udah, mau aku anterin, Kak?" tawar Ettan membuat Sinta mengangguk dengan semangat. Tanpa berpikir panjang, langsung saja Ettan mengajak Sinta untuk naik ke motornya. Untung hari ini dia menggunakan motor matic sehingga tidak perlu membantu Sinta untuk naik ke atas motor. Bisa gagal menjadi suami suami Indira nanti! ***** "Ettan, kamu ada hubungan sama Indira, ya?" celetuk Sinta di tengah perjalanan. Ettan yang mendengar hal itu pun dengan spontan menghentikan motornya. Ckiitt! "ETTAN, HATI-HATI!" 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD